
*••••••❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡••••••*
Orang sukses itu bukanlah orang yang berhasil mendapatkan apa yang dia INGINKAN..
Tetapi orang sukses itu adalah orang yang berhasil mendapatkan KEBAIKAN dalam hidupnya..
Karena sesuatu yang berhasil didapat dari keinginan kita belum tentu akan menjadi kebaikan dalam kehidupan kita.. Maka hendaklah kita meminta selalu yang terbaik dari sisi Allah Ta'ala.. Karena Allah Ta'ala berfirman :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah 216)
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•×××××××××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶×××××××××ו
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Bahkan sudah hampir satu bulan, Rindhima mempelajari berbagai hal dengan Fatimah. Dari belajar mengaji belajar salat belajar tentang agama bahkan belajar taekwondo. Dan karena pada dasarnya Rindhima memiliki kecerdasan yang luar biasa. Makanya tak heran kalau ia begitu mudah menyerap setiap ilmu yang ia pelajari dari Fatimah. Dan karena hal itu membuat Fatimah semakin menyayangi Rindhima.
Sehingga membuat keduanya menjadi semakin akrab. Bahkan hubungan keduanya sudah seperti ibu dan Anak. Karena memang cara Fatimah memberikan pelajaran pada Rindhima, penuh dengan kasih sayang. Sehingga lewat Fatimah, Rindhima dapat merasakan kembali kehangatan seorang ibu. Hingga terlintas di dalam pikirannya untuk menjadikan Fatimah sebagai pengganti Mommynya.
"Rindhi? Kok melamun sih? Apa sih yang kamu pikirkan Sayang? Sampai-sampai kamu tidak mendengar panggilan Aunty, hm?" tanya Fatimah Ketika ia masih memberikan pelajaran pada Rindhima.
"Eh! Maaf Mommy!" sentak Rindhima tampak terkejut, karena Fatimah menyentuh tangannya. Sehingga ia tanpa sadar ia memanggil hatinya dengan sebutan Mommy. Namun seketika itu juga Ia pun langsung menyadari kesalahannya, "Aah.. sa-salah! Maksudnya Aunty!" katanya lagi, terlihat begitu gugup.
"Tidak apa-apa kok Sayang! Tapi coba kamu ceritakan, pada Aunty, sebenarnya kamu kenapa hm? Kok sejak tadi Aunty perhatikan, kamu jadi sering melamun gitu sih?"
Mendengar pertanyaan Fatimah, Rindhima tak langsung menjawab pertanyaannya. Ia malahan hanya menatap wajah Fatimah yang hanya terlihat matanya saja. membuat hatinya semakin penasaran dibuatnya.
"Sayang sebenarnya kamu kenapa, hm? Jangan bikin Aunty bingung dong?" tanya Seraya ia mengusap kepalanya Rindhima yang kini telah memakai jilbab. Dan lagi-lagi Rindhima tetap tak menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Humm.. Aunty tahu, kamu sudah bosenkan belajar sama Aunty? Kalau begitu mulai besok kita libur dulu saja ya? Biar kamu..." kata Fatimah lagi. Namun kali ini, perkataannya justru disela oleh Rindhima.
"Tidak-tidak! Indhi tidak bosen kok Aunty! Jadi jangan pernah libur ya Aunty?"
Fatimah pun langsung tersenyum tipis, ketika melihat semangatnya Rindhima. Apalagi saat melihat matanya yang terlihat berbinar ketika mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Baiklah! Tapi katakan dulu dong, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan, hm? Sampai kamu kehilangan Fokus kamu loh, saat menghafal ayat tadi. Jadinyakan Aunty penasaran Sayang, ayo dong cerita sama Aunty."
Sekali lagi Rindhima tak langsung menjawab pertanyaan Fatimah. Dan yang ia lakukan hanya menatap mata Fatimah saja, tanpa ingin berkata apapun. Melihat itu, membuat Fatimah jadi semakin heran melihat tingkah lakunya Rindhima yang tak biasa baginya.
"Rindhi, Aunty malu loh, habisnya kamu kok menatap Aunty seperti itu sih? Apakah ada sesuatu di matanya Aunty? Ataukan ada taimatanya ya, Dimata Aunty?" tanya Fatimah lagi, dan hanya dibalas dengan gelengan kepala saja oleh Rindhima.
"Haiiis.. sebenarnya kamu ini kenapa sih Sayang? Aunty jadi benar-benar penasaran deh," kata Fatimah lagi. Namun tetap saja Rindhima masih betah dengan kediamannya.
"Humm.. ya sudah kalau begitu, dari pada Aunty hanya harus melihat kamu diam. Lebih baik Aunty ngajarin Anak-anak pemulung saja deh!" kata Fatimah lagi, seraya ia bermaksud bangkit dari duduknya. Namun dengan sigap tangan Rindhima langsung menarik tangannya.
"Oke! Aunty mau dengar sekarang!" balas Fatimah, terdengar sedikit ketus. Sambil ia pun kembali duduk di bantalan yang berada disisi meja Osin tempat biasa mereka belajar, "Sekarang katakanlah, Sayang," kata Fatimah lagi, dengan suara yang kini terdengar lebih lembut.
"Emm.. itu Aunty, Indhi hanya lagi kangen sama Mommy. Indhi sedih, kenapa sih Allah mengambil Momynya Indhi? Terkadang Indhi iri melihat teman-teman Indhi yang Mommynya sering menunggui mereka disekolah. Sedangkan Indhi tidak punya Mommy. Hiks..hiks.. kenapa Allah jahat sih sama Indhi? Masa Momynya Indhi diambil, sedangkan Mommy teman-temannya Indhi nggak ada yang diambil ? Hiks..hiks.. ini nggak adil bagi Indhi, Aunty! Hiks..hiks.. huhuhu.."
Mendengar keluh si kecil Rindhima, hati Fatimah, terasa begitu sakit. Apalagi saat ia melihat air matanya yang mengalir begitu deras, membuat ia tak tahan melihatnya. Sehingga dengan spontan ia pun langsung memeluk tubuh gadis kecil itu.
"Sayang, Allah itu tidak jahat kok. Justru karena Allah sayaaang banget sama Mommy Indhi, makanya Allah mengambilnya. Coba deh Indhi bayangkan, seandainya Mommy Indhi masih ada, dan setiap harinya Momy menujukan rasa kesaktian karena penyakitnya. Apa Indhi tega melihatnya, yang tiap hari di pasang peralatan dari dokter, hm?"
Rindhima pun langsung terdiam tatkala mendengar perkataan Fatimah. Dan seketika ia pun teringat pada masa-masa ketika sang Ibu masih ada. Bahkan ia juga teringat, ketika penyakit sang ibu yang sedang kumat, dan membuat ia mengerang kesakitan, sambil menitikkan air matanya.
"Tidak Aunty! Indhi tidak mau melihat Mommy yang kesakitan lagi. Indhi kasian sama Mommy, Aunty," balas Rindhima, sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah.. berati Allah tidak jahatkan Sayang?" tanya Fatimah lagi.
"Iya Aunty! Allah baik kok, Mommy Indhi sudah nggak kesakitan lagi. Hiks..hiks.. Indhi nggak papa deh nggak punya Mommy, hiks..hiks.. Indhi ikhlas, karena yang penting, sekarang Mommy sudah tidak kesakitan lagi, hiks..hiks.." balas Rindhima, masih terisak-isak. Namun raut wajahnya kini terlihat telah ikhlas.
"Maa shaa Allah, kamu memang anak yang pintar ya? Masih sekecil ini sudah memiliki ilmu ikhlas," kata Fatimah, seraya ia memeluk tubuh gadis kecil itu lagi. Bahkan ia juga memberikan kecupan lembut pada dahinya dengan penuh kasih sayang. Untuk sesaat Rindhima terhanyut didalam pelukannya Fatimah.
"Indhi senang banget di peluk Aunty. Karena pelukannya Aunty, mirip banget sama pelukannya Mommynya Indhi," ujar Rindhima, masih dalam posisi berpelukan dengan Fatimah.
"Eh, benarkah Sayang?" tanya Fatimah, sambil mengusap-usap kepalanya Rindhima.
"Iya, benar banget Aunty!" balas Rindhima terdengar bersemangat.
"Hmm.. ya sudah kalau begitu, bila Indhi sedang kangen sama Mommy, Indhi boleh kok memeluk Aunty," kata Fatimah, sambil tersenyum lembut pada Rindhima.
"Benarkah Aunty?"
"Benaran Sayang. Dengan senang hati Aunty pasti akan memeluk kamu." balas Fatimah, menyakinkan Rindhima lagi.
"Kalau begitu, bolehkah Indhi memanggil Mommy juga sama Aunty?"
...×××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶××××××...
Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke
Oh iya selagi menunggu Author update yuk mampir ke karyanya temannya Author ya? Dan jangan lupa berikan dukungannya juga Ok 🙏🥰
__ADS_1
SYUKRON 🥰🙏.