
Setelah melihat wanita bercadar itu melumpuhkan para lawan-lawannya dengan sempurna. Haidar pun langsung menepukan kedua tangannya, seraya ia berjalan memasuki ruang kelas putrinya. Dan seketika semua mata langsung mengarah kepadanya. Termasuk Rindhima dan juga Fatimah.
"Prok..prok..prok..prok! Luar biasa! Satu wanita melawan empat orang pembunuh bayaran! Anda benar-benar cukup mengagumkan Nona!" ucap Haidar, seraya ia menatap wajah Fatimah dengan tatapan yang tak bisa diartikan dan seraya ia menyunggingkan senyuman miringnya.
"Terima kasih atas pujiannya Tuan! Tapi saya rasa, saya tidak butuh pujian tersebut! Oh iya, apakah Anda juga bagian dari mereka?" balas Fatimah. Seraya matanya menatap tajam kearah para pria yang berada dibelakangnya Haidar. Karena ia melihat diantara mereka, sedang memegang senjata apinya. Membuat ia berpikir kalau Haidar dan para anak buahnya adalah bagian dari para penjahat yang baru saja ia lumpuhkan.
Mendengar tuduhan dari Fatimah dengan spontan Haidar mengangkat kedua tangannya dan seraya berkata, "Aah.. tidak-tidak Nona! Kami bukanlah bagian dari mereka kok!" katanya dengan pandangan masih terfokus pada Fatimah. Dan saat bersamaan terdengar suara anak kecil dari salah satu kursi siswa.
"Dia bukan bagian dari mereka Aunty! Karena Dia adalah Ayah saya!" katanya dengan nada datarnya. Sembari ia berjalan menuju ke tempat Fatimah berdiri.
"Oooh jadi Dia Ayah kamu? Kalau begitu sekarang kamu sudah amankan cantik! Baiklah kalau begitu saya permisi," kata Fatimah. Dan ia bermaksud ingin meninggalkan ruangan tersebut. Namun Rindhima langsung meraih kedua tangannya Fatimah.
"Terima kasih Aunty! Terima kasih karena Aunty sudah menyelamatkan saya!" ucap Rindhima. Seraya ia menatap wajah Fatimah yang tertutupi oleh cadarnya. Sehingga ia hanya bisa melihat matanya Fatimah saja.
"Oke putri cantik! Sama-sama, semoga setelah ini, hal seperti ini tidak terjadi lagi ya sama kamu. Dan semoga Allah melindungi kamu ya putri cantik. Sampai sampai jumpa lagi Cantik" balas Fatimah, seraya ia memegang dagunya Rindhima. Setelah itu ia pun memberikan kecupan pada pipinya Rindhima.
Walaupun kecupan tersebut tak menempel kepipinya secara langsung karena terhalangi oleh cadarnya Fatimah. Namun kecupan tersebut berhasil membuat mata Rindhima membulat sempurna. Bahkan tanpa terasa mulutnya langsung ternganga.
Sedangkan Fatimah langsung berjalan menuju ke pintu keluar, namun belum lagi ia sampai kepintu ruangan tersebut, tiba-tiba langkahnya seketika terhenti, karena mendengar suara bariton miliknya Haidar.
__ADS_1
"Berhenti! Kenapa Anda terburu-buru sekali Nona? Padahal Saya ingin mengucapkan terima kasih pada Anda, sekaligus ingin memberikan Anda hadiah, karena Anda telah menyelamatkan putri saya!" ujar Haidar, dan otomatis mendengar perkataan Bosnya tersebut anak buahnya langsung menghalangi jalannya Fatimah.
"Terima kasih Tuan! Tapi saya tidak butuh itu! Karena saya menolongnya dengan ikhlas! Untuk itu, bisakah Anda menyuruh mereka untuk menyingkir dari jalan saya!" balas Fatimah terdengar tegas.
Mendengar perkataan Fatimah, Haidar langsung tersenyum seringai, "Hee.. Anda cukup berani ya? Dan jarang sekali ada orang melakukan hal bahaya tanpa mendapatkan imbalan! Tapi baiklah kalau memang maunya Anda mau seperti itu. Tapi saya harus tetap mengucapkan terima kasih pada Anda," kata Haidar seraya ia mengulurkan tangannya bermaksud ingin berjabatan tangan pada Fatimah, "Terima kasih Nona!" katanya lagi sambil menunggu sambutan tangan dari Fatimah
Melihat uluran tangan Haidar, Fatimah hanya mengatupkan kedua tangannya seraya berkata, "Sama-sama Tuan! Tapi maaf kita bukan muhrim! Jadi tak pantas saling bersentuhan!" balas Fatimah terdengar datar, "Oh iya, bisakah Anda katakan pada mereka untuk minggir sekarang? Karena saya sedang terburu-buru sekali Tuan!" sambungnya lagi, yang memang sangat terlihat jelas, kalau ia seperti sedang terburu-buru.
"Ooh.. baiklah Nona! Kalian menyingkirlah dari sina! Dan biarkan Dia Pergi!" kata Haidar. Dan dengan spontan para Anak buahnya pun langsung menyingkir dari sana. Melihat hal itu tanpa ingin berbasa-basi lagi Fatimah pun langsung bergegas pergi dengan terburu-buru. Setelah kepergian Fatimah pandangan Haidar pun beralih ke Rindhima.
"Kamu tidak apa-apa Nak? Apakah ada yang luka, atau adakah yang sakit ditubuh kamu?" tanya Haidar seraya ia mendekati Rindhima yang terlihat masih berdiri ditempat Fatimah tadi.
Melihat hal itu Haidar langsung tercengang heran, "Hah? Loh Indhi! Kok Daddy ditinggalin sih!" teriaknya. Sambil melangkahkan kakinya bermaksud mengejar putrinya. Namun sebelum ia benar-benar pergi, "Kalian! Bereskan mereka dan bawa mereka ke markas, paham!" katanya pada para bawahannya.
"Pak Bos!" balas Mereka. Dan setelah mendengar jawaban dari para bawahannya Haidar kembali melangkahkan kakinya untuk mengejar Putri kecilnya yang tampaknya masih menuruni anak tangga. Karena sepertinya ia hendak menuju kelantai bawah.
"Indhi! Nak..! Tunggu Daddy dong Nak!" panggil Haidar, masih berusaha mendekati putri kecilnya. namun panggilannya tak direspon sedikitpun oleh Rindhima. Ia malah terus menuruni anak tangga dengan sedikit berlari kecil.
Melihat hal itu, Haidar merasa cemas, dan ia pun berusaha mempercepat langkah kakinya, seraya berkata, "Sayang! Jangan berlari! Nanti kamu jatuh Indhi!" teriaknya. Dan karena rasa cemasnya semakin besar, Haidar pun melompat ke bawah, agar ia dapat melancangi putrinya. Dan kini Haidar telah sampai bawah, lalu ia langsung mendekati putrinya. Bahkan ia langsung menggendong tubuhnya.
__ADS_1
"Eh! Daddy! Turunkan Indhi! Indhi nggak mau berbicara sama Daddy!" teriak Rindhima seraya ia meronta-ronta agar Ayahnya, mau menurunkan tubuhnya.
"Tidak! Kita harus bicara! Kalau tidak Daddy akan mengirim kamu ke pulau S! Biar kamu tidak bisa bersekolah lagi!" ancam Haidar, seraya ia membawa putrinya itu menuju ke mobil mereka.
Mendengar ancamannya sang Ayah, Rindhima pun langsung mendengus kesal! Dan akhirnya ia pun tak berani berontak lagi. Karena ia masih mengingat akan janjinya pada sang ibu, agar menjadi orang yang hebat. Dan untuk mengwujudkan hal itu, tentu saja ia harus terus bersekolah. Makanya mau tak mau ia pun harus mengikuti keinginan sang Ayahnya.
"Sayang, Daddy tahu Daddy salah, karena sudah terlambat datang. Tapi Daddy janji, hal ini tidak akan terulang lagi kok. Jadi kamu maukan memaafkan Daddy Sayang?" ujar Haidar, setelah mereka berada di dalam mobil mereka, yang saat ini sudah mulai melaju meninggalkan STB itu
Mendengar perkataan sang ayah, Rindhima hanya melipatkan kedua tangannya di bawah dadanya, sambil melengoskan wajahnya keluar jendela. Dan disaat tatapan matanya mengarah ke jendela, tiba-tiba ia melihat seorang wanita bercadar yang terlihat sedang berlari-lari kecil. Karena sepertinya ia sedang terburu-buru. Melihat hal itu, Rindhima pun tersenyum tipis.
"Daddy mau mendapatkan maaf dari Indhi?" tanyanya tanpa menoleh ke arah Ayahnya sedikit pun.
"Iya mau Nak!" balas Haidar dengan sigap.
"Kalau begitu, Daddy harus Jadikan Aunty itu bodyguardnya Indhi !" ujar Rindhima seraya ia menunjukkan jari telunjuknya kearah wanita bercadar tersebut.
"Apaa!!"
...⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷...
__ADS_1
Dukung Ramanda terus ya? Dan jangan pelit, ya Guys! untuk memberikan VOTE nnya. Kan biar Ramanda semangat loh Update, oke guys?Jadi please berikan dukungan kalian terus ya 🙏