
*••••••❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡••••••*
Jangan membandingkan buku ceritamu di halaman ke 5 dengan buku cerita orang lain di halaman ke 20.
Bila hari ini kamu melakukan kesalahan, bila hari ini kamu menyesal dan bersedih, tenanglah. Nikmati apa yang membuatmu resah hari ini, ingatlah suatu saat kamu akan mensyukuri hari ini. Kamu sedang berada di titik permulaan dari sesuatu yang besar, jangan biarkan kata kata orang lain mengecilkan hatimu.
Setiap hari yang kita lalui ini, adalah lembar-lembar yang akan menyusun sebuah buku sejarah kehidupan dari diri kita yang tak pernah ternilai harganya. Setiap lembar kesalahan adalah pelajaran yang begitu berharga dan sangat berarti.
Syukurilah hari ini, karena apa yang terjadi sekarang, akan mewarnai masa depanmu.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•×××××××××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶×××××××××ו
Satu Minggu kemudian diakhir pekan.
Seperti yang pernah di janjikan oleh Haidar. Disetiap akhir pekan ia akan menyempatkan diri untuk membawa putrinya ke villa mereka yang berada pulau S. Karena disana juga terdapat makam istrinya. Dan pagi itu Haidar dan Rindhima sudah terlihat rapih. Begitu juga dengan Leo, yang sudah pasti ia selalu ikut bersama mereka.
Namun sebelum berangkat, mereka menyempatkan diri dulu untuk sarapan bersama. Dan kini suasana diruang makan itu tampak begitu hening, karena mereka sedang menikmati makanannya dengan penuh hikmat. Akan tetapi keheningan itu hanya sesaat saja. Karena ditengah-tengah mereka sedang menikmati makanannya, tiba-tiba Rindhima membuka suaranya.
"Daddy? Bolehkah Indhi mengajak Mommy Fatimah?" pinta Rindhima. Membuat Haidar langsung tersedak mendengar permintaan sang putri.
"Uhuuk.. huk..huk..hug..hug!"
Melihat Haidar yang terbatuk-batuk, Leo pun langsung mengambil segelas air putih. Lalu ia pun langsung menyerahkannya pada Haidar, "Minumlah air putih ini Tuan!" katanya. Dan langsung di ambil oleh Haidar dan langsung meminumnya.
__ADS_1
Setelah batuknya mereda, Haidar pun langsung menatap wajah putrinya dengan tatapan mata yang terlihat sedikit memerah akibat tersedak tadi, "Apa yang kamu katakan tadi, Rindhi?" tanyanya yang sepertinya ia ingin memastikannya pendengarannya lagi. Dan ia juga berharap kalau pendengarannya tadi adalah salah.
"Itu Daddy, tadi Indhi bilang, bolehkah Indhi mengajak Mommy Fatimah?" balas Rindhima mengulangi perkatanya. Membuat Haidar kembali tersentak kaget.
"Mommy?" Haidar mengulangi perkatanya Rindhima, "Sejak kapan kamu memanggil Dia dengan sebutan Mommy, hm? Apakah dia yang memaksa kamu untuk memanggilnya dengan sebutan itukah?" tanya Haidar. Dengan wajah yang terlihat sedang kesal. Tampak sekali ia terlihat tidak suka putrinya memanggil Fatimah dengan sebutan Mommy.
"Tidak Dad! Bukan Mommy Fatimah yang maksa! Tapi Indhilah yang memintanya pada Mommy! Karena Indhi ingin punya Mommy juga, seperti teman-temannya Indhi, Dad!"
Mendengar perkataan putrinya, hati Haidar sempat mendenyut tatkala ia mengatakan, kalau dirinya ingin seperti teman-temannya yang memiliki Ibu. Haidar paham betul kalau putrinya itu memang sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Tetapi tetap saja ia tak menyukai saat putrinya itu menyebutkan Fatimah, dengan sebutan Mommy. Entah mengapa ia malah semakin membencinya.
"Baiklah! Kalau kamu memang menginginkan seorang Mommy, Daddy akan mencarikan kamu seorang Mommy yang pantas untuk kamu. Dan itu bukan Fatimah! Jadi kamu perlu memanggil dia dengan sebutan Mommy lagi! Kamu paham Nak?" ujar Haidar, terdengar tegas kala di kalimat-kalimat terakhirnya.
"Tidak-tidak! Indhi tidak mau Mommy yang lainnya! Pokoknya Indhi maunya hanya Mommy Fatimah titik!" seru Rindhima, yang tampaknya ia begitu Keukeh pada pendiriannya.
"Tidak boleh! Daddy tidak setuju kalau dia jadi Mommy kamu! Kalau kamu bersikeras, maka mulai hari ini Daddy akan mengirim wanita itu ketempat yang tidak bisa kamu temukan! Kamu dengar itu hm?!" tegas Haidar lagi, yang tampaknya ia juga bersikeras pada keputusannya.
Melihat keponakannya berlari sambil menangis, Leo pun langsung menyusulnya tanpa meminta izin dari Haidar. Sedangkan yang melihat itu, tak bisa melarangnya. Karena ia tahu, walau bagaimanapun Rindhima adalah keponakannya. Makanya ia akhirnya membiarkan Leo mengejar putrinya.
"Brengsek! Semua ini karena wanita Aneh itu! Setiap melihat dia datang yang selalu menutupi wajahnya saja Aku sudah kesal! Sekarang dia malah berani merebut perhatian Anakku! Ini tidak bisa dibiarkan! Sebelum dia benar-benar mengambil putriku! Sebaiknya Aku harus secepatnya menjauhi dia dari putriku!" gumam Haidar, yang tampaknya, ia sudah benar-benar geram sekali pada Fatimah.
Setelah berkata-kata, Haidar pun langsung mengambil benda pipihnya yang ia taruh di saku jasnya. Lalu ia langsung mencari nomor kontak seseorang. Dan tak berapa lama kemudian terdengar suara seseorang dari seberang, setelah sambungannya terhubung.
"Halo? Ada apa Tuan?" tanya seorang pria dari seberang.
"Haris! Lakukanlah sesuatu pada keluarga si cadar yang aneh itu! Pokoknya dalam dua puluh empat jam, aku mau wanita tidak ada lagi di kota ini! Kamu ngerti hah?!" ujar Haidar, terdengar begitu tegas.
__ADS_1
"Baik Tuan! Saya mengerti!" balas pria yang dipanggil haris tersebut.
"Bagus! Sekarang kerjakanlah!"
"Baik Tuan!"
Setelah mendapatkan jawaban dari Haris, Haidar pun langsung memutuskan sambungannya. Setelah itu ia pun langsung memasukkan kembali benda pipihnya ke dalam saku jasnya lagi. Lalu ia pun meraih cangkir kopinya, dan kemudian ia pun meneguk kopi tersebut. Dan baru saja ia meletakkan kembali cangkir kopinya di meja, tiba-tiba terdengar suara Leo.
"Tuan Apakah kita jadi pergi kepulau?"
Mendengar suara Leo, Haidar pun langsung menoleh ke sumber suara tersebut. Dan tampaklah olehnya Leo, yang sedang menggendong Rindhima, dengan posisi Rindhima yang sedang menyembunyikan wajahnya dibahunya Leo. Tampaknya ia tak mau melihat wajah sang Ayah. Melihat hal itu Haidar hanya menghelakan nafasnya saja.
"Huuft.. ya sudah kalau ayo kita berangkat!" katanya seraya ia bangkit dari duduknya. Lalu ia pun mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Dan sudah pasti Leo yang masih menggendong keponakan itu, mengikutinya dari belakang.
Sesampainya mereka di luar, ternyata disana sudah ada helikopter yang sedang menunggu kedatangan mereka. Dan tak berapa setelah ketiganya naik, baling-baling helikopter pun mulai berputar, dan tak berapa lama kemudian helikopter pun mulai naik dengan perlahan dan langsung melesat pergi meninggalkan Mansion milik Haidar.
Setelah beberapa jam berada di udara, helikopter pun mulai memasuki area kepulauan S. Dan tak berapa lama kemudian, helikopter pun mulai turun dengan perlahan, dan mendarat tepat di depan villa milik Haidar. Seperti biasanya mereka juga langsung disambut oleh bawahan Haidar. Dan baru saja mereka turun dari helikopter, Rindhima langsung berlari meninggalkan Haidar dan Leo yang masih berada di depan pintu helikopter.
"Eh! Main nyolonong aja tuh bocah! Rindhi, jangan berlari, nanti kamu jatuh!" teriak Haidar, namun tak di respon oleh Rindhima.
"Biar saya saja yang mengejarnya Tuan!" kata Leo, sembari ia membungkukkan tubuhnya seperti yang sedang dilakukan oleh bawahannya saat ini. Dan setelah mendapatkan anggukan dari Haidar, Leo pun mengejar Rindhima.
"Haiiis.. sebenarnya siapa sih Ayahnya? Kenapa hanya Leo, yang bisa mendekatinya?" gumam Haidar, terlihat sedikit iri pada Leo.
...×××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶××××××...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰