RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
IJAB QOBUL.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Ketahuilah saudaraku, kita di dunia ini adalah musafir dan sedang melakukan perjalanan. Hal ini harus benar-benar kita sadari dan jangan sampai lalai mengingat hal ini.


Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,


“Manusia sejak diciptakan senantiasa menjadi musafir, Batas akhir perhentian perjalanan mereka adalah surga atau neraka.”


[Al-Fawaid hal. 400]


Inilah yang selalu diingatkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kehidupan dunia ini hanya sebentar dalam sebuah perjalanan.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Apa peduliku dengan dunia? Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.”


[HR. Tirmidzi no. 2551. dishahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan At Tirmidzi


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


Abdurrahman begitu terkejut mendengar perkataan Haidar, bahkan ia terkesan mendesak. Sehingga membuat Ayah, Fatimah jadi ragu untuk merestui pernikahan anaknya. Namun karena, Fatimah memberikan alasan dengan menyangkutkan dengan nama putrinya Haidar. Akhirnya, sang Ayah pun luluh, dan menyetujui keinginannya Haidar. Dan seketika itu juga, rumah Fatimah langsung didatangi oleh orang-orang yang tak dikenal oleh Fatimah maupun Abdurrahman.


"Eh! Apa-apaan ini?! Siapa mereka?" tanya Abdurrahman tampak bingung.


"Maaf Pak, mereka ini yang akan membantu putri bapak, agar menjadi pengantin yang tercantik. Jadi bapak tidak perlu khawatir ya?" balas Leo, dengan ramah.


"Ooh begitu? Ya sudah kalau begitu sana Nak, ajak mereka ke kamar kamu" ujar Sang Ayah.


"Baiklah Pak," balas Fatimah yang akhirnya ia pun mengajak penata rias tersebut ke kamarnya.

__ADS_1


"Hah..? Ternyata kalian sudah mempersiapkan segalanya ya? Apakah ini sebenarnya sudah direncanakankah? Sehingga dalam waktu singkat kalian sudah merubah rumahku, dengan sedemikian rupa?" tanya Abdurrahman, pada Leo. Setelah kepergian Fatimah.


"Iya benar Pak! Tuan saya memang sudah, mempersiapkan segalanya karena dia tak mau merepotkan keluarga Bapak," bales Leo.


Yaa Haidar memang, sudah mempersiapkan semuanya, atas saran dari Leo. Padahal tadinya, ia hanya ingin menikah di kantor KUA saja. Karena dia tidak suka dengan hal yang menurutnya sangat merepotkan. Namun karena Leo, mengatakan pada Haidar harus menghargai keluarga Fatimah. Apalagi Fatimah masih terbilang gadis ting-ting, yang sudah pasti sangat berharga bagi keluarganya. Dan sangat berbeda dengan yang sudah berstatuskan Duda. Jadi ia harus benar-benar menghargai Fatimah. Makanya akhirnya ia pun mengalah dan mengikuti perkataan Leo.


Setelah melihat rumah Fatimah yang tadi di dekorasi secara sederhana tampak selesai. Leo pun meminta berapa anak buahnya, untuk menjemput pak penghulu yang akan menikahi Haidar dan Fatimah. Dan ia juga meminta mereka untuk menjemput para saksi, serta memerintahkan mereka untuk mengundang beberapa tetangganya Fatimah. dan kini mereka akhirnya berkumpul semua di rumahnya Fatimah.


"Baiklah karena semuanya sudah kumpul, mari kita mulai saja ya acara ijab qobulnya. Tapi sebelumnya tolong panggil dulu pengantin wanitanya," ujar seorang pria berpeci hitam, yang sudah pasti ia adalah pak pehulunya.


"Baiklah Pak Priadi," balas Ayah Fatimah, pada si penghulu tersebut. Setelah itu ia pun langsung memanggil Fatimah. Dan tak berapa lama kemudian Ia pun kembali lagi bersama Fatimah, yang terlihat ia sudah tampak rapih dengan memakai gamis berwarna putih, bahkan hijab dan cadarnya juga berwarna putih. Sehingga ia terlihat begitu anggun.


"Hah? Bahkan di hari pernikahannya dia juga memakai cadar? Jadi untuk apa kita mendatangi perias yang terkenal, kalau pada akhirnya ditutup juga?" bisik Leo yang tampaknya ia begitu terkejut saat melihat wajah Fatimah yang ditutupi cadar juga.


"Aah..masa bodo sama wajahnya! Bagiku yang penting, perusahaanku cepat teratasi!" balas Haidar, yang sepertinya ia tak menghiraukan kedatangan Fatimah.


"Baiklah, karena pengantinnya sudah berada di sini, kita langsung mulai saja acaranya," kata sang penghulu, "Apakah Pak Haidar sudah siap?" tanyanya lagi pada Haidar.


"Baiklah Kalau begitu jabat, tangan calon Ayah mertua Anda," kata penghulu itu lagi


"Baik Pak!" Haidar pun menjabat tangan Ayahnya Fatimah.


"Bismillahirrahmanirrahim, Ananda Haidar Rafardhan bin Surya Iskandar ?" panggil Ayah Fatimah


"Saya Pak!" sahut Haidar terdengar begitu tegas.


"Saya Nikahkan dan Kawinkan engkau dengan putri kandung saya Fatimah Fathiyah binti Abdurrahman Bahri dengan mas kawin berupa, cincin berlian dibayar tunai!" tegas Ayah Fatimah sambil menghentakkan tangannya.


Haidar pun langsung menyambutnya dengan lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Fatimah Fathiyah binti Abdurrahman Bahri dengan mas kawin tersebut tunai!" balas Haidar seraya ia juga menyentak tanganya. Dan hanya dengan satu tarikan nafas saja, ia berhasil mengijab Fatimah.


"Bagaimana para saksi? Apakah Sah?!" tanya pehulu itu lagi.

__ADS_1


"Sah!!"


"Sah!!" balas para saksi dengan secara serentak.


"Alhamdulillah," ucap mereka semua. Dan setelah Ayah Fatimah pun langsung berdoa.


"Baarakallahu likulii wahidimmingkumaa fii shaahibihi wa jama'a bainakumma fii khayrin"


Artinya: mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan.


"Aamiin ya rabbal Alamiin," sambut mereka lagi. Dan setelah itu, Fatimah pun langsung menyalami tangan Haidar. Karena Haidar tidak paham tentang Doa ia pun hanya diam tatkala Fatimah menyalami tangannya.


Setelah selesai Haidar pun langsung buka suara, "Maaf Pak! Karena ada urusan yang sangat mendesak, saya minta izin untuk langsung membawa Fatimah ke kota," katanya membuat Ayah Fatimah begitu terkejut.


"Apa? Langsung pergi? Apakah tidak bisa menunggu besok dulu Nak? Apalagi kamu belum bertemu dengan ibunya Fatimah, masa langsung pergi begitu saja sih?" protes Abdurrahman.


"Maaf Pak, ini sangat darurat. Lagi pula saya sudah bertemu dengan ibu di rumah sakit kok," ujar Haidar, yang sepertinya ia sudah bertekad ingin membawa Fatimah secepatnya ke kota.


"Benar Bi! Bahkan, Mas Haidar yang telah membayar biaya operasi Umi," sambung Fatimah.


"Ooh iyakah? Kalau begitu, baiklah Abi izinkan kalian pergi. Dan Abi minta tolong jaga Anak Abi ya Nak Haidar?" ujar Ayah Fatimah, sambil menepuk pundaknya Haidar.


"Baik Pak, saya pasti akan menjaganya! Kalau begitu saya pamit ya Pak" balas Haidar sambil menyalami tangan Ayah mertuanya, namun tidak dikecupnya. Melihat itu Fatimah langsung meraih tangan sang Ayah lalu langsung di kecupannya.


"Imah juga pamit ya Abi, Assalamualaikum" kata Fatimah, yang ia juga Yakin Haidar tidak akan memberikan salam makanya ia langsung mengucapkan salamnya.


"Iya Nak, jaga dirimu baik-baik ya Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu," balas Abdurrahman. Dan seketika itu juga Haidar langsung menarik tangan Fatimah, yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


Melihat hal itu, Abdurahman sedikit terkejut, "Eh! Kenapa aku merasa Haidar, begitu kasar pada Fatimah ya?" gumamnya seraya ia melihat kepergian mereka, "Aah itu prasangka ku saja kali! Mudah-mudahan Allah selalu melindungi putriku, serta memberikan kebahagiaan untuknya, Aamiin"


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...

__ADS_1


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰


__ADS_2