
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
ALLAH TIDAK MEMBIARKAN DUKA TANPA PELIPUR
Disaat hanya Allah saja tempat kita bergantung dan berserah, Dia tidak pernah membiarkan kita dalam duka tanpa pelipur. Semakin tak sanggup kita menjalani hidup, jangan ambil jalan menuju keputus-asaan, namun semakin luruskan langkah kita dijalan kepasrahan.
Semakin mengaku lemah dan tidak berdaya, Dia semakin menunjukkan keberadaan-Nya dengan menghadirkan pertolongan melalui orang-orang terbaiknya. Bukan Dia kejam dengan mengizinkan banyak duka lara di hidup kita, tapi itu cara yang Dia pilih untuk memperlihatkan bahwa Dia ada dan pertolongan-Nya nyata meski Dia tak terlihat.
.__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
DUAAAAR!!!
Mendengar suara ledakan yang begitu kuat. Dibarengi dengan kilauan cahaya memerah. Membuat semua orang yang berada diruangan tersebut langsung tiarap. Termasuk Bastian, yang juga ikut tiarap sambil menutup wajahnya. Dan disaat ia mengangkat kepalanya, tiba-tiba dihadapannya sudah ada sepasang kaki yang sedang memakai sepatu Pantofel berwarna hitam begitu mengkilap.
Melihat itu, wajah Bastian pun mulai terangkat dengan perlahan mengikuti jenjang kaki yang sedang memakai celana hitam, bahkan sampai kebagian atas yang terlihat sedang memakai jas hitam juga. Hingga akhirnya ia melihat wajah sang pemilik tubuh. Dan seketika mata Bastian langsung terbelalak sempurna.
"Rafardhan!!" sentaknya dengan posisi yang terlihat masih tiarap.
"Ya gue Rafardhan! Sudah lama juga kita tak bertemu. Bukankah begitu Bastian?" balas sang pemilik tubuh, yang tak lain dia adalah Haidar, "Apakah kamu suka dengan kejutanku, hm?" tanya Haidar lagi, sambil menyunggingkan senyuman yang tak bisa diartikan. Ditambah lagi ia menatap wajah Bastian, dengan tatapan yang terlihat begitu dingin.
"Bagaimana bisa, secepat ini Lo menemukan tempat ini hah?!" tanya Bastian, yang tampaknya ia begitu kesal. Karena ia tak menyangka Haidar datang, lebih cepat dari yang sudah ia perkirakan.
__ADS_1
"Bagaimana ya?" kata Haidar sambil memutarkan bola matanya, seakan ia sedang berpikir, akan tetapi itu hanya sejenak. Karena ia kembali menatap tajam wajah Bastian, "Ternyata Lo belum mengenal gue dengan baik, ya kerdil?" lanjutnya sambil ia duduk di kursi yang tadi digunakan oleh Bastian.
"Lo tahukan peraturan gue? Siapa saja yang ingin bermain denganku, maka bayarannya adalah nyawanya! Jadi sesuai dengan peraturan itu. Maka bersiaplah untuk.." sambung Haidar. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Bastian langsung meraih kedua kakinya Haidar, seraya berkata.
"Ampun Rafa! Gue cuma bercanda! Lo kan tahu sendiri gimana gue! Dari dulu gue suka bercanda yang sedikit ekstrimkan? Jadi please maafin gue ya Rafa?" ujar Bastian terlihat ia sangat memohon sekali pada Haidar. Bahkan ia menciumi sepatunya Haidar. Namun dengan keras Haidar menendang wajanya. Dan dengan spontan tubuh Bastian langsung terhempas ke lantai.
"Cih! Lo bilang ini hanya bercanda hah? Hei kerdil! Kalau Lo bercanda tidak melibatkan keluarga gue, mungkin gue akan memaafkan Lo! Tapi lihatlah anak buah Lo bahkan menembak istri gua! Apa itu pantas dikatakan bercanda hah?!" bentak Haidar, seraya ia menodongkan senjata api pada Bastian dan..
DOOORR!! Satu peluru langsung bersarang di bagian bahunya Bastian. Tepatnya dibahunya dibagian kanannya persis seperti luka tembakan miliknya Fatimah. Dan seketika Bastian berteriak sekerasnya.
"AAAKH!!" pekiknya sambil ia memegang lukanya, "Ampuni gue Rafa! Please jangan tembak gue lagi! Please maafin gue! Gue janji tidak akan melakukan ini lagi!" mohonnya lagi sambil ia mengatupkan kedua tangannya. Namun tak dihiraukan oleh Haidar, ia tetap menodongkan senjata apinya ke Bastian, dan..
DOOORR!! Satu peluru lagi lepas dari sarangnya dan langsung melesat ke bahu Bastian dibagian kirinya. Dan kembali lagi Bastian berteriak kesakitan.
"AAAAKH!!" Bastian terlihat begitu kesakitan, "Ampun Rafa! Ampuni gue! Gue nggak mau mati! Soalnya gue belum kawin! Jadi biarkan gue tetep hidup" katanya lagi masih memohon. Bahkan kini air mata yang terlihat sudah mengalir. Tampak sekali ia begitu ketakutan.
"Mas, hentikan! Jangan lakukan itu Mas!" teriak seorang wanita, dan seketika Haidar langsung menoleh kebelakang.
"Fatimah!" sentak Haidar, saat ia melihat pakaian wanita tersebut sudah berlumuran darah. Dan seketika ia mencampakkan pistolnya ke arah Leo, dan langsung ditangkap oleh Leo.
Sedangkan Haidar langsung menghampiri wanita itu yang tak lain dia adalah Fatimah. Sesampainya ia dihadapkannya Fatimah ia pun langsung menggendong tubuhnya yang terlihat begitu lemah. Sedangkan salah satu anak buah Haidar yang lainnya langsung menggendong tubuh Rindhima.
"Panji! Kamu bereskan tempat ini!" kata Haidar sebelum ia membawa Fatimah.
__ADS_1
"Baik Tuan Besar!" balas Panji dengan tegas.
" Leo! Ayo kita kerumah sakit!" lanjut Haidar, seraya ia berjalan sambil menggendong tubuh Fatimah.
"Baik Tuan!" balas Leo, dan ia pun langsung mengikuti langkahnya Haidar terlihat begitu cepat. Tampak sekali ada kekhawatiran yang tersirat diwajahnya. Apalagi ia melihat mata Fatimah yang terlihat kembali terpejam.
"Fatimah, jangan pejamkan mata kamu! Tetaplah tersadar!" katanya setelah mereka sudah berada di dalam mobilnya Haidar, "Fatimah! Kamu dengar aku? Bangunlah! Kamu tidak boleh pingsan!" katanya lagi, dengan nada suara yang terdengar keras. Namun tak direspon oleh Fatimah. Karena sepertinya ia sudah tidak sadarkan diri lagi.
"Brengsek! Leo jalankan mobinya lebih cepat lagi!" teriak Haidar, tampak sekali ia begitu panik melihat Fatimah, yang nafasnya terlihat mulai melamah.
"Baik Tuan!"
Melihat kepanikan Haidar, Leo pun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tak sampai tiga puluh menit, mobilnya sudah terparkir di salah satu rumah sakit. Leo sengaja mencari rumah sakit terdekat agar secepatnya Fatimah ditangani oleh para dokter. Setibanya di rumah sakit tersebut, mereka langsung disambut oleh para perawat yang sudah membawa brankar.
"Biar aku saja! Sekarang kalian tunjukkan saja dimana ruang operasinya?!" teriak Haidar, yang sepertinya ia tak ingin meletakkan istrinya ke brankar yang sudah tersedia di sana. Karena ia memilih tetap menggendong istrinya.
"Disana Pak, mari ikut saya!" kata salah satu suster rumah sakit tersebut. Dan Haidar pun langsung mengikuti langkahnya sang Suster. Dan tak lama kemudian, mereka sampai di depan ruang operasi. Dan Haidar langsung masuk ke ruangan tersebut.
"Dokter cepat selamatkan Istriku! Kalau dia sampai mati, maka kalian semua akan aku kubur juga bersamanya!" ancam Haidar.
Mendengar ancaman Haidar, para dokter yang berada di ruangan tersebut, langsung terkejut. Bahkan mereka terlihat ketakutan.
"Baik Pak! Kami akan menyelamatkannya!"
__ADS_1
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰