
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷
Kesenangan dunia dan kesengsaraannya adalah ujian dari Allah. Apakah kita menjadi hamba yang bersyukur saat diberi nikmat dan sabar saat diberi cobaan, ataukah sebaliknya. Karena dunia ini adalah _daarul ibtilaa’_ (negeri tempat ujian dan cobaan).
Senang dan duka adalah _sunatullah_ yang pasti senantiasa mewarnai kehidupan ini. Tidak ada seorang manusia pun yang terus merasa senang, dan tidak pula terus dalam duka kesedihan. Semuanya merasakan senang dan duka datang silih berganti.
Allah lah yang menciptakan kebahagiaan dan kesedihan agar manusia menyadari nikmatnya kebahagiaan, sehingga ia bersyukur dan berbagi. Dan sempitnya kesedihan diciptakan agar ia tunduk bersimpuh di hadapan Allah yang maha pemberi rahmat dan mengasihi, serta tidak menyombongkan diri.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷
Hari-hari bergulir silih berganti, hingga tanpa terasa, kandungan Fatimah sudah memasuki usia tujuh bulan. Dan sesuai yang dijanjikan oleh Haidar, begitu Rindhima mau masuk liburan sekolah ia pun langsung memperintahkan Leo untuk mendaftarkan keluarganya yang hendak pergi ke Mekkah. Dan itu juga termasuk Leo dan Yasmin. Dan disinilah mereka sekarang yaitu di kota Mekkah.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai juga di kota kelahirannya junjungan kita, yaitu Rasulullah ﷺ. Terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan kesempatan pada kami untuk memijakkan kaki kami di tanah suci-Mu," ucap Fatimah, setelah mereka sudah berada di dalam hotel.
"Ho'oh, Alhamdulillah ya Mi, Indhi juga sangat senang, karena bisa ikutan bersama Umi dan Daddy. Terima kasih Umi, terima kasih Dad," sambung Rindhima, dengan wajah yang terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
"Sama-sama Sayang, ya sudah sekarang kita istirahat saja dulu ya? Nanti kalau lelah kita sudah hilang baru kita sama-sama ke Masjidil haramnya," ujar Haidar, seraya ia merangkul istrinya menuju ke tempat tidur yang berada di kamar hotel mereka.
"Loh kok istirahat sih Dad? Kan sebentar lagi mau sholat ashar? Kenapa nggak sekarang aja ke mesjidnya Dad? Lagian indhi udah nggak sabar ingin lihat Ka'bah Dad," protes Rindhima. Ia memang sejak tadi begitu antusias di saat-saat mereka hendak berangkat. Jadi tak heran, bila ia tak Kalau saat ini ia terlihat begitu bersemangat.
"Sayang, Umi kamu sedang mengandung Adik kamu. Jadi kasiankan habis perjalanan jauh, terus langsung berjalan jauh lagi. Kalau nanti ada apa-apa gimana sama calon adik kamu hm? Kamu nggak maukan, adik kamu Kenapa-kenapa?" ujar Haidar memberikan pengertian pada putri kecilnya. Dan Rindhima yang mendengar perkataan sang ayah, ia pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bagus! Sekarang kita sholat asharnya di hotel saja ya?" sambung Haidar lagi. Namun Rindhima malah lari keluar ke arah pintu, sambil berkata.
"Nggak mau aah Dad! Indhi tetap mau sholat didepan Ka'bah, sama Uncle Leo!" katanya, sambil membuka pintu kamar hotel mereka. Lalu ia pun langsung pergi tanpa menunggu balasan dari sang Ayah.
Fatimah yang saat ini sedang duduk di tepi ranjangnya, langsung tersenyum lucu, saat mendengar gerutuan suaminya.
"Iya ya? Mirip siapa sih, keras kepalanya putrinya tuan Haidar? Thiyah juga penasaran deh?" Ujar Fatimah, seraya ia meletakkan jari telunjuk dan jempolnya di bawah dagunya, seakan ia sedang berpikir. Namun jelas sekali dari wajahnya ia seperti menahan tawanya. Sehingga Haidar yang melihatnya langsung mengerenyitkan dahinya.
"Kamu sedang meledek Mas, hm?" Tanyanya, dengan alis yang terlihat naik sebelah. Dan dengan wajah yang terlihat begitu serius menatap wajah istrinya.
"Eh! Enggak kok, siapa juga yang meledek Mas? Orang Thiyah cuma penasaran doang kok," balas Fatimah, dengan wajah yang terlihat sedang berusaha menutupi senyuman lucunya.
__ADS_1
"Masih ingin berdalih, hm? Padahal kamu ingin mentertawakan Maskan?" Kata Haidar, sambil ia menghampiri istrinya yang masih duduk di tepi ranjangnya. "Ayo tertawa saja, tidak usah di tahan-tahan!" Katanya lagi sambil mendekati wajahnya ke wajahnya Fatimah.
Melihat hal itu, Fatimah yang sejak tadi menahan tawanya, akhirnya ia pun langsung tertawa geli,
"Hahaha... hahaha.. maaf Mas, Thiyah nggak tahan lagi. Habisnya, pertanyaan Mas yang tadi lucu tau. Apalagi lihat wajah Mas yang seperti itu jadnya Thiyah nggak bisa nahan ketawa Thiyah dah, hahaha.. Suami Thiyah lucu banget sih?" Katanya sambil mencubit kedua pipinya suaminya lalu di goyang-goyangkan. Setelah itu ia juga langsung menciumi pipinya dengan gemas. "Muaaach! Muaaach! Gemas banget deh," ucapnya lagi.
Mata Haidar langsung membulat tatkala ia mendapatkan perlakuan seperti itu. Tampak sekali ia amat terkejut melihat tingkah laku istrinya itu, yang terlihat semakin berani padanya. Akan tetapi ia justru malah menyukai sikap Fatimah yang seperti itu.
"Hmm.. tampaknya istriku sudah semakin berani ya?" kata Haidar, seraya ia meraih kedua tangannya Fatimah, yang terlihat masih menempel di kedua pipinya. Setelah itu ia pun mendekati wajahnya ke telinga Fatimah.
"Hmm.. Apakah saat ini kamu sedang menggoda Mas Sayang? Memangnya kamu sudah tidak lelah lagi ya? Kalau begitu, bagaimana kalau kita berolahraga sejenak Sayang? Kan mumpung Rindhi sedang nggak ada, gimana Sayang, apakah kamu bersedia, hm?" bisiknya lagi, membuat mata Fatimah langsung membulat.
"Eh! Ti-tidak-tidak! Orang Thiyah lelah kok! Ini juga mau tidur Mas!" balas Fatimah, seraya ia mendorong tubuh suaminya. Setelah itu ia langsung naik keatas tempat tidurnya, bahkan ia juga langsung menarik selimutnya dengan cepat. Tampak sekali ia terlihat begitu panik.
Haidar yang melihatnya langsung tertawa geli, "Hahahaha.. tadi aja sok berani, giliran di ajak olahraga aja langsung sembunyi. Padahal tanpa dia sembunyi aku juga nggak mungkin melakukannya. Karena aku membawanya kesini karena berniat ibadah Umroh. Jadi aku tak akan menyentuhnya dulu,. karena aku khawatir ia akan kelelahan saat melakukan tawaf besok. Jadi sebisa mungkin aku harus bisa menahannya," gumam Haidar, seraya ia memandang selimut istrinya.
...⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶...
__ADS_1