RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
KEKESALAN HAIDAR.


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Ilmu Agama bukan ditentukan oleh gelar. Bukan pula dengan banyaknya riwayat dan maklumat. Bukan pula untuk dibanggakan. Tapi, ilmu Agama itu ditentukan oleh meresapnya maklumat yang benar di dalam dada.


Ilmu Agama itu cahaya yang dilemparkan Allah ke dalam hati seorang hambaNya.Dan ilmu Agama adalah untuk diterapkan sehingga menciptakan rasa tawadhu’ dan rasa takut dalam dada kepada Allah Azza Wa Jalla.


Kesimpulannya


Bahwa ilmu itu sangat erat hubungannya dengan HATI. Maka perhatikanlah hati Anda, dia adalah barometer ilmu Anda, jika memang Anda berilmu, harusnya hati Anda menjadi lembut, putih, dan bersih.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


Jam tiga pagi, Haidar terbangun dari tidurnya, dan langsung bergegas ke kamar mandi. Dan tak berapa lama kemudian ia pun kembali lagi ke tempat tidurnya. Namun ia tak langsung memejamkan matanya kembali. Karena saat ini matanya sedang mengarah ke wajah Fatimah yang terlihat sedang tertidur pulas. Dan seketika ia teringat pada malam panas yang telah ia lewati bersama Fatimah, lalu ia pun langsung tersenyum puas.


"Hmm.. akhirnya aku berhasil menjadikan kamu milikku seutuhnya! Jadi sekarang, kamu tidak bisa lagi memiliki pikiran untuk kembali lagi pada tunangan kamu itu lagi!" gumam Haidar, seraya ia membenarkan rambut-rambut halusnya Fatimah, yang terlihat berkeliaran di wajah istrinya itu.


"Aah.. kenapa bibir kamu selalu saja terlihat menggoda sih! Kalau begini aku nggak bisa menahan diriku lagi! Hah! Sial! Kenapa juniorku langsung bereaksi sih! Tapi nggak mungkinkan aku melakukannya lagi? Pasti saat ini punya dia masih sangat sakit! Tadi malam saja dia sampai menangis," gumam Haidar, terlihat frustasi.


"Haiis.. tidak bisa begini! Sebaiknya aku selesaikan saja dikamar mandi!" gumamnya lagi, lalu ia kembali bangkit dari tempat tidurnya. Dan kemudian ia pun langsung bergegas menuju ke kamar mandinya.

__ADS_1


Selang tiga puluh menit kemudian, ia terlihat kembali lagi, dengan memakai handuk kimono berwarna putih. Tampak rambutnya juga masih terlihat basah. Akan tetapi ia langsung mengelap rambutnya dengan handuk kecil yang sedang ia pegang. Setelah sedikit mengering ia pun kembali naik ke atas tempat tidurnya.


"Aah.. sebaiknya aku jangan melihat wajahnya lagi. Karena bisa gawat kalau terus-terusan memandanginya," gumam Haidar, seraya ia membaringkan tubuhnya, di sisi Fatimah. Lalu ia pun memposisikan tubuhnya membelakanginya. Dan baru saja ia memejamkan matanya tiba-tiba saja, kaki dan tangan Fatimah menimpai tubuhnya. Ia sudah seperti guling bagi Fatimah, membuat tubuh Haidar kembali menegang.


"Haiis... Thiyah! Hah! Bisa gila aku, menahan ini! Kalau saja ini bukan yang pertama kalinya bagimu, mungkin Aku tidak menderita begini! Aah.. sialan nih juniorku! Kenapa sekarang dia cepat banget bereaksinya sih! Padahal biasanya juga dulu nggak pernah seperti ini banget, saat bersama Keyla? Tapi kenapa sama Fatimah..." gumam Haidar, terlihat heran dengan reaksi tubuhnya, yang menurutnya tidak biasa.


"Aakh.. sudahlah! Sebaiknya Aku ke kamar mandi lagi saja!" gumamnya lagi, dengan wajah yang terlihat begitu frustasi. Lalu ia pun langsung menurunkan tangan dan kaki istrinya yang menimpa dirinya. Setelah itu ia kembali bergegas menuju ke kamar mandinya.


Selang beberapa menit Haidar pergi ke kamar mandi. Tubuh Fatimah pun terlihat menggeliat, karena memang ia sudah terbiasa terbangun dijam segitu karena ia selalu melaksanakan sholat di sepertiga malamnya.


"Ugh.. ya Allah tubuhku? Kenapa sakit semua?" keluhnya, seraya ia bangkit dari tidurnya, "Aah.. iya tadi malamkan? Hmm.. Alhamdulillah pada akhirnya Ana telah menjalani kewajibanku sebagai seorang istri," gumamnya lagi, sembari ia tersenyum malu-malu, karena sepertinya ia sedang teringat pada malam pertamanya, yang ia lewati bersama suaminya.


"Eh! Apaan sih? Kenapa Ana jadi teringat.." katanya Seraya ia melirik kesebelahnya, "Loh kemana Mas Haidar? Kok nggak ada?" katanya tampak bingung.


"Aakh.!!" pekik Fatimah. Dan bertepatan dengan keluarnya Haidar dari kamar mandinya. Dan seketika ia langsung terkejut, mendengar pekikan dari istrinya itu.


"Sayang! Kamu kenapa?" tanya Haidar terlihat sedikit kaget.


"Nggak papa kok Mas, cuma, sssth..." balas Fatimah, seraya ia hendak berjalan lagi, akan tetapi ia langsung berdesis menahan sakit.


Haidar yang mendengar desisnya Fatimah, ia pun langsung paham, dan ia pun langsung menghampirinya, "Kamu mau kemana? Sini biar Mas gendong saja ya?" katanya. Membuat Fatimah langsung tersentak.

__ADS_1


"Tidak usah Ma... Aakh!" pekik Fatimah terlihat begitu terkejut, karena tiba-tiba saja tubuhnya seakan melayang. Sebab Haidar sudah langsung menggendongnya, "Mas turunin! Thiyah bisa jalan sendiri kok!" katanya seraya meronta-rontakan kakinya.


"Syuuht! Diamlah! Sekarang kamu mau kemana hm? Biar aku antar," tanya Haidar, seraya menatap wajah istrinya, yang terlihat begitu memerah. Mungkin karena saat ini ia merasa malu, karena saat ini tubuhnya hanya berbalutkan selimut saja.


"Ng.. i-itu Mas, T-thiyah mau ke kamar mandi," balas Fatimah, tampak begitu gugup.


"Ya sudah, kalau begitu Mas antar kamu kesana," kata Haidar, dan ia pun langsung bergegas menuju ke kamar mandi. Dan sesampainya di kamar mandi, ia pun langsung menurunkan tubuh Fatimah, di bathtubnya.


"Sebaiknya kamu berendam dengan air hangat dulu ya? Biar berkurang rasa sakit yang kamu rasakan saat ini, oke?" kata Haidar lagi, seraya menghidupkan kran air hangatnya.


"Iya Mas," balas Fatimah, sambil menundukkan wajahnya, Ia terlihat masih begitu malu. Karena melihat istrinya terlihat begitu canggung dan malu, akhirnya Haidar membalikkan tubuhnya, seraya berkata,


"Ya sudah Mas, tunggu di luar ya? Nanti kalau sudah selesai panggil Mas, oke?"


"Iya Mas,"


Setelah mendapatkan balasan dari istrinya, Haidar pun langsung bergegas pergi meninggalkan Fatimah yang sedang berendam. Ia tampak berjalan begitu terburu-buru. Sesampainya di depan pintu kamar mandinya, ia pun langsung menutup pintunya tersebut.


"Haiis.. bisa-bisa Aku gila benaran, kalau begini terus! Aakh.. sialan lu junior! Sudah dua kali dituntaskan, malah togak lagi lu! Huh! Nyusahin gue aja lu!" gerutu Haidar, sambil menatap bagian bawahnya yang terlihat sudah mengintip di sela-sela handuk kimononya.


"Aah.. sebaiknya aku ke kamar mandi yang ada dikamar sebelah sajalah!" lanjutnya lagi, lalu ia pun langsung bergegas pergi meninggalkan kamarnya. Dengan wajah yang terlihat begitu kesal.

__ADS_1


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰


__ADS_2