
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
GANTUNGKANLAH SELALU PENGHARAPANMU KEPADA ALLAH. Ingin dimudahkan urusan? Ingin digampangkan persoalan? Ingin dilapangkan dada, dijernihkan pikiran, ditenangkan hati dan dibukakan pintu-pintu solusi?
Gantungkanlah pengharapanmu kepada Allah dan jangan berpaling dari-Nya. Niscaya, cepat atau lambat, semua hajatmu akan dipenuhi pada saat terbaik, dengan cara terbaik, dan dengan sesuatu yang paling baik.
Ada satu nasihat dari Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi rahimahullâh:
"Seorang hamba apabila menggantungkan hati dan mengajukan urusannya kepada Allah semata, niscaya segala urusannya akan menjadi baik, segala keadaannya akan menjadi mudah, pemberian dari Allah pun akan datang kepadanya tanpa dia sadari."
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Sesuai yang diperintahkan oleh Haidar, setibanya di Mansionnya. Ternyata Helikopternya sudah berada dihalaman Mansionnya. Dan tanpa ingin menunda-nundanya lagi, Haidar langsung menggendong istrinya yang masih dalam keadaan terlelap. Dan agar suara helikopter tak mengganggu tidur sang istri, Haidar pun memberikan ear muff pada telinganya Fatimah. Dan setelah Butler Markum, menyerahkan tas koper milik Fatimah, Helikopter pun langsung berangkat menuju ke pulau S.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya helikopter yang membawa Haidar dan Fatimah, mendarat di kepulauan S, tepatnya didepan Villa yang berbeda dengan miliknya yang biasa ia tempati bersama Keyla istri pertamanya. Letaknya juga sama-sama didekat pantai. Namun sangatlah jauh jarak Villa keduanya. Dan tampak sekali kalau Villa tersebut baru saja ia bangun, karena terlihat jelas dari bangunan yang terlihat sangatlah baru.
Haidar langsung menggendong istrinya, dan membawanya memasuki villa barunya, yang sepertinya Villa itu memang dikhususkan untuk Fatimah. Sesampainya ia didalam, Haidar langsung membawanya ke lantai dua yang ternyata disana terdapat beberapa kamar. Lalu Haidar pun memasuki kamar yang lebih besar, yaitu kamar utamanya. Setelah berada di dalam Haidar pun langsung meletakkan tubuh Fatimah di sebuah ranjang yang tampak begitu besar. Kemudian ia juga langsung membuka cadar yang menutupi wajah cantiknya.
"Cantik! Sangat cantik," gumam Haidar setelah ia berhasil menyingkirkan kain kecil yang sejak tadi menutupi wajah istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu memiliki kecantikan yang sangat alami. Tetapi kenapa kamu selalu menutupinya? Apakah kamu merasa malu memiliki wajah yang sangat cantik ini?" gumamnya lagi, seraya ia mengelus pipi Fatimah, yang terlihat putih sedikit kemerah-merahan. Dan disaat tangannya mulai mendekati bibir Fatimah yang terlihat mungil dan begitu merah, tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang dan seketika itu juga ada perasaan ingin meraih bibir ranumnya itu.
"Aaah.. tidak bisa begini! Kalau Aku tetap disini bisa-bisa aku tidak bisa mengendalikan diriku. Sabar Haidar! Ini belum waktunya, kamu harus bisa menahan diri kamu dulu! Karena saat ini dia masih belum sembuh total!" gumam Haidar, seraya ia melangkah keluar dari kamar tersebut. Dan meninggalkan Fatimah seorang diri.
Setelah beberapa saat ia kepergian Haidar, tiba-tiba saja tubuh Fatimah menggeliat, dan tak berapa lama kemudian ia pun membuka matanya. Untuk sesaat ia terlihat masih tertegun dengan suasana kamar yang tak ia lihat itu.
"Ini kamar siapa? Kenapa kamar begitu besar dan.." gumam Fatimah seraya ia melihat-lihat sekeliling kamar tersebut, sampai pada akhirnya matanya tertuju ke sebuah jendela. Dan seketika ia langsung terkejut saat matanya mengarah ke luar jendela tersebut.
"Eh! Apakah itu laut? Sebenarnya Ana dimana ini?" gumamnya lagi seraya ia bangkit dari tidurnya, dan langsung duduk. Dan disaat bersamaan pintu kamarnya terbuka dan dengan spontan matanya langsung mengarah ke pintu tersebut. Dan ia langsung tersentak saat melihat orang yang baru saja muncul dari pintu tersebut.
"Mas Haidar!" sentaknya, saat melihat suaminya yang baru saja masuk, sambil membawa sebuah baki yang diatasnya terdapat sebuah mangkuk berserta segelas air putih.
"Aah..Sudah bangun?!" sentak Haidar juga, yang tampaknya ia ikut terkejut saat melihat istrinya yang sedang terduduk di atas ranjangnya.
"Aah.. syukurlah! Kalau begitu sekarang kamu makanlah. Kamu pasti laparkan?" tanya Haidar sambil meletakkan baki ke atas nakas yang berada di sisi ranjangnya. Setelah itu ia pun langsung mengambil mangkuknya yang terdapat di baki tersebut. Setelah itu ia langsung duduk di sisi ranjang tepat sisi Fatimah. Membuat Fatimah terlihat begitu canggung karena posisi mereka begitu dekat.
"Sekarang bukanlah mulut Kamu," titah Haidar terdengar begitu lembut, sambil menyodorkan sendok yang sudah berisikan bubur didalamnya ke mulutnya Fatimah.
"Eh! Sa-saya bi-bisa makan sendiri Mas," balas Fatimah, sambil bermaksud ingin mengambil mangkuk yang berada di tangannya Haidar.
"Tidak boleh! Bahu kamu masih sakitkan?" kata Haidar sambil menepis tangan Fatimah.
__ADS_1
"Eh! Ti-tdak sakit lagi kok Mas! Lihat nih sudah bisa digerakkan. Itu tandanya sudah tidak sakit lagi Mas," balas Fatimah, seraya ia mengangkat-angkat bahu. Bahkan ia juga memutar-mutar lengannya untuk menunjukkan bahwa bahunya sudah baik-baik saja. Melihat hal itu membuat Haidar langsung tersenyum tipis.
"Benarkah? Kalau begitu, coba aku lihat, apakah lukanya sudah benar-benar sudah sembuh?"
Fatimah langsung tersentak mendengar perkataan suaminya, "Eh! Ta-tapi..ta-tapi.." Fatimah terlihat begitu bingung harus berkata apa.
"Kenapa hm? Apakah kamu malu memperlihatkan bahu kamu pada suami kamu ini, hm?" tanya Haidar terdengar datar.
"Bu-bukan be-begitu Mas. Ta-tapikan kita pernikahan Kitakan hanya kontrak..ja-jadi.." balas Fatimah terlihat begitu gugup. Karena wajah Haidar semakin mendekati wajahnya membuat ia benar-benar merasa canggung. Apalagi saat ini jantungnya sedang berdendang tak menentu.
"Apakah menurut pernikahan kontrak itu tidak sah di mata agama kamu, hm? Sehingga aku tidak diperbolehkan melihat tubuh kamu gitu?" tanya Haidar, yang kembali lagi ia mendekati wajahnya ke wajahnya Fatimah. Sehingga jarak mereka kini hanya sejengkal saja. Membuat Fatimah semakin gugup dibuatnya.
"Sss-sah sih! Ha-hanya saja ko- kontraknya kan akan segera be-berakhir! Jadi maaf saya hanya bisa me-memperlihatkan tu-tubuh saya, pada orang yang benar-benar menjadi suami hingga akhir hayat saya saja! Ka-karena saya..." jelas Fatimah. Membuat Haidar yang mendengarnya menjadi geram. Sehingga langsung memotong perkataannya dengan cara meraih bibirnya Fatimah yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya.
Mendapatkan serangan yang mendadak, membuat mata Fatimah langsung membulat sempurna, ia terlihat begitu terkejut sekali.
"Uhmm...!!" sentak Fatimah, ketika ia tersadar. Lalu ia pun langsung memukul-mukul dada bidang suaminya. Membuat Haidar akhirnya melepaskan tautannya.
"Aah! Anda..ha.. ha.. apa yang Anda lakukan?!" tanya Fatimah dengan wajah yang terlihat begitu marah melihat Haidar.
"Aku sedang mencium istriku, Ting!"
__ADS_1
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰