RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
MELEPASKAN KANGEN.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Dia (Ibrahim) berkata, “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” (Q.S Al Hijr :56)


Ketika kegagalan kembali menghampiri sedang kau sudah berusaha berkali-kali. Jangan mundur, jangan menyerah, maju terus sampai kata gagal itu kalah.


Tiada usaha yang sia-sia bagi mereka yang mau berusaha. Di balik kata gagal itu, ada pengalaman berharga yang kau dapat sebagai kenang-kenangan terindah dari kegagalan


Dan dari pengalaman itulah kau mampu tuk belajar lebih banyak pelajaran yang tak pernah kau ketahui sebelumnya. Percayalah bahwa Allah tak akan membuatmu kesusahan tanpa memberimu kebahagiaan


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


Setelah beberapa jam melakukan perjalanan lewat udara. Kini Helikopter Haidar berhasil mendarat di halaman Mansion yang lumayan luas. Dan seperti biasanya, mereka langsung di sambut oleh para bawahannya Haidar yang telah berbaris sejajar. Dan begitu melihat Bos besar mereka turun, dengan serentak mereka pun membungkukkan tubuh mereka secara bersamaan, sambil berkata..


"Selamat datang Tuan dan Nyonya! Selamat juga atas pernikahannya!" ucap para bawahannya Haidar. Membuat Fatimah tertegun melihatnya.


"Eh! Te-terima kasih, semuanya," ucap Fatimah, seraya ia mengatupkan kedua tangannya, dan sambil membungkuk sedikit tubuhnya. Namun katupan tangannya hanya sebentar, karena tiba-tiba saja Haidar langsung menarik tangannya.


"Jangan sembarangan memberikan hormat! Disini kamu seorang Nyonya! Jadi tidak perlu membungkukkan tubuh kamu! Paham!" ujar Haidar, seraya ia berjalan menuju pintu masuk Mansionnya, dan masih menarik tangan istrinya.


"Pa-paham Mas!" balas Fatimah gugup. Sambil ia mengikuti langkah kaki suaminya, yang lumayan lebar, membuat Fatimah, jadi sedikit terburu-buru, untuk menyesuaikan langkahnya. Dan setibanya mereka di dalam Mansion, ternyata mereka juga disambut oleh Butler Markum, berserta bawahannya.


"Selamat datang Tuan dan Nyonya, selamat juga atas pernikahannya!" ucap mereka secara serentak. Dan otomatis Fatimah, langsung menjawabnya. Yang itu artinya ia sudah melupakan perkataan dari suaminya tadi.

__ADS_1


"Terima kasih, Butler, dan terima kasih untuk semuanya," balas Fatimah yang sebenarnya ia sudah cukup mengenali kepala pelayan di mansionnya Haidar. Melihat istrinya, melakukan hal yang sama seperti tadi, Haidar langsung memberikan tatapan yang tajam pada Fatimah.


"Aah.. maaf saya lu.." ucap Fatimah, bermaksud ingin menjelaskan, kelupaannya. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba seorang gadis kecil, memanggil namanya dengan suara yang begitu lantang.


"Mommy Fatimah!!" teriak gadis kecil itu, dari lantai dua. Dan seketika berlari menuruni anak tangganya. Fatimah yang melihat itu langsung berlari juga menunju anak tangga tersebut. Tanpa memperdulikan Haidar lagi.


"Rindhima! Jangan berlari Nak! Nanti kamu jatuh!" teriak Fatimah, yang kini ia telah berada dibawah anak tangga tersebut, dengan mata terlihat begitu khawatir melihat Rindhima yang terlihat masih berlari, dan ketika sudah mendekati Rindhima langsung loncat kedalam pelukannya Fatimah, dan langsung diangkat oleh Fatimah dan kini ia berada di dalam gendongannya Fatimah.


"Aah.. Indhi kangen banget sama Mommy!" kata Rindhima, setelah ia memeluk tubuh Fatimah, dengan posisi digendong oleh Fatimah.


"Iya Sayang, Umi tahu. Umi juga kangen banget sama Indhi," balas Fatimah seraya mengecupi pipihnya Rindhima. Mendengar kata "Umi" seketika Rindhima merengganhkan pelukannya lalu ia pun menatap wajah Fatimah.


"Umi? Apa artinya?" tanya si kecil dengan wajah polosnya.


"Ooh.. hum.. apa itu artinya, Aunty tidak suka ya di panggil Mommy?" tanya Rindhima lagi, masih dengan wajah polosnya.


"Bukannya nggak suka Sayang. Hanya saja, panggilan itukan di khususkan untuk Mommynya Indhi, yang ada di surga. Masa panggil Umi itu juga sih? Pasti Mommynya Indhi sedih disana. Karena pastinya panggilan itu sangat istimewa baginya dan sudah pasti dia berharap, hanya dirinyalah yang Mommy oleh Indhi. Jadi panggilan itu, hanya milik Mommy Keyla. Indhi pahamkan maksudnya Umi Sayang?" jelas Fatimah, terdengar begitu berhati-hati sekali dan juga dengan penuh ke lembutan.


"Indhi paham Kok. Baiklah, mulai hari ini Indhi panggil Aunty, Umi bolehkan Umi?"


"Boleh dong Sayang. Malahan Umi senang banget loh," balas Fatimah, sambil tersenyum lembut pada Rindhima.


"Asyik, Terima kasih Umi," ucap Rindhima, seraya ia memberikan kecupan pada pipnya Fatimah.


Rindhima maupun Fatimah, tampak begitu bahagia dan itu sangat terlihat jelas dari tawa renyah mereka, yang keduanya tampak begitu Senang. Sehingga keduanya tidak sadar kalau sejak tadi, mereka telah di perhatikan oleh dua orang pria yang tak lain adalah Haidar dan Leo, yang sepertinya keduanya sedang, sapaan dari Rindhima. Tetapi Rindhimanya malah mengabaikan keduanya.

__ADS_1


"Apakah masih belum selesai, melepas kangennya, hm?" tanya Haidar yang akhirnya ia pun buka suara. Dan seketika itu juga Rindhima dan Fatimah langsung menolehkan wajahnya ke tempat Haidar berdiri.


"Eh! Daddy? Umm.. maaf Daddy, Indhi sampai lupa, mengucapkan terima kasih pada Daddy. Kalau begitu, terima kasih Daddy, karena Daddy sudah membawa kembali Umi Fatimah, untuk Indhi," ucap Rindhima.


"Hanya terima kasih sajakah Nak?" tanya Haidar.


"Aaah iya lupa," katanya Lalu ia pun langsung minta turun dari gendongannya Fatimah, "Tunggu sebentar ya Umi," lanjutnya lagi, lalu setelah mendapatkan anggukan dari Fatimah, Rindhima pun langsung menghampiri Haidar.


"Daddy jongkok dong!" pinta Rindhima, setelah ia berada di hadapannya sang Ayah.


"Oke!" balas Haidar dengan singkat lalu ia pun mengikuti keinginan buah hatinya. Dengan cara menekukan kedua lututnya, dan mensejajarkan tubuhnya pada Rindhima.


Melihat tubuh sang Ayah sudah sejajar dengannya, Rindhima pun langsung memeluk sang Ayah, "Terima kasih Daddy!" ucapnya Lalu ia juga memberikan kecupan pada kedua pipi sang Ayah.


"Hanya begitu saja?" tanya Haidar dengan wajah datar. Mendengar pertanyaan sang Ayah, Rindhima, pun langsung berpikir dan seketika ia teringat pada ancamannya sendiri.


"Jangan khawatir Dad, Indhi sudah menormalkan lagi kok perusahaannya. Dari ketika Daddy pergi menjemput Umi," jelas Rindhima.


"Ooh Benarkah? Kalau Daddy ke perusahaan dulu ya? Kalian lanjutkan saja kangen-kangenannya!" kata Haidar dan ia pun langsung bangkit, "Ayo kita pergi Leo!" lanjutnya lagi, pada Leo.


Melihat Ayahnya pergi Rindhima langsung bersorak kesenangan. Dan itu terdengar oleh Haidar dari luar, "Huh! Baru beberapa menit saja dia di rumah! Sudah mulai ngusai putriku!" gerutu Haidar terdengar kesal.


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2