
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Banyaklah mendoakan orang lain. Karena yang mendapatkan nikmat dalam kebaikan tersebut adalah kita. Dan mendoakannya, kita akan mendapatkan yang semisalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang bertugas mengaminkan do’anya kepada saudaranya). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang semisal dengannya.” (HR. Muslim no. 2733)
Berdoalah kepada Allah, ‘Allahumma zid hu min fadhlika wa a’thinii afdhala minhu’
(Artinya: Ya Allah, tambahkanlah karunia-Mu kepada saudaraku dan berilah aku karunia yang lebih utama darinya).”
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
"Saya bisa membantu Anda! Asalkan Anda mau mentanda tangani surat kontrak pernikahan ini!"
Mendengar suara bariton tersebut, dengan spontan Fatimah langsung menolehkan wajahnya ke sumber suara tersebut. Dan seketika matanya langsung terbelalak saat melihat wajah sang pemilik suara bariton tersebut.
"Tuan Haidar?!" sentak Fatimah begitu terkejutnya.
"Ya saya Haidar! Sekarang jawablah pertanyaan saya! Karena dokter itu sedang menunggu keputusan Anda!" ujar pria tersebut yang ternyata ia adalah Haidar.
Mendengar perkataan Haidar yang terdengar datar, apalagi saat melihat tatapannya yang begitu dingin, membuat Fatimah seakan enggan menanggapinya. Namun saat Haidar menyebutkan kata Dokter, ia pun jadi penasaran.
"Maaf, apa maksud Anda? Karena saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang anda ucapkan?" tanya Fatimah, terdengar penasaran.
"Leo berikan surat itu pada Dia!" ujar Haidar, bukannya menjawab pertanyaan Fatimah, ia malah mengalihkan pandangannya ke Leo.
__ADS_1
"Baik Tuan!" balas Leo. Lalu ia pun, menyerahkan sebuah file pada Fatimah, "Ini Nona, silahkan dilihat," katanya lagi pada Fatimah.
Fatimah pun langsung mengambil file tersebut, tanpa berkata apapun. Dan tanpa berbasa-basi lagi ia langsung membuka file tersebut dan seketika mata langsung terbelalak, setelah ia membaca isi didalam file tersebut.
"Astaghfirullah! Anda mengajak saya Nikah kontrak? Apakah Anda berpikir pernikahan itu sebuah permainan hah? Sehingga dengan gampangnya Anda berbuat seperti ini?" ujar Fatimah, sambil menatap Haidar dengan tatapan kebenciannya.
"Tuan, sebuah Pernikahan adalah momentum sakral, yang tak bisa sembarang dilakukan. Dan pernikahan itu termasuk ibadah. Sebagai umat muslim, kita diwajibkan untuk beribadah hanya kepada Allah. Dan didalam Islam, menikah adalah ibadah terpanjang dan merupakan penyempurna agama.
Sahabat Anas bin Malik meriwayatkan,
مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ فِي النِّصْفِ الثَّانِي
“Barang siapa menikah maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah kepada Allah Swt pada separuh yang kedua”.
"Jadi pernikahan itu engga semudah yang dibayangkan. Sudah pasti ada pertengkaran dan permasalahan yang datang menghampiri. Ya walaupun tak dapat dipungiri bahwa pernikahan adalah impian banyak orang untuk menikmati ibadah terindah dengan pasangan kita. Karena mereka bisa menghabiskan waktu menjadi sebuah pahala. Maka dari itu saya minta maaf karena saya tidak bisa menerima tawaran Anda, Tuan!" lanjut Fatimah, sedikit memberikan penjelasan pada Haidar, yang sejak tadi hanya diam saja. Sambil memperhatikan mata Fatimah yang terlihat berwarna sedikit kecoklatan.
"Heh.. sepertinya penilaian Anda terlalu tinggi ya Nona? Apakah Anda berpikir, saya benar-benar mengharapkan pernikahan ini hah?! Dengar ya Nona, asal Anda tahu saja, saya melakukan ini karena putri saya! Itu berarti bukan saya yang menginginkan pernikahan ini! Jadi Anda tidak perlu khawatir, walaupun status kita suami istri, tapi saya tidak akan menyentuh Anda! Dan tugas Anda hanya menjadi ibu untuk Anak saya! Apakah Anda mengerti?" jelas Haidar, panjang lebar.
"Maaf Tuan! Saya tetap tidak bersedi..." balas Fatimah. Namun saat bersamaan, tiba-tiba seorang wanita berseragam putih tampak buru-buru menghampiri Dokter yang terlihat masih berdiri tak berapa jauh dari Fatimah.
"Dok, pasien yang bernama Ibu Aminah, semakin melemah, Dok!" ujar Wanita itu, membuat Perkataan Fatimah langsung terhenti dan seketika pandangannya langsung berpindah pada sang wanita perawat itu
"Ada apa yang terjadi pada Ibu saya Dok?" tanya Fatimah terlihat Penasaran.
"Maaf Nona, sepertinya ibu anda sudah tidak bisa mengganggu lagi nona! Dan kondisinya saat ini semakin drop. Maka dari itu sebelum terlambat ibu Anda harus secepatnya melakukan operasi Nona!" jelas sang Dokter. Membuat Fatimaah langsung terdiam. Tampak sekali saat ini ia sedang dilema.
"Ya Allah apa yang harus Ana lakukan? Apakah Ana harus menerima tawaran pria ini? Ya Rabb, berikanlah hamba petunjuk Mu," batin Fatimah.
__ADS_1
"Nona, Anda harus secepatnya memutuskannya. Karena waktu kita sangat sempit, Nona," kata sang Dokter, lagi membuat Fatimah langsung tersadar dari lamunannya.
"Eh! Bismillah lakukanlah Dok! Operasi ibu saya sekarang!" kata Fatimah terdengar tegas.
"Baiklah Nona, tapi sebelumnya, Anda harus secepatnya menyelesaikan administrasi dulu Nona," ujar sang Dokter.
Mendengar perkataan sang dokter pandangan Fatimah langsung beralih kepada Haidar, "Apakah Anda akan menepati perkataan Anda bila Saya, mentanda tangani surat kontrak itu?" tanya Fatimah, pada Haidar.
"Haris! Pergilah selesaikan administrasinya sekarang juga!" ujar Haidar, pada asistennya. Ia kembali mengabaikan pertanyanya Fatimah.
"Baiklah Bos! Sesuai keinginan Anda!" balas Haris dan ia pun langsung bergegas pergi.
"Leo, berikan lagi surat itu pada Dia!" lanjut Haidar lagi pada Leo.
"Baik Tuan!" balas Leo, "Silahkan ditanda tangani Nona! Disini dan disini,'' lanjut Leo lagi, sambil ia menunjukkan dimana saja Fatimah harus mentanda tanganinya.
"Baiklah," balas Fatimah penuh kepasrahan. Lalu ia pun mulai mentanda tangani surat yang disodorkan oleh Leo.
Setelah melihat Fatimah selesai mentanda tangani surat kontrak pernikahan itu. Haidar pun langsung membalikkan tubuhnya, seraya berkata,
"Besok jam sembilan pagi, bersiaplah, karena kita akan langsung ke kantor KUA!" katanya, lalu ia pun langsung bergegas pergi dengan diikuti oleh Leo dari belakangnya. Tinggallah Fatimah seorang diri.
"Yaa Rabb, Ana tahu semua ujian ini adalah bagian dari rencana-Mu. Untuk itu berikanlah hamba kesabaran yang lebih," batin Fatimah, yang tanpa terasa air matanya pun mengalir begitu saja, "Bismillah semoga Ana bisa melewatinya,"
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰
__ADS_1