
*••••••❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡••••••*
Menerima kebenaran kadang terasa pahit, apabila kenyataan yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tapi sikap menerima dengan ikhlas itu akan membantu kita lebih baik dalam menghadapi kenyataan yang terjadi. Daripada bersembunyi di balik topeng kepalsuan dan ketidakjujuran.
Sifat manusia mudah sekali terbawa nafsu dan khilaf. Pun dengan banyaknya godaan dari berbagai sisi bahkan ketika kita hendak berbuat baik. Maka waspadalah dengan jebakan syetan yang bisa merusak amal kita. Niat yang baik akan menemui banyak ujian keikhlasan. Dan sekali manusia mudah menyampaikan kebohongan, maka akan diikuti dengan kebohongan yg lain.
Kembalikan lagi pada niat yang bersih dan lakukan dengan cara yang baik supaya amal ibadahmu tidak sia-sia belaka. Karna dunia ini penuh dengan tipuan dan sandiwara, berpeganglah erat pada aturan dan petunjuk-Nya supaya selamat di dunia hingga ke alam baka.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•••••••••••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶••••••••••••••••••
Hari-hari kian berlalu, sekap Rindhima semakin dingin pada siapapun. Ia berubah menjadi anak yang sangat pendiam. Bahkan hampir tak pernah mengeluarkan suaranya sama sekali. Hal itu membuat Leo semakin gusar, karena biasanya ia masih mau berbicara padanya. Namun kali ini ia tak pernah sekalipun mengeluarkan suaranya lagi. Apalagi sama Haidar, ia bahkan selalu menghindarinya dengan terang-terangan. Hal itu membuat Haidar semakin kesal.
"Aaah! Mau sampai kapan, anak itu mendiami Aku sih? Ini sudah terlalu kelewatan! Apa dia tidak merindukanku apa?!" gerutu Haidar, sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Tampak sekali kalau saat ini ia sedang menahan amarahnya. Ketika ia sedang berada di ruangan kerjanya.
__ADS_1
"Maaf Bang, kalau saya lancang, tapi menurut saya, sebaiknya Andalah yang mengalah dalam hal ini. Karena apa bila Anda masih bersikeras untuk melakukan hal ini pada Rindhi. Saya khawatir Anda akan semakin kehilangan dia Bang," ujar Leo, yang terlihat ia sangat begitu khawatir, melihat hubungan antara ayah dan Anak itu, yang terlihat semakin menjauh.
"Cih! Jadi maksudnya kamu Aku harus mengembalikan wanita aneh itu lagi kesisinya Rindhi gitu?" tanya Haidar, sambil menatap dingin pada Leo.
"Tidak ada jalan yang lainnya lagi Bang! Karena hanya itulah jalan satu-satunya agar semuanya kembali seperti semula!" balas Leo, terdengar begitu meyakinkan. Sehingga membuat Haidar terlihat begitu dilema.
"Hah! Baru kali ini Aku merasa kalah! Dan itu pada Putriku sendiri! Huh! Brengsek! Ini semua gara-gara wanita aneh itu! Padahal aku sudah menyingkirkannya jauh-jauh dan membuat dia dan keluarganya menjadi menderita! Masa semua akan..." ujar Haidar terdengar begitu kesal. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba terdengar suara keras banting pintu yang terbentur dengan dinding ruang kerja Haidar.
GUBRAAAK!!!
Mendengar suara keras pintu yang terbanting membuat Haidar dan Leo begitu terkejut dan dengan spontan keduanya pun langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara tersebut. Dan betapa terkejutnya mereka tatkala keduanya melihat seorang gadis kecil yang sedang berdiri di tengah-tengah pintu tersebut sambil berkacak pinggang dengan tatapan yang terlihat begitu dingin menatap keduanya.
"Rindhi, dengarkan dulu penjelasan Daddy, Nak! Daddy melakukan.." balas Haidar seraya ia bangkit dari kursi kebesarannya, dan bermaksud ingin menghampiri putri kecilnya itu. Namun baru beberapa langkah saja dan baru beberapa kata saja tiba-tiba, Rindhima mengangkat tangannya, seraya berkata.
"Stop Daddy!! Indhi tidak mau mendengar alasan apapun lagi dari Daddy! Dan bila Deddy ingin Indhi akui sebagai Ayah Indhi! Maka jadikan Mommy Fatimah sebagai Mommy benaran Indhi! Oh iya Indhi akan kasih waktu Daddy hanya dua puluh empat jam saja! Dan apabila dalam waktu tersebut Mommy Fatimah belum Daddy nikahi! Maka bersiaplah untuk tidak menyesali apabila Daddy mengalami kerugian nantinya!" pungkas Rindhima dengan gaya orang dewasanya. Bahkan gaya bicaranya sangat mirip sekali dengan Haidar.
__ADS_1
Setelah melontarkan perkataannya yang mengandung ancaman. Rindhima pun langsung berlalu meninggalkan Haidar dan Leo yang tampaknya keduanya masih tercengang. Karena melihat sikap Rindhima, yang sangat berbeda itu. Dan ketika Rindhima tak terlihat Lagi keduanya pun baru tersadar dan dengan spontan keduanya saling bertatapan, dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Namun tiba-tiba saja Haidar langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha...Kamu dengar jugakan Leo? Putri kecilku sudah pintar mengancam Ayahnya sendiri! Hahahaha dan apakah kamu juga melihat gayanya tadi, hah? Itu benar-benar gayaku! Sangatlah mirip denganku! Hahahaha.." ujar Haidar, sambil tertawa terbahak-bahak. Karena ia merasa lucu setelah mendengar Ancaman Rindhima. Namun tidak buat Leo, karena sepertinya ia sangat mengetahui tabiat keponakannya itu.
"Kenapa Abang tertawa? Apakah Abang merasa ancaman Rindhi itu lucukah? Bang saya ingatkan Rindhi memiliki sifat yang sama dengan Anda! Jadi saya sarankan, agar sebaiknya Anda mempertimbangkan perkataannya itu, Bang," balas Leo, memberi peringatan pada Sang Abang iparnya itu.
"Hah? Kau takut Leo, dengan ancaman anak berusia enam tahun itu hah? Hahaha.. memangnya apa yang bisa dilakukan anak sekecil itu? Sampai-sampai kau begitu khawatir hah?" ujar Haidar, terlihat begitu menyepelekan ancamannya Rindhima.
"Tapi Bang, Rindhi itu bukan anak kecil yang..." balas Leo, bermaksud ingin mengingatkan kembali kepada Abang iparnya itu lagi. Namun Haidar yang tak mempercayai perkataannya langsung disanggah olehnya.
"Aaah..!Sudahlah Leo! Jangan berbicara yang tidak masuk akal! Karena aku tidak akan percaya! Kamu paham! Sekarang sebaiknya kita pergi ke markas karena tadi Aku mendapatkan laporan, bahwa ada seseorang yang ingin bermain-main denganku! Jadi sebaiknya kita langsung saja kesana!" katanya, sambil ia mengambil sebuah senjata berapi yang terdapat di dalam laci mejanya.
Setelah itu Haidar pun langsung menyelipkan senjata tersebut di celana bagian belakangnya. Kemudian ia pun langsung mengambil jas hitamnya yang tersampir disandaran kursinya, "Ayo kita berangkat!" katanya seraya ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sambil memakai jas hitamnya tadi.
"Baiklah Bang!' balas Leo dan ia pun langsung mengikuti langkah Haidar dari belakangnya.
__ADS_1
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰