
*••••••❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡••••••*
JIKA INGIN HIDUPMU BAHAGIA
Jika ingin hidupmu bahagia, maka hiduplah di dunia sesuai keridhaan Rabbmu. Bukan Sesuai keinginanmu saja..
Taati perintahNya, dan jauhi laranganNya..
Sabarlah di atas itu semua. Agar kamu mendengarkan ucapan Allah di syurga. kepadamu:
سَلَامٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
“Keselamatan atasmu karena kesabaranmu. Ini adalah sebaik baik tempat tinggal.” [Ar Ra’du: 24]
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•×××××××××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶×××××××××ו
Setelah pamit pada Haidar, Rindhima pun berlari mengejar Fatimah. Ia terlihat begitu semangat, setelah mendengar penjelasan Leo, yang mengatakan apabila Fatimah mau mentanda tangani surat kontraknya. Maka ia pasti akan tinggal bersama dirinya. Makanya ia terlihat begitu gigih, ketika mengejar Fatimah.
"Aunty! Tunggu Indhi!" teriak Rindhima, sambil berlari mengejar Fatimah. Dan disaat ia sudah mendekati, ia langsung menarik hijab panjangnya Fatimah, membuat Fatimah akhirnya berhenti seketika.
"Ada apa lagi Indhi? Bukankah tadi Aunty sudah mengatakan dengan jelas? Aunty tetap akan mengajarkan kamu sesuai janji Aunty. Tapi kalau Daddy kamu tetap bersikeras menyuruh Aunty untuk mentanda tangani surat itu. Maka jangan salahkan Aunty, kalau pada akhirnya Aunty tidak jadi mengajarkan kamu!" ujar Fatimah terdengar tegas. Ia sengaja bersikap seperti itu, karena ia tahu kalau Rindhima memiliki pemikiran yang dewasa jadi sudah pasti yang akan paham akan perkataannya yang tadi.
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Fatimah rindu mah langsung menyembunyikan file yang tadi diberikan oleh Leo, kebelakang tubuhnya. Karena benar yang dipikirkan oleh Fatimah, kalau Rindhima, sangat mengerti akan perkataannya Fatimah.
"Tidak Aunty! Indhi, tidak akan menuruti keinginan Daddy! Jadi apakah Aunty tetap mau mengajarkan Indhi mengajikan?" tanyanya dengan kedua tangan yang terlihat masih ia sembunyikan di belakang. Padahal walaupun Ia berusaha menyembunyikan file tersebut dibelakang tubuhnya yang mungil itu. Namun tetap saja masih terlihat oleh Fatimah.
"Baiklah sesuai dengan janji, Aunty akan mengajarkan kamu! Tetapi dengan satu syarat, kamu harus merobek surat itu. Apakah kamu bersedia Indhi?" kata Fatimah seraya menunjuk jari telunjuknya kearah file yang terlihat olehnya.
Rindhima langsung tersentak adalah tatkala mendengar perkataan Fatimah, "Eh!" sentaknya, namun karena tiketnya begitu kuat ingin mempelajari Alquran akhirnya minimal pun bersedia mengikuti perkataan Fatimah.
"Bersedia Aunty! Indhi akan merobeknya sesuai keinginan aunty!" balas Rindhima, lalu tak berapa lama ia pun langsung membuka file yang masih ia pegang. dan kemudian sesuai keinginan Fatimah, dan tanpa ragu, Ia pun langsung merobek lembaran putih yang terdapat di dalam file tersebut, tepat di depan Fatimah.
"Sudah anti! Lihatlah sekarang suratnya sudah Indhi robek Aunty," kata Rindhima seraya ia menebarkan serpihan lembaran kertas putih itu yang kini sudah tak berbentuk lagi.
"Bagus! Sekarang kamu kembalilah ke Daddy kamu. Katakan juga padanya, jangan mencampuri urusan kita lagi. Dan apabila beliau bersedia, maka kamu bisa menghubungi Aunty pakai nomor ini, agar nanti sore selepas Ashar, Aunty akan kerumah kamu. Gimana apakah kamu bersedia Indhi?" kata Fatimah, lagi seraya ia memberikan sebuah kertas kecil yang bertuliskan sebuah nomor kontak atas nama Fatimah.
Rindhima langsung mengambil lembaran kertas kecil tersebut, seraya berkata, "Bersedia Aunty!" ucapnya terdengar tegas dan tanpa ada keraguan sedikitpun.
"Okay Aunty!" balas Rindhima terlihat sedikit sedih karena harus berpisah dengan Fatimah.
"Ya sudah Aunty pamit ya? Assalamu'alaikum?" kata Fatimah, lagi.
"Iya Anuty," balas Rindhima dengan singkat. Karena sepertinya ia belum tahu untuk membalas salamnya Fatimah.
Karena Fatimah memahami akan kehidupannya si gadis kecil itu, ia tersenyum lembut, "Sayang, bila seseorang mengucapkan salam, seperti ini Assalamu'alaikum, maka kamu harus menjawabnya, dengan Wa'alaikumus salam. Apa kamu bisa melakukannya Sayang?" jelasnya dengan penuturan yang terdengar begitu lembut.
"Bisa Aunty, Wa'alaikumus salam kan?" balas Rindhima dengan semangat.
__ADS_1
"Anak Pintar! Baiklah sekarang Aunty pamit ya? Assalamu'alaikum Rindhi?" kata Fatimah mengulangi perkatanya yang tadi.
"Iya Aunty, Wa'alaikumus salam Aunty," balas Rindhima seraya ia tersenyum manis pada Fatimah. Fatimah pun membalas senyumannya, lalu ia pun langsung melambaikan tangannya pada Rindhima dan kemudian ia berlalu meninggalkan Rindhima yang terlihat masih melihat kepergiannya.
Setelah Fatimah tak terlihat lagi, Rindhima pun bergegas pergi ke tempat Ayahnya dan Leo berada. Kerena sepertinya mereka masih berada di taman sekolah TB, Melihat kedatangan putrinya dengan tangan kosong saja. Haidar pun mengerenyitkan Dahinya.
"Loh.. Nak? kok kamu datang dengan tangan kosong saja? Dimana surat kontrak yang tadi Nak? Apakah Aunty tadi sudah bersedia menandatanganinya?" tanya Haidar tampak penasaran.
"Sudah Indhi robek!" bales Rindhima dengan entengnya. mendengar jawaban dari putrinya Haidar langsung tersentak kaget.
"Apa! Kenapa dirobek sih Nak? Bukannya kamu ingin Aunty itu selalu melindungi kamu ya? Terus Kalau dirobek, mana mungkin bisa dia menjadi yang kamu inginkan Nak," tegur Haidar.
"Tenanglah Daddy! Dan Daddy cukup lihat saja dengan baik! Tanpa boleh ikut campur sedikit pun dalam hal ini! Dan Biarkan ini menjadi urusan Indhi saja! Daddy pahamkan?" pungkas Rindhima, dengan gaya orang dewasanya. Setelah ia memberikan peringatan pada Sang Ayah, ia pun langsung berlalu meninggalkan Haidar yang sedang tercengang melihatnya.
"Leo, sebenarnya berapa umur putriku saat ini?" tanya Haidar, tanpa menulis sedikitpun pada Leo karena ia masih memandang kepergian Putri kecilnya.
"Enam tahun Bang! Memangnya ada apa Bang?" tanya Leo, jadi penasaran.
"Haaah..? Tapi kenapa tingkahnya seperti orang dewasa, begitu ya?" balas Haidar tampak begitu bingung, "Apa yang terjadi pada putriku Leo? Apa dia ada salah makan? Sehingga sikap dan perilaku tidak menggambarkan seorang anak kecil," lanjutnya denganwajah yang kini terlihat sedikit sedih.
"Sepertinya tidak ada yang salah dalam hal makanan Bang. Tapi kalau menurut saya mungkin karena Dia, tak lagi mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Makanya ia dewasa sebelum waktunya Bang," balas Leo, karena setahunnya Rindhima berubah semenjak ibunya meninggal. Makanya ia menyimpulkannya seperti itu.
"Kasih sayang seorang ibu? Hmm.. Apakah itu artinya Aku harus mencari seorang ibu untuknya?"
...×××××⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶××××××...
__ADS_1
Terus dukung author terus ya guys dan jangan lupa tinggalkan jejaknya juga oke.