
Rama akhirnya keluar dari ruangan Maura dengan perasaan yang sudah lega. Rama melirik Bisma yang menundukkan kepalanya sambil menutup wajahnya. Rama tahu kalau Bisma mendengar semua obrolan dirinya dengan Maura. Rama tersenyum tipis lalu mendekati Bisma, Rama menyentuh pundak Bisma dan Bisma pun mendongak menatap pada Rama.
"Eh Ram. udah?" Bisma langsung berdiri berhadapan dengan Rama.
Rama mengangguk menatap sayu pada Bisma. Rama tahu betapa sakitnya menjadi Bisma, yang harus Mencintai Sendiri dalam pernikahannya, bahkan meskipun Maura bersikap seolah-olah dia juga mencintai Bisma, tapi Rama masih bisa merasakan kalau Maura masih menyimpan perasaan pada dirinya.
"Bisma. gue tahu perasaan lo kayak gimana. Setelah ini gue nggak akan muncul lagi di kehidupan lo dan Maura. jaga dia Bis, cintai dia dengan tulus dan bahagiakan dia. gue yakin perlahan Maura akan membalas cinta lo seutuhnya. Ma'afin gue Bis, selama ini gue udah jadi benalu dalam rumah tangga lo, tapi gue harap lo bisa membawa Maura untuk berdamai dengan Masa lalu nya. lo cuma harus perlu bersabar aja!" ujar Rama panjang lebar, Rama menatap intens pada Bisma.
Bisma menatap Rama lalu memejamkan mata sejenak kemudian mengangguk pasti!
"Pasti Ram. pasti gue lakuin itu. thank sudah berbesar hati. gue juga tahu perasaan lo kayak gimana. Gak mudah buat lo lupain Maura dan kenangannya. tapi gue harap lo juga bisa ngerti kalau gue nggak bisa ngelepasin dia. Gue Cinta banget sama Maura Ram, apalagi dia sudah melahirkan anak gue" ujar Bisma menatap sayu pada Rama.
Rama tersenyum tipis dan mengangguk lalu menghela nafas panjang.
"Hmmmm. Oke, Gue balik ya, jaga Istri dan anak lo" Rama menepuk bahu Bisma sambil tersenyum simpul.
"Pasti. Lo jadi balik ke Bandung sama Istri Lo Ram?" tanya Bisma menatap serius pada Rama.
"Jadi. mungkin minggu depan gue pergi ke Bandung, gue bakalan beresin dulu kerjaan di kantor termasuk kerjasama sama Lo dan Arfan!" Ujar Rama
Sebenarnya Rama tidak ingin meninggalkan Jakarta lagi, demi ketenangan hatinya yang berusaha melupakan Maura, Rama pun memutuskan untuk kembali ke Bandung bersama Anak dan Istrinya. terlalu banyak kenangan Indah bersama Maura sehingga membuat Rama kesulitan untuk membuka hati untuk Istrinya sendiri.
Kali ini Rama sudah tidak ingin bergantung pada masa lalu lagi. Rama lebih memikirkan Buah hatinya yang tentu lebih butuh kasih sayang nya dan juga masa depannya itu adalah tanggung jawab Rama sebagai seorang Ayah. meskipun Rama sulit mencintai Dinar sebagai Istrinya namun Rama selalu bersikap koperatif demi Leon sang buah hati.
Setelah Rama berpamitan untuk pulang Bisma pun Masuk ke ruangan Istrinya. Bisma membuka handle pintu dan melihat Maura yang sedang bermain ponsel.
"Sayang" Panggil Bisma menghampiri Maura.
"Eh Mas. kamu darimana kok baru nongol?" tanya Maura. sambil menaruh ponselnya ke atas nakas.
__ADS_1
"Mas di depan kok. nunggu Kamu sama Rama selesai ngobrol" jawab Bisma, laki-laki itu mendekati keranjang Bayi dan menatap Bayi mungil itu dengan tatapan sendu.
"Jadi Mas tahu kalau tadi kak Rama habis dari sini?" Maura menatap Bisma.
Bisma menoleh pada Maura kemudian mengangguk."Tadi dia ijin sama Mas!" Ujar Bisma kembali menatap pada Baby Bima yang masih tertidur lelap.
"Oh, Mas sudah makan belum?" tanya Maura, Maura merasa Suaminya agak dingin semenjak dirinya dan Rama habis mengobrol tadi. Bisma yang masuk ruangannya dengan wajah yang tidak sumringah. meski begitu, Maura memilih tidak berpikir negatif pada Bisma.
"Sudah kok, Dia lelap sekali ya tidur nya, apa dia nggak lapar?" Bisma melirik Maura menatap datar pada Istrinya.
"Nggak pa-pa Mas. bayi baru lahir memang seperti itu. nanti kalau sudah dua jam di bangunin aja buat kasih ASI" ujar Maura menatap Bisma.
"Mas!"panggil Maura pada Bisma sambil melambaikan tangannya menginterupsi Suaminya agar mendekat.
"Hmmmm" Bisma bergeming namun laki-laki itu tetap berjalan mendekati Istrinya.
"Mas Marah ya sama aku?" tanya Maura menatap intens pada Bisma.
Bisma pun menghela nafas panjang menatap intens pada Maura. Bisma memang sedikit cemburu pada saat dirinya mendengar dan melihat Rama mengungkapkan perasaannya pada Istrinya. meskipun Rama mengatakan untuk terakhir kalinya menemui Maura dan tidak akan mengganggunya lagi. tapi hati seorang Bisma begitu terluka ketika tatapan sang Istri kepada sang mantan kekasihnya itu begitu tulus dan menatap sendu. Bisma seakan di sadarkan oleh kenyataan Bahwa Maura masih mencintai Rama.
Bisma lagi-lagi menghela nafas berat menatap lekat pada Maura.
"Nggak pa-pa Sayang. Mas cuma lelah aja kurang tidur dari semalam, bahkan Mas nggak tidur sama sekali lihat kamu berjuang melahirkan anak kita itu buat Mas cemas dan takut Dek!" ujar Bisma beralibi dan mencari jawaban yang pas yang bisa di terima oleh Istrinya.
Maura menatap intens pada Bisma dengan tatapan penuh selidiki.
"Percayalah Sayang. lagian Mas marah kenapa sama kamu. hmmmm?, Kamu sudah berjuang hidup dan mati untuk melahirkan Bima. justru Mas bersyukur dan berterimakasih sama Kamu. karena kamu wanita yang hebat bagi Mas!" Bisma mengusap lembut rambut Maura sambil tersenyum menatap dalam pada sang Istri.
Maura pun menghela nafas dan mengangguk saja.
__ADS_1
"Katanya tadi lelah. Istirahat gih. atau nanti setelah Mama dan Ibu datang kamu pulang aja Mas. Istirahat di rumah!" ujar Maura memberi solusi.
Bisma dengan cepat menggeleng menatap intens pada Maura.
"Nggak bisa gitu Sayang. Mas nggak mungkin tega ninggalin kamu sama Bima di sini meskipun ada Mama sama Ibu. pasti Mas gak bisa tenang di rumah. percuma juga nggak akan bisa istirahat!" Ujar Bisma menatap serius pada Maura.
Maura tersenyum tipis "Ya sudah sana, istirahat di sopa aja kalau gitu" Maura mengusap pipi Bisma dengan tatapan dalam sambil tersenyum simpul.
Bisma meraih tangan Maura dari pipinya dan membawanya ke genggamannya lalu mencium tangan lembut itu dengan penuh perasaan.
Maura tentu saja merasa hatinya menghangat di perlakukan begitu maninya oleh Bisma. Bisma dan Maura saling menatap dalam satu Sama lain. Bisma reflek saja mendekatkan wajahnya pada wajah Istrinya dan mencium bibir ranum Maura.
Bisma dan Maura larut dalam Berciuman saling membelit lidah dan menerobos rongga mulut satu sama lain. Bisma dan Maura saling bertukar saliva sampai mereka tidak menyadari kalau Mama Tania sudah berdiri di ambang pintu menatap tajam pada keduanya dengan mulut yang menganga.
"Bisma" pekik Mama Tania dengan keras memukul punggung Bisma dan mengomeli putranya dengan suara lantang sampai Bima si bayi yang baru sehari lahir ke dunia itu pun terusik dan menangis karena kaget dengan Suara Oma nya yang mengomel.
"Mama Sih berisik. Bima jadi bangun kan!" Bisma segera mendekati Bima yang menangis.
"Lagian kamu ini. Istri kamu baru saja melahirkan. Bisa-bisa nya kamu kayak tadi. inget ya Bisma puasa selama 40 hari! Mama Tania masih mengomeli Bisma dengan gemas.
Maura yang merasa malu hanya menunduk menahan senyum melihat Suaminya di marahi oleh sang Ibu. Mama Tania melirik pada Maura dengan tatapan menyelidik sambil geleng-geleng kepala.
***
Hallo gaess.
ma'af ya kemarin nggak update. soalnya ada acara wisuda anakku lulusan Paud, Alhamdulillah sudah mau masuk TK.
mohon Do'anya ya dan jangan lupa dukung terus kisah nya Bisma dan Maura ya.
__ADS_1
terimakasih🙏🤗