
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷
Nabi Muhammad SAW beliau bersabda : “Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, janganlah kalian saling mendiamkan, janganlah suka mencari-cari isu, saling mendengki, saling membelakangi, serta saling membenci tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari no. 5604)
Sebelum Allah menilai diri yang baik, maka didiklah diri untuk menilai orang lain baik. Jangan hanya mengharapkan orang lain sempurna sedangkan diri sendiripun tidak sempurna.
Belajar berlapang dada dengan kelemahan dan kekurangan orang lain, karena kadang kita lebih mencela orangnya dibanding kesalahannya. Marilah kita belajar menghitung kebaikan orang lain dan bukan menghitung keburukan, karena tiada manusia yang sempurna.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷
Keesokan harinya.
Sesuai yang dikatakan Haidar, dipagi harinya. Tampak mereka sudah bersiap-siap untuk melakukan ibadah umroh. Bahkan Haidar juga terlihat sudah memakai pakaian ihramnya. Begitu juga dengan Fatimah dan Rindhima. Tampak keduanya juga sudah memakai pakaian serba putih dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Lalu ketiganya langsung bergegas meninggalkan kamar hotel mereka.
"Sayang, kamu harus ingat ya? Ketika nanti saat melakukan tawaf kamu lelah, kamu harus istirahat, oke?" Pesan Haidar, saat mereka sedang menelusuri koridor hotel yang menunju ke pintu lift.
"Iya Mas, Thiyah ingat kok. Kan sudah berkali-kali Mas mengingatkannya. Makanya Mas tidak perlu khawatir lagi ya? Fokus aja sama ibadahnya ya?" Balas Fatimah dengan nada lembutnya.
"Itu sudah pasti Sayang, karena Mas ingin minta sama Allah, agar kamu dan anak kita selamat dan sehat saat persalinan nanti," kata Haidar, sambil menatap wajah istrinya dengan lembut. Ketika mereka telah berada di dalam lift.
__ADS_1
"Aamiin ya Allah, terimakasih Mas," ucap Fatimah seraya membalas tatapan suaminya.
"Oh iya Sayang, memangnya harus ya melakukan tawafnya sampai tujuh kali? Apa nggak bisa gitu, hanya tiga kali saja, hm?" Tanya Haidar, dengan wajah penasarannya.
"Mas? Ibadah ke Makkah adalah impian umat Muslim diseluruh dunia, untuk menjalankan ibadah haji dan umroh. Nah dalam melaksanakan ibadah haji disana atau umroh, ada ritual mengelilingi ka’bah di Baitullah tujuh kali, yaitu salah satunya tawaf. Ritual ini sudah dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim dan Ismail, loh Mas," balas Fatimah, yang kemudian ia pun menjelaskan sedikit tentang tawaf.
"Tawaf adalah salah satu rukun dalam rangkaian amalan ibadah haji maupun umrah. Dengan kata lain, tawaf menjadi penentu keabsahan dalam ibadah seseorang yang bahkan tidak dapat diganti dengan dam atau denda sekalipun bila ditinggalkan," jelas Fatimah lagi. Sambil memandang lekat wajah suaminya yang tampak begitu serius juga menatap dirinya.
"Umi, tawaf itu apa sih?" Tanya Rindhima, yang akhirnya ia pun buka suara. Mendengar pertanyaan putri sambungnya, Fatimah pun langsung mengalihkan pandangannya pada Rindhima. Lalu ia pun mengelus lembut pada kepala putrinya itu.
"Sayang? Tawaf sendiri secara bahasa bermakna mengelilingi. Untuk itu, tawaf dapat diartikan sebagai amalan mengelilingi Kakbah sebanyak tujuh kali putaran dengan posisi Kakbah di sebelah kiri yang disinggung dalam surah Al Hajj ayat 29,
ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
"Nah, makanya Sayang, kalau kita ingin ibadah umroh kita, di terima oleh Allah. Maka kita harus mengikuti semua peraturannya. Hingga hingga ibadah umroh kita bisa disebut makbullah," jelas Fatimah, dengan penuturan yang terdengar begitu lembut.
"Ooh begitu ya? Hmm.. baiklah, kalau begitu Indhi juga mau melakukan tawaf juga Umi," balas Rindhima, dengan wajah terlihat begitu semangat.
"Alhamdulillah.. baiklah Sayang, nanti kamu jangan jauh-jauh dari Umi ya?" Kata Fatimah, kembali ia mengelus kepala Rindhima dengan kasih sayang.
"Oke Umi!" balas Rindhima, sambil mengacungkan jari telunjuk dan jempolnya yang ia satukan hingga membentuk bulatan, dengan wajah yang terlihat begitu senang.
__ADS_1
Namun berbeda dengan wajah Haidar, yang tampaknya masih ada kecemasan di raut wajahnya. Dan hal itu membuat Fatimah yang sempat meliriknya seperti paham akan kecemasan suaminya itu. Dan ia pun langsung menggenggam tangan suaminya sambil menatap lembut kepadanya.
"Mas percayakan semuanya pada Allah ya? In shaa Allah, Thiyah dan anak kita akan baik-baik saja kok. Lagian kan ada Mas, jadi kalau terjadi sesuatu Mas akan siap siagakan? Kan Mas Suami siaga, iyakan?" Ujar Fatimah sambil mengedipkan sebelah matanya. Membuat wajah Haidar yang tadinya begitu tegang kini sudah kembali normal. Bahkan ia sempat menyunggingkan senyuman tipisnya saat melihat kedipan mata sang istrinya.
"Hmm... kamu? Ya sudah baiklah kalau begitu. Tapi ingat ya kalau terasa lelah kamu harus beristirahat oke?" ujar Haidar, yang akhirnya ia mengalah.
"Yes sir!" balas Fatimah, seraya ia mengangkat tangannya dan ia letakkan di pelipisnya, persis seperti seorang polwan memberi hormat pada sang komandannya.
"Apalagi ini? Aah.. sudahlah ayo kita bergegas. Karena pasti Leo dan Yasmin sudah menunggu kita," kata Haidar lagi, sambil menggandeng tangan Rindhima. Dan mereka akhirnya bergegas menuju ke lobby hotel dan benar saja ternyata Leo dan Yasmin memang sudah menunggu disana.
Setelah mereka saling bertegur sapa, sejenak. Lalu mereka pun melakukan ihram dengan menghadap kiblat, serta mengucapkan :
“Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu melaksanakan umrah.”
Setelah itu, kelimanya langsung melanjutkan perjalanan menuju Makkah dengan membaca talbiah sebanyak-banyaknya. Sesampainya di Masjidil haram mereka pun mulai melakukan semua syarat yang sudah disunah di dalam tata cara umroh termasuk melakukan tawaf sebanyak tujuh putaran di Ka’bah. Setelah usai Mereka juga melakukan sa’i atau berjalan menuju Bukit Shafa. Di saat itulah, Fatimah merasa ada hal yang aneh pada perutnya.
"Aah.. sakit! Oh ya Allah, biarkanlah hamba menyelesaikan ibadah umroh ini ya Rabb. Setelah itu hamba akan berpasrah apapun yang terjadi nantinya. Dan apapun itu hamba yakin itulah yang terbaik untukku," batin Fatimah, yang terlihat sekali ia berusaha tetap tegar agar tak terlihat oleh suaminya.
Fatimah masih terus melakukan ibadah sa'i nya. Hingga akhirnya ia berhasil, dan mereka pun langsung melakukan Tahallul. Untuk menyempurnakan ibadah Sa’i, jemaah lelaki boleh mencukur rata semua rambut di kepala. Untuk wanita, cukup dengan memotong beberapa helai saja.
Dan baru saja Yasmin, memotong rambut Fatimah, tiba-tiba saja Fatimah, kembali merasakan sakit pada perutnya. Bahkan kali ini rasa sakit yang ia rasakan amatlah luar biasa. Sehingga tanpa terasa suara pekikan pun keluar dari mulunya.
__ADS_1
"Aakh..! Astaghfirullah..!"
...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶...