
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Ketika hati tersakiti, dan harga diri terlukai, kadang kesabaran runtuh terkoyak dan menyisakan kemarahan yang sulit dipahami. Ketika kegagalan silih berganti, atau musibah bertubi-tubi, kesabaran pun diuji di titik paling tepi. Ketika yang kita sayangi, melakukan hal yang tidak kita ingini, meski telah berkali-kali diperingati, rasanya kesabaran itu tiada arti.
Padahal benarkah sabar itu bertepi? Benarkah utas kesabaran itu berbatas?. Padahal banyak contoh kesabaran yang jauh dari perkiraan ujian yang kita hadapi saat ini, dan kita tahu pasti ada balasan dari kesabaran itu...tak lain adalah Syurga, yang diidamkan oleh setiap muslim di dunia. Masihkah merasa sabar itu ada batasnya?
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Haidar memang sudah mengizinkan istrinya, untuk mengantarkan putrinya ke sekolah. Namun tetap saja hati dan pikirannya tetap merasa tak tenang. Sehingga di sepanjang perjalanannya menuju ke kantornya ia tampak gelisah dan terlihat uring-uringan tak jelas. Hingga membuat Leo, yang tadi sedang fokus pada mengemudinya jadi penasaran.
Sebab disenpanjang perjalanan mereka menuju kantornya. Haidar selalu menghelakan nafas kegelisahannya. Dan Leo pun langsung paham, apa yang menyebabkan Abang Iparnya itu jadi terlihat uring-uringan. Dan ia pun langsung tersenyum tipis.
"Hem.. benar ya kata orang? Kalau orang yang sedang diserang penyakit bucin, pasti akan dilanda kegelisahan seperti orang..." celetuk Leo, dengan tatapan yang terlihat masih terfokus dengan mengemudinya. Mendengar celetuk Leo, Haidar langsung mengerenyitkan dahinya. Dan ia pun langsung menyela perkataannya.
"Gila maksud kamu hah?!" sambung Haidar, sambil menatap tajam wajah Leo, lewat kaca spion tengahnya.
Leo l langsung tersentak mendengar Haidar menyambungkan kata-katanya, "Eh! Bukan Saya yang ngomong ya Bang?" balas Leo, sambil melirik ke arah kaca spionnya. Dan ia pun langsung terkejut, saat melihat mata Haidar yang terlihat sedang menatap dingin padanya. Melihat hal itu, seketika ia langsung bergidik. Lalu dengan cepat, Ia langsung mengalihkan pandangannya ke kaca mobil depannya.
"Iya bukan kamu yang ngomong! Tapi itukan yang mau kamu katakan, hah?" tanya Haidar, dengan suara datarnya.
"Eh, mana saya berani mengatakan itu Bang! Orang saya tadi, cuma mau ngomong, seperti orang, orang.." dalih Leo, yang terlihat ia seperti sedang mencari kata ganti, yang sebenarnya ia memang ingin mengatakan gila. Makanya ia jadi berpikir keras untuk mengantikan kata tersebut.
"Seperti orang apa hah?!" tanya Haidar dengan nada suara yang sedikit meninggi. Karena sepertinya ia sudah tidak sabaran menunggu jawaban dari Leo. Membuat Leo, sedikit terkejut mendengar suara tinggi Haidar.
__ADS_1
"Aah.. itu Bang! Ya seperti orang Bucin bang!" kata Leo dengan spontan. Mendengar jawaban dari Leo, Haidar kembali mengerenyitkan dahinya.
"Bucin? Apa itu Bucin?" tanyanya lagi, yang tampaknya ia benar-benar tidak tahu arti dari kata Bucin. Karena memang baru kali ini ia mendengar kata Bucin tersebut. Maklumlah karena selama ini, yang ia tahu, hanya kerja-kerja dan kerja saja. Jadi wajar kalau ia tak pernah mendengar sekalipun kata Bucin tersebut.
"Hah? Abang Abang benaran nggak tahu?" tanya Leo balik, dengan memasang wajah herannya.
"Tidak tahu! Memangnya apa artinya?" Haidar kembali mempertanyakannya. Sebab rasa penasarannya, semakin besar.
"Aah.. kuper banget sih Bang! Bucin itu, adalah singkatan dari budak cinta Bang!" balas Leo berkata apa adanya.
"Eh! Jadi kamu mengatai saya budak cinta, hah?" tanya Haidar lagi dengan wajah kesalnya. Tampak sekali ia tak terima dikatakan Bucin, oleh adik iparnya itu.
"Ya kan emang faktanya Bang! Lihat saja sekarang, Abang sejak tadi terlihat uring-uringankan. Dan pastinya, penyebabnya karena Kak Fatimahkan?" jawab Fazril tanpa sungkan. Membuat Haidar yang mendengarnya langsung terdiam sesaat. Karena yang dikatakan Adik iparnya itu, adalah benar adanya.
Melihat kediaman Haidar, Leo langsung tersenyum penuh kemenangan, "Heh..! Benarkan yang saya katakan? Akui saja Bang, kalau Abang itu lagi Bucin, iyakan?" tanyanya lagi, sambil ia menyunggingkan senyumnya itu.
Sekali lagi Leo langsung tertawa, dengan mimik wajah, yang seperti sedang meledek, "Hehehe... mana ada maling yang ngaku bang! kalau mereka mengaku, yang penjara penuh tau!" balasnya dengan nada terdengar meledeknya. Hal itu malah membuat Haidar semakin kesal, saat mendengar ledekkannya.
"Sialan! Bisa diam tidak hah!" bentak Haidar kesal. Namun bukannya takut, Leo malah kembali menunjukkan gigi depannya.
"Hehe..iya iya saya akan diam," katanya yang kemudian ia langsung berusaha, menahan senyumnya. Dan itu masih terlihat oleh Haidar, dan sudah pasti ia semakin kesal melihatnya. Sehingga terbesit sebuah rencana untuknya.
"Oh iya Leo. Sekarang berapa umur kamu?" tanya Haidar, sambil mengalihkan pembicaraan mereka.
"Eh! Kenapa Abang bertanya soal umur saya?" tanya Leo balik.
__ADS_1
"Jawab saja! Tanpa ada embel-embel lainnya!" tegas Haidar.
"Iya iya, umur saya dua puluh sembilan tahun bang! Dan dua bulan lagi, umur saya akan genap tiga puluh tahun!" balas Leo, apa adanya.
"Aah.. sudah tua juga kamu ya? Kalau begitu, sudah waktunya kamu mencari istri Leo!"
Mendengar perkataan Haidar, Leo langsung kaget, "Eh! Apa! Istri?"
"Iyaa istri! Jadi mulai sekarang kamu harus menyempatkan diri untuk mencari istri!" balas Haidar, dengan tegas.
"Eh! Maaf bang! Tapi saya tidak bisa! Karena saya tidak berkeinginan untuk menikah! Karena saya masih ingin menjaga Rindhima, sampai dia bahagia. Dan itu sesuai janji saya pada almarhum Kak Kayla!" ujar Leo terdengar tegas.
"Menjaga Rindhi? Emangnya kamu pikir aku tidak bisa menjaga putriku hah?! Apa kamu meragukan kekuatanku, hingga kamu berpikir Aku tak mampu menjaga dan membahagiakan putriku, iya?!" tanya Haidar, dengan suara yang terdengar menggelar.
"Eh! Bu-bukan begitu maksud saya Bang! Saya tak pernah meragukan kekuatan Abang, saya hanya.." dalih Leo, sedikit gugup, karena tanpa ia sadari, ia sudah menyinggung Abangnya.
"Syuuht..! Diam! Dan dengarkan perkataan gue! Kalau Lo masih ingin berada didekat Rindhima, maka segeralah menikah! Gue akan kasih kamu jangka waktu satu bulan! Jadi kalau pada waktu yang sudah ditetapkan, kamu belum juga menikah. Maka jangan pernah berharap kamu bisa melihat putriku lagi. Karena Gue akan mengirim kamu ke Afrika!" ancam Haidar, membuat Leo langsung mengeremkan, mobilnya.srcara mendadak.
Sehingga membuat tubuh Haidar, terhempas ke depan, hingga mengenai sandaran kursi bagian depan mobilnya.
"Aakh! Sialan kau Leo! Aku ralat, jangka satu bulannya. Menjadi dua Minggu!" teriak Haidar kesal.
"Apa! Tidaaak!!
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰