
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Bersabarlah, dan jangan berputus asa dalam mengahadapi segala macam cobaan. Dan yakinlah bahwa sabarmu akan berbuah suatu yang indah, yang akan kau dapatkan. Karena terkadang Allah memberi bukan apa seperti yang engkau kehendaki. Akan tetapi Allah memberi apa yang kau butuhkan dan terbaik untuk mu saat ini.
Untuk itu jika kau merasa rintangan mu sepanjang sungai, maka kesabaran mu harus seluas samudera. Jika kau merasa harapan mu setinggi bintang, maka ikhtiar mu harus sejauh langit. Jika kau merasa pengorbanan mu sebesar bumi, maka keikhlasan mu harus seluas jagad raya. Dan jika kau merasa masalah mu sebesar kapal, maka yakinlah bahwa nikmat Allah seluas lautan.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Sesuai yang dikatakan oleh Haidar, keesokan harinya Haidar, Leo dan Haris, datang kerumahnya Fatimah. Yaa walaupun, pernikahannya hanya berstatuskan kontrak. Namun Haidar, tetap mengikuti syariat Islam. Karena itu memang permintaannya Fatimah. Mengingat sang Ayah Fatimah, yang ternyata adalah salah satu pemuka agama di daerahnya. Untuk itu, Fatimah meminta Haidar untuk melamarnya. Dan kini Haidar sudah berada di depan rumahnya Fatimah.
"Assalamu'alaikum, benarkah ini rumahnya ini Rumah Pak Abdurrahman Bahri?" tanya Leo, pada Pria, yang terlihat sedang duduk disebuah kursi yang berada didepan teras rumahnya.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu, benar, saya Abdurrahman Bahri. Ada apa Perlu apa ya Bapak mencari saya?" balas Pria, yang menyebut namanya Abdurrahman itu, yang tak lain ia adalah Ayahnya Fatimah.
"Aah.. kalau begitu bisa kita bicara secara nyaman Pak?" ujar Leo, sedikit menyindir agar sang pemilik rumah mau mempersilahkan mereka masuk.
"Astaghfirullah.. saya Lupa! Maaf-maaf.. Ayo silahkan masuk tuan-tuan," balas Rahman, sambil ia bangkit dari duduknya. Lalu ia pun mengambil tongkat kayu, yang sejak tadi bersandar di dinding. Lalu ia pun menyanggahkan tangannya di tingkat tersebut, "Mari pak silakan masuk," lanjutnya lagi. Lalu ia pun mulai memasuki rumahnya dengan langkah yang terlihat terpincang-pincang.
"Mari silahkan duduk Tuan-tuan," katanya lagi setelah mereka semua berada di ruang tamunya. Karena sudah di persilahkan, Haidar, Leo, dan Haris pun duduk di sebuah kursi kayu yang terdapat di ruang tamunya.
"Asma!! Tolong bikinkan air untuk tamu kita ya Nak?" teriak Rahman, memanggil Adiknya Fatimah. Namun yang datang bukannya si Asma, tapi malah Fatimah, yang keluar menemui sang Ayah.
__ADS_1
"Asmakan, sedang menungguin Umi di rumah sakit, Bi. Biar Imah aja..Eh!" sentak Fatimah saat melihat mereka yang ada diruang tamunya" Ka-kalian? Bagaimana bisa kalian tahu rumah saya?" tanyanya lagi. Membuat Abi Fatimah, langsung mengerutkan dahinya.
"Kamu mengenal mereka Timah?" tanya Rahman, membuat Fatimah, langsung menatap wajah sang ayah dengan tatapan kebingungannya. Yaa ia bingung harus berkata apa pada sang Ayahnya itu.
"Eh! I-itu Bi..me-mereka i-itu me-mereka..." jawab Fatimah dengan terbata-bata. Namun langsung di sambung oleh Haidar.
"Perkenalkan Pak, Saya Haidar! Calon suaminya Fatimah!" ujar Haidar penuh percaya diri, sambil mengulurkan tangannya kearah Rahman. Namun tak ditanggapi oleh Rahman, karena saat ini ia sedang terkejut yang amat sangat.
"Apa! Calon suami?! Benarkah yang dia katakan Timah?" tanyanya langsung pada Fatimah.
Fatimah, yang sebenarnya juga terkejut, karena melihat Haidar yang begitu beraninya mengakui kalau dirinya adalah calon istrinya langsung menatap Haidar dengan mata yang membulat sempurna. Namun ketika mendengar pertanyaan Rahman pandangannya pun langsung beralih ke wajah sang Ayah. Tampak sekali dari wajahnya kalau saat ini ia sedang kebingungan untuk memberikan jawabannya pada sang Ayah.
"Kenapa diam Fatimah? Jawab Abi! Apa benar Dia calon suami kamu Timah?!" tanya Rahman, yang kali ini suara terdengar sedikit meninggi.
"Apa! Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Syaprizal? Bukankah kalian sudah tunangan, hah?!" tanya Rahman lagi, yang tampaknya ia begitu marah pada Fatimah.
"Bi, bukankah Abi juga tahu, kalau Mas Izal, tidak pernah lagi menghubungi Imah, semenjak kepergiannya ke Kairo? Sudah dua tahun lebih Bi, bahkan sudah melewati batas janjinya untuk menikahi Imah. Mau sampai kapan Imah harus menunggunya lagi Bi?" balas Fatimah, dengan mata, yang terlihat mulai berkaca-kaca.
Mendengar perkataan dari putrinya Rahman terdiam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Karena memang faktanya, kalau calon suaminya Fatimah yang sesungguhnya tidak pernah ada kabar beritanya lagi. Bahkan ia juga pernah bertanya kepada orang tua tunangan putrinya itu. Namun mereka selalu mengatakan tidak tahu. Tampak sekali kalau mereka seperti menutupi sesuatu dari mereka. Hingga akhirnya Rahman tak pernah lagi menanyakan tentang kabar calon mantunya itu lagi.
Melihat Ayahnya yang terdiam Fatimah pun langsung bersimpuh di hadapan Rahman, lalu ia menggenggam kedua tangan sang Ayah, "Bi? Abi, setujukan kalau Imah menikah sama Dia? Imah sudah terlanjur sayang sama Anaknya Mas Haidar Bi, jadi Imah mohon restui kami ya Bi?" pintanya dengan memasang wajah yang terlihat sedang memohon sekali pada Rahman.
"Apa kamu bilang? Anak? Dia sudah punya Anak? Apa itu artinya dia seorang Duda?" tanya Rahman, pada Fatimah. Namun belum sempat Fatimah, membalas pertanyaan sang ayah. Haidar sudah langsung menjawabnya duluan.
__ADS_1
"Bener Pak! Saya duda beranak satu, istri saya meninggal tujuh bulan yang lalu, Pak," jawab Haidar berkata apa adanya.
"Hah? Masih baru, sudah mau menikah lagi?" tanya Rahman, sambil menatap Haidar dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Saya, tak bermaksud ingin secepatnya menikah Pak. Hanya saja anak saya yang baru enam tahun itu sangat menginginkan seorang Ibu. Dan ia selalu merengek meminta Fatimah untuk menjadi Ibunya Pak. Makanya saya tidak bisa mengatakan tidak pada putri kecil saya Pak," jelas Haidar. Membuat Rahman merasa iba pada anaknya setelah mendengar penjelasannya. Lalu ia kembali menatap Fatimah yang terlihat masih bersimpuh di hadapanya.
"Apakah ini benar-benar pilihan kamu Nak? Apakah kamu tidak akan menyesal, nantinya, karena dia seorang duda?" tanyanya yang kini suaranya terdengar lembut.
"Benar Bi, ini pilihan Imah. Dan Insya Allah Imah tidak akan menyesal!" balas Fatimah, terdengar begitu yakin, dengan keputusannya.
Melihat keyakinan putrinya, akhirnya Rahman pun menjadi luluh, "Baiklah, kalau itu sudah menjadi pilihan kamu. Maka Abi akan merestui kalian," balas Rahman, seraya membelai kepala putrinya itu.
"Alhamdulillah.. terima kasih Bi," ucap Fatimah, seraya ia mengecup tangan sang Ayah.
"Sama-sama Nak. Oh iya ngomong-ngomong, kapan kamu berencana akan menikahi anak saya?" tanya Rahman, pada Haidar.
"Sekarang juga Pak!" balas Haidar to the poin. Membuat Rahman langsung terkejut..
"Apaa!!"
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰
__ADS_1