
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Hidup ini hanya sebentar saja. Yang sebentar ini harus kita isi dengan segala yang bermakna. Banyak pilihan dalam hidup ini. Akan tetapi tidak semua pilihan itu baik. Karenanya penuhi pikiran kita dengan ilmu.
Asah dengan kesabaran, sikap tawadu’ dan hati yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan. InsyaAllah segalanya akan baik-baik. Semua problema akan segera terpecahkan. Dan apa yang kita harapkan akan segera Alloh ﷻ berikan jalan kemudahan untuk mencapainya.
Jaga diri kita. Jangan lupa selalu bersyukur atas segala nikmat yang Alloh ﷻ telah berikan. Jangan biasakan bersyukur atas sesuatu yang besar saja atau yang berkaitan dengan harta saja. Tetapi bersyukurlah kepada Alloh ﷻ dalam segala keadaan. Agar kedudukan kita disisi Alloh ﷻ ada pada posisi kemuliaan.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Keesokan harinya.
Pagi itu Fatimah dan Rindhima, terlihat sedang berkutik didapur. Yaa semenjak Fatimah menjadi ibu sambungnya, Rindhima semakin manja padanya. Apalagi semenjak ia merasakan masakan Fatimah, ia jadi selalu ingin memakan makanan yang dimasak ibu sambungnya itu. Dan tentu saja Fatimah jadi senang, karena memang memasak adalah salah satu hobynya.
Seperti saat ini, setelah tadi melakukan sholat subuh berjamaah. Rindhima langsung mengajak ibu sambungnya untuk masak bersama. Dan tentu saja Fatimah dengan senang hati, menuruti keinginannya. Dan kini keduanya terlihat sedang memasak dengan suasana begitu senang. Sehingga tawa mereka terdengar sampai ke ruang keluarga. Sehingga Haidar yang baru saja turun dari lantai dua juga ikut mendengar suara tawa renyah keduanya.
"Apa yang sedang mereka lakukan Butler? Sampai-sampai tawanya sampai kesini, hm?" tanya Haidar, tampak begitu penasaran.
"Hehehe.. itu Tuan, Nyonya dan Nona Indhi, sedang memasak. Karena semenjak Nona Indhi, memakan masakannya Nyonya, Nona jadi selalu ingin memakan makanan yang dimasak nyonya Tuan," jelas Markum, membuat keningnya Haidar langsung berkerut.
"Memasak? Bukankah kita, sudah memiliki Koki yang sangat handal? Lalu apa tugas mereka, kalau yang masak, Nyonya rumah ini juga, hah?" balas Haidar, dengan tatapan yang terlihat begitu dingin pada Markum.
"Maaf Tuan! Kalau begitu, saya akan mengatakan ini pada Nyonya, agar Beliau.." kata Markum, namun langsung di potong oleh Haidar.
__ADS_1
"Sudahlah, biar aku saja yang mengatakannya," katanya seraya ia langsung melangkah menuju ke arah dapur. Sesampainya disana, Haidar langsung tercengang saat melihat wajah putrinya yang terlihat, sudah dipenuhi dengan colekan tepung.
"Apa yang terjadi disini? Ada dengan wajah putriku..?" tanya Haidar. Dan dengan spontan Fatimah maupun Rindhima, langsung menoleh ke arahnya. Dan seketika kening Haidar langsung mengerenyit, saat melihat wajah Fatimah, yang ternyata kembali memakai cadar.
"Eh! Kenapa dia memakai cadar lagi? Bukankah tadi malam dia sudah tidak memakai cadar ya?Tetapi dia pakai lagi sih? Huh! Kalau begini akukan jadi nggak bisa melihat wajah cantiknya lagi," batin Haidar, terlihat ada kekecewaan di raut wajahnya.
"Daddy! Daddy! Iiis! Daddy kok melamun sih?! Indhi panggil-panggil jugaan tapi nggak dengar-dengar!" protes Rindhima yang ternyata sejak tadi, ia selalu memanggil-manggil Ayah itu.
"Aah..! Maaf Sayang, Daddy tadi lagi memikirkan pekerjaan, jadi nggak dengar deh, panggilan kamu," dalih Haidar, seraya ia menggendong tubuhnya putrinya, "Memang kamu mau bilang apa tadi hm?" tanyanya lagi, sambil memberikan kecupan pada pipinya Rindhima.
"Itu loh Dad? Besok akhir pekankan? Berarti sudah waktunya mengunjungi rumah Mommykan?" tanya si kecil Rindhima, dengan wajah yang tampak begitu antusias.
"Iya dong Sayang, itukan sudah menjadi rutinitas kita setiap minggunya. Memang ada apa, kamu kok bertanya seperti itu, Sayang?" tanya Haidar, terdengar begitu hangat bila, bersama putrinya.
Mendengar permintaan Putri kecilnya. Sontak mata Haidar langsung mengarah ke Fatimah, yang kebetulan Ia juga sedang menatap wajah Haidar. Sambil memegang piring yang telah berisikan makanan, yang tadi ia masak.
"Ya sudah kalau, memang seperti itu, ajak saja, sesuai keinginan kamu," balas Haidar dengan tatapan yang terlihat masih mengarah ke mata Fatimah, yang tampak begitu bening dan indah. Membuat mata Haidar begitu sulit beralih darinya pandangannya.
"Horree! Terima kasih Daddy, muach Sayang Daddy! Muach!" sorak Rindhima, membuat Haidar tampak begitu terkejut. Dan akhirnya pandangan bisa beralih juga, dari mata Fatimah. Dan kini, ia hanya menatap wajah putrinya.
"Aah.. benarkah kamu sayang Daddy, Sayang?" tanyanya sambil menatap wajah putri kecilnya.
"Benar dong Dad! Indhi itu sebenarnya sayang banget sama Daddy. Hanya saja, Daddy selalu aja bikin Indhi dan Mommy kecew.." balas Rindhima, bermaksud ingin mengungkapkan kekecewaannya pada Sang Ayah. Namun langsung di sanggah oleh Fatimah.
"Eeh, Sayang? Tidak boleh loh mengingat-ingat sesuatu yang buruk. Tetapi kalau mengingat sesuatu indah, tidak papa. Jadi mulai sekarang kamu tidak boleh ya seperti itu lagi?" sela Fatimah, terdengar begitu lembut.
__ADS_1
"Okay deh Umi, Insya Allah, Indhi tidak akan seperti itu lagi kok," balas Rindhima, seraya ia menyunggingkan senyuman manisnya pada si ibu sambungnya.
"Alhamdulillah.. ya sudah sekarang kita sarapan yuk? Kamukan sebentar lagi mau berangkat ke sekolahkan?" lanjut Fatimah, seraya ia menaruh piring-piring yang berisikan makanan tersebut keatas meja makan.
"Okay Umi! Ayo Daddy, kita sarapan!" ajak Rindhima. Dan kembali tubuh Haidar tanpak tersentak. Karena ternyata, ia tadi sempat tertegun saat mendengar perkataan Fatimah, yang terdengar begitu lembut.
"Aah! Baiklah Sayang ayo, kita sarapan," katanya, lalu ia pun mendudukkan tubuh Rindhima, dikursi makanya. Setelah itu ia pun ikut duduk, dikursi yang berada diujung meja. Sementara itu Fatimah duduk tepat di sampingnya Rindhima.
"Sini Mas, piringnya biar saya ambilkan," kata Fatimah, seraya ia menengadahkan tangannya, berharap Haidar memberikan piring yang sedang terlungkup dihadapannya itu.
"Eh! Aah baiklah!" balas Haidar, terlihat sedikit canggung. Lalu ia pun langsung mengambil piring yang dihadapannya lalu ia serahkan pada Fatimah. Dan langsung disambut oleh Fatimah.
Setelah itu ia mengisi piring Haidar dengan makanan yang tadi ia masak, setelah itu ia serahkan kembali piringnya itu pada Haidar, yang sejak tadi hanya memperhatikan apapun yang dilakukan Fatimah, sambil sesekali melirik mata Fatimah yang memiliki bulu mata yang panjang dan juga lentik.
"Ini Mas piringnya," kata Fatimah, yang ternyata itu sudah ketiga kalinya ia berkata seperti itu. Namun Haidar seperti sedang terhanyut didalam pikirannya.
"Iiis Daddy! Kok melamun terus sih! Umikan dari tadi panggilin Daddy!"
Mendengar suara lantangnya Rindhima, seketika Haidar langsung tersentak, "Aah! Maaf-maaf Sayang, Daddy nggak dengar! Maaf Fatimah," katanya sambil mengambil piringnya.
"Haiis..ada apa dengan diriku sih? Bikin malu saja! Mana jantungku, seperti habis berlari lagi! Huh kayaknya ada yang nggak beres nih sama jantuku" batin Haidar.
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Humm.. kayaknya sekarang Readersku pada pelit semua ya 🙄 Lihat saja Vote di novel ini, perasaan nggak nambah-nambah deh? Jadi nggak semangat deh😩
__ADS_1