RINDHIMA Putri Sang Mafia

RINDHIMA Putri Sang Mafia
DADDY HARUS SAYANG SAMA UMI


__ADS_3

•⊶⊷❉্᭄͜͡💓 Mutiara Hikmah 💓❉্᭄͜͡⊶⊷•


Jika saat ini hidup terasa sangat melelahkan, ujian begitu beratnya dan nafas terasa sesak di dalam dada, coba pelan-pelan ingat-ingat kembali karunia yang telah Allah berikan selama ini.


Ketika dulu pernah merasa bahagia, senang dan lapang, semua itu dari Allah. Syukuri semua itu di saat ini. Bahwa ada masa dalam hidupmu, kamu merasakan kenikmatan, kelapangan dan kesenangan hidup.


Setelahnya, yakinlah. Insyaallah kamu bakal lebih optimis, ringan dan lega menatap kehidupanmu. Sebab, kamu yakin ujianmu cuma sementara. Sakitmu tidak mungkin selamanya. Deritamu pasti ada masa selesainya.


__sᴛᴏʀɪᴇs ᴏғ ᴛʜᴇ ᴅᴀʏ__


•⊷⊷⊶⊷⊶⊶⊷⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶⊷⊶⊶⊷⊶⊷⊷•


Fatimah terlihat tak berdaya sekali didalam gendongannya Haidar. Sebenarnya ia sangat ingin sekali protes. Namun karena disepanjang rumah koridor rumah sakit, banyak orang memperhatikan mereka, akhirnya ia memilih diam dan menyembunyikan wajahnya kedada bidangnya Haidar. Membuat Haidar tersenyum tipis melihatnya. Ia sebenarnya sangat tahu kalau istrinya saat ini sedang malu, karena diperhatikan orang.


Namun bagi Haidar, ia justru sangat senang, karena tanpa disadari oleh Fatimah, ia telah memeluk tubuh suaminya begitu eratnya. Saking inginnya ia menyembunyikan wajahnya dari orang-orang yang sedang memperhatikan mereka. Makanya tanpa ia sadari disepanjang perjalanan menuju ke pintu lobiy rumah sakit, Haidar jadi sering menyunggingkan senyuman kemenangannya.


Sesampainya di depan pintu lobiy, mereka langsung disambut oleh Leo, yang tampaknya ia begitu terkejut melihat Haidar menggendong Fatimah. "Eh! Ada apa ini Tuan? Kok Anda.." tanyanya terlihat begitu penasaran. Namun perkataannya malah langsung dipotong oleh Haidar.


"Jangan banyak tanya! Cepat buka pintu mobilnya!" bentak Haidar, membuat Leo langsung diam dan langsung menuruti perkataannya.


Setelah pintu terbuka, Haidar pun langsung masuk ke dalam mobilnya, dengan posisi saat ini Fatimah berada di pangkuannya. Sementara Rindhima memilih duduk di kursi depan tepat di samping kursi pengemudi milik Leo. Sedangkan Fatimah yang mulai menyadari kalau mereka sudah berada di dalam mobil, ia langsung melepaskan pelukannya.


"Saya duduk sendiri saja Mas," katanya seraya ia bermaksud turun dari pangkuannya Haidar.

__ADS_1


"Syuuht.. diamlah! Kamu itu masih sakit! Jadi jangan banyak bergerak dulu!" balas Haidar, terdengar begitu tegas.


"Tapi Mas, saya merasa tidak nyaman seperti ini!" protes Fatimah, yang terlihat ia bersikeras untuk turun dari panggung suaminya.


Karena Haidar, tak ingin menambahkan kesan buruk lagi. Akhirnya ia pun mengalah, dan membiarkan Fatimah duduk disebelahnya.


"Baiklah, tapi sandarkan kepala kamu disini," katanya sambil ia merangkul pundaknya Fatimah, lalu menarik kepala Fatimah agar bersandar ke bahu depannya.


"Tidak Boleh membantah lagi Fathiyah!" tegas Haidar lagi, membuat Fatimah akhirnya tak berani membantahnya lagi. Walaupun dari ucapan suaminya mereka berstatus kontraknya. Namun dalam agama, mereka adalah Suami Istri yang Sah. Jadi sudah sepatutnya ia harus menuruti perkataan sang Suaminya.


Disaat ia didalam kepasrahan tiba-tiba ia teringat pada nama yang disebutkan Haidar tadi, "Tadi Mas, memanggil nama saya apa?" tanya tanpa menoleh ke wajah suaminya.


"Fathiyah! Emangnya kenapa?" tanya Haidar balik, dengan nada suara terdengar lembut.


"Cih! Aku nggak suka dengan panggilan itu lagi! Karena itu ternyata panggilan mesranya seseorang!" balas Haidar terdengar ketus.


"Panggilan mesranya seseorang? Apa maksudnya?" tanya Fatimah, yang sepertinya ia tak mengerti maksudnya Haidar. Mendengar pertanyaan Fatimah, tiba-tiba saja kepalanya Rindhima nongol dari celah-celah antara kursinya dengan kursinya Leo.


"Iiis..Umi nggak paham banget sih! Umi, Daddy itu lagi cemburu! Makanya dia nggak suka dengan panggilan nama Fatimah, karena Uncle Dokter tadikan manggil Umi pakai nama itu dengan mesra!" celetuk Rindhima sambil menatap wajah Ayahnya yang terlihat kaget melihat kemunculannya.


"Eh! Anak kecil sok tahu saja! Sana balik, duduk dengan benar! Dan nggak boleh ikut campur urusan orang tua! Kamu paham!" balas Haidar, dengan nada suara yang sedikit keras, untuk mengalihkan pembicaraannya tentang cemburu. Karena sudah pasti ia amat malu untuk mengakuinya, kalau perkataan Anak benar adanya.


"Huh! Galak banget sih Daddy!" protes Rindhima, namun ia langsung dapat pelototan dari Ayahnya, "Eh! Iya iya! Indhi duduk dengan benar!" katanya lagi. Dan akhirnya ia kembali duduk dengan benar.

__ADS_1


Sementara Fatimah, terlihat syok mendengar perkataannya Rindhima, "Cemburu? Benarkah Mas Haidar sedang cemburu pada Mas Izal? Apakah itu artinya Mas Haidar, mulai menyukai Ana? Ah.. itu tidak mungkin! Dia saja selalu dingin padaku, jadi itu tidak mungkin" batinnya Fatimah. Di saat ia masih bergelut dengan pemikiran dan hatinya, tiba-tiba saja, telapak tangan Haidar menutupi matanya.


"Tidurlah! Jangan terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting!" kata Haidar, membuat Fatimah tidak bisa membantahnya lagi. Dan mau tak mau ia pun memejamkan matanya. Karena ia memang masih belum pulih benar, makanya tak membutuhkan waktu yang lama, ia sudah terhanyut kedalam mimpinya.


Melihat nafas istrinya mulai teratur Haidar tersenyum tipis, sambil menatap bulu matanya Fatimah yang terlihat begitu lentiknya. Setelah itu ia menatap ke arah Leo, dari kaca spion tengahnya, "Leo, perintakan Nick untuk mempersiapkan helikopter! Karena hari ini juga kita pergi ke pulau S!" katanya dengan nada suara agak rendah, karena ia takut suaranya akan membangunkan Fatimah.


"Baiklah Tuan," balas Leo dengan suara yang pelan juga.


Sedangkan Rindhima yang ikut mendengar perkataan sang Ayah, langsung menongolian kepalanya lagi disela-sela kursi depan, "Apakah kita akan ke Villa Mommy, Dad? tanyanya dengan mata yang terlihat berbinar.


"Tidak Rindhi! Umi kamu tidak mungkin dibawa ke sana. Karena Umi masih harus melakukan perawatan. Jadi kamu harus tetap di mansion bersama Uncle Leo. Oke?" balas Haidar.


"Eh! Tapi Dad, masa Indhi di tinggal sih? Indhikan mau sama Umi!" protes Rindhima.


"Sayang, kamu nggak maukan Umi kamu di ambil sama Uncle Dokter itu?" tanya Haidar, dan langsung di balas dengan gelengan kepala oleh Rindhima.


"Nah makanya Umi Daddy sembunyikan di pulau S, sampai sembuh. Nanti kalau Indhi libur sekolah, baru deh Uncle Leo, akan mengantar kamu kesana. Kamu setujukan Nak?" jelas Haidar. Tampak Rindhima seperti berpikir keras, ia sebenarnya tak mau berpisah dari Fatimah. Tapi dia juga takut, kalau-kalau tunangan Uminya itu Membawa sang ibu Pergi. Makanya mau tak mau akhirnya ia menyetujui perkataan Ayahnya.


"Baiklah Dad! Indhi setuju. Tapi Daddy harus berjanji sama Indhi, jangan jahatin Umi lagi ya? Dan jangan abaikan Umi lagi. Pokoknya Daddy harus Sayang sama Umi! Kalau tidak Indhi akan membenci Daddy!" Ancam Rindhima.


"Baiklah Sayang! Daddy berjanji, seperti yang kamu inginkan!"


...*••••••••••⊶•❉্᭄͜͡💓❉্᭄͜͡•⊶•••••••••*...

__ADS_1


Terus dukung author ya guys dan jangan lupa berikan 👉 ⭐ ⭐⭐⭐⭐ + 👍 serta komentarnya oke 😉 🙏🥰


__ADS_2