Rindu yang Salah

Rindu yang Salah
Bab 46


__ADS_3

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit pasangan halal itu hanya terdiam tak ada yang memulai untuk berbicara apapun. Bisma maupun Maura hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. terlebih lagi, Bisma masih menunjukan sikap dinginnya kepada Istrinya.


Sesampainya Mereka di rumah sakit. Bisma dan Maura segera masuk dan ikut mengantri bersama pasien lain yang juga bertujuan sama dengan Maura.


Maura melirik Suaminya. Bisma menatap lurus ke depan dengan cuek. pria itu tetap stay cool duduk di samping Istrinya.


"Mas!" panggil Maura lirih.


Bisma menoleh dan menatap Istrinya lekat.


"Wajah kamu masih lebam Mas" Maura menyentuh pipi Suaminya yang masih terlihat lebam.


Bisma dengan lembut menurunkan tangan Istrinya dan menggenggam nya. "Nggak apa-apa. sakit ini gak sebanding dengan sakitnya hati!" Bisma berkata lirih sambil melepaskan genggaman tangan Istrinya.


Maura mengerutkan alisnya bingung.


"Maksudnya?" tanya Maura tak kalah lirih dari Bisma.


Bisma menatap datar Istrinya. Bisma menghela nafas secara bersamaan Perawat memanggil nama Maura untuk bergantian Masuk.


"Ibu Maura!" panggil Perawat itu.


Maura dan Bisma sama-sama menoleh dan mengangguk.


"Ayo Mas" ajak Maura.


Bisma pun mengikuti Istrinya untuk masuk dan menemani Istrinya memeriksakan kandungan.


"Selamat sore Bu Maura. Pak Bisma" sapa dokter Nila dengan ramah.


"Sore juga Dok" jawab Maura. dan Bisma hanya tersenyum


"Seperti biasa ya Bu. pertama-pertama timbang berat badan dulu" ujar Dokter Nila.


Maura mengikuti semua intruksi dari Dokter Nila di bantu oleh perawat yang mendampingi dokter Nila.


Kini Maura sudah rebahan di berangkar untuk pemeriksaan USG 4 dimensi sesuai keinginan Bisma.


"Ma'af ya Bu" Dokter Nila mulai mengoleskan Gel ke perut Maura dan menggerakkan alat yang terhubung ke monitor guna melihat perkembangan Janin di dalam perut sang Ibu.


Terlihat dengan jelas di dalam kantong Rahim Maura. sebuah janin kecil yang berkembang. Bisma berkaca-kaca melihat calon anak nya berkembang dengan sangat baik dan sehat.


Dokter Nila menjelaskan dengan detail perkembangan janin dan memberi saran demi saran untuk pasangan muda calon orangtua itu.


Maura menggenggam tangan Suaminya yang berdiri tepat di samping nya. Bisma menoleh dan tersenyum tipis, Bisma mengusap ujung Matanya pelan. dokter Nila melihat betapa terharunya seorang Bisma bisa meneteskan air mata saat melihat calon buah hatinya. dokter Nila tersenyum .


"Jadi di jaga baik-baik ya kesehatan nya untuk Ibunya. jangan stres apalagi sampai tertekan dan menangis. ibu hamil itu mood nya berubah-ubah loh Pak. peran Suami juga sangat penting loh untuk Mood ibu hamil. karna kalau sampai Ibunya stres dan tertekan. banyak pikiran akan berpengaruh juga sama janin nya. bisa fatal juga loh Pak. jadi Suami harus siaga menjaga mood Ibu hamil" jelaskan dokter Nila panjang lebar.


Bisma mendengarkan dengan baik penjelasan dokter Nila. hatinya merasa tertampar. dari kemarin malam. Bahkan Bisma bersikap dingin pada Istrinya. tentu saja membuat Maura kepikiran. Bisma melirik Istrinya yang juga fokus mendengarkan dokter Nila. Hati Bisma kembali merasakan sakit. Bisma merasa bersalah pada Istrinya telah mengabaikan perasaannya.


Setelah selesai pemeriksaan Bisma dan Maura segera pamit pada dokter Nila dan keluar dari rumah sakit.


Kini Pasangan halal itu sudah berada dalam mobil. Bisma tidak langsung menjalankan mobilnya. namun Bisma ingin bicara dengan istrinya dari hati ke hati terlebih dahulu sebelum pulang.

__ADS_1


Meskipun di tempat yang tidak seharusnya. namun Bisma tidak ingin berlama-lama menyimpan kecewa. Bisma menghela nafas berat dan melirik istrinya.


"Dek!" Panggil Bisma lirih.


"Iya Mas. kenapa?" tanya Maura.


Bisma menatap lekat Istrinya dan memposisikan duduknya menghadap Istrinya.


"Mas boleh tanya Sesuatu?" tanya Bisma masih dengan nada tenang.


"Boleh. mau tanya Apa Mas?"


"Apa kamu belum bisa mencintaiku Dek?" tanya Bisma dengan nada berat.


Maura mengerutkan alisnya. "Kok tiba-tiba tanya itu, ada apa Mas?" Maura yang tidak nyaman dengan pertanyaan Bisma sedikit menaikan nada bicaranya.


"Karna kenyataan nya begitu kan?" jawab Bisma masih menahan diri agar tidak sampai emosi.


"Maksud kamu apa?. sebenarnya kamu kenapa sih Mas. dari kemarin kamu bersikap dingin sama aku tanpa kejelasan dan alasan yang logis. kamu buat aku bingung Mas!" ujar Maura menatap lekat Suaminya.


Bisma terdiam sejenak dan menghela nafas!


"Karna aku kecewa sama Kamu Maura" tegaskan Bisma menyebutkan nama Maura. itu tandanya pria itu sudah benar-benar kecewa.


Maura menoleh dan menatap suaminya.


"Kecewa kenapa Mas. apa aku ada kesalahan sama kamu?" tanya Maura.


Maura kaget bukan main. melihat dirinya dengan Rama di vidio itu. Maura tidak habis pikir. siapa yang dengan lancang nya memvidio dirinya dengan mantan kekasih nya itu.


"Mas. aku bisa jelasin semua ini Mas. ini gak seperti yang kamu pikirkan." Maura menyentuh tangan Bisma namun dengan kasar Bisma menepisnya.


"Mas. please percaya sama Aku Mas!" Maura tetap berusaha menjelaskan .


"Silahkan jelaskan dengan detail" ujar Bisma menatap lurus ke depan.


"Awalnya aku menolak untuk ketemu Mas. karna aku juga gak tahu kalau nomor itu milik kak Rama. aku sempat mengabaikannya. tapi beberapa kali dia menghubungi akhirnya aku jawab. dan aku gak tega. aku menemuinya. tapi untuk adegan itu di luar kendali. aku memberontak kamu bisa lihat sendiri kan Vidio nya" jelaskan Maura


Bisma tersenyum miring "menolak. tapi di peluk diam saja kan?" Bisma menatap Istrinya dengan tatapan tajam.


"Oke aku minta Ma'af Mas. tolong kamu percaya Mas. aku sudah mengakhiri semuanya sama kak Rama. karna aku sudah jatuh cinta sama kamu Mas" ujar Maura meraih kembali tangan Bisma.


Bisma menatap tajam Istrinya membuat Maura takut.


"Apa yang bisa kamu buktikan kalau kamu mencintaiku hmmm?" Bisma masih dengan bernada dingin namun tidak meninggikan Suaranya.


Tiba-tiba Maura mengaduh dan meringis kesakitan di perutnya.


perempuan itu merasakan keram di perutnya karna terlalu emosional.


Bisma panik melihat wajah istrinya yang sudah berkeringat.


"Dek. kamu kenapa?" Bisma melupakan sejenak pertengkaran dengan Istrinya. meski hatinya kecewa tapi rasa cinta pada Maura lebih dominan sehingga Bisma tidak akan tega membiarkan Istrinya kesakitan.

__ADS_1


"Sakit Mas" Maura mencengkram kuat jok yang di duduki oleh Bisma sambil memegangi perutnya. keringat dingin bercucuran dari dahinya membuat Bisma bingung .


Bisma Teringat dengan nasehat dokter Nila barusan. potongan-potongan kata saat Dokter Nila menjelaskan tentang mood ibu hamil berseliweran di pikiran Bisma.


Bisma merasa sangat bersalah dan begitu bodohnya melupakan nasehat Dokter Nila. Bisma merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Bisma mencoba menenangkan Istrinya. mengusap keringat di dahi Istrinya dengan tangan lebarnya. saking panik nya Bisma sampai lupa kalau ada tisu di dasboard.


Bisma mengusap lembut perut Istrinya. Maura sedikit merasa tenang dan rilek. Perempuan itu menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuh nya pada sandaran kursi.


Bisma menatap kasihan pada Maura. pria itu benar-benar merasa bersalah. Bisma tiba-tiba memeluk tubuh Istrinya sambil terisak. Pria itu benar-benar menurunkan egonya.


Begitu tulusnya seorang Bisma mencintai Maura.


Maura membalas pelukan sang Suami sambil mengusap lembut punggung Bisma. perempuan itu terharu dan meneteskan air mata.


"Ma'afkan Mas. Dek!" ujar Bisma


Maura dengan cepat menggeleng!


"Aku yang salah Mas. aku minta Ma'af. aku sudah berani keluar tanpa seijin kamu. ma'af Mas" ujar Maura sambil terisak.


Bisma mengangguk pelan masih dengan memeluk Istrinya.


"Kamu tahu Dek. Mas begitu cemburu dan kecewa melihat kamu bertemu dengan Rama. Mas gak rela milik Mas di rasakan juga oleh orang lain. Mas begitu emosi!" ujar Bisma sambil melepaskan pelukannya dan menatap lekat pada Maura.


"Ma'afkan Aku Mas" ujar Maura menatap sendu.


Bisma memejamkan matanya lalu tersenyum tipis. Bisma kini merasa lebih lega.


"Jangan bersikap dingin lagi Mas. aku bingung ngadepin sikap kamu. kamu buat aku takut Mas!" ujar Maura benar adanya


Bisma mengusap lembut kepala Istrinya lalu mencium keningnya.


"Mas minta Ma'af ya sudah membuat kamu takut" ujar Bisma.


Maura mengangguk dan Bisma kembali duduk tegap di belakang kemudi.


"Kita pulang ya?" Bisma menoleh pada Istrinya


"Mas. boleh gak mampir dulu ke tempat Es krim." ujar Maura.


"Es krim?" tanya Bisma


Maura mengangguk pasti.


"Boleh. ayo kita berangkat sekarang?"


"Aku mau Mixue ya Mas!" ujar Maura seperti anak kecil.


Bisma mengangguk sambil tersenyum.


Bisma menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah sakit menuju tempat es krim yang di inginkan Istrinya

__ADS_1


__ADS_2