
Dua Minggu kemudian.
Hari ini Haidar tampak bingung, pasalnya ia sudah meninggalkan perusahaannya selama dua minggu lamanya, demi untuk mendekati putrinya. Namun sang putri, masih sangat sulit untuk di temuinya. Padahal ia ingin mengajaknya ke kota. Soalnya ia tak mungkin meninggalkan putrinya itu dipulau S tersebut.
Kebingungannya Haidar, ternyata terlihat oleh Leo, yang sebetulnya ia adalah Adik iparnya Haidar. Namun karena ia mengikuti sang kakaknya sebagai pengawal Keyla dan Rindhima. Jadi tak seorang pun tahu kalau ia adalah adiknya Keyla. Haidar dan Kayla sengaja merahasiakan karena memang itu adalah permintaan dari Leo, karena ia tahu kalau Abang iparnya itu terlalu banyak musuh.
Yaa..Haidar sebenarnya adalah seorang mafia yang dingin dan kejam. Jadi tak heran kalau ia memiliki banyak musuh. Dan karena itu jugalah alasannya mengapa Keyla dan putri harus tinggal dipulau S. Karena ia tak mau Anak dan istrinya menjadi sasaran empuk bagi para musuh-musuhnya. Dan keselamatan Keduanya juga sudah menjadi tanggung jawabnya Leo adiknya Keyla. Karena Haidar sangat mempercayai adik iparnya itu.
"Permisi Tuan! Bolehkah saya bertanya pada Tuan?" tanya Leo, yang akhirnya ia memutuskan mendekati Abang iparnya.
Mendengar suara Leo, Haidar tampak terkejut, mungkin karena ia tadi masih terhanyut dalam lamunannya. Jadi tak heran kalau ia tampak terkejut.
"Aah..! Leo! Katakanlah!" balas Haidar sempat terkejut.
"Maaf saya lancang Tuan! Saya lihat Anda seperti kebingungan, sebenarnya ada apa Tuan? Siapa tahu saya bisa membantu Anda," ujar Leo, dengan penuturan yang terdengar sangat berhati-hati sekali.
"Hah..! Kamu benar Leo! Saya memang sedang kebingungan. Kamu tahukan akhir-akhir ini Rindhima tidak mau bertemu denganku. Padahal sudah waktunya aku kembali ke kota. Dan aku tidak mungkin meninggalkannya di sini seorang diri. Makanya aku bermaksud ingin membawanya ke kota juga Leo. Tapi bagaimana caranya supaya Rindhi mau ikut denganku?" ungkap Haidar, terlihat sedih.
"Tuan, Rindhi pernah bilang pada Saya, kalau dia ingin bersekolah. Bagaimana kalau keinginannya itu Anda jadikan alasan agar dia mau ikut Anda ke kota. Soalnya di kepulauan inikan belum ada sekolah untuk seumur Dia Tuan. Nah jadi, menurut saya dia pasti mau ikut kalau Anda menjanjikan dia untuk bersekolah disana, iyakan?" balas Leo, memberikan ide pada Haidar.
"Hmmm...benar juga yang kamu katakan Leo! Pasti Rindhi mau ikut tuh," ujar Haidar terlihat bersemangat. Namun seketika ia teringat kalau putrinya itu sedang marah padanya, "Eh, tapi gimana caranya Saya menyampaikannya Leo? Diakan saja, tidak mau bertemu dengan saya," sambungnya lagi, yang kini wajahnya kembali terlihat sendu.
__ADS_1
"Tenanglah Tuan! Serahkan saja semua pada saya! Dan saya pastikan, Rindhi pasti akan ikut dengan Anda," balas Leo, meyakinkan Haidar.
"Oke! Saya percaya sama kamu Leo! Ya sudah, kamu lakukanlah sekarang! Agar sore ini kita akan langsung berangkat ke kota!" ujar Haidar, yang kini wajahnya terlihat kembali bersemangat. Karena ia tahu, Leo, pasti akan berhasil. Mengingat putrinya saat ini sedang dekat pada adik iparnya itu.
"Baiklah Tuan! Kalau begitu saya permisi!" pamit Leo, seraya membungkukkan tubuhnya sedikit.
"Hmm.. pergilah!"
Setelah mendapatkan jawaban dari Abang iparnya. Leo pun bergegas pergi menuju ke kamarnya Rindhima, yang berada di lantai dua Sesampainya Leo di depan kamar sang keponakan Ia pun langsung mengetuk pintu kamarnya tersebut.
"Non..! Nona Rindhi? Ini Uncle Leo! Bolehkah Uncle Leo masuk Nona?!" seru Leo, seraya ia mengetuk-ngetuk pintu kamarnya Rindhima.
"Ada apa Uncle?" tanya Rindhima, terlihat penasaran.
"Bolehkah Uncle masuk? Soalnya kan nggak enak bicara didepan pintu begini Non," tanya Leo balik.
"Aah iya! Ya sudah ayo masuk Uncle," ajak Rindhima, dan akhirnya Leo pun masuk ke kamar keponakannya itu.
"Sekarang katakanlah Uncle, apa yang ingin Uncle Leo bicarakan pada Indhi?" tanya Rindhima lagi.
"Ini loh Non, Uncle cuma ingin bertanya, apakah Nona masih ingin bersekolah? tanya Leo balik.
__ADS_1
"Masih sih Uncle! Soalnya Mommy pernah bilang, kalau ingin menjadi orang pintar, Indhi harus sekolah, agar bisa menjadi orang hebat! Tapi Uncle, disinikan nggak ada sekolahan, makanya Indhi, jadi nggak sekolah," balas Rindhima, terlihat sedih, ketika ia mengutarakan kalimat terakhirnya. Namun Leo malah tersenyum tipis melihatnya.
"Hmm.. kalau memang Nona Indhi ingin bersekolah, hanya ada satu cara Nona. Apakah Nona Ingin mendengarnya, hm?" tanya Leo. Mendengar perkataan Leo, wajah Rindhima, langsung berubah penasaran.
"Memang apa caranya Uncle," tanya Rindhima, dengan wajah yang terlihat antusias.
"Caranya Nona Indhi harus ikut pergi ke kota, bersama Daddy Nona. Soalnyakan dikota banyak banget tuh, sekolahan, iyakan Nona?" balas Leo, yang terlihat ia begitu berusaha untuk menyakinkan keponakan kecilnya itu.
"Hmmm..iya sih! Tapi nggak mau akh! Soalnya Indhi lagi malas bertemu sama Daddy!" balas Rindhima terdengar ketus.
"Eeeh..Nona, nggak boleh begitu, mau bagaimana pun, Beliau tetaplah Daddynya Nonakan? Lagian, emangnya Nona nggak ingat ya? Sama Janji Nona, depan Momy Nona? Dan asal Nona tahu aja, janji adalah hutang Nona! Apalagi Nona berjanjinya sebelum Mommy Nona meninggal, jadi mungkin saat ini Momy Nona sedang sedih loh! Karena Nona tidak menepati janji Nona, untuk tidak membenci Daddynya Nonakan?" tutur, Leo, terdengar lembut, dan sangat berhati-hati sekali, agar bisa menyentuh hatinya Rindhima.
Rindhima langsung tersentak mendengar perkataan Leo, karena telah mengingatkan ia akan janjinya pada sang Ibu, "Eh! Tidak kok Uncle! Indhi tidak benci Daddy kok! Hanya saja Indhi sedang menghukum Daddy saja!" dalih Rindhima. Membuat Leo langsung tersenyum tipis.
"Oooh.. ternyata Nona Indhi, hanya sedang menghukum toh! Uncle pikir, Nona benaran benci pada Daddynya," balas Leo, seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya Uncle, Indhi, cuma sedang menghukum Daddy saja kok!"
...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan Vote + ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke biar Author semangat Update lagi loh.😉 Syukron 🙏🥰
__ADS_1