
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
BERJUANGLAH DEMI RIDHO ALLAH
Berjuang itu tak mudah, namun jika kita sertakan Allah dalam setiap langkah, maka semua akan terasa mudah. Semua akan terasa lebih ringan jika saja kita melibatkan Allah dalam setiap perjuangan kita. Karna sejatinya Allah lah sebaik-baik penolong kita. Tak ada daya dan upaya manusia tanpa pertolongan-Nya.
Untuk semua perjuanganmu yang belum terwujud janganlah cepat menyerah. Terus meminta padaNya dalam setiap doa, karna Allah tidak akan pernah memberi akhir sia-sia untuk usaha dan doa hamba-Nya.
Kita hanya perlu terus berjuang, bersabar dan menanti hadiah indah itu datang. Ketika saat itu tiba kita akan merasa jauh lebih bersyukur dari sebelumnya. Bahkan ketika pengabulan-NYA tak kita temui ketika di dunia fana. Setiap kesabaranmu akan berbuah berkali-kali lipat pahalanya
.__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Bastian terlihat begitu kesal melihat tingkah Rindhima yang terlihat begitu santai dan tenang menanggapi dirinya. Bahkan, tak terlihat sedikitpun rasa takut yang tersirat di wajahnya. Padahal biasanya anak kecil, pasti akan menangis, bila berada di posisinya. Namun tidak untuk Rindhima, ia bahkan terlihat biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apapun pada dirinya.
Tampaknya Bastian seperti sedang berpikir keras. Untuk mencari cara, agar Rindhima mau melakukan apa yang sudah ia rencana. Disaat ia masih berpikir tiba-tiba matanya mengarah ke Fatimah, yang tampaknya belum juga sadar dari pingsannya. Dan seketika Bastian tersenyum tipis, karena sepertinya ia sudah memiliki rencana lainnya. Lalu ia pun bangkit dari duduknya dan kemudian ia pun mendekati Fatimah.
"Apakah Dia ibu baru kamu? Tapi mengapa dia selalu menutupi wajahnya? Apakah wajahnya sangat jelek?" tanya Bastian tanpa menoleh ke Rindhimah. Karena tatapannya saat ini sedang mengarah kepada Fatimah.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan tersebut, wajah Rindhima, seketika berubah sadis, "Apa yang mau Uncle lakukan hah?! Anda tidak boleh menyentuh ibuku, dengan tangan kotor Anda!" ujarnya dengan datar. Sambil memberikan tatapan mata yang terlihat begitu tajam, pada Bastian.
"Kenapa tidak boleh hm? Sayakan hanya ingin melihat wajahnya dari ibu baru kamu ini? Seperti apa sih, wajahnya? Sehingga harus di tutupi begini?" tanya Bastian, seraya tangannya mulai mendekati ujung cadarnya Fatimah.
"Berhenti! Jangan buka cadar ibuku?!" teriak Rindhima yang tampaknya ia sudah semakin marah melihat apa yang hendak dilakukan oleh Bastian.
"Wow..wow! Sebegitu takutnyakah kamu, kalau wajah Ibu baru kamu dilihat orang lain? Baiklah saya tidak akan membukanya! Tapi tetap dengan syarat yang pertama! Apakah kamu bersedia sekarang hm?" balas Bastian, dengan tangan masih diposisi yang sama, tapi ini tangannya sudah berada di ujung cadarnya Fatimah. Sampai Rindhima memberikan jawaban setuju atau tidak. Bila tidak maka ia tinggal menarik saja cadar itu.
"Baiklah! Baiklah saya bersedia! Tapi singkirkan tangan kotor kamu dicadar ibuku!" teriak Rindhima lagi, "Dan kalian juga harus menjauh dari kami! Kalau tidak saya akan mengacaukan semuanya!" ancamnya lagi. Sambil menatap wajah Bastian dengan tatapan penuh dengan kebencian.
"Baiklah! Baiklah! Kami akan menjauh, asalkan kamu memenuhi apa yang aku mau! Gimana apa kamu setuju, Putri cantik?" tanya Bastian. Sambil menoel pucuk hidungnya Rindhima. Namun Rindhima langsung menoleh kesamping. Membuat Bastian tersenyum tipis melihatnya.
"Oke saya setuju! Tapi saya hanya bisa memakai laptop Macbook Air Supreme!" kata Rindhima dengan santainya. Membuat Bastian yang mendengarnya langsung terkejut. Sementara Rindhima malah tersenyum tipis, saat melihatnya.
"Hah? Apakah itu harus? Tidak bisakah memakai laptop yang biasa-biasa saja? Tapi nggak biasa-biasa banget sih, seperti Acer Ferrari 1100, performa dari laptop ini sangat lancar dan cepat. Jadi tidak kalah canggihnya dengan laptop yang kamu mintakan?" jelas Bastian. Membuat Rindhima kembali tersenyum tipis, namun ada kelicikan di dalamnya.
"Hmm.. akhirnya masuk perangkap! Baiklah Aku harus menyibukkannya terus! Sampai Daddy datang!" batin Rindhima. Lalu ia pun langsung memulai aksinya.
"Hah? Saya pikir Uncle pengusaha yang hebat juga, seperti Daddy Saya, yang memiliki laptop seharga tujuh miliar! Tapi ternyata saya salah ya? Pantas saja uncle langsung terkejut, ketika saya meminta laptop yang saya inginkan. Ternyata itu karena Anda hanya sanggup miliki laptop yang hanya berharga empat puluh juta saja, hmm.." kata Rindhima, sambil tersenyum mengejek. Membuat Bastian terlihat begitu kesal.
__ADS_1
"Sialan! Anak sekecil ini bahkan tahu harga-harga laptop! Cih! Berani sekali dia merendahkan Aku!" gumam Bastian. Namun Rindhima masih bisa mendengar perkataannya tersebut. Membuat ia langsung tersenyum tipis kembali.
"Heh.. ayo Uncle, ajalah Aku berdebat, sampai kamu lupa sama rencana kamu, yang mau menghancurkan perusahaan Daddy ku," batin Rindhima. Yang sepertinya ia sangat berharap Bastian mengajaknya untuk berdebat. Karena artinya ia rencananya yang ingin mengulurkan waktunya akan berhasil.
"Cih! Ternyata kamu juga memiliki sifat sombong seperti ayah kamu ya?! Tapi apa kamu pikir, aku hanya memiliki laptop yang menurut kamu murahan itu saja hm?" tanya Bastian, namun dengan entengnya Rindhima, hanya mengangkat bahu, sambil mencibirkan mulutnya saja. Membuat Bastian semakin kesal.
"Brengsek! Anak ini benar-benar membuatku semakin kesal saja!" gerutu Bastian, dengan rahang yang mulai mengeras, saking geramnya, "Hai kamu! Ambilkan laptopku, yang ada di mobil cepat!" bentak Bastian pada salah satu anak buahnya.
"Baik Bos!" balas si anak buah. Lalu ia pun langsung bergegas menuju ke mobilnya sang Bosnya tersebut. Dan tak lama kemudian pria bertubuh besar itu pun kembali lagi dengan membawa sebuah laptop berwarna hitam, "Ini laptopnya Bos!" kata pria itu, sambil menyerahkan laptop tersebut pada Bastian.
"Serahkan laptop itu sama anak itu, cepat!" bentak Bastian, dengan tatapan yang terlihat masih menatap, wajah Rindhima yang terlihat begitu santainya.
"Baik Bos!" Pria itu pun langsung menghampiri Rindhima, lalu ia serahkan laptop yang ia pegang padanya, "Ini Nona!" katanya setelah itu ia pun menjauh.
"Heh..! ASUS ROG Mothership?" kata Rindhima, sambil tersenyum mengejek lagi, " Hmm.. apakah laptop seharga seratus tiga puluh juta ini, sudah paling termahal bagi Uncle?" tanyanya lagi dengan gaya yang sangat persis seperti orang dewasa. Membuat Bastian makin geram.
"Aah.. banyak tanya kamu! Cepat kerjakan saja yang aku pe..." bentak Bastian, namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba..
DUUAAAAR!!!.
__ADS_1
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰