RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
ISTRI KECILKU MULAI NACKAL.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


"Hakikatnya Allah ﷻ tidak pernah membuat jarak dengan manusia. Manusia sendiri yang membuat jarak dengan Allah ﷻ. Demikian pula, Allah tidak pernah menghambat manusia untuk sukses, tapi manusia sendiri yang menghalangi dirinya untuk sukses. Kunci dari semua itu adalah pikirannya. Manusia adalah bentukan pikirannya. Tak heran bila Norman Vincent Peale mengatakan, "You are what you think"; Anda adalah apa yang Anda pikirkan."


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷


Di Mansionnya Haidar.


Dimalam harinya, setelah menyelesaikan makan malam bersama. Rindhima langsung pergi belajar, karena ia sedang memiliki tugas dari sekolahnya. Setelah ia menyelesaikan PR-PRnya, Rindhima langsung menemui orang tuanya, yang kebetulan semua sedang duduk berdua disofa yang berada di ruang keluarga.


"Mi, Dad?" panggilnya, seraya


"Iya Sayang?" balas Fatimah saja, karena tampaknya Haidar sedang fokus pada layar handphonenya.


"Indhi boleh ikut kemping nggak Mi, Dad?" tanya Rindhima, seraya ia merangkul lengan Fatimah dan Haidar. Membuat pandangan Haidar langsung beralih pada putrinya.


"Tidak boleh!" balas Haidar terdengar tegas.


"Tapi Dad, teman-teman Indhi semuanya pada ikut! Jadi boleh ya Dad, Indhi ikut?" ujar Rindhima, dengan tatapan penuh pengharapan pada sang Ayah.


"Rindhi, dengar dari kata Daddy! Kamu pikir kemping seenak yang kamu bayangkan apa? Nggak enak tahu! Dan itu juga sangat berbahaya! Jadi Daddy tidak mengizinkan kamu!" balas Haidar lagi, dengan tampang wajah yang terlihat dingin, yang artinya, perkataannya tidak boleh dibantah lagi.


"Tapi Dad, Indhi ingin ikut. Masa semua teman-teman Indhi pergi, Indhi nggak sih? Jadi please izinkan Indhi ya Dad? Gini aja deh, kalau Daddy merasa, khawatir. Indhi akan ditemani sama Uncle Leo. Jadikan kalau ada apa-apa Uncle Leo pasti akan melindungi Indhi. Gimana Dad, boleh ya?" kata Rindhima lagi. Tampak ia begitu gigih, merayu sang ayah, agar ia mendapatkan izinnya.

__ADS_1


Melihat wajah Putri sambungnya yang terlihat begitu penuh pengharapan, membuat Fatimah tidak tega melihatnya, dan akhirnya ia pun buka suara, "Izinkan sajalah Mas. Kasian, masa sekali-kali kok dilarang sih? Lagian kan semua guru-guru pasti pada ikut Mas, jadi Rindhi pasti dijaga oleh mereka. Dan kalau kamu masih khawatir, benar kata Indhi kamu tinggal nyuruh Leo ikut, gampangkan?" tuturnya dengan lembut, membuat Haidar akhirnya luluh.


"Baiklah Daddy izinkan kamu! Tapi ingat jangan, jauh-jauh dari Uncle Leo! Kamu pahamkan?!" ujar Haidar, terdengar tegas.


Mendengar perkataan dari sang Ayah, membuat Rindhima langsung senang dan dengan spontan ia pun langsung memeluk sang Ayah sambil bersorak


"Yeee...! Thank you Daddy!" sorak Rindhima begitu senang, "Muach.. Muach..!" Bahkan ia mengecup kedua pipinya Haidar membuat, Fatimah yang melihatnya langsung tersenyum lembut. Dan setelah ia mengecup wajah sang Ayah. Rindhima pun langsung beralih ke Fatimah.


"Thank you Umi!" ucapnya yang juga langsung memeluk tubuh Fatimah, "Muaach...! Muaach...! Muaach..!" Rindhima juga menciumi seluruh wajah Fatimah, dengan gemasnya. Tampak sekali ia begitu bahagia. Membuat Haidar maupun Fatimah jadi ikut senang melihatnya.


"Ya udah, kalau gitu, Indhi mau mempersiapkan untuk keperluan besok dulu ya Umi, Dad? Assalamu'alaikum," pamit dengan wajah yang terlihat begitu ceria.


"Pergilah Sayang, wa'alaikumus salam," balas Fatimah, sembari menyunggingkan senyuman lembutnya pada putri sambungnya itu. Sedangkan Rindhima, langsung berlari sambil meloncat-loncat karena kesenangan. Melihat itu baik Fatimah maupun Haidar, langsung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Senangkan Mas, kalau melihat orang yang kita sayang sedang bahagia?" tanya Fatimah, setelah Rindhima tak terlihat lagi.


"Syusth.. kalau senang katakan senang! Jangan dikasih embel-embel yang lainnya dong Mas!" protes Fatimah, sambil meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya Haidar.


"Mas? Membahagiakkan anak, ataupun orang lain. Itu termasuk kategori berbuat kebaikan. Dan bagi orang yang berbuat baik akan mendapat ganjaran kebahagiaan dan juga pahala Mas. Dengan membahagiakan orang lain, dampaknya akan dibalas dengan kebaikan juga, untuk kita. Dan bukan hanya mendapatkan balasan di dunia saja, bahkan kita akan mendapatkan balasannya bisa kekal di surga. Ini disebut lewat Surat Q.S. Az-Zumar ayat 10.


Qul yaa 'ibaadil laziina aamanut taquu Rabbakum; lillaziina ahsanuu fii haazihid dunyaa hasanah; wa ardul laahi waasi'ah; innamaa yuwaffas saabiruuna ajrahum bighayri hisab.


Artinya:


"Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu." Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas." (Q.S. Az-Zumar ayat 10.)

__ADS_1


Sambung Fatimah lagi, dengan sedikit memberikan wejangan pada suaminya, yang terlihat sedang menatap dirinya dengan tatapan penuh kekagumannya. Apalagi ketika, mendengar Fatimah yang sedikit melantunkan ayat Alquran serta membacakan artinya, membuat hatinya menjadi sejuk. Jadi tak heran kalau rasa cinta Haidar, semakin membesar, kepada istrinya.


"Mas kenapa? Kok liatin Thiyah sampai segitunya sih? Nggak suka ya, mendengar perkataan Thiyah?" tanya Fatimah, sambil mengerutkan keningnya.


"Kata siapa nggak suka?" tanya Haidar balik.


"Ya kata Thiyahlah!"


"Itu namanya kamu su Jojon sayang,"


Mata Fatimah langsung membulat mendengar perkataan su Jojon, "Kok su Jojon sih Mas! Su'udzon kali!" protesnya membuat Haidar langsung tertawa geli.


"Hahahaha.. iya itu maksudnya. Kok jadi Jojon ya?" balas Haidar, merasa malu.


"Tapi benaran kok Mas suka banget, ketika kamu memberikan wajangan pada Mas. Rasanya hati Mas terasa sejuk sayang. Makanya Mas sangat bersyukur, berkat kamu, Mas jadi banyak tahu, dalam ilmu agama. Untuk itu, Mas berharap, kamu jangan pernah bosen ya untuk mengingatkan Mas, dalam hal kebaikan? Karena yang Mas butuhkan saat adalah bimbingan kamu Sayang," sambung Haidar, lagi seraya ia mengelus-elus pipinya Fatimah, sambil menatap wajah cantiknya itu.


Mendengar perkataan suaminya, Fatimah pun menyunggingkan senyuman manisnya pada suaminya. Seraya ia memeluk tubuh sang Suaminya, "Alhamdulillah.. kalau Mas suka, terima kasih Mas. In shaa Allah, Thiyah tidak akan bosen untuk berbagi ilmu pada Mas," ucapnya didalam pelukannya. Setelah itu ia pun mengecup bibir Haidar dengan singkat. Membuat mata Haidar langsung membulat.


"Eh! Sayang! Jangan menggoda Mas! Nggak tahu apa, dari tadi Mas sudah menahan sesuatu! Kalau saja kehamilan kamu sudah melewati trimester pertama, sudah mas lahap kamu tau!" protes Haidar, dengan wajah yang terlihat mulai frustasi. Membuat Fatimah langsung tertawa geli.


"Hihihi.. Maaf yaa Mas. Tapi Thiyah, sangat suka melihat wajah Mas yang seperti ini, Muach!" balas Fatimah, yang kemudian ia kembali mengecup bibir Haidar dengan singkat, lalu ia pun berlari menuju ke kamarnya.


"Haiiis.. Istri kecilku mulai nackal yaa! Huh! Nih lagi si junior, main togak aja tanpa permisi! Nggak tahu apa, kalau saat ini lagi sesi puasa!" gerutu Haidar, sambil menatap bagian bawahnya dengan tatapan, frustasinya.


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...

__ADS_1


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰


__ADS_2