RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
KECURIGAAN RINDHIMA.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Bersihkanlah hatimu sesungguhnya hati adalah tempat pandangan Allah ﷻ. Sucikanlah Rumah dan tempat tinggalmu karena (dengan bersihnya rumah dari maksiat) maka kebaikan akan turun padanya. Atau bisa saja keburukan yang turun padanya jika dalam setiap orang dari penghuninya tidak mendirikan syari'at Allah ﷻ baik dalam perilaku maupun ucapan."


{~Habib Umar Bin Muhammad Bin Hafidz~}


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


"Hmm.. kenapa Uncle? Apakah Uncle sudah suka sama Bu Yasmin?" tanya Rindhima to the poin.


DEGH!!


Dengan spontan jantung Leo langsung berdegup kencang, saat mendengar perkataan dari keponakannya itu. Dan seketika rasa malu langsung menyeruak dihatinya. Apalagi saat ia mengatakan itu, disertai dengan gayanya terlihat seperti orang dewasa.


"Eh! Apa yang Nona bicarakan sih? Aah.. sudahlah.. sebaiknya Anda masuk mobil saja, agar kita secepatnya pergi dari sini!" balas Leo, mengalihkan pembicaraanmya.


"Huh! Mengalihkan lagi?" kata Rindhima, sambil tersenyum miring, bak orang dewasa. Mendengar perkataan keponakannya spontan dahi Leo berkerut.


"Eh, maksudnya Nona?" tanyanya, terlihat bingung. Namun tak langsung di jawab oleh Rindhima, ia hanya menggerak-gerakkan jari telunjuknya menandakan agar Leo mendekatkan wajahnya ke dirinya.


karena tak ingin mengecewakan keponakannya akhirnya menundukkan tubuhnya mendekatkan wajahnya ke Rindhimah, seraya berkata." Ada apa Nona?" tanyanya. Dan Rindhima pun langsung memegang kedua pipinya.

__ADS_1


"Dengar Uncle! Kalau Uncle tidak mau mengakuinya, perasaan engkau yang sebenarnya? Maka jangan ada penyesalan bila nantinya Ibu guru Yasmin dibawa pergi oleh Pak Restu!" katanya dengan tatapan yang terlihat begitu intens menatap wajah Leo.


"Tetapi kalau Uncle mau mengakuinya, maka sekarang juga Indhi akan membantu Uncle! Dan menjadikan Bu guru Yasmin, sebagai pasangan Uncle!" sambungnya lagi, dengan wajah yang terlihat begitu yakin.


Mendengar perkataan Rindhima Leo, bergitu terkejut, "Aah..! Kenapa kamu mirip bang Haidar sih? Dan kenapa tidak mirip sekali sama kak Kayla?" ucapnya lirih, tanpa sadar, kalau dirinya keceplosan menyebut Haidar Abang serta menyebutkan Kayla dengan sebutan Kakak. Hal itu membuat Rindhima yang mendengarnya, langsung mengerutkan dahinya, karena setahunya, Leo selalu memanggil ibunya dengan sebutan Nyonya.


"Abang, Kakak? Mengapa Uncle menyebutkan Deddy dan Mommy dengan sebutan Abang dan Kak?" tanyanya dengan wajah terlihat penasaran. Membuat Leo langsung terbelalak. Bahkan ia langsung menutup mulutnya. Hal itu malah membuat Rindhima semakin curiga.


"Kenapa Uncle malah bergitu?" tanyanya lagi penuh kecurigaan.


Leo yang menyadari akan kecurigaan Rindhima terhadap dirinya, membuat ia malah terlihat sedikit gugup.


"Aah.. ma-maaf Non, Sa-saya salah! Maaf-maaf, maksudnya tadi mau menyebutkan Tuan dan Nyonya kok!" balasnya terdengar begitu gagap. "Eh, Non, bukankah Nona ingin secepatnya kerumah sakit menemui Umi Nona, pasti saat ini beliau sedang menunggu Nona!" lanjutnya lagi, mengalihkan pembicaraannya lagi.


Di sepanjang perjalanan mereka menuju ke rumah sakit. Rindhima tak pernah melepaskan pandangannya dari kaca spion setengahnya. Tampak sekali kalau saat ini ia sedang memperhatikan wajah Leo, dengan seksama lewat kaca tersebut. Hal itu membuat Leo, terlihat jadi salah tingkah, ia tahu kalau keponakannya itu sedang memperhatikan dirinya.


"Kenapa Nona Rindhi melihat saya seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajah saya Nona?" tanya Lio dengan tatapan mata yang terlihat masih fokus ke depan.


"Tidak ada kok! Cuma kalau dilihat-lihat wajah Uncle sepertinya mirip deh sama Mommy Indhi."


DEGH!


Seketika jantung Leo berdetak kencang saat mendengar perkataan Rindhima, yang mengatakan kalau dirinya sangat mirip dengan ibunya. Padahal selama ini, ia sekalipun tak mengatakan itu.

__ADS_1


"Ah, m-masa sih Non? I-itu perasaan nona aja kali? Soalnya baru Nona aja yang berkata seperti itu loh!" kata Leo, yang terlihat sekali ia begitu gugup. Dan saat bersamaan mobilnya memasuki area rumah sakit, semakin ingin segera mengalihkan perhatian keponakannya itu.


"Aah.. Non, lihat kita sudah sampai, pasti Nona ingin segera bertemu dengan Umi Nonakan? Ayo kita turun Nona," sambungnya lagi. Dan berpikir Rindhima akan teralihkan oleh setelahnya.


"Tapi Indhi sangat yakin kok, kalau Uncle sangat mirip sama Mommy!" balas Rindhima, membuat Leo, langsung kaget. Karena ternyata keponakannya itu masih juga memperhatikan wajahnya.


"Eh! Nona! Aah.. sebaiknya kita harus secepatnya masuk No..." balas Leo ingin mengalihkan lagi dari perhatian keponakannya itu. Akan tetapi Rindhima langsung menyergahnya.


"Tunggu Uncle! Sebentar deh, Indhi punya buktinya kalau wajah Uncle ada kemiripannya sama Mommy. Dan masih menyimpan Poto Mommy," balas Rindhima, yang kemudian, ia pun langsung membuka tas sekolahnya. Kemudian ia juga langsung mengambil benda pipinya yang ia taruh di dalam tas tersebut.


Setelah itu ia pun langsung membuka kunci layar handphonenya dan langsung mengklik aplikasi galerynya. Kemudian ia mencari sebuah foto dikumpulkan foto-foto yang tersimpan di galerinya tersebut.


"Nah ini dia! Tuh kan, emang mirip! Lihat aja nih Uncle.." kata si kecil Rindhima, sambil menunjukan sebuah foto pada Leo. Namun Leo malah mengabaikan Poto tersebut.


"Maaf Non! Kita harus secepatnya masuk ke dalam!" katanya sambil ia menggendong tubuh kecilnya Rindhima. Leo melakukan itu, karena ia merasa banyak yang sedang memperhatikan mereka dan bila ada yang mendengarnya. Maka penyamarannya akan terbongkar semuanya.


"Eh! Uncle! Indhi bisa jalan sendiri kok!" protes Rindhima, sambil ia meronta-rontakan kakinya.


"Maaf Non! Tapi kita harus secepatnya masuk!" balas Leo, sambil mempercepat langkahnya. Menuju ke ruang rawatnya Fatimah. Sesampainya didepan pintu ruang rawat Fatimah, ia pun langsung menurunkan tubuh Rindhima.


"Iis.. Uncle! Indhi tahu Uncle melakukan ini karena ingin mengalihkan pembicaraan bukan! Sekarang katakan, siapa uncle sebenarnya! Dan kenapa Uncle mirip dengan Mommy Indhi, hah?!" tanya Rindhima, dengan memasang wajah kesalnya. Dan disaat bersamaan, terdengar suara bariton, dari dalam ruangan yang dibarengi dengan terbukanya pintu ruangannya Fatimah.


"Karena dia Adik kandung Mommy kamu Nak!"

__ADS_1


__ADS_2