
•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•
Bersyukurlah ketika masih ada yang mengingatkan kita manakala berbuat kekeliruan. Berterima kasih dengan tulus tatkala ada yang mengajak pada kebaikan.
Sesungguhnya semua itu jalan hidayah yang Allah pilihkan untuk kita. Jangan berfokus pada bagaimana cara hidayah itu disampaikan, namun berfokuslah pada perbaikan diri yang segera harus dilakukan.
Ketahuilah, orang yang benar-benar sayang pada kita, bukanlah mereka yang hanya mengiyakan apa yang kita lakukan tanpa peduli salah atau benar yang kita lakukan, akan tetapi mereka yang mengajak pada jalan yang lurus demi keselamatan di akhirat nanti.
__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__
•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•
"Untuk apa kamu menutup wajah kamu hm? Aku sudah melihat wajah kamu sejak tadi. Jadi tidak perlu kamu menutupinya lagi!"
Mendengar perkataan dari Haidar, Fatimah pun langsung terdiam, "Hmm..iya sih dalam agama, dia sudah menjadi mahram Ana. Tetapi mengingat niatnya menikahi Ana hanya kontrak, membuat Ana rasa tidak ikhlas saat dia melihat wajah Ana. Ya Allah Ana harus apa sekarang?" batinnya. Tampak sekali ia terlihat tidak senang saat mendapatkan tatapan dari Haidar yang tak berkedip itu.
"Ayo Nak, sudah waktunya kita sholat Dhuhur," kata Fatimah, yang sepertinya ia enggan merespon perkatanya Haidar.
"Okay Umi!" balas Rindhima, dan ia pun hendak berjalan menuju ke sejadahnya. Namun tiba-tiba ia teringat pada sang Ayahnya, "Eh, tunggu sebentar Umi," katanya lagi, lalu ia pun melangkah menghampiri Haidar, yang terlihat masih memperhatikan Fatimah.
"Daddy? Mau ikutan nggak sholat Dzuhur berjamaah? Tapi Daddy ya yang jadi Imamnya?" tanya Rindhima,
Haidar langsung tersentak kaget. Karena ia tak menyangka Anaknya mengajak dirinya untuk Shalat. Padahal selama ini ia sudah lama sekali tak melakukan ibadah tersebut. Mungkin terakhir kalinya, ia melakukan ibadah tersebut ketika ibunya masih hidup, dan saat itu ia masih duduk di bangku SMP yang artinya saat itu umurnya masih belasan tahun. Sedangkan kini usianya telah mencapai tiga puluh tujuh tahun. Itu artinya sudah hampir dua puluh tahun lebih Ia tak pernah melakukan Sholat.
"Eh! Kalian saja yang sholat ya! Soalnya Daddy.." dalih Haidar, namun perkataannya terhenti karena tiba-tiba, pintu kamar Rindhima diketuk oleh seseorang, "Eh! Kayaknya ada orang? Kalian sholatlah! Biar Daddy yang lihat," dalihnya lagi, lalu ia pun langsung bergegas ke pintu.
"Ada apa Butler?" tanya Haidar, saat pintu telah terbuka. Dan ternyata Markumlahb yang mengetuk pintu kamarnya Rindhima.
__ADS_1
"Maaf mengganggu Tuan! Tapi Saya diminta Tuan Leo, untuk menyerahkan obat ini pada Anda. Agar Anda tidak lupa untuk meminumnya," balas Markum, seraya ia menyerahkan kantongan plastik yang berisikan obat-obatan.
"Ooh..Oke! Sekarang kamu boleh pergi!" kata Haidar, terdengar datar.
"Baik Tuan! Kalau begitu saya permisi!" balas Markum. Lalu ia pun langsung bergegas pergi.
"Daddy sakit?" tanya Rindhima, setelah kepergian Markum. Dan ia pun langsung menghampirin sang Ayah dengan wajah terlihat ada kecemasan.
"Eh, tidak kok Nak! Daddy tidak sakit," balas Haidar.
"Bohong! Kalau tidak sakit, kenapa Uncle Leo memberikan obat pada Daddy? Pasti Daddy sakitkan? Coba Daddy menunduk!" titah Rindhima terdengar ketus, dan sambil menarik tangan sang ayah agar membungkukkan badannya.
"Baiklah! Nih, tidak panaskan?" balas Haidar, sambil membungkukkan tubuhnya.
"Panas Kok! Sini! Daddy harus istirahat!" kata Rindhima terdengar tegas, sambil ia menarik tangan Sang Ayah, menuju ke tempat tidurnya," Sekarang Daddy tidur dulu disini ya? Indhi sholat dulu sama Umi!" katanya lagi. Dan mau tak mau akhirnya Haidar pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur milik sang putri.
"Okay Daddy! Kalau begitu kami sholat dulu ya?"
"Iya Sayang." Setelah mendapatkan jawaban dari sang Ayah, Rindhima langsung melangkah menuju sejadahnya yang berada di sampingnya Fatimah hanya saja sejadah punya Rindhima agak mundur sedikit dari punya Fatimah. Dan tak berapa lama kemudian akhirnya mereka pun melakukan kewajibannya terhadap Rabb nya.
Sedangkan Haidar hanya memperhatikan keduanya, dari tempat tidur milik Rindhima, "*Kenapa dia tadi membuang wajahnya? Apakah dia sangat membenci diriku?" batinnya, ternyata ia teringat ketika Fatimah langsung mengalihkan pandangannya saat dirinya menatapnya.
"Aah.. taulah! Aku jadi ngantuk berada disini, bantal ini tercium wangi yang menyegarkan. Sepertinya ini bantal diakan?" batin Haidar lagi, seraya ia memejamkan matanya*. Dan tak berapa lama kemudian, nafasnya terlihat sudah teratur. Artinya ia sudah terlelap dalam tidurnya.
Baru beberapa menit saja Haidar tertidur. Fatimah dan Rindhima tampak telah menyelesaikan kewajibannya. Setelah keduanya menyelesaikan doanya, Rindhima langsung bergegas menghampiri sang Ayah.
"Yaah.. Daddy udah tidur sih? Padahal kan Deddy belum minum obat," kata Rindhima terlihat ada kekecewaan dari raut wajahnya.
__ADS_1
"Mungkin Daddy kamu sangat lelah sayang. Jadi biarkan saja dulu ia tidur. Lagiankan Daddy belum makan, jadi belum bisa minum obatkan?" sambung Fatimah, yang sepertinya ia paham, kalau putri sambungnya itu sedang sangat, mencemaskan ayahnya.
"Sekarang sebaiknya kita masakan bubur saja yuk, buat Daddy kamu. Biar saat Daddy bangun nanti, buburnya sudah masak deh," ujar Fatimah lagi.
"Baiklah, Ayo Umi kita masakkan bubur Daddy," balas Rindhima, sambil menarik tangan Fatimah.
"Mari Sayang," kata Fatimah. Lalu keduanya langsung bergegas pergi meninggalkan Haidar yang terlihat masih tertidur nyenyak di tempat tidurnya Rindhima.
Dua puluh menit kemudian, Fatimah dan Rindhima, tampak sudah kembali lagi ke kamar mereka, sambil membawa baki yang diatasnya terdapat sebuah mangkuk, serta segelas air putih. Karena takut tumpah, Fatimahlah yang membawa baki tersebut. Sedangkan Rindhima hanya membantu membukakan pintu kamarnya. Setelah itu ia pun langsung menghampiri sang Ayah, yang terlihat masih terlelap.
"Daddy.. Daddy.. bangunlah! Daddy harus makan bubur dulu, biar bisa minum obat loh," kata Rindhima sambil menggoyangkan tubuhnya Haidar.
"Humm.." balas Haidar yang tampaknya ia begitu enggan membuka matanya.
"Ayolah Daddy, kasihan Umi loh, sudah capek-capek membuatkan bubur untuk Daddy," lanjut Rindhima.
Mendengar kata Umi, Haidar pun langsung membuka matanya. Dan tampaklah olehnya, Fatimah yang sedang duduk di sisi tempat tidur, sambil memegang mangkuk berisikan bubur. Melihat itu, Haidar pun langsung menyandarkan tubuhnya kebantal yang sudah disandarkan di kepala tempat tidurnya.
"Harus ya memakan Bubur?" tanyanya Sambil menatap isi mangkuk dengan tatapan yang tidak suka.
"Harus! Karena biar mudah dicerna Mas," balas Fatimah, terdengar begitu lembut, sambil ia menyendokan buburnya lalu ia tiup sebentar, kemudian ia mengukur suhu panasnya lewat bibirnya untuk memastikan bahwa bubur tersebut sudah tidak begitu panas setelah itu. Ia sodorkan bubur tersebut ke mulutnya Haidar.
Sedangkan Haidar yang sempat memperhatikan apa yang diperbuat istrinya langsung terpelongoh, "Hah? Kenapa dia melakukan itu? Emangnya aku Anak bayi apa?" batinnya masih terlihat terpelongoh. Melihat Haidar terpelongoh memudahkan Fatimah memasukkan bubur tersebut ke mulutnya Haidar.
"Hap! Umm." setaknya pada awalnya ia merasa jijik, namun saat ia mulai merasakan bubur tersebut, "Uhmm..Enak!"
...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...
__ADS_1
Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰