
Rama masih melamun memikirkan hal yang tidak seharusnya dia pikirkan, tiba-tiba Vibrasi handphone nya berdering, Rama merogoh saku celananya mengambil ponselnya dan memencet tombol hijau lalu dia tempelkan di telinganya
"Hallo Pa, ada apa?, tumben Papa telpon aku?" Rama merasa aneh tiba-tiba Papanya menghubunginya lagi setelah lama tidak memberinya kabar.
"Rama, bisakah kamu kembali ke jakarta dan bergabung kembali ke perusahaan, Papa butuh bantuan kamu Ram!" Papa Rama langsung pada intinya tanpa basa basi lagi.
"Bukannya ada Zio yang bantu Papa di kantor?"
"Rama, Zio itu masih sekolah yang benar saja kamu, gak kasihan dengan adikmu harus berpikir keras di dua bidang sekaligus?"
Rama menghela nafas panjang, menanggapi Papanya memang butuh sedikit lebih sabar bagi Rama.
"Rama, apa salah nya kamu bergabung lagi sama Papa?,, Bantu Papa Ram, perusahaan sedang kacau Papa kewalahan, Papa butuh kamu Rama!" Papa Rama menekankan agar Rama mau kembali bergabung ke perusahaan milik keluarga nya.
"Tapi kan Papa tahu kalau Istriku gak mungkin mau tinggal lagi di Jakarta Pa," Rama di buat bimbang pria itu ingin sekali membantu Sang Ayah namun dia juga Takut Istrinya menolak untuk ikut dengannya ke ibu kota.
"Memangnya kenapa Istrimu itu?" tanya Papa Rama agak sinis.
"Aku juga gak tahu Pa, tapi Istriku gak pernah bisa akur sama Mama!" jawab Rama sendu
"Ya sudah nanti Papa yang bicara soal Istrimu ke Mama mu, pokok nya kamu harus kembali ke jakarta Rama, Papa benar-benar butuh kamu, tolonglah!" Papa Rama memohon dengan sangat, berharap Rama menurunkan ego nya untuk bisa bergabung kembali ke perusahaan.
"Aku gak janji Pa!" Jawab Rama lirih.
"Baiklah, hubungi papa segera kalau kamu berubah pikiran, Papa akan menyiapkan semuanya untuk kamu, Telpon Papa nanti!" Ucap Papa Rama di penghujung telpon dan mematikan telponnya sepihak.
Rama menghela Nafas lalu kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui Istrinya , Rama harus bicara dengan Istrinya tentang permintaan Sang Ayah.
Rama membuka pintu kamar dan melihat Istrinya sedang menyusui Bayi nya yg baru berusia tiga bulan itu.
Dinar Istri Rama menoleh pada Rama,
"Sayang, kamu belum selesai?" tanya Rama masih berdiri di depan pintu.
"Sebentar lagi Leon tidur, ada apa Mas?"
"Aku mau Bicara, aku tunggu di ruang tengah ya"
"Tinggu sebentar ya, nanti aku nyusul!" kata Dinar.
Rama menutup kembali pintu kamar nya dan beranjak ke ruang tamu, Pria itu duduk dengan gelisah, takut Istrinya akan marah dan pasti akan menolak ajakan nya untuk kembali ke Ibu kota.
__ADS_1
"Ada apa sih Mas?" tanya Dinar setelah selesai menidurkan Bayi nya, perempuan itu langsung menghampiri suaminya dan duduk di sebelah suaminya.
"Tadi Papa telpon aku" Rama mencoba memulai obrolan.
"Terus" Dinar kaget dan menoleh pada Rama.
"Papa memintaku untuk kembali bergabung di perusahaan" Rama menatap Istrinya ragu.
Dinar terdiam dengan wajah sendu.
"Dinar, kamu mau kan tinggal di jakarta lagi?" Rama menggenggam tangan Istrinya berharap Istrinya akan mengerti.
"Mas, kamu kan tahu aku gak bisa tinggal sama Mama kamu!" sahut Dinar, perempuan itu dengan kasar melepaskan genggaman tangan suaminya.
"Dinar, kamu ada masalah apa sih sama Mama?, kenapa kamu benci banget sama Mama?" Rama jadi tersulut emosi dengan sikap Istrinya.
Dinar melirik suaminya dengan tatapan tajam
"Karna Mama kamu selalu membanding-bandingkan aku dengan mantan kamu itu!" Mata Dinar memerah menahan emosi,
"soal itu nanti aku akan bicara sama Mama, tolonglah berpikir dengan jernih, Aku bisa bergabung lagi dengan Papa itu akan menjamin masa depan kamu dan Leon, masa depan kita Dinar,!" Rama mencoba memberi pengertian pada Istrinya.
Air mata jatuh di pipi Dinar lalu perempuan itu bangkit dari duduk nya dan beranjak begitu saja mengabaikan suaminya.
"Dinar!" panggil Rama menatap langkah istrinya.
Dinar menghentikan langkahnya memutar kembali tubuhnya menoleh pada Rama menatap suaminya dengan tatapan menusuk.
"Pergilah Mas, aku dan Leon akan tetap di sini, silahkan kembali bergabung dengan keluargamu. silahkan lakukan apa yang kamu mau, aku tidak akan melarang kamu lagi Mas, pergilah" Dinar mengusap kasar air matanya yang seakan tak mau berhenti membasahi pipi, Perempuan itu dengan cepat melangkah meninggalkan suaminya sendiri di ruang tengah.
Rama menghela nafas berat!
Rama menjatuhkan kepalanya pada sandaran sopa dan mengusap wajahnya frustasi.
Malam harinya, Rama gelisah tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun.
pria itu memperhatikan punggung istrinya dengan Ragu Rama memeluk nya dari belakang.
Dinar terusik dan berusaha menolak.
"Sayang, ma'afin aku, tapi tolong kamu jangan kayak gini, aku pergi untuk menjemput masa depan kita, mengertilah!" Rama masih memohon membujuk istrinya agar mau ikut ke ibu kota.
__ADS_1
"Aku udah bilang, pergilah, aku tetap di sini, tolong jangan memaksa"
Rama menghela nafas, "Baiklah, kalau kamu gak mau ikut, tapi aku akan tetap pergi besok, ma'afkan aku Din!" Rama mengecup kening Istrinya.
Dinar hanya terdiam, perempuan itu menahan tangis dalam diam.
"Kamu baik-baik di sini sama Leon ya, kabari aku setiap hari tentang Leon, aku akan jemput kalian nanti setelah urusan di kantor selesai" Rama berusaha meyakinkan istrinya , pria itu memeluk istrinya dengan hangat.
Dinar hanya pasrah dengan perlakuan suaminya, diam-diam Dinar menangis menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya, Rama menyadari kalau istrinya menangis, pria itu mengelus pucuk kepala istrinya dengan sayang!
Pagi-pagi sekali Rama sudah siap untuk pergi , sebelum pergi Rama menyempatkan waktu sebentar untuk bermain-main bersama putranya yang baru berusia tiga bulan itu.
"Baik-baik sama Mama ya Boy, papa pergi dulu, jangan rewel selama Papa pergi oke!" Rama menjawil pipi Leon dengan gemas.
Bayi tiga bulan itu tersenyum manis menatap Sang Ayah, seakan mengerti apa yang di katakan sang Ayah.
Rama melihat putranya yang tersenyum menatap dirinya langsung menciumi Leon dengan sangat gemas.
Dari balik Pintu kamar, Dinar memperhatikan suami dan anaknya, Air mata kembali jatuh di pipinya , perempuan itu merasakan sesak di dadanya, Dinar belum siap untuk berpisah dengan Rama meski hanya sementara, pikirannya takut kalau suaminya bisa saja secara tidak sengaja akan bertemu lagi dengan Mantan nya, Dinar tahu kalau suaminya selama ini belum bisa melupakan Maura, membuat Dinar sangat membenci Maura.
Rama menoleh dan menyadari Istrinya melamun di depan pintu.
Rama menghampiri Dinar dan mengusap air matanya dengan tangan lebar nya
"Jangan nangis, ini cuma sementara kok," Rama menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Aku harus pergi sekarang sebelum siang!"
Dinar melepaskan pelukannya menatap suaminya intens.
"Berjanjilah Mas!" Dinar memohon pada Rama.
"Iya aku janji, aku akan jemput kamu sama Leon" jawab Rama mengelus pipi istrinya.
Dinar menggeleng lemah, lidah nya kelu namun rasa takut kehilangan membuat nya harus kuat,
"Janji untuk setia, dan kalau nanti kamu gak sengaja ketemu lagi sama Maura, aku mohon tetap lah ingat aku yang menunggumu Mas!" Dinar menatap lekat mata suaminya.
Rama terdiam menekan bibirnya, hatinya berdusta kalau kenyataan nya dia masih berharap bisa bertemu lagi dengan Maura.
Rama mengangguk dan tersenyum!
__ADS_1