
*••••••❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡••••••*
Berterima kasih lah kepada orang yang telah menyakitimu, karena berkat perbuatannya, kesempatan untuk meraih pahala tanpa batas terbentang di depan mata.
Saat kamu bersabar atas keadaan tersebut kemudian mampu memaafkannya, gemerincing pahala tak pernah putus dikucurkan-Nya untukmu.
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az Zumar : 10)
"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah."
(QS. Asy Syura : 40)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶••••••••••••••••••
Haidar terlihat begitu marah tatkala ia menyaksikan adegan ranjang antara wanita yang ia kenali dengan lelaki yang tak ia kenal. Sedangkan sang wanita tersebut terlihat begitu ketakutan melihat kedatangan Haidar yang begitu tiba-tiba itu. Bahkan tubuhnya terlihat gemetaran, namun ia masih berusaha ingin mendekati Haidar.
"Ha..haidar, to..tolong jangan salah paham! I-ini hanya sebuah ke.. kecelakaan sa-ja kok!" ujar wanita itu, terlihat terbata-bata, karena rasa takutnya.
"Oh'ho! Jadi ini sebuah kecelakaankah Arinda?" tanya Haidar, seraya ia melangkah menuju keranjang yang terlihat begitu berantakan, akibat pertempuran sepasang kekasih tadi. Lalu ia menghampiri sang pria yang terlihat masih berada di atas ranjang tersebut dan dengan keadaan yang terlihat masih polos juga.
"Siapa dia sebenarnya Sayang? Mengapa dia bisa masuk ke apartemen kamu hm?" tanya pria itu seraya ia mengambil celananya yang terlihat berserakan di lantai. Namun belum sempat tangannya meraih celana tersebut. Tiba-tiba Haidar sudah melayangkan tendangannya, tepat di kawasan adik pria tersebut. Sehingga dengan spontan pria itu langsung terhempas ke lantai.
__ADS_1
"Aaakh..!! Brengsek! ! Kenapa Adik gue yang Lo tendang hah? Aaakh!!!" teriak pria itu. Seraya ia mengerang kesakitan. Sambil memegang Adiknya yang terkena tendangannya Haidar.
"Itu karena Anda sudah lancang, merebut milik orang lain!" balas Haidar terdengar begitu dingin. Lalu ia kembali menendang Pria tersebut, dengan sekuat tenaga.
"KAAAAKY..!!!" teriak Pria lagu itu sekuatnya, dan di barengi dengan muncratnya darah segar yang berada dari junior pria tersebut. Dan tak berapa lama sang pria pun tak lagi bergerak.
Melihat hal itu wanita yang masih berselimut diatas ranjangnya itu, juga menjerit histeris. Tubuhnya langsung gemetaran, "KYAAAAK!!" teriaknya dan ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kamu berteriak hah? Apakah kamu tidak rela kalau aku sudah menghancurkan kesenangan mu Arinda? Apakah kamu marah padaku Sayang?" tanya Haidar, seraya ia menarik kedua tangan wanita yang dipanggil Arinda tersebut.
"T-tiidak! Haidar ti-dadak! To-toIng maafkan Aku Haidar! I-Ini hanya kecelakaan! Karena sebenarnya tadi aku sangat merindukanmu. Dan akhirnya aku ke bar untuk mabuk dan Aku pikir lelaki itu adalah kamu jadi..." jelas wanita yang di panggil Arinda itu. Namun perkataannya langsung disanggah oleh Haidar.
"Mabuk? Tapi kenapa Aku merasa kamu baik-baik saja ya? Dan Aku lihat tadi sepertinya kamu sangat menikmatinyakan?" tanya Haidar, sambil ia mencengkram erat rahangnya Arinda hanya pakai satu tangan saja.
"Maaf? Mudah sekali kamu ucapkan kata maaf setelah kau melakukan pengkhianatan terhadapku hah?! Dan yang lebih hebatnya lagi kamu tanpa sungkan melakukan hal kotor di apartemenku ini! Huh! Pantasan saja, kamu tidak suka dikawal oleh anak buahku! Rupanya itu agar kau bebas melakukan apapun sesukamu ya? Luar biasa kamu ya Arinda? Sepertinyan kau memang sudah bosen hidupkan Arinda?!" ujar Haidar, dengan nada suara yang terdengar sangat dingin, begitu juga dengan tatapannya. Membuat Arinda langsung bergidik.
"Maafkan aku Haidar, please ampuni Aku! Aku benar-benar khilaf, dan aku janji tidak akan mengulanginya lagi!" balas Arinda, terlihat begitu memohon pada Haida, sambil ia mengatupkan kedua tangannya.
"Heh! Sayangnya sudah terlambat Arinda! Padahal Kamu pasti tahukan, seperti apa aku orangnya? Sekali berkhianat, maka buaya putihku akan menjadi kenyang. Dan kebetulan sekali buaya-buaya putihku saat ini sedang kelaparan! Jadi persiapkanlah dirimu Arinda!" pungkas Haidar, seraya ia melepaskan cengkraman tangannya dari pipihnya Arinda. Setelah itu ia pun langsung bergegas hendak pergi.
"Tidak! Haidar tidak! Ampuni Aku! Jangan pergi! Haidaaar!!" teriaknya Arinda dengan tubuh yang terlihat gemetaran. Dan tak berapa lama Haidar pergi, tiba-tiba sekelompok pria berjas hitam masuk ke kamarnya Arinda.
"Mau apa kalian hah?! Cepat pergi dari sini! Atau Aku.. aku.. aku.." teriak Arinda begitu panik. Tiba-tiba matanya mengarah ke meja tak berapa jauh dari ranjangnya. Dan disana ia dapat melihat sebuah pisau, di sebuah piring yang diatasnya terdapat banyak buah. Dan tanpa berpikir panjang, ia pun langsung mengambil pisau tersebut.
__ADS_1
"Mari ikut kami Nona! Karena Bos besar, memberikan perintah pada kami untuk membawa Nona sekarang juga! Jadi mari ikut dengan kami Nona?" ujar salah satu pria yang berjas hitam tersebut.
"Kalian jangan mendekat! Cepat mundur! Atau aku akan membunuh diriku ini!" ancam Arinda, sambil mengarahkan mata pisaunya itu kelehernya. Mendengar ancamannya Arinda para sekelompok pria tersebut mundur beberapa langkah. Karena walaupun Haidar sangat marah, namun ia meperintahkan anak buahnya, agar membawanya dalam keadaan utuh.
Setelah melihat para bawahannya Haidar mundur, Arinda kembali menatap pisau yang sedang ia pegang saat ini ia ada di dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Brengsek! Dasar mafia tidak punya hati! Seenaknya saja dia menghabisi nyawa orang! Huh! Dari pada aku mati dicabik-cabik dengan buaya putih peliharaan Haidar! Lebih aku mati saja dengan pisau ini!! Karena kematianku sekarang sudah tidak bisa hindari lagi!" batin Arinda, sambil ia menitikkan air matanya.
Arinda tampak sudah memantapkan dirinya untuk mengakhiri hidupnya dengan pisau yang sedang ia pegang saat ini. Selang berapa menit kemudian, dan tanpa ada keraguan sedikitpun. Arinda. Arinda pun langsung menancapkan pisau yang ia pegang tersebut ke perutnya. Dan tak berapa lama ia pun langsung tergeletak di lantai. Dan hal itu membuat anak buahnya Haidar jadi ketakutan.dan langsung membawa tubuh Arinda pergi.
...🍃...
Sementara disisi lain.
Leo yang terlihat masih setia menunggu Haidar di dalamnya, tampak gelisah. Karena memang ia tak pernah sedikitpun jauh dari Haidar, setelah kematian sang Kakak. Namun kali ini tampaknya tekatnya sudah bulat kalau dirinya akan langsung pergi setelah ia mengantarkan Haidar dan Arinda nanti.
"Hum..keputusanku sudah bulat! Pokoknya setelah nanti, Aku mengantarkan Bang Haidar dan Nona Arinda, aku akan langsung pergi jauh! Dan tidak akan pernah kembali lagi!" gumam Leo, dengan wajah yang tampak begitu serius. Namun tiba-tiba.saja Haidar masuk ke dalam mobilnya seraya berkata.
"Sorry! Leo Tampaknya kamu harus menunda kepergian Lo! Karena Arinda sudah menjadi makanan lezat para peliharaan ku!" katanya sambil ia duduk tepat di samping kemudinya Leo.
"Apa!!"
...×××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶××××××...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰