
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
"Ilmu itu lebih baik dari kekayaan, karena kekayaan itu harus dijaga, sedangkan ilmu menjaga kamu" (Ali bin Abi Thalib)
Ternyata selama ini salah, kala mendapat sedikit ilmu baru, lantas sudah merasa tahu banyak hal, dan merasa paling tahu. Harusnya, setelah mendapat ilmu baru, justru itu yang menyadarkan, bahwa pemahaman yang dimiliki sebelumnya ternyata masih terbatas dan masih sedikit.
Banyak sekali hal-hal yang harus dipahami lagi. Seharusnya inilah yang memotivasi agar tak henti-hentinya haus akan ilmu, dan tidak merasa tinggi karna hakikatnya ilmu dari Allah tidak akan habis di pelajari oleh manusia.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Disetiap waktu, di setiap kesempatan, Haidar terlihat begitu gigih mempelajari semua tentang agamanya. Bahkan ia meminta Leo, untuk membelikan buku-buku tentang yang berbau Islami. Sehingga disepanjang harinya yang ia lakukan hanyalah membaca, membuat Fatimah jadi merasa kesepian. Hingga akhirnya ia memilih untuk tidur. Namun diwaktu tengah malamnya ia terbangun lagi. Dan betapa kagetnya ia tatkala melihat suaminya yang ternyata masih bercengkrama dengan bukunya, membuat ia benar-benar merasa heran.
"Eh! Loh Mas, kamu kok belum tidur sih? Inikan sudah tengah malam Mas?" tegur Fatimah, seraya ia bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia pun menghampiri Haidar yang terlihat sedang duduk di sebuah sofa yang berada di kamarnya itu.
"Sebentar lagi Thiyah, soalnya lagi tanggung nih," balas Haidar dengan tatapan yang terlihat masih terfokus pada bukunya.
"Astaghfirullah Mas, itu namanya kamu sudah dzolim pada diri sendiri loh. Inikan sudah malam, Mas, jadi tubuh Mas, matanya Mas, sudah waktunya istirahat. Masa masih dipaksakan disuruh baca gitu sih? Emangnya apa sih yang Mas kejar?" tanya Fatimah, seraya ia duduk di sofa yang sama dengan Haidar. Namun jaraknya lumayan jauh, Haidar diujung sofa sebelah kanan, sedangkan Fatimah duduk di ujung sofa sebelah kiri.
"Mas lagi mempelajari ilmu Fiqih Thiyah. Biar Mas pantas bersanding dengan kamu," ucap Haidar, yang terlihat matanya masih terfokus dengan bukunya tersebut.
__ADS_1
(Ilmu Fiqih adalah salah satu bidang ilmu dalam Syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat, maupun kehidupan manusia dengan Allah. Hukum-hukum dalam fiqih ada lima yaitu wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.)
Fatimah langsung tersentak tatkala mendengar perkataan suaminya. Dan dengan spontan ia mendekatkan jarak duduknya dengan Haida. Lalu ia pun langsung merebut buku yang sedang dipegang suaminya itu. Membuat Haidar langsung terkejut melihat keberaniannya Fatimah.
"Kamu? Kenapa kamu merebut bukuku hm?" tanya Haidar, sambil mengerutkan keningnya dan kemudian ia langsung menatap mata istrinya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Fatimah yang mendapatkan tatapan tersebut, malah kembali menatap mata suaminya tanpa gentar sedikitpun, "Jadi Mas melakukan ini, hanya karena Thiyah, iya?" Fatimah malah balik bertanya, tanpa ingin menjawab pertanyaan suaminya itu.
Melihat keberanian istrinya Haidar, malah tersenyum tipis. Lalu ia langsung membuang tatapannya kearah buku yang sudah diletakkan oleh Fatimah diatas meja yang berada di hadapan mereka. Kemudian ia bermaksud mengambil buku tersebut, tanpa ingin menjawab pertanyaan istrinya juga. Fatimah yang melihat itu pun tak tinggal diam, dan ia pun langsung mengambil buku itu terlebih dahulu. Dan kemudian buku tersebut ia letakkan di belakang tubuhnya.
"Fathiyah, serahkan buku itu padaku?" kata Haidar, sambil menengadahkan tangan kanannya. Dan tanpa ingin melihat wajah Fatimah.
"Jawab dulu pertanyaan Thiyah yang tadi! Apakah Mas melakukan ini karena Thiyah?" tanya Fatimah lagi dengan mengulangi pertanyaannya.
"Syuuht.. bukan yang seperti itu yang Thiyah harapkan Mas," kata Fatimah dengan lembut. Dan sepertinya ia paham arah perkataan dari suaminya itu.
"Mas, Thiyah juga tidak berharap, Mas harus jadi yang sempurna. Karena bagi Thiyah hanya Allah lah yang memiliki kesempurnaan itu. Jadi Mas tidak harus melakukan hal ini, sampai sebegini bangetnya, hanya karena Thiyah. Padahal semua sudah ada yang mengaturnya. Untuk itu serahkanlah semuanya pada Allah. Karena segala sesuatunya sudah diatur oleh-Nya, Mas. Dan bila memang ilmu itu pantas menjadi milik Mas, maka Dia jugalah yang akan menunjukkan mana yang lebih pantas untuk Mas. Maka dari itu Thiyah mohon berhentilah menyiksa tubuh dan batin Mas lagi ya? Karena tidak akan ada hasilnya juga bila Mas memaksakan diri seperti ini,"
Mendengar penuturan dari istrinya yang panjang lebar, dan terdengar begitu lembut. Membuat tubuh Haidar yang tadinya merasa tegang dan kaku seketika melemas. Hingga akhirnya ia menyandarkan kepalanya ke bahunya Fatimah.
"Hah.. kenapa aku jadi seperti ini sih? Setiap aku, habis mendengar nasehatmu? Kamu ini sebenarnya siapa sih?" keluh Haidar, dengan kepala yang masih berada di bahu Fatimah.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Suaminya, Fatimah langsung menahan senyuman lucunya, "Hmm.. ya istrinya kamulah Mas."
"Hmm..Iyakah? Kalau begitu mana buktinya, kalau kamu istriku? Karena Aku akan percaya kalau ada pembuktiannya," tanya Haidar, dengan suara lemasnya dan dengan mata yang kini terlihat sedang terpejam. Tampaknya ia begitu nyaman ketika menyandarkan kepalanya di bahu istrinya.
Mendengar perkataan Haidar, Fatimah kembali tersenyum, dan tanpa memberikan aba-aba ia langsung mengecup bibir Haidar dengan singkat.
"Muach! Itu buktinya," kata Fatimah, membuat mata Haidar, seketika langsung terbelalak dengan sempurna. Dan dengan spontan juga ia langsung menegakkan kepalanya.
"Yang tadi itu apa Thiyah?" tanyanya dengan tatapan bingungnya.
"Eh! I-itu ciuman sebagai bukti yang Mas minta tadi," balas Fatimah, terlihat malu.
"Hah? Itu ciuman? Kayak capung cebok gitu ciuman?" tanya Haidar lagi. Membuat wajah Fatimah terlihat semakin memerah, karena menahan malu dan juga kesal.
"Iiiss.. tau akh! Terserah Mas saja! Thiyah mau tidur lagi!" cetusnya, seraya ia bangkit dari duduknya, dan bermaksud ingin melangkahkan kakinya. Namun belum lagi ia sempat melangkah, tangan Haidar sudah menarik tangannya. Sehingga ia langsung terjerembab ke pangkuan Haidar. Dan seketika itu juga, bibir Haidar langsung mendarat kebibirnya, membuat mata Fatimah langsung membulat dengan sempurna.
"Uhmm..!" Fatimah terlihat berusaha mendorong tubuh Haidar, namun tak dihiraukan oleh Haidar. Ia malah semakin ******* bibir ranumnya Fatimah dengan kelembutan. Hingga akhirnya Fatimah terlena dengan pemainnya. Akan tetapi baru saja ia ingin menikmatinya tiba-tiba Haidar melepaskan tautannya.
"Aaakh!" sentak Fatimah, dengan wajah yang terlihat seakan ia tak relanya.
"Ini baru namanya ciuman sayang, nikmatkan?" bisik Haidar.
__ADS_1
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰