RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
SOK COLD!.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Manusia secara tabiat tidak suka dengan orang yang jahat, bahkan orang yang jahat pun tidak suka jika orang lain jahat. Demikian pula sebaliknya manusia secara tabiat suka dengan orang yang baik, bahkan orang yang jahat pun suka dengan orang yang baik.


Maka berusahalah terus untuk senantiasa menjadi cermin. Jika engkau ingin sebuah keindahan yang muncul di hadapan mu, maka tampak pula keindahan. Karena tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. Yakni tidak ada balasan bagi orang yang berbuat baik di dunia melainkan diperlakukan dengan baik di dunia atau di akhirat nanti.


Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


هَلْ جَزَآءُ الْإِحْسٰنِ إِلَّا الْإِحْسٰنُ


"Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."(Qs. Ar rahman : 60)


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


Setelah sekian lamanya menunggu, akhirnya Haidar bernafas lega. Karena pada akhirnya para dokter yang menangani istrinya telah berhasil mengangkat peluru yang bersarang di bahu kanannya. Dan kini Fatimah telah dipindahkan ke ruang rawat intensif, karena ia masih didalam pemantauan karena ia sempat kritis. Namun syukurnya ia bisa melewati masa-masa kritisnya.


Tetapi tetap saja bagi para Dokter belum bisa bernafas lega. Pasalnya Haidar masih saja menekan mereka. Sebab sudah lebih dari yang dijanjikan sang Dokter. Namun tetap saja istrinya tak kunjung juga sadar. Hal itu sudah pasti membuat Haidar semakin ketimplangan. Sehingga membuat Rindhima yang melihatnya menjadi kesal.


"Iiis.. Daddy! Bisa nggak sih? Jadi orang belajar sabar sedikit aja! Dokterkan sudah berusahakan? Jadi tunggulah sebentar lagi, mungkinkan Umi masih ingin tidur, makanya Dia belum membuka matanya," protes Rindhima, karena ia sudah tidak tahan melihat sang Ayah yang masih saja menyalahkan para dokter tersebut.


"Tapikan sudah lebih dari dua jam Nak. Bukankah mereka tadi.." balas Haidar. Namun langsung di sela oleh putrinya.


"Semuanya butuh proses Dad! Termasuk Umi!Jadi Daddy jangan selalu memaksakan keinginan Daddy terus dong!" potong Rindhima, membuat Haidar tak bisa berkutik lagi. Dan disaat bersamaan, tiba-tiba Leo membuka suaranya.

__ADS_1


"Tuan, Nona, lihatlah! Nyonya sudah membuka matanya," ujar Leo, dan dengan spontan Haidar maupun Rindhima langsung menolehkan wajahnya ke kaca ruangan instensif. Dan benar saja, ternyata Fatimah, memang sudah tersadar. Membuat Rindhima yang melihatnya langsung tersenyum senang.


"Alhamdulillah, akhirnya Umi sudah sadar kembali," ucapnya penuh rasa syukur. Lalu ia pun langsung menghampiri salah satu dokter yang menangani Fatimah, "Pak Dokter, bolehkah Indhi masuk kedalam sana? Indhi ingin menemui Umi," pinta gadis kecil itu, dengan tatapan mata yang terlihat ia sedang berharap.


"Sebentar ya Nona? Umi Nona harus diperiksa dulu. Nanti kalau keadaanmya sudah stabil, kami pasti akan memindahkan Uminya Nona ke ruang rawat biasa. Jadi nona bisa bebas menemaninya oke?" balas sang Dokter dengan lembut.


"Baiklah Pak Dokter," balas Rindhima, terdengar lemas. Setelah mendapatkan jawaban dari Rindi mah sang dokter pun pergi memasuki ruangan intensif tersebut untuk memeriksa Fatimah.


"Leo? Perasaan tadi ada yang menyuruh orang belajar bersabarkan?Tapi kok sekarang wajahnya jadi sedih ya? Berbeda banget sih sama ucapnya?" sindir Haidar, karena ia melihat wajah putrinya terlihat sedikit sedih.


Mendengar sindiran dari sang ayah seketika wajah Rindhima langsung beralih ke wajah Haidar, yang terlihat ia sedang melirik ke arahnya, "Siapa yang sedih? Orang Indhi hanya sedang kasihan melihat Umi saja kok, Dad," dalihnya, sambil ia menunjukkan wajah cerianya lagi pada sang ayah.


"Ooh.. Daddy pikir, kamu sedih karena.." tanya hebat. Namun perkataannya langsung berhenti karena dokter yang tadi memeriksa Fatimah, kembali ke luar. dan ia pun langsung menghampirinya, "Bagaimana mana Dok? Apakah sekarang kondisi istri saya sudah bisa dibawa keruangan rawat biasa?" tanya Haidar terlihat begitu penasaran.


"Bagus! Kalau begitu secepat mungkin pindahkan istri saya di ruang VIP!" kata Haidar dengan tegas.


"Baiklah Pak! Kalau begitu saya permisi!" pamit Sang Dokter. Dan tak lama kemudian, para suster pun mulai mendorong tempat tidur nya Fatimah lalu mereka pindahkan ke ruangan VIP. Sesuai permintaan Haidar.


Melihat sang Ibu sudah keluar dari ruangan insentif, Rindhima pun langsung mengikuti para perawat yang sedang mendorong tempat tidur sang Ibu. Setibanya di ruang VIP tersebut, para suster langsung memindahkan tubuh Fatimah, ketempat tidur yang berada di ruang VIP tersebut. Setelah mengecek keadaan Fatimah, serta mengecek botol infusnya. Para suster akhirnya bergegas pergi dari ruangan itu.


"Aah.. Akhirnya selesai juga," gumam Rindhima, lalu ia pun langsung mendekati tempat tidurnya Fatimah.


"Assalammu'alaikum Ummi?" sapa Rindhima setelah ia berada tepat di sisi ranjangnya Fatimah.


"Wa'alaikumus salam Sayang. Kamu tidak apa-apakan Nak? Apakah kamu tadi terluka?" tanya Fatimah dengan suara yang terdengar masih lemah. Namun tetap saja ia malah mengkhawatirkan keadaan Putri sambungnya itu.

__ADS_1


"Sempat-sempatnya kamu mikirin orang lain? Padahal kondisi kamukan masih sangat lemah jugaan!" ujar Haidar, yang baru saja muncul dari pintu masuk.


"Orang lain? Apa maksudnya Daddy berkata orang lain sih?" tanya Rindhima yang sepertinya ia tak suka mendengar perkataan sang Ayah.


"Maaf Sayang, itu maksudnya hanya istilah saja kok. Tidak ada maksud lainnya kok Nak," dalih Haidar, yang sepertinya ia harus lebih berhati-hati lagi, untuk menghadapi Putrinya kesayangannya itu.


"Hmm.. benarkah itu?" tanya Rindhima lagi, namun tak langsung di jawab oleh Haidar. Karena pandangannya saat ini sedang mengarah ke Fatimah.


"Bagaimana kondisimu sekarang? Apakah ada yang merasa tidak enak? Atau ada yang sakit lagi?" tanya Haidar, dengan tatapan datarnya.


"Tidak kok Mas, saya sudah merasa lebih baik," balas Fatimah masih dengan suara lemahnya.


"Baguslah! Kalau begitu, fokus saja dengan pemulihan kamu! Dan jangan memikirkan hal lainnya paham!" ujar Haidar lagi, yang kali ini nada bicaranya terdengar begitu dingin.


"In shaa Allah Paham Mas," balas Fatimah, yang terlihat ia mulai enggan melihat wajah suaminya itu, yang terlihat sedang memasang wajah dinginnya juga.


"Bagus! Ayo Leo kita pergi!" kata Haidar, seraya ia melangkah menuju pintu keluar dengan jalan yang terlihat sedikit cepat.


"Hah? Hanya begitu saja?" tanya Rindhima, terlihat heran. Namun tak dihiraukan oleh Haidar, malahan kini ia telah menghilang dibalik pintu kamarnya Fatimah.


"Huh! Tadi aja kaya orang gila, mondar-mandir nggak tentu arah! Giliran, sekarang aja sok Cold!" protes Rindhima, sambil melipat kedua tangannya di bawah dadanya.


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2