
Keesokan harinya Maura dan Bisma seperti biasa menjalankan aktivitas pagi sebelum Bisma berangkat ke kantor.
Maura masih merasakan mual-mual setiap pagi namun wanita itu tidak banyak mengeluh dengan kehamilan nya.
meskipun sikap Suaminya selalu manis dan perhatian tapi tidak membuat perempuan berusia 21 tahun itu menjadi manja.
Maura sedang menyiapkan bekal untuk Suaminya. karna sebelumnya Maura sudah berjanji untuk membuatkan bekal untuk Bisma.
Bisma turun dari tangga menemukan Istrinya yang sibuk berkutat di dapur. dengan hati-hati Bisma mendekati Maura dan memeluk nya dari belakang.
"Mas, kebiasaan banget sih" Maura yang kaget spontan saja perempuan itu menoleh dan cemberut.
"Abis kamu terlalu fokus sayang, masak apa sih?" Bisma dengan manja menjatuhkan dagunya pada pundak Istrinya.
"Kan aku bikin bekal buat kamu Mas" Maura menoleh lagi pada Bisma hingga wajah mereka kini begitu dekat hampir saja menempel, dengan cepat Bisma mencium pipi Maura dengan gemas.
Maura terkekeh sambil mencubit pinggang Suaminya. Bisma pun terkekeh dan mundur duduk di kursi menunggu Istrinya menyiapkan Bekal untuk nya.
Setelah Maura selesai membuat bekal, pasangan halal itu berjalan bergandengan ke depan. Maura mulai membiasakan diri untuk menjadi istri sungguhan untuk Bisma.
pelan tapi pasti Maura kini sudah lebih bersikap manis pada suaminya.
"Mas berangkat dulu ya" Bisma menatap dalam pada Istrinya.
Maura mengangguk dan berkata " Hati-hati ya Mas"
"Iya sayang, oh iya nanti kamu siap-siap dandan yang cantik ya, malam ini kita akan pergi ke acara resepsi pernikahan nya Jimmy" Ujar Bisma.
"Jimmy siapa?" tanya Maura.
"Jimmy sahabat nya Mas juga sayang!" jawab Bisma sambil tersenyum tipis.
"Oh, iya udah nanti aku siap-siap sebelum kamu pulang" ujar Maura sambil menyerahkan paper bag isi kotak makanan pada Suaminya.
Bisma menerimanya lalu mencium kening istrinya dan Maura pun mencium punggung tangan Istrinya dengan takzim.
***
Rama yang semalam tidak pulang ke rumah, setiba nya di rumah Rama di kagetkan oleh sang nenek yang entah sejak kapan ada di rumah orangtuanya.
"Dari mana kamu Rama" pekik Nenek Rama ketika Rama baru masuk membuka pintu depan.
"Oma!" Rama terkejut dengan kehadiran Oma nya yang tiba-tiba berdiri di depan nya.
__ADS_1
"Semalaman kamu tidur dimana hah anak bandel" Oma Rama gemas lalu menarik telinga Rama dengan kuat.
"A-aaw Sakit Oma!" Pekik Rama sambil berjalan mengikuti sang nenek dengan memegangi telinganya yang di jewer Sang Nenek.
"Darimana kamu semalam, kenapa gak pulang?" tanya Oma Rama menatap tajam pada sang cucu.
"Lepasin dulu Oma" Rama memohon dengan wajah yang sudah memerah kesakitan.
Nenek Rama pun melepaskan tangan nya dari telinga sang cucu lalu duduk di sopa di ikuti oleh Rama.
Nenek Rama menatap tajam pada Rama.
"Ma'af Oma, aku_"
"Ke Club lagi?" sahut nenek Rama dengan cepat memotong pembicaraan sang Cucu
Rama pun hanya bisa menunduk karna memang benar dirinya datang ke Club bersama Arfan semalam.
"Rama, sadar kamu sudah berkeluarga harusnya kamu berubah dong Ram, kenapa balik lagi ke Club sih?"
Rama hanya diam di marahi sang Nenek, Rama tipe anak yang baik dia tidak akan membantah apapun ketika orangtua atau nenek nya memarahinya jika dia membuat kesalahan, berbanding terbalik dengan sang adik, Zio lebih berani melawan jika orangtuanya menasehati, Zio tipe anak yang keras kepala.
Mama Rama datang menghampiri Ibu dan putranya, wanita paruh baya itu melerai Ibu dan Anak nya yang sedang bersitegang.
Rama pun langsung melesat masuk ke kamar nya.
"Kamu juga Dena selalu belain anak-anak kamu itu, jadinya gitu kan, gak Rama gak Zio sama aja, kapan mereka akan dewasa!" Nenek Rama kesal dengan kelakuan cucu-cucunya.
"Sudah Ma, jangan marah-marah, aku yakin Rama melakukan itu pasti ada alasan nya kok" ujar Mama Dena.
Nenek Rama hanya menghela nafas berat.
"Lagian nih Istrinya Rama juga kenapa gak ikut kesinj, egois banget, Mama yakin deh Rama pasti belum bisa move on dari Maura kan" Cetus Oma Rama
Mama Dena jadi teringat pertemuan nya dengan Maura kemarin di salon. Mama Dena menggigit bibir bawah nya dan menghela nafas panjang.
"Sudah seharusnya Rama lupain Maura Ma, karna Maura juga sudah menikah dengan orang lain" Mama Dena dengan sekuat hati menceritakan pertemuan nya dengan Maura pada sang Ibu.
"Apa!, Maura sudah menikah?" Nenek Rama mendongak kaget.
"Kak Maura sudah menikah!" Sahut Zio yang tidak sengaja mendengar ucapan sang Ibu saat dirinya hendak melewati nenek dan ibunya.
Nenek Rama dan mama Dena secara bersamaan menoleh pada Zio. Zio pun menghampiri ibu dan nenek nya untuk bergabung.
__ADS_1
"Mama tahu darimana kalau kak Maura sudah menikah?" tanya Zio penasaran.
"Dari Maura sendiri, kemarin mama gak sengaja ketemu sama Maura di salon" jawab mama Dena
Zio mengangguk mengerti sementara Nenek Rama menghela nafas berat lalu menyandarkan punggung nya pada sandaran sopa.
"Sebenarnya Oma lebih suka Maura yang jadi kakak ipar mu Zio, tapi malah Si Dinar yang berhasil jadi Istrinya Rama"
ujar Nenek Rama menyayangkan takdir sang cucu.
"Awalnya aku juga begitu Ma, tapi sekarang aku sadar, mungkin Maura memang bukan jodoh nya Rama, jadi mulai sekarang kita harus menerima Dinar sebagai menantu di rumah ini dengan terbuka!" ujar Mama Dena mencoba menerima apa yang sudah terjadi.
Zio hanya menyimak dan mengangguk setuju.
tanpa mereka sadari sejak tadi Dinar sudah berdiri di depan pintu mendengarkan obrolan Mertua nya.
Dinar sadar kalau caranya untuk mendapatkan Rama itu salah, tapi perempuan itu juga tidak ingin Rama kembali pada Mantan kekasih nya yang bahkan lebih di terima oleh keluarga suaminya.
Dinar mengusap air matanya, dan menatap ke arah dimana ibu mertuanya dan nenek juga adik ipar nya sedang berbincang.
Dinar berjalan pelan sambil mengucapkan salam menghampiri mertuanya!
"Asalamualaikum" Ucap Dinar
Mama Rama , nenek Rama dan Zio menoleh bersamaan dan betapa kagetnya mereka dengan kedatangan Dinar yang tiba-tiba.
Mama Dena khawatir kalau menantunya sudah mendengar apa yang di bicarakan nya bersama sang Ibu dan putra bungsunya.
"Dinar, sejak kapan kamu datang?" Mama Dena mendekati sang menantu dengan wajah tegang.
"Baru saja kok Ma" Dinar menyalami mertuanya dan Nenek mertuanya bergantian.
"Kok gak bilang kalau mau kesini, kan Bisa di jemput sama Rama nak" Mama Dena mengusap punggung Menantunya.
Dinar tersenyum kecut "Mas Rama susah di hubungi Ma akhir-akhir ini jadi aku memutuskan ke jakarta" ujar Dinar .
"Ya sudah kamu langsung ke kamar aja, Rama ada kok di kamar, Leon biar sama Mama aja" Ujar Mama Dena.
"Iya kamu istirahat aja Dinar, pasti capek kan, Anak kamu biar sama kami," ujar Oma Rama "Ya ganteng nya Oma uyut nih, udah gede aja kamu ya" Oma Rama dengan gemas mencubit pipi gembul Leon yang anteng di kereta dorong dengan nyaman, Bayi berusia 4 Bulan itu tersenyum menatap sang Oma,
Dinar pun segera naik dan masuk ke kamar Suaminya setelah di rasa putranya akan aman bersama Oma nya.
dengan perasaan yang kesal dan ingin marah Dinar membuka pelan pintu kamar Suaminya, dan Ternyata Rama sedang mandi, Dinar pun menunggu dengan sabar Duduk di sopa sambil melirik pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat, terdengar gemercik air shower dari dalam pertanda Suaminya masih mandi.
__ADS_1
Dinar merasakan sakit hati setelah tadi tidak sengaja mendengar percakapan mertuanya. Hatinya merasakan sesak, ingin marah tapi tidak ada alasan karna memang Dirinya menggunakan cara yang salah untuk mendapatkan Rama jatuh ke pelukan nya!