RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
KEMARAHAN HAIDAR.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Siapa yang mendoakan saudaranya maka hakikatnya mendoakan diri sendiri. Siapa yang membahagiakan orang lain maka sesungguhnya membahagiakan diri sendiri.


Rasulullahﷺ bersabda :


“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama.’” (HR. Muslim)


Siapa yang menerangi hati orang lain maka sesungguhnya menerangi hati sendiri. Siapa yang mengobati orang lain maka sesungguhnya mengobati diri sendiri. Siapa yang menuntun ke jalan kebaikan pada orang lain maka sesungguhnya telah mengarahkan kebaikan diri sendiri.


So, jangan pernah bosen untuk melakukan kebaikan. Karena setelahnya, kebaikan akan selalu menghampiri kita.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


Keesokan harinya.


Setelah mendapatkan perhatian dari Fatimah. Haidar tampak begitu senang. Namun tetap saja dia gengsi untuk mengakuinya. Dan masih saja ia bersikap datar dan dingin pada Fatimah, bila ia berada di dekatnya. Akan tetapi bila Fatimah tak terlihat olehnya, ia akan langsung mencarinya. Seperti saat ini, padahal ia sudah tahu kalau Fatimah sedang mengantar putrinya ke sekolah. Namun tetap saja ia memperintahkan Leo, untuk menjemput agar segera kembali.


"Kenapa wanita itu belum juga kembali? Apakah mengantar anak ke sekolah itu memakan waktu yang berjam-jamkah?!" tanya Haidar, dengan wajah yang terlihat amat kesal. Karena ia merasa sendirian didalam kamarnya Rindhima.


"Maaf Tuan, kan memang biasanya Nyonya mengantar Nonakan lama. Karena Nyonya akan menunggu Nona sampai pulang Tuan," jelas Butler Markum.


"Apa! Menunggu sampai pulang? Berarti sampai jam dua belas dong dia disana?!" tanya Haidar terlihat ia begitu terkejut. Karena memang selama ini ia tak pernah tahu, apa kegiatannya Fatimah.


Benar Tuan, karena Nyonya juga sekalian mengajarkan taekwondo pada anak-anak sekolahnya Nina Rindhi Tuan," balas balas Markum lagi.

__ADS_1


"Apa! Ini tidak bisa dibiarkan! Leo! jemput istriku sekarang juga! Suami sakit dia malah mengajar! Bilang juga pada pihak sekolah, untuk mentiadakan pelajaran itu! Karena Aku nggak suka melihat Istriku mengabaikanku yang lagi sakit, hanya karena pelajaran itu!" ujar Haidar, terdengar begitu keras. Tampak sekali kalau dirinya tidak suka, dengan kegiatan Fatimah yang satu itu.


"Baik Tuan! Kalau begitu saya permisi!" kata Leo, lalu ia pun langsung bergegas keluar dari kamarnya Rindhima.


"Tumben banget, bang Haidar menyebutkan Nona Fatimah dengan kata Istriku? Biasanya juga menyebutnya selalu dengan sebutan wanita anehkan?" gumam Leo, saat ia sudah berada di luar kamarnya Rindhima.


"Hmm.. sepertinya akhir-akhir ini kelakuan bang Haidar juga rada aneh deh! Biasanya juga dia lebih mementingkan perusahaankan? Tapi kenapa hari ini dia bersikap manja begitu? Apa sudah terjadi sesuatu ya, antara Bang Haidar dan Nona Fatimah?" gumam Leo, lagi, sambil ia menurunkan anak tangga menuju ke ruang tamu.


Bodo ah! Terjadi sesuatu jugakan mereka suami istri, ya wajarlah! Sekarang mendingan aku secepatanya saja ke sekolah Rindhi!" kata Leo lagi. Lalu ia pun langsung berjalan cepat menuju ke arah pintu keluar. Dan baru saja ia hendak menuju ke mobilnya. Tiba-tiba seorang pria berjas hitam menghampirinya.


"Sebentar Tuan Leo!" kata pria tersebut.


"Ada apa Panji?" tanya Leo, seraya ia menghentikan langkahnya.


"Ini Tuan Leo, Ada seorang wanita, yang mengatakan dia temannya Nyonya Fatimah. Dan dia ingin berbicara dengan Tuan besar," balas Pria yang dipanggil Panji itu oleh Leo.


"Temannya Nyonya? Siapa?" tanya Leo lagi sambil mengerutkan keningnya.


"Yasmin?" Leo kembali mengerenyit, sepertinya ia sedang mengingat-ingat sesuatu, "Aah.. iya itu memang temannya Nyonya! Ya sudah sini, biar saya yang menerima teleponnya," lanjut Leo Sambil menengadahkan tangan kanannya pada Panji. Dan Panji pun langsung menyerahkan handphonenya pada Leo. Lalu Leo pun langsung mengambil benda tersebut, dan langsung ia letakkan di telinganya.


"Halo, ada perlu apa Nona Yasmin menghubungi nomor ini ya?" tanya Leo pada seseorang yang berada di seberang.


"I-itu Tuan, sa-saya mau bilang, tadi ada beberapa orang yang menodongkan pistol pada Rindhima dan saat Fatimah mau menolongnya tiba-tiba, dari jauh ada yang menembak Fatimah. Dan sekarang mereka dibawa oleh mereka tuan," balas Yasmin, dengan suara yang terdengar sedikit bergetar. Sehingga membuat Leo, jadi sedikit kurang paham dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya Fatimah itu.


"Nona tolong tenangkan dulu diri Anda, setelah ia baru Anda ceritakan lagi apa yang telah terjadi," kata Leo lagi, lalu Yasmin pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Leo. Setelah itu barulah ia kembali mengatakan apa yang dia katakan tadi. Dan hal itu membuat Leo begitu terkejut. Namun ia berusaha untuk lebih tenang.


"Nona sekarang bisakah anda mengesharekan lokasi anda sekarang?" tanya Leo lagi.

__ADS_1


"Bisa Tuan, kalau begitu saya tutup sekarang ya Tuan," balas Yasmin. Dan tak berapa lama, sambungan langsung terputus.


"Panji! Kamu perintahkan beberapa orang untuk melacak keberadaan Nyonya dan Nona. Dan panggil juga beberapa penembak jitu! Dan Aku mau sebelum Tuan Besar datang, mereka sudah berkumpul disini! Kamu paham?!" titah Leo, terdengar begitu tegas.


"Paham Tuan! Kalau begitu saya permisi!" Panji pun langsung bergegas pergi untuk melakukan perintah dari Leo. Sedangkan Leo langsung kembali memasuki ke Mansionnya Haidar, sambil berlari-lari. Sesampainya di depan kamar Rindhima tempat Haidar beristirahat saat ini. Leo pun langsung mengetuk pintunya.


"Masuk!" seru Haidar dari dalam, dan Leo pun langsung masuk.


"Eh! Kenapa kamu balik lagi Leo?" tanya Haidar terlihat heran saat melihat Leo yang baru saja masuk.


"Bang, Nona Fatimah dan Nona Rindhi, diculik Bang! Dan menurut temannya, Nona Fatimah saat ini terkena tembakan. Lalu mereka langsung di bawa oleh penculik tersebut Bang!" jelas Leo, membuat rahang Haidar langsung mengeras.


"Brengsek! Siapa yang berani bermain-main denganku! Tampaknya dia sudah bosen hidup!" geram Haidar, sambil mengepalkan tangannya.


"Ayo kita jemput mereka sekarang!" kata Haidar, lagu seraya ia bangkit dari tempat tidurnya. Lalu ia pun langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, "Leo, apakah Rindhi tadi memakai kalungnya?" tanyanya sambil menuruni anak tangga, dengan sedikit berlari.


"Sepertinya dia selalu memakainya Tuan," balas Leo, karena disana ternyata sudah ada Markum.


"Bagus! Sekarang lacak GPSnya! Dan bawa beberapa orang penembak jitu! Karena aku mau mereka langsung musnah!" ujar Haidar, dengan wajah yang terlihat ia begitu geram pada orang yang telah, menculik Anak dan Istrinya.


"Sudah Tuan! Dan saat ini mereka sudah menunggu kita!" balas Leo, yang kini keduanya sudah sampai di luar. Dan benar saja, sesampainya keduanya di luar. Ternyata mereka sudah ditunggu oleh para bawahannya Haidar yang sudah di lengkapi oleh senjata.


"Sekarang tugas kalian, musnahkan para cecunguk yang sudah berani mengganggu keluargaku! Musnahkan mereka sampai ke akarnya! Kalian paham!" teriak Haidar, dengan wajah yang terlihat sudah diselimuti dengan api kemarahan Haiidar


"Paham Bos!" teriak para bawahannya Haidar.


"Bagus! ayo kita segera berangkat!"

__ADS_1


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰


__ADS_2