
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Luruskan usahamu luruskan hatimu Luruskan pikiranmu. Luruskan Amalanmu. Hidupmu Allah yang mengurus! Janji Allah Subhanahu Wa Ta'ala "Orang yang Soleh Allah yang mengurus". Masalah hidup kita Allah yang mengurus.
Allah juga akan memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya kepada hamba-Nya yang saleh, yakni mereka yang memiliki jiwa yang bersih berkat kebersihan akidahnya, dan dari kebersihan jiwa itu lahir amal perbuatan yang luhur, berguna bagi kehidupan pribadi dan masyarakat.
Sekarang banyak orang yang mengurus hidupnya. Tapi tak diluruskan hati dan pikirannya. Akhirnya kacau balau. Maka berniatlah baik, berpikir baik, berkata baik, berbuat baik. Datang yang baik Alhamdulillah, datang yang tak baik, berarti Allah sedang menguji. Kalau dikasihnya nikmat bersyukur dikasih-Nya ujian Sabar. Hidup ini cuma dua Antara syukur dan sabar
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
Diruang rawat Fatimah.
Pada awalnya Syaprizal terlihat begitu senang. Karena ia telah dipertemukan kembali oleh Fatimah. Namun ia mendengar Rindhima memanggil Fatimah dengan sebutan Umi, Ia amat terkejut sekali. Apalagi, saat melihat Rindhima, yang datang-datang langsung memeluk Fatimah bahkan menciuminya, membuat ia semakin penasaran.
"Apa maksudnya ini Timah? Siapa anak kecil ini? Kenapa dia memanggil kamu Umi?" tanyanya, sambil menatap wajah Rindhima. Membuat Rindhima, yang mendapatkan tatapan tersebut, jadi ingin membalas pertanyaannya. Sehingga ketika Fatimah ingin membalas pertanyaan Syaprizal, ia sudah lebih dulu buka suara.
"Ooh.. Uncle Dokter, mau kenalan sama Indhi ya? Kalau, begitu ayo kita kenalan Uncle?" katanya sambil mengulurkan tangannya. Namun tak langsung di sambut oleh Syaprizal. Membuat Rindhima, langsung berinisiatif, mengambil tangannya dengan paksa.
"Perkenalkan Uncle! My name Rindhima Reffadhina! Biasa dipanggil Reffa, kalau di sekolah dan Rindhi kalau dirumah! Dan saya adalah anaknya Daddy, Haidar Rafardhan dan Umi Fatimah Fathiyah!" ujar Rindhima dengan suara yang terdengar begitu lantang dan tegas. Seraya ia menghentakkan tangannya yang sedang menyalami tangannya Syaprizal.
__ADS_1
Mendengar perkataan Rindhima, Syaprizal terlihat begitu terkejut saat mendengar kata anak. Dan ia pun langsung menatap wajah Fatimah, sambil ia bermaksud ingin melepaskan tangannya Rindhima. Namun, Rindhima malah mempererat genggamannya seraya berkata.
"Eeh! Kok mau dilepas sih? Unclekan belum memperkenalkan diri Uncle. Dan apa hubungannya Uncle sama Uminya Rindhi?" katanya, sambil menatap wajahnya Syaprizal.
"Aah, maaf! Baiklah kalau begitu! Perkenalkan Nama Uncle Syaprizal! Biasa di panggil, dengan Rizal! Dan saya adalah tunangannya wanita yang kamu panggil Umi ini!" balas Syaprizal, yang tak kalah tegasnya dari Rindhima, "Sekarang kita sudah kenalankan? Sekarang boleh Uncle bicara pada Umi Fatimahnya?" sambungnya, sambil melepaskan tangannya yang masih dijabat oleh Rindhima.
"Baiklah Uncle, silahkan saja," kata Rindhima, sambil ia melangkah ke sebuah sofa. Lalu ia pun duduk disana.
"Fatimah? Apa maksudnya dari perkataan gadis kecil itu? Atau jangan-jangan kamu sudah menikah dengan..." tanya Syaprizal. Namun belum lagi ia menyelesaikan kata-katanya, Rindhima sudah langsung menyelanya.
"Benar sekali Uncle! Umi Fatimah, emang sudah menikah sama Daddynya Indhi, loh!" potongnya, tanpa melirik kearah Syaprizal sedikit pun. Karena tampaknya, ia sedang terfokuskan pada layar handphonenya. Mendengar perkataan Rindhima yang terlihat santai, membuat Syaprizal, malah tersentak.
"Eh! Benarkah itu Timah? Kenapa kamu diam saja Timah? Katakanlah sesuatu? Katakanlah kalau itu semua bohong Timah," tanya Syaprizal, yang tampaknya, ia terlihat mulai frustasi.
"Astaghfirullah! Lalu bagaimana dengan hubungan kita Timah? Apakah kamu tidak pernah serius, dengan pertunangan kita? Pantas saja kamu tak pernah membalas suratku! Bahkan kamu selalu mengembalikan hadiah-hadiah yang ku kirimkan! Jadi ini rupanya penyebabnya?" ujar Syaprizal, membuat Fatimah terkejut mendengarnya.
"Mengirim surat? Surat apa? Hadiah apa? Bahkan timah saja tidak tahu bentuk surat, dan Hadiah yang Mas katakan itu! Seharusnya Mas tanyakan itu pada orang tua Mas! Karena setiap Imah tanya mereka bilang tidak ada kabar dari Mas! Imah juga berkali-kali menitipkan surat pada mereka. Dan mereka bilang, tidak ada balasan! Lalu sekarang..." balas Fatimah, yang akhirnya ia mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini tersimpan di dalam hatinya. Sehingga ia tak kuasa lagi menahan air matanya, yang kini telah membasahi cadarnya.
"Hmm..sudahlah Mas, mungkin kita memang tidak berjodoh. Lagian sejak awal pertunangan kita tidak disukai Uminya Mas. Jadi Ana merasa, pertunangan kita juga tidak ridhoi oleh Allah. Ingatlah Mas, Ridho orang tua, adalah Ridhonya Allah. Dan murkanya orang tua, sudah pasti murkanya Allah juga. Jadi sekarang sebaiknya Mas, menuruti apa kehendak orang tua Mas. Agar Mas senantiasa mendapatkan kebahagiaan, di dunia maupun di akhirat," sambung Fatimah, yang tampaknya ia mulai mengikhlaskan segalanya, yang selama ia sempat menantikannya.
"Tidak Timah, aku tidak bisa! Ingatlah juga, kalau kamu itu amanah dari Abang kamu! Dan aku juga sudah berjanji padanya, untuk menjaga kamukan? Maka dari kembalilah padaku Timah, aku berjanji padamu, akan membahagiakan kamu sampai nafasku berhenti," balas Syaprizal. Seraya ia meraih kedua tangannya Fatimah. Sambil menatap wajah Fatimah dengan lekat, dan dengan tatapan penuh pengharapan. Namun baru saja ia meraih tangan Fatimah, tiba-tiba..
__ADS_1
"Lepaskan tangan istriku!" teriak seorang pria yang tak lain adalah Haidar. Dan dengan spontan Fatimah maupun Syaprizal langsung menoleh ke sumber suara teriak tersebut. Dan tampaklah oleh mereka, Haidar yang terlihat sedang berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Menjauhlah darinya!" teriak Haidar lagi sambil mendorong tubuh Syahrizal.
"Tapi Tuan dia adalah tunangan saya! Anda jangan ikut campur urusan kami!" kata Syaprizal yang sepertinya ia tak mau mengalah.
"Hanya tunangan Anda sudah merasa memiliki hah?! Hei..! Dengar baik-baik! Saya suaminya! Jadi dia miliki saya sepenuhnya! Dan Anda sebaiknya Pergi dari sini!" teriak Haidar lagi, sambil menatap tajam kepada Syaprizal.
Mendengar perkataan Haidar, Syaprizal tak langsung pergi, ia malah menatap wajah Fatimah, yang tampaknya masih tercengang melihat suaminya yang tiba-tiba berdiri membelakanginya. Seakan menutup dirinya agar tak terlihat oleh saingannya.
"Aku ingin, kamu yang mengatakannya langsung Timah? Apakah kamu benar-benar menginginkan Aku Pergi?" tanya Syaprizal, Sambil menatap Fatimah dengan tatapan yang begitu lembut. Membuat Haidar, semakin kesal. Sehingga tanpa memberi aba-aba pada Fatimah, ia pun langsung menggendong tubuh istrinya.
"Kita pulang sekarang!" katanya. Membuat Fatimah langsung terpekik karena kaget.
"Aaaakh!!" pekik Fatimah, yang dengan spontan, tangannya langsung melingkar di leher suaminya, karena sudah pasti ia takut terjatuh, "Mas turunkan saya!" kata Fatimah lagi. Namun tak dihiraukan oleh Haidar. Ia malah langsung melirik ke arah anaknya.
"Ayo Rindhi kita pulang!" ajak Haidar sambil ia melangkah keluar dari ruang rawatnya Fatimah.
"Okay Daddy! Let us go home!" balas Rindhima, sambil tersenyum penuh kemenangan.
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰