
Mata Fatimah selalu berbinar, tatkala ia sedang mengajarkan mengaji pada anak-anak di daerah kumuh tersebut. Begitu juga dengan para anak-anak disana. Mereka juga terlihat begitu senang, tatkala ustadzah mereka sudah memulaikan kajiannya. Apalagi cara Fatimah mengajarkan mereka dengan penuh kesabaran serta kelembutan, membuat mereka semakin bersemangat ingin terus belajar mengajinya.
"Maa shaa Allah, Dinda sudah semakin pintar saja ya mengajinya?" puji Fatimah pada salah satu anak sedang belajar mengaji padanya.
"Eh! Terima kasih Ustadzah, karena Ustadzalah, makanya Dinda pinter mengaji," balas anak yang bernama Dinda tersebut.
"Kalau Eko gimana Ustadzah?" tanya seorang anak laki-laki kecil yang tampaknya ia juga ingin di puji oleh Fatimah.
"Alhamdulillah.. Eko juga kok semakin pintar. Tapi Eko harus sering-sering baca juga ya di rumah? Biar kamu semakin pintar, oke?" balas Fatimah seraya ia mengusap rambut anak yang bernama Eko tersebut.
"Oke Ustadzah!" kata Eko sambil mengangkat tangannya ke pelipisnya. tanda ia memberi hormat pada Fatimah.
"Anak pintar! Begitu juga ya sama yang lain, tidak hanya Dinda dan Eko saja loh, kalian juga harus rajin-rajin belajar di rumah ya anak-anak? Terutama Sandi dan Evi. Kalian kalian berduakan sudah mendekati Al-Qur'an, jadi kalian harus sering-sering dibaca ya Iqronya?"
Mendengar perkataan sang Ustadzah, para anak-anak pemulung tersebut langsung menjawabnya dengan serentak.
"Iya Ustadzah kami pasti akan belajar dirumah," kata mereka dengan wajah-wajah yang begitu senang dan penuh semangat. Dan di saat bersamaan..
"Permisi Nona, bisakah kita bicara sebentar?"
Mendengar suara seorang pria, dengan spontan Fatimah, serta anak-anak yang sedang duduk beralasan kardus itu pun langsung menoleh ke sumber suara. Dan tampaklah oleh mereka dua orang pria berjas hitam dengan memakai kacamata hitam juga, sedang berdiri sambil menatap kearah Fatimah dan juga anak-anak disekelilingnya. Dan tentu saja mereka adalah Haidar dan Leo.
"Eh! Anda berdua? Bukankah Anda orang tua yang anaknya yang tiga hari yang lalu di sandra oleh penjahatkan?" tanya Fatimah, dengan tatapan matanya yang mengarah kepada Haidar.
"Aah.. ternyata ingatan Anda boleh juga ya? Ya benar sekali, kalau saya adalah Ayah dari anak itu," balas Haidar dengan datar.
__ADS_1
"Hum.. sebenarnya ada apa ya Tuan menemui Saya?" tanya Fatimah terdengar penasaran.
Namun Haidar tak langsung membalasnya, ia malah menatap wajah Leo, sambil menutup hidungnya. Ia seperti memberi isyarat pada Leo, seakan ia tak ingin berbicara di tempat tersebut. Sedangkan Leo yang seakan paham ia pun langsung menganggukkan kepalanya pada Haidar.
"Begini Nona ada yang mau kami bicarakan dengan anda! Tapi bisakah kita bicara ditempat yang lebih nyaman Nona?" kata Leo yang akhirnya membalas pertanyaannya Fatimah.
"Hanya bicarakan? Kenapa tidak disini saja?" balas Fatimah terdengar santai.
"Tidak enak, dengar anak-anak Nona, apa lagi orang-orang yang disekitar kita juga lagi memperhatikan kita jugakan? Jadi rasanya tidak nyaman Nona!" dalih Leo, agar Fatimah mau ikut bersama mereka.
Mendengar perkataan Leo, Fatimah pun akhirnya ikut melihat disekitarnya. Dan benar saja, para warga didaerah kumuh tersebut, memang sedang memperhatikan Haidar dan Leo, dengan tatapan yang terlihat tidak bersahabat. Hal itu membuat Fatimah akhirnya bangkit dari duduknya yang dari kardus.
"Baiklah, kalau begitu mari kita bicara disana," kata Fatimah, seraya ia menunjuk sebuah warung bakso yang ada di depan jalan sebelum memasuki pemukiman kumuh.
Haidar dan Leo langsung terperangah saat mengikuti arah jari telunjuknya Fatimah. Setelah melihat itu, keduanya pun langsung saling bertatapan. Dan kembali lagi Haidar seperti memberikan isyarat pada Leo. Seperti biasanya Leo pasti akan langsung paham setiap mendapatkan tatapan dari Abang iparnya itu.
"Hmm.. mau bicara saja kok ribet banget sih!" protes Fatimah, "Ya sudah kalau tidak usah bicara saja! Maaf, karena saya tidak punya waktu lagi untuk pergi ke tempat lain! Kalau begitu saya permisi!" cetus Fatimah, dan tak berapa lama ia pun bermaksud hendak melangkahkan kakinya untuk pergi. Namun Leo, langsung menghadangi langkahnya.
"Baiklah Nona! Baiklah kita bicara disan!" kata Leo, tanpa meminta persetujuan dari Haidar. Hal itu membuat matanya Haidar langsung mempelototin Leo.
"Oke! Kalau begitu saya tunggu kalian disana!" balas Fatimah seraya ia kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Haidar dan Leo. Ia tampak terus melangkah menuju ke sebuah warung yang tak berapa jauh dari tempat pemukiman kumuh itu.
"Apakah kamu sudah gila Leo?! Kenapa kamu langsung menyetujuinya sih?!" protes Haidar setelah kepergiannya Fatimah.
"Maaf Bang! Tapi bukankah tadi Anda sudah mendengar sendirikan? Makanya dari pada harus menunda-nundanya, lebih kita turuti saja keinginannya!" jelas Leo. Karena memang sebenarnya Leo tak ingin menundanya lagi karena hal ini menyangkut keponakannya.
__ADS_1
"Hah! Ya sudahlah! Kalau begitu ayo kita ikuti mereka!" balas Haidar dengan pasrah. Lalu ia akhirnya melangkahkan kakinya mengarah ke warung yang dimaksud oleh Fatimah.
"Aah.. syukurlah! Akhirnya beliau mau juga!" gumam Leo, seraya ia menghembuskan nafas lega.
Setelah keduanya sampai di warung bakso, wajah Haidar langsung berubah pias, tatkala ia melihat di sekitarnya warung tersebut. "Aiis.. ini sebenarnya tempat apa sih?! Jorok banget sih tempat ini! Tapi kenapa wanita itu santai aja ya? Bahkan Dia ikutan makan lagi" celetuk Haidar, dengan tatapan wajah yang terlihat dingin.
"Huh! Dasar wanita Aneh!" gerutu Haidar lagi.
"Sudahlah Bang abaikan saja! Ingatlah, ini demi Rindhima Bang!" ujar Leo terdengar begitu berhati-hati sekali.
"Iya baiklah! Ya sudah ayo kita kesana," balas Haidar yang akhirnya ia pun menghampiri Fatimah yang saat ini terlihat sedang makan bakso.
Sesampainya ia dihadapkannya Fatimah, tanpa berbasa-basi lagi pada Fatimah, Haidar langsung mengungkapkan maksud kedatangannya untuk bertemu Haidar.
"Nona, Maukah Anda menjadi bodyguardnya anak saya?!" ujar Haidar terdengar tegas. Membuat Fatimah seketika tersedak dan ia pun langsung terbatuk-batuk yang mendengarnya.
"Apa! Uhuk-huk-huk-huk,!"
...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...
Dukung Ramanda terus ya? Dan jangan pelit, ya Guys! untuk memberikan VOTE nnya. Kan biar Ramanda semangat loh Update, oke guys?Jadi
OH iya, selagi menunggu Ramanda update, yuk mampir kekaryanya 💓 Pipihpermatasari 💓 Pokoknya Karyanya keren loh guys. Makanya cus buruan, kepoin ya. Dan jangan lupa juga berikan dukungannya juga ya guys 🙏😉
__ADS_1
SYUKRON 🥰🙏