
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Pujian adalah ujian berupa kebaikan, karena ketika kita dipuji, bisa jadi kita akan merasa sombong dan merasa takjub pada diri sendiri, bahkan kita lupa bahwa semua nikmat ini adalah dari Allah Azza wa Jalla, kemudian kita merasa hebat dan sombong serta lupa bersyukur. Kagum terhadap diri sendiri merupakan suatu sifat yang bisa membinasakan...
Kita lebih memerlukan doa daripada pujian, karena biasanya pujian dapat menipu diri kita. Karena itu, kita harus belajar untuk ikhlas dan dilarang untuk memuji dengan berlebihan. Sehingga, segala amal kebaikan yang kita lakukan tidak akan berakibat lelah tapi lillah (karena Allah).
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Hari-hari berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa, satu bulan pun telah berlalu. Dan kini hubungan Haidar dan Fatimah pun semakin dekat dan bertambah mesra. Bahkan kini Haidar sudah membawa Fatimah kembali ke Mansionnya. Selain itu karena permintaan, Rindhima. Ia juga tak ingin berjauhan darinya. Namun semenjak Fatimah Kemabli ke kota, sikap Haidar, menjadi posesif terhadap Fatimah.
Bahkan ia dilarang berbicara pada para pekerja yang laki-laki, dan itu termasuk Leo. Hal itu terkadang membuat Fatimah menjadi kesal. Namun ia tetap menghargai keputusan dari suaminya. Dan pagi itu Fatimah bermaksud ingin mengantar Rindhima, kesekolahnya. Namun lagi-lagi, ditentang oleh Haidar dengan alasan, karna dia tak ingin peristiwa penculikannya terulang lagi. Namun langsung di protes oleh Rindhima.
"Iis.. apaan sih, Dad! Semua-semua nggak boleh! Kan kasian Umi! Hanya diam dirumah sendirian saja. Padahalkan kalau Umi mengantar Indhi, Umi bisa bertemu dengan Aunty Yasmin. Jadinya Umi pasti tidak akan jenuh, Dad!" protes Rindhima, ketika mereka sedang berada di ruang makan. Karena saat ini mereka sedang sarapan bersama.
"Rindhi, Daddy melakukan ini, untuk keselamatan Umi kamu! Emangnya kamu sudah lupaya, waktu peristiwa kalian berdua diculik, hm? Dan memangnya kamu mau Umi melihat kamu terluka lagi hm?" tanya Haidar, mengingatkan Rindhima.
__ADS_1
"Ingat kok! Itukan kesalahan Daddy! Sementang Umi jago silat, Daddy jadu hanya menempatkan pak supir aja! Coba kalau pada saat itu, Daddy tidak menarik pengawal bayangan Indhi! Pasti hal itu tidak akan pernah terjadi, Dad!" balas Rindhima, dengan sikap dan gaya orang dewasanya. Sehingga membuat Haidar langsung tersentak mendengar perkataannya.
"Eh! Dari mana, kamu tahu, kalau waktu itu Daday menarik pengawal bayangan kalian?" tanya Haidar terlihat begitu penasaran.
"Ya tahulah! Tapi itu nggak penting jugakan untuk jugakan untuk dijelaskan? Pokoknya hal itu terjadi semuanya, karena kesalahan Daddy!" kata Rindhima dengan suara yang terdengar begitu lantang. Membuat Fatimah yang mendengarnya langsung kaget.
"Eh! Astaghfirullah Indhi! Kamu tidak boleh berkata kasar begitu sama Daddy kamu nak!" tegur Fatimah, walaupun suaranya terdengar tegas, namun masih ada kelembutan didalamnya.
"Ingat Nak. Di dalam surat Al-Isra ayat 23-24 dijelaskan mengenai larangan anak berkata kasar loh Nak. Malahan diwajibkan kita sebagai anak harus bertutur kata yang mulia kepada orang tua. Dan hal ini sesuai dengan Firman Allah didalam surat Al-Isra ayat 23-24," lanjut Fatimah lagi, dan kemudian ia pun mulai melantunkan ayat Alquran, yang tadi disebutkannya. Dengan suara yang terdengar begitu merdu. Membuat Haidar yang mendengarnya, langsung terkagum-kagum dibuatnya.
Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS: Al-Isra ayat 23-24).
"Sudah jelaskan Nak? Jadi mulai sekarang Indhi tidak boleh berkata kasar lagi pada Daddy kamu lagi ya? Karena kalau kamu berkata kasar lagi, Itu berarti indhi sudah menjadi anak durhaka. Nak, seorang anak yang durhaka terhadap ibu atau bapaknya tidak akan mendapatkan ridho dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala, Loh Nak. Dan itu sesuai yang dikatakan didalam Hadits tentang berbakti kepada kedua orang tua.
"Ridho Allah itu tergantung ridho kedua orang tua dan murka Allah juga tergantung kepada murka kedua orangtua." (HR. Tirmidzi).
"Jadi kalau Indhi ingin mendapatkan Ridho dari Allah, Maka indhi tidak boleh, melawan orang tua. Karena di dalam diajaran agama kita. Diharuskan untuk selalu patuh kepada kedua orang tua dan juga harus selalu hormat, serta mencintai keduanya. Dan anak yang berbakti kepada orang tuanya, maka ia akan mendapatkan cinta dari Allah, dan juga dari orang tuanya," jelas Fatimah, panjang lebar. Dengan penuturan yang terdengar begitu lembut. Membuat Haidar semakin mengagumi istrinya itu.
__ADS_1
"Sekarang Indhi sudah pahamkan Nak?" tanya Fatimah, sambil membelai kepalanya Rindhima yang tertutupi oleh hijabnya.
"Paham Umi," balas Rindhima, terdengar lirih. Namun masih bisa terdengar oleh Fatimah dan Haidar.
"Alhamdulillah.. kalau begitu sekarang Indhi janji ya tidak boleh berkata kasar seperti tadi lagi ya Nak? Karena, jika seorang anak tidak taat kepada kedua orang tua dan berkata kasar itu termasuk dosa terbesar. Dan itu juga diperjelas loh didalam hadits, Nak, Rasulullah ﷺ bersabda;
"Dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi Indhi maukan janji sama Umi, untuk tidak berkata kasar lagikan Nak?" kata Fatimah lagi, karena ia masih dapat melihat kekesalan diwajah Rindhima, yang pastinya itu disebabkan karena sang Ayah, yang tidak mengizinkan Fatimah mengantarnya.
"Iya Umi Indhi janji!" balas Rindhima, seraya ia bangkit dari duduknya, dengan wajah yang terlihat sudah memerah karena menahan sedih dan kesalnya, "Ya sudah, Indhi minta maaf ya Dad, karena sudah berkata kasar," katanya lagi, setelah itu ia pun langsung pergi, tanpa menunggu jawaban dari sang Ayah.
"Eh! Minta maaf kok seperti itu sih? Dan kenapa wajahnya itu?" protes Haidar, sambil menatap kepergian Putri kecilnya.
"Iis Mas, Indhi seperti itukan, karena Mas tidak mengizinkan Thiyah mengantarnya. Makanya dia jadi seperti itu. Makanya izinkan Thiyah mengantarnya Ya mas? Kasihan Rindhi Mas, diakan sudah begitu berharap banget Mas," ujar Fatimah, berharap agar suaminya dapat mengizinkannya.
Mendengar kata Kasihan pada putrinya, hati Haidar pun akhirnya luluh, "Hmm.. ya sudah kamu boleh pergi. Tapi ingat, jangan berbicara pada laki-laki! Kamu pahamkan Sayang?"
__ADS_1