RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
UNGKAPAN CINTA HAIDAR.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Dari Abu Hurairah RA, dia berkata,”Rasulullah SAW bersabda,’ Sesungguhnya Allah berkata: "Aku sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku" (HR Muslim)


Jika impian kita tinggi dan harapan kita besar, maka perbesarlah doa kita dan usaha mendekat pada-Nya, karna Allah Maha Kaya, Maha Kuasa atas segalanya, namun jika kita menganggap bahwa apa yang kita cita-citakan mustahil terlaksana maka itulah yang Allah kabulkan sesuai dugaan kita.


Perbesarlah 'wadah' untuk harapan dan pengabulan doa-doa kita dengan memperbanyak amal sholih, memperkuat kekhusyukan ibadah, dan menebarkan kebaikan, insyaAllah rezeki dan terijabahnya doa-doa kita sesuai dengan prasangka dan usaha kita pada-Nya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


"Aku sedang mencium istriku, Ting!"


Fatimah terlihat begitu kesal, tatkala mendengar jawaban dari Haidar yang begitu entengnya. Dibarengi kedipan mata Haidar yang tampak begitu genit. Membuat Fatimah semakin marah kepadanya. Dan seketika itu juga ia teringat pada isi kontrak yang telah dibuat oleh Haidar sendiri. Dan disaat ia masih mengingat-ingat isi kontrak tersebut, tiba-tiba Haidar kembali mendekati wajahnya, ke wajahnya Fatimah.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah kamu masih terbayang dengan ciuman kita tadi, hm?" tanya Haidar, begitu santainya. Membuat Fatimah begitu terkejut, tatkala ia melihat wajah Haidar yang begitu dekat denganya.


"Apa! Eh, menjauhlah Mas!" seru Fatimah, sambil mendorong tubuh Haidar, "Ingatlah Mas isi surat kontrak pernikahannya yang Mas buat sendiri! Bukankah di sana tertulis, tidak Anda tidak akan menyentuh saya? Tapi kenapa sekarang Anda melanggarnya sendiri, hah?! Ingat Mas, kalau Anda masih melakukan hal itu lagi. Saya tak segan-segan akan menuntut Anda!" lanjutnya, dengan tatapan mata yang terlihat begitu marah. Karena Haidar sudah bertindak semaunya.


Mendengar perkataan Fatimah, yang disertai dengan ancaman juga didalamnya, membuat Haidar langsung menyunggingkan senyuman smirknya,

__ADS_1


"Heh..! Ingatan kamu tajam juga ya, Fathiyah? Dan kamu juga cukup berani yaa? Sampai-sampai ingin menuntut Suami kamu sendiri, hm?" balasnya, sambil ia bangkit dari duduknya. Lalu ia berjalan menghampiri nakas yang tak berapa jauh dari tempat tidurnya. Lalu ia membuka salah satu laci yang terdapat di meja tersebut. Kemudian ia pun mengambil sebuah amplop berwarna putih dari laci tersebut. Setelah menutup kembali laci tersebut. Ia pun kembali duduk di tempatnya semula.


"Tetapi Thiyah, sebelum kamu menuntut Suamimu ini. Sebaiknya kamu terima dulu hadiah ini, dan bukalah, Thiyah," katanya lagi seraya ia menyerahkan amplop tersebut pada Fatimah.


Pada awalnya Fatimah terlihat ragu-ragu, untuk mengambil Amplop tersebut, "Hmm.. apa itu?" tanyanya sambil menatap amplop tersebut.


"Ambillah dulu, nanti kamu juga akan tahu setelah melihat isinya," balas Haidar, masih menyodorkan amplop putih tersebut pada Fatimah.


Karena Haidar terkesan memaksa, akhirnya, mau tak mau Fatimah pun langsung mengambil amplop tersebut. Setelah itu, dengan perlahan-lahan ia mulai membuka amplop tersebut. Dan tak berapa lama amplop pun terbuka dan ternyata isinya hanya sebuah serpihan kertas yang sudah di sobek-sobek. Membuat dahi Fatimah langsung berkerut.


"Apa maksudnya ini Mas? Mengapa Mengapa isinya hanya sobekkan kertas?" tanya Fatimah terlihat bingung.


Karena rasa penasaran Fatimah jauh lebih besar akhirnya, tanpa berkata apapun lagi, Fatimah pun langsung menyusun sobekkan kertas yang terdapat di dalam amplop tersebut satu persatu dan ia letakkan di atas ranjangnya. Sampai akhirnya sobekkan kertas-kertas tersebut tersusun dan menyatukan tulisan-tulisannya. Hingga akhirnya Fatimah pun bisa membaca tulisan-tulisan yang terdapat di sobekkan kertas yang kini telah bersatu itu.


"Surat perjanjian kontrak pernikahan? Kenapa surat kontrak ini disobek?" tanya Fatimah, sambil menatap wajah Haidar, dengan tatapan penasaran.


"Karena Aku ingin kamu menjadi istriku untuk selamanya, Thiyah," balas Haidar terdengar lembut, dan sambil membalas tatapannya Fatimah.


Mendengar pernyataan suaminya Fatimah seperti tak percaya, "Tapi kenapa?" tanya Fatimah lagi dengan singkat, dan masih dengan wajah penasarannya.


"Kalau Aku bilang, karena aku cinta sama kamu, apakah kamu akan percaya Fathiyah?" tanya Haidar balik, seraya ia menatap Fatimah dengan tatapan kelembutnya.

__ADS_1


Fatimah langsung tersentak kaget, dan seketika itu juga jantungnya langsung berdegup kencang. Bahkan mulutnya seperti terkunci, sehingga ia tak bisa mengeluarkan kata-katanya. Hanya matanya saja yang menatap wajah Haidar dengan tatapan seperti ingin memastikan kebenaran yang dikatakan oleh suaminya itu.


Haidar yang mendapatkan tatapan dari istrinya itu, seakan paham. Sehingga ia membenarkan duduknya agar bisa saling berhadapan dengan pas. Lalu ia pun meraih kedua tangannya Fatimah yang terasa kecil baginya. Dan kemudian ia kembali menatap wajah Fatimah lagi dengan tatapan kelembutnya.


"Itu benar Fathiyah, entah sejak kapan aku memiliki rasa yang tidak bisa aku mengerti. Hanya saja ketika melihat kamu terluka dan tak berdaya saat itu. Membuat perasaanku tidak menentu, bahkan ada perasaan ketakutan didalam hatiku, Thiyah," ungkap Haidar dengan suara yang terdengar sedikit bergetar dan masih menatap wajah istrinya dengan wajah sedihnya.


"Tetapi saat itu aku masih terus berusaha menepis perasaan itu. Sampai pada akhirnya, Rindhi mengirimkan foto kamu bersama mantan tunanganmu itu. Hati kembali kacau, bahkan aku tidak bisa mengendalikannya Thiyah. Dan aku sadar kalau saat itu, Aku begitu cemburu. Apalagi saat melihat mata kamu yang menatap wajah Pria itu dengan tatapan yang tak pernah aku dapatkan. Membuat hatiku terasa begitu sakit Thiyah. Dan dari sanalah Aku menyadari, kalau sebenarnya Aku mencintaimu Fathiyah," ungkap Haidar lagi, yang kemudian ia mengecup kedua tangannya Fatimah dengan lembut.


Mendengar ungkapan cinta Haidar, tanpa terasa air mata Fatimah mengalir begitu saja. Ia tak menyangka, kalau Suami dinginnya itu ternyata punya perasaan kepadanya. Padahal selama ini ia berpikirnya kalau suaminya itu amat membencinya. Sebab, ia selalu bersikap dingin dan cuek kepadanya, dan berbicara pun terdengar ketus dan datar. Makanya sudah pasti ia akan memiliki pemikiran seperti itu.


Melihat Fatimah yang hanya diam saja, Haidar pun kembali menatap wajah istrinya, dan ia sedikit tersentak saat melihat air matanya Fatimah, "Eh! Kenapa kamu menangis Fathiyah? Apakah ada perkataanku yang menyakiti hatimu hm?" tanya Haidar dengan lembut, dan Fatimah pun membalasnya dengan gelengan kepalanya saja.


"Aah. syukurlah, kalau begitu jangan menangis lagi ya? Karena hatiku terasa sakit saat melihat air mata kamu Sayang," ujar Haidar, sambil ia mengusap air mata yang membasahi pipinya. Setelah itu ia pun langsung memeluk tubuh istrinya.


"Fathiyah, kamu maukan, menjalani hidup berumah tangga yang sebenarnya denganku?" tanya Haidar, masih dalam posisi berpelukannya.


"Maaf Mas Saya tidak mau!"


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2