
Sesampainya Bisma di kantor.
pria berbadan tinggi dan tegap itu langsung masuk ke ruangan nya lewat lift khusus menuju lantai paling atas.
Bisma menjatuhkan bokong nya pada kursi kebesaran nya menatap meja yang sudah penuh dengan berkas-berkas yang harus dia tanda tangani.
beruntung nya hari ini tidak ada Rapat dengan perusahaan manapun jadi Bisma bisa sedikit santai dalam melakukan pekerjaan nya.
"Permisi Tuan" Sekertaris Bisma masuk dan membungkuk sopan pada bos nya, sebelum nya dia sudah mengetuk pintu terlebih dulu.
"Ya, ada apa?" Bisma melirik sekilas lalu kembali fokus pada berkas yang sedang dia tanda tangani satu persatu setelah membaca laporan-laporan di dalam nya.
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Tuan" kata Nindy sekertaris Bisma.
Bisma mengerutkan alis nya, "Bukannya hari ini tidak ada janji pertemuan?" Tanya Bisma.
"Benar Tuan, tapi orang ini orang yang anda kenal" jawab Nindy.
"Suruh dia masuk" Bisma pikir orang itu adalah Arfan atau Jimy sahabat nya.
"Silahkan Tuan!" Nindy mempersilahkan tamu tak di undang itu untuk masuk, lalu keluar meninggalkan ruangan Ceo.
Bisma melirik orang itu Dan tersenyum tipis, "Ngapain lo kesini?" Bisma menghentikan pekerjaan nya dan menghampiri Arfan sahabat nya. mereka ber'tos ala sahabat .
"Gak kangen lo sama gue?" Arfan terkekeh lalu duduk di sopa di ikuti oleh Bisma.
"Ckk Ngapain gue kangen sama lo kurang kerjaan banget!" sahut Bisma.
"Elah mentang-mentang udah punya Bini sombong banget lo" cetus Arfan.
Bisma terkekeh, lalu mengambil ponsel dalam saku dan menelpon OB untuk membawakan minuman.
"Gimana perusahaan lo aman?" tanya Bisma sambil memasukan kembali ponsel nya ke saku, setelah menelpon OB.
"Aman, Alhamdulillah gue baru tanda tangan kontrak kerjasama dengan Rama, lo inget Rama kan?" Ucap Arfan menoleh pada Bisma.
"Iya gue inget lah, bukan nya si Rama di bandung ya tinggal sama Istrinya?" sahut Bisma.
"Dia udah balik ke jakarta dan bergabung lagi sama Papa nya" jawab Arfan.
__ADS_1
"Bagus lah kalau gitu, gabung di perusahaan Papa nya lebih menjamin masa depan keluarga nya kan?" Ucap Bisma.
Bisma maupun Arfan tidak ada yang tahu tentang masa lalu Sahabat nya dan juga Maura Istri Bisma.
"Permisi Tuan, ini minuman nya" OB masuk membawa 2 gelas minuman dingin dan meletakan nya di meja lalu kembali keluar.
Arfan mengambil gelas dan meminum nya, meletakan kembali gelas itu ke meja.
"Oh iya, gue kesini bukan cuma mau ketemu lo aja sih sebenernya!" kata Arfan ambigu.
"Maksud nya, lo mau ketemu siapa selain gue di sini?" tanya Bisma sambil meminum minuman yang sama dengan Arfan.
"Gue mau ketemu cewek cantik di sini, udah lama banget gak ketemu, kangen rasanya" Arfan senyum-senyum membayangkan wajah Maura, Arfan belum tahu kalau gadis yang dia sukai adalah Istri dari sahabat nya sendiri.
Bisma mengerutkan Alisnya, "Siapa?" tanya Bisma penasaran.
"Dia ketua Divisi di kantor lo, masa lo gak tahu sih?" sahut Arfan menatap Bisma.
"tunggu-tunggu, ketua divisi?" Bisma masih belum mengerti maksud Arfan ketua Divisi yang mana.
"Ketua Divisi yang lama apa yang baru yang lo maksud?" sambung Bisma
"Emang udah ganti lagi?" tanya Arfan mengganti posisi duduk nya menghadap ke arah Bisma.
"Apa. lo pecat Maura?, wah parah lo, dia calon pacar gue tega banget lo, lo gak tahu kondisi keluarga nya seperti apa?" Arfan mencerca Bisma dengan sedikit menaikan nada bicara nya.
Bisma kaget dengan penuturan Arfan, pria itu bengong menatap sahabat nya , tak percaya dengan fakta bahwa sahabatnya sangat menyukai Istrinya.
"Woy, malah bengong lagi lo!" Sahut Arfan meninju pelan bahu Bisma membuat Bisma tersadar.
"Lo bilang apa, Maura?" Bisma menarik kerah kemeja Arfan.
"Apa-apaan lo Bis, gila ya?" Arfan sontak saja kaget tiba-tiba Bisma menyerang begitu saja.
"Maura Itu Istri gue!" Cetus Bisma dengan keras, Bisma mendorong Arfan hingga terpentok ke pinggiran sopa.
Kini giliran Arfan yang bengong mendengar perkataan Bisma.
"Jangan coba- coba lo deketin Istri gue lagi, awas!" Bisma berdiri menunjuk Arfan dengan jari telunjuk nya dan berjalan ke kursi kebesaran nya, menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, pria itu menghela nafas berat.
__ADS_1
Arfan masih speeclles menatap Bisma tak percaya.
"Bis lo bercanda kan?" gumam Arfan lirih.
Bisma melirik tajam pada Arfan membuat Arfan mengerti arti tatapan sahabat nya , itu artinya Bisma sedang tidak bercanda.
Arfan tertunduk lemah memijat pelipis nya yang terasa berdenyut.
Setelah sama-sama tenang akhirnya Bisma menceritakan kepada Arfan bagaimana dirinya bisa menikah dengan Maura. Arfan menyimak semua cerita Bisma dan mengangguk mengerti, Arfan sadar semua sudah di atur oleh Allah, bahwa Maura memang bukan jodoh nya tapi justru Gadis yang di sukai kini telah menjadi Istri dari sahabat nya.
Arfan mengalah meskipun hatinya merasakan sakit harus melihat orang yang di sukai hidup dengan Sahabat nya sendiri.
Setelah cerita panjang lebar Arfan berpamitan pergi sebelum pergi dari kantor Bisma, Arfan berpesan pada Bisma agar tetap menjaga dan mencintai gadis itu.
meski berat namun Arfan harus berbesar hati demi kebahagiaan Maura!
Di Rumah sakit Maura sedang mengajak bicara sang adik. meski Adiknya tidak bisa merespon tapi Maura tanpa lelah terus berceloteh mengajak bicara Alesha berharap sang adik mendengar apa yang dia katakan.
"Sha, ini kakak, bangun lah Sha, kakak kangen kebersamaan kita," Maura menggenggam tangan Alesha
"Kamu tahu Sha, sekarang kakak sudah menikah, ketika kamu bangun nanti kita tidak bisa tinggal bersama lagi, tapi walaupun kita gak bersama, percayalah kakak selalu menyayangimu, Alesha bangunlah, kasian Ibu sha," Maura menangis menatap sang adik, hatinya terenyuh melihat kondisi sang adik yang terbaring lemah dengan di bantu oleh alat-alat yang terpasang di tubuh nya.
Maura kaget saat tiba-tiba melihat Alesha meneteskan air matanya.
Maura mengusap air matanya lalu bergegas keluar untuk memanggil perawat,
"Suster, suster adik saya suster tolong!" Maura teriak-teriak sambil menangis memanggil perawat,
secara bersamaan Perawat datang dan Bisma mengikuti dari belakang, Bisma menghampiri istrinya mencoba menenangkan istrinya yang terlihat panik.
"Mohon tunggu di luar ya Bu, kami akan memeriksa pasien" ujar perawat menginterupsi.
perawat itu masuk ke ruangan Alesha dan menutup pintu
Bisma memeluk Maura dan mengajak nya untuk duduk.
"Ada apa dengan Alesha?" tanya Bisma dengan hati-hati.
"Mas, tadi aku ajak Alesha bicara dan Alesha menangis Mas, itu artinya Alesha mendengarkan aku kan?" Ucap Maura menatap Bisma dengan yakin.
__ADS_1
"Mudah-mudahan itu pertanda baik ya, kita berdo'a saja" Bisma mengelus pipi Maura dan menghapus air mata istrinya dengan lembut.
Maura mengangguk dan memeluk Bisma tanpa sadar. Bisma membalas pelukan Maura dengan senang hati. Pria itu tersenyum tipis di balik punggung istrinya.