
Setelah berhasil menidurkan Baby Bima dan sudah puas memandangi sang putra, Bisma kembali mendekati Istrinya dan tersenyum simpul pada Maura.
"Sayang, kamu sudah di kasih makan belum sama suster?" tanya Bisma yang sejak tadi tidak melihat ada makanan apapun di meja. Bisma pun merasa khawatir jika Istrinya belum terisi makanan apapun yang masuk ke perutnya pasca melakukan transfusi darah selama beberapa jam yang lalu.
Maura menggeleng menatap Bisma.
"Gimana sih Suster. sebentar ya, biar Mas panggil suster buat bawakan kamu makan sayang" Ujar Bisma mengusap punggung Maura lalu segera keluar ruangan untuk menemui suster.
Bisma tidak mungkin membelikan makanan di luar untuk Istrinya. karena Maura harus mengikuti aturan rumah sakit untuk sementara masa pemulihannya pasca melahirkan. tidak boleh sembarangan makan makanan di luar tanpa anjuran dari Dokter.
Setelah menemui Suster Bisma pun kembali berjalan gontai. Saat Bisma hendak membuka handle pintu ruangan sang Istri. Bisma melirik ke ruangan sebelah dimana ada Rama di dalamnya yang juga sedang beristirahat setelah mendonorkan darahnya untuk Maura.
Bisma menatap pintu ruangan rawat Rama dengan tatapan penuh sesal namun Bisma juga harus berterimakasih pada Rama karena Rama sudah menyelamatkan hidup Istrinya.
Bisma mengurungkan niatnya untuk masuk ke ruangan istrinya, Bisma berjalan pelan ke ruangan Rama. Laki-laki itu mengetuk pintu lebih dulu lalu masuk setelah Rama menyuruhnya untuk masuk saja.
Rama tersenyum menatap Bisma yang berjalan pelan ke arahnya dengan tatapan sendu Bisma menatap pada Rama.
"Ram. Gimana keadaan lo sekarang?" tanya Bisma
"Udah lebih baik kok. tenang aja , hari ini juga gue udah bisa pulang!" ujar Rama tersenyum simpul pada Bisma.
Bisma tersenyum tipis dan mengangguk.
"Oh iya Ram. Istri dan orangtua lo nggak lo kasih tahu soal ini?" tanya Bisma dengan hati yang tidak tenang, Bisma takut Istri Rama akan marah jika mengetahui Rama telah mendonorkan darahnya untuk Maura.
"Mereka nggak perlu tahu Bis. udah lo nggak usah khawatirin Gue. gimana sama Maura, apa dia sudah sadar?" Rama meyakinkan Bisma dan bertanya tentang keadaan Maura.
__ADS_1
"Alhamdulillah Maura sudah sadar berkat pertolongan lo Ram. thank ya" Ujar Bisma menatap sendu pada Rama.
"Nggak perlu berterimakasih Bis. gue pasti lakukan itu meskipun lo nggak minta, kalau gue tahu Maura butuh transfusi darah, gue selalu siap buat jadi pendonor darah untuknya" ujar Rama dengan tulus.
Bisma menunduk lesu dan terdiam sejenak. Bisma merasa sangat bersalah pada Rama, beberapa waktu lalu mereka sempat bersitegang dan beradu otot dan saling pukul karena cemburu. Bisma mengangkat wajahnya menatap lekat pada Rama dengan penuh penyesalan..
"Ram, ma'afin gue ya. gue sempat menghajar lo habis-habisan karena Cemburu" Bisma tersenyum miring merasa dirinya seperti pengecut.
Rama tersenyum tipis menatap lekat pada Bisma.
"Nggak usah lo pikirin soal itu Bis. Wajar kok kalau lo marah sama Gue. gue juga udah keterlaluan sama Istri lo. ma'afin gue juga ya!" Rama menepuk bahu Bisma dan tersenyum
Bisma membalas tersenyum pada Rama.
"Bisma. kalau lo ijinin. gue mau ketemu sama Maura dan gue mau bicara berdua sama dia. kali ini aja untuk terakhir kalinya. gue janji sama lo , gue nggak akan ganggu rumah tangga lo lagi Bis!" Rama menatap serius pada Bisma memohon ijin pada Sahabatnya untuk bicara berdua saja dengan Maura.
"Thank Bis" ujar Rama.
Bisma hanya mengangguk pelan. meskipun hatinya merasa keberatan dan tidak rela namun Bisma masih menghargai Rama sebagai sahabatnya dan Rama yang sudah menyelamatkan hidup sang Istri dengan darahnya yang mengalir di tubuh Maura!
Bisma dan Rama pun keluar dari kamar rawat itu dan berjalan ke arah pintu kamar rawat Maura.
"Masuklah Ram. gue tunggu di sini!" Ujar Bisma mempersilahkan Rama untuk masuk menemui Maura. Bisma tersenyum tipis pada Rama dengan perasaan entah menatap sendu dan tidak rela pada pintu ruang Rawat Istrinya.
Rama pun mengangguk dan segera masuk ke dalam menemui Maura. sedangkan Bisma masih stand by di balik pintu menunggu Rama sampai selesai berbicara dengan Maura.
Rama Masuk setelah di persilahkan masuk oleh Maura. kebetulan Maura baru saja selesai makan. Maura mendongak menatap kaget pada Rama. Maura meletakan bekas makannya ke samping namun Maura merasa kerepotan karena tubuhnya tidak boleh banyak bergerak.
__ADS_1
Rama dengan sigap mengambil alih bekas makan Maura sambil tersenyum pada Maura. Maura menatap datar pada Rama dengan perasaan entah. Maura menundukkan kepalanya sambil menghela nafas.
"Gimana keadaannya sekarang?" Rama dengan kikuk memulai obrolan dengan Maura sambil menatap lekat pada Istri sahabatnya itu yang tak lain adalah mantan kekasihnya sendiri.
Maura mengangkat wajahnya menatap Rama dengan tatapan sendu.
"Sudah lebih baik kak. terimakasih sudah mendonorkan darahnya untukku Kak" Ujar Maura
"Sama-sama Ra. cepat sehat ya, Aku kesini cuma mau lihat keadaan kamu saja kok. aku merasa lega kalau lihat kamu sudah sadar!" Rama menatap dalam pada Maura dengan perasaan yang masih sama. laki-laki itu masih merasakan getaran di hatinya setiap kali berdekatan dengan mantan kekasihnya.
"Terimakasih Kak. kak Rama juga jaga kesehatan ya" ujar Maura menatap datar pada Rama.
"Ra. aku cuma mau bilang. semoga kamu selalu bahagia bersama Bisma ya. Ma'afkan aku yang Nggak bisa jadi laki-laki seperti yang kamu harapkan di masa lalu, ma'af aku selalu membuatmu sakit hati dengan kebodohan ku. Maura perlu kamu tahu, Bahkan sampai detik ini pun hatiku masih sama buat kamu Ra. Aku masih mencintai kamu. tapi aku sadar sekarang kamu bukan milikku lagi. aku sadar kalau aku harus benar-benar melepaskan kamu untuk sahabatku sendiri. Ra berjanjilah untuk selalu bahagia".
Rama panjang lebar mengungkapkan isi hatinya pada Maura dengan tatapan sendu dan dalam menatap Maura. Maura hanya terdiam mendengarkan semua ungkapan hati Rama padanya. Maura merasa bingung harus menanggapi Rama seperti apa. Yang jelas saat ini Maura pun masih merasakan hal yang sama dengan Rama. namun Maura juga sadar kalau Ada Bisma yang lebih tulus mencintainya.
Maura menatap Rama dengan tatapan tegas dan tersenyum miring.
"Semua itu hanya masa lalu Kak, Aku nggak mau mengingat lagi semua tentang kita. aku akan berjanji kalau aku akan hidup bahagia bersama keluarga kecilku. Semoga kak Rama juga begitu" Ujar Maura sambil tersenyum tipis melirik Baby Bima yang tertidur pulas di keranjang bayi dengan damai.
Rama ikut melirik ke arah Bayi mungil yang sedang terlelap itu. Rama kemudian menyunggingkan bibirnya tersenyum simpul. kini Rama merasa jauh lebih lega telah mengutarakan isi hatinya pada Maura meskipun tidak akan pernah bisa terbalaskan. setidaknya Rama telah mengakui kesalahannya di masa lalu pada Maura.
"Cepat sehat ya. Aku pulang dulu ya Ra!" Rama mengusap Kepala Maura dengan lembut sambil tersenyum simpul.
Maura menoleh dan mengangguk menatap Rama.
Di balik pintu, Bisma yang sejak tadi mendengarkan dan melihat Istri dan sahabatnya itu mengobrol, Bisma tersenyum miring dan menghela nafas berat. Bahkan Bisma masih merasakan kalau Maura dan Rama masih menyimpan perasaan yang sama. Bisma menunduk lesu dan beranjak ke kursi tunggu, kemudian Bisma duduk menunggu Rama keluar.
__ADS_1
Bisma mengusap wajahnya dan memejamkan matanya. hatinya selalu merasa sakit ketika Bisma mengetahui secara tidak langsung kalau Istri dan sahabatnya sebenarnya masih saling mencintai satu sama lain, namun mereka selalu mencoba untuk menepis perasaan mereka demi menghargai pasangan masing-masing. Bisma menekankan bibirnya dengan perasaan yang entah Bisma menghela nafas panjang!