Rindu yang Salah

Rindu yang Salah
Bab 74


__ADS_3

Bisma yang tidak habis pikir dengan tindakan sang Istri yang hendak pergi dari rumah hanya karena salah paham saja, Bisma langsung mengambil alih koper di tangan Maura dan menyingkirkan koper itu dengan kasar hingga semua isi koper itu keluar tidak beraturan di lantai.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah ini Maura?" Bisma akhirnya terpancing emosi dengan sikap Maura yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan. Bahkan Maura tidak mau mendengarkan semua penjelasan darinya.


Maura yang di bentak dan melihat koper itu di rebut paksa dan di banting dengan keras oleh Bisma. seketika nyalinya menciut, Maura menjadi takut untuk menatap sang Suami. Bahkan Bisma sampai menyebutkan Nama Maura dengan lantang. Maura berkaca-kaca menahan air matanya yang sudah penuh di ujung matanya.


Dengan nafas yang bergemuruh menahan emosi di dadanya, Bisma mendekati Maura dengan tatapan dalam sambil menghela Nafas. laki-laki itu sadar bahwa dirinya telah membentak sang Istri di luar kendali. Bisma meraih tangan Maura dengan lembut dan menatap sang Istri dengan perasaan bersalah.


"Dek. ma'afin Mas, Mas nggak ada maksud buat bentak kamu Sayang!" Bisma menatap dalam pada Maura


Maura mendongak menatap sang Suami dengan tatapan sendu. Air mata yang sejak tadi di tahannya akhirnya jatuh juga di pipi Maura tanpa permisi. Bisma semakin merasa bersalah ketika melihat air mata terjatuh dari mata sang Istri. Bisma memejamkan Matanya lalu mengusap lembut air mata Istrinya dengan jari jempolnya.


"Ma'afin Mas Dek" Bisma memohon dengan tatapan sendu pada Maura.


Maura memutar tubuhnya dan kembali masuk ke kamar sambil membanting pintu dengan keras. Bisma lagi-lagi harus menahan emosinya menghadapai Istrinya yang sedang hamil memang harus butuh kesabaran untuk Bisma. terlebih lagi saat ini Maura sedang Cemburu karena salah paham.


Bisma memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya dan menghela nafas berat. Bisma benar-benar kesal dan menyesali kedatangan mantan kekasihnya yang hampir saja menghancurkan rumah tangganya.


Bisma menginterupsi Lana untuk membereskan koper yang sudah acak-acakan isinya kemudian Bisma menyusul Istrinya ke kamar.


Bisma membuka pintu dengan hati-hati dan mendapati Istrinya yang sedang tiduran sambil menangis dalam diam. Maura yang melihat Bisma masuk segera berbalik badan dan membelakangi Bisma yang berjalan semakin mendekat.


Bisma mengendurkan dasinya dan duduk di bibir ranjang, laki-laki itu mencoba untuk bicara dari hati ke hati dengan Maura.


"Sayang!" panggil Bisma lirih sambil melongok wajah Maura


Maura bergeming tetap pada posisinya.


Bisma lagi-lagi menghela nafas panjang mengatur nafasnya agar tidak sampai emosi pada Istrinya.


"Ma'afkan Mas Dek, Mas sudah jelaskan semuanya kan. dia datang tanpa di undang. dan pada Saat dia memeluk Mas, Mas sudah berusaha menghindar Sayang tapi dia terus memojokkan Mas, apa yang sudah kamu lihat itu sama sekali tidak seperti yang kamu pikirkan Dek!" Bisma panjang lebar menjelaskan tanpa bosan berulang kali menjelaskan pada Maura kejadian yang sebenarannya.


Maura masih bergeming tanpa menoleh pada Bisma. Sebenarnya Maura percaya saja pada Suaminya tapi mood ibu hamil memang sangat sensitif sehingga Maura menjadi keras kepala dan egois.


"Sayang, harus berapa kali Mas jelaskan dan minta Ma'af sama kamu Dek!" Bisma merasa lelah dengan sikap Istrinya yang susah sekali untuk di bujuk kembali.

__ADS_1


Maura pun membalikan tubuhnya dan menatap dalam pada Bisma.


"Harusnya kamu konfirmasi terlebih dulu siapa tamu yang akan datang ke kantor, dan kenapa kamu suruh langsung masuk aja?, kalau memang nggak ada perjanjian pertemuan sebelum nya?" Maura masih menaruh curiga pada Bisma.


Bisma menghela nafas dan memejamkan matanya. kemudian laki-laki itu menatap dalam pada sang Istri.


Bisma pun akhirnya menjelaskan kembali kenapa Irene bisa lebih mudah untuk masuk ke kantor nya. Irene dulu di kenal sebagai pacar Bisma pada saat Bisma masih kuliah dan baru belajar bisnis dengan sang Ayah. maka dari itu Irene punya akses untuk bisa masuk ke kantor. karena sudah di kenal baik oleh orang-orang kantor, terlepas bagaimana hubungannya saat ini dengan Bisma.


Maura mendengarkan dengan intens dan menghela nafas panjang.


"Ya sudah, sana mandi. atau kamu mau balik ke kantor?" Maura beringsut duduk dan mendorong dada bidang suaminya agar menghindar.


Bisma menatap tak percaya pada Maura. "Sayang, apa ini artinya kamu udah nggak marah lagi sama Mas?" Bisma berharap Istrinya sudah tidak marah lagi.


"Hmmmm" Maura bergeming dan bergumam.


Bisma tersenyum tipis kemudian langsung memeluk Maura dengan erat.


"Makasih Sayang, Mas janji besok-besok nggak akan terima tamu sembarangan lagi" Bisma akhirnya merasa lega telah berhasil membuat Maura mencair lagi meski masih dengan mode jutek namun tidak masalah untuk Bisma, yang penting sekarang Istrinya mau mema'afkan dirinya.


Maura melepaskan pelukannya dari tubuh Bisma dan menatap tajam pada Suaminya.


"Cepat mandi dan ganti pakaian kamu Mas, aku tidak sudi berpelukan sama kamu dengan pakaian bekas di peluk mantan kamu" cetus Maura mendorong dada Bisma sambil wajah memberengut.


Bisma tersenyum tipis dan merasa gemas dengan sikap Istrinya yang kadang di luar dugaan. Bisma mengacak rambut Maura dengan gemas dan mengangguk,


"Serem banget kalau lagi cemburu, bikin Mas takut aja tahu!" Bisma menatap Maura sambil tersenyum.


Maura berdecih sebal menatap Bisma sambil membuang muka!


Bisma pun beranjak ke kamar Mandi untuk membersihkan diri sesuai Instruksi sang Istri. bahkan Bisma langsung menyuruh Asisten rumah tangganya untuk membuang kemeja dan jaz yang di pakainya setelah selesai mandi.


Kemeja dan Jaz sejuta umat itu melayang begitu saja ke tong sampah hanya demi menghargai sang Istri dan menjaga perasaanya!


Setelah menginterupsi Asisten rumah tangganya, Bisma kembali ke kamar dengan membawa dua porsi makan Siang untuk nya dan Istrinya

__ADS_1


Bisma sengaja membawa Makanan ke kamar dan makan siang di kamar, supaya bisa mengobrol dari hati ke hati dengan Istrinya yang masih sedikit merajuk meskipun hatinya sudah mencair.


"Sayang, makan dulu Dek" Bisma membawa makanan di nampan itu ke balkon.


Maura menoleh dan mengikuti langkah suaminya ke balkon.


"Kenapa di bawa kesini?" tanya Maura masih dengan nada jutek.


"Biar romantis Sayang" jawab Bisma ngasal saja.


Maura bergeming dan duduk di kursi yang sudah di tarik oleh Bisma untuk dirinya duduk.


"Makan yang Banyak ya, Anak Daddy biar cepet gede!" Bisma berjongkok tepat di samping Maura dan mengelus lembut perut Maura yang sudah besar


Maura mengerutkan Alisnya menatap pada Bisma sambil geleng-geleng kepala.


"Besar nya kalau sudah keluar aja. besar di dalam perut emang kamu nggak kasihan sama aku Mas?" Maura menatap tajam pada Bisma.


Bisma mendongak dan melongo. kemudian Bisma nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap Maura.


'Salah lagi kan Gue' batin Bisma.


Bisma pun menggeleng dengan cepat dan tersenyum pada Maura.


"Enggak dong sayang, ma'af ya Mas salah lagi ya" Bisma mengusap lembut punggung tangan Maura.


"Iya-iya" jawab Maura sambil tersenyum tipis.


Bisma pun berdiri dan duduk di kursi di hadapan Maura.


Siang ini mereka Makan siang di balkon sambil mengobrol ringan, sesekali mereka saling tertawa dan bercanda.


Bisma berhasil membuat Istrinya kembali mencair dan mengembalikan mood booster ibu hamil itu dengan sangat baik!


***

__ADS_1


Hai gaess ma'af ya 2 hari nggak update. aku kadang gak semangat nulis kalau nggak ada yang like novelnya🥺🙏


__ADS_2