
Maura berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya turun ke lantai dasar, sedangkan Bisma mengejar Maura dengan langkah lebarnya Bisma bisa menyusul Istrinya tepat pada saat pintu lift akan tertutup, Bisma menahan pintu itu dengan satu tangannya dan langsung ikut masuk ke dalam lift bersama Maura.
Maura membuang muka ke samping sambil mengusap air matanya yang masih mengalir. hatinya terlalu sakit, Maura hanya diam tanpa berbicara apapun.
Bisma menatap Istrinya dengan penuh rasa bersalah. Bisma mencoba membujuk Istrinya dan menjelaskan apa yang sudah terjadi tidak seperti yang Maura pikirkan.
"Dek. tolong percaya sama Mas. Dia datang sendiri tanpa mas Undang, Ma'afkan Mas Sayang" Bisma meraih tangan Maura dengan tatapan sendu memohon. namun dengan cepat Maura menepisnya.
Bisma pun tidak menyerah, Laki-laki itu terus berusaha mencoba menjelaskan dengan detail kenapa Irene bisa tiba-tiba muncul di kantor nya dan berakhir berpelukan. Bisma panjang lebar Menjelaskan pada Maura.
Maura hanya terdiam membuang muka namun Maura tetap mendengarkan penjelasan suaminya tanpa menyela sedikitpun. Maura masih kecewa dan sakit hati melihat dengan mata kepalanya sendiri, Suami yang dia percaya berpelukan dengan wanita lain.
"Sayang. kamu percaya sama Mas kan Dek?" Bisma meraih kembali tangan Maura dan menggenggamnya sambil menatap sendu pada Maura.
Kali ini Maura tidak menolak atau menepis tangan Suaminya. Maura menatap tajam pada Bisma. wanita hamil itu menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya.
"Kamu Nggak lagi bohongin aku kan Mas?" Maura masih belum percaya 100% pada Bisma.
Dengan cepat Bisma menggeleng, karena apa yang sudah di lihat oleh Istrinya memang bukan suatu hal yang di sengaja namun itu mutlak ulah Irene sendiri.
"Mas Nggak mungkin khianatin kamu Sayang. Mas nggak ada hubungan lagi sama Irene dari Mas belum lulus kuliah, Mas juga kaget saat tiba-tiba dia datang ke kantor dengan tujuan tertentu. Mas berani sumpah sayang" Bisma masih berusaha meyakinkan Maura agar percaya dan tidak marah lagi.
Maura menatap intens pada Bisma lalu mengangguk namun bukan berarti Maura secepat itu menerima penjelasan Bisma dan dengan mudah mema'afkan Suaminya.
Bisma mengelus Pipi Istrinya dengan lembut menatap nya dalam.
"Sayang. Please!" Bisma memohon dengan wajah sendu menatap pada Maura.
__ADS_1
Maura menatap dalam pada Bisma kemudian keluar begitu saja dari dalam lift setelah pintu lift itu sudah terbuka.
Maura dengan cepat berjalan keluar gedung kantor di ikuti oleh Bisma, tepat pada Saat Maura sampai di lobi, taxi berhenti di samping Maura dan Bisma berdiri, Maura segera masuk dan dengan cepat menutup pintu kembali dengan kencang membuat Bisma gelagapan tak percaya menatap Istrinya yang dengan cepat masuk ke dalam taxi, Bisma mengetuk-ngetuk pintu taxi itu dengan suara melengking memohon pada Istrinya agar menunggunya. namun Maura justru meminta Supir taxi untuk segera jalan dan pergi meninggalkan kantor Suaminya!
Asisten Jay yang baru saja datang sehabis meeting menghampiri Bisma yang sedang panik dan kebingungan. Asisten Kai mengerutkan alisnya dan menegur Bos nya.
"Ada apa Tuan?" tanya Asisten Jay menepuk pundak Bisma. Bisma menoleh dan melihat Asisten Jay, Bisma melihat kunci mobil di tangan Asistennya kemudian Bisma langsung merebut kunci mobil milik Asisten Jay dan menginterupsi Asisten Jay untuk membawa mobilnya.
"Aku pinjam mobil mu dulu!" teriak Bisma sambil berlari menuju ke arah mobil Asisten Kai terparkir.
Bisma segera menginjak pedal gas dan meninggalkan kantor. Bisma mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi agar bisa mengejar taxi yang di tumpangi oleh Istrinya.
Asisten Jay yang tidak tahu apa-apa sejak tadi bengong kebingungan menatap kepergian mobilnya yang di bawa oleh Bisma, Asisten Jay pun memutar tubuhnya untuk segera kembali ke ruangannya. Namun pada Saat Asisten Jay memutar tubuhnya secara bersamaan Irene berjalan ke arah nya.
Asisten Kai mengerutkan dahinya, di buat semakin bingung. kenapa Ada Irene di kantor Bisma dan Bisma yang terburu-buru pergi. Asisten Jay menyimpulkan ada satu hal yang telah terjadi kesalahpahaman di antara bos dan wanita itu.
Asisten Jay pun melanjutkan langkah nya hingga berhenti tepat di hadapan Irene, Asisten Jay menatap tajam pada Irene.
"Apa yang sudah kamu lakukan di sini Nona Irene?" Asisten Jay masih menghalangi jalan Irene dengan tubuh kekar nya.
Irene menatap tajam dan tersenyum sinis pada Asisten Jay.
"Bukan urusan kamu" Irene dengan angkuh nya tersenyum miring pada Asisten Jay tanpa rasa bersalah dengan apa yang sudah di lakukannya.
"Tentu semua yang berurusan dengan Tuan Bisma itu menjadi urusan saya juga" Tegaskan Asisten Jay menatap tajam pada Irene.
"Segitunya kamu mengabdi sama bos mu Jay!" lagi-lagi Irene tersenyum sinis mengejek Asisten Jay.
__ADS_1
Dengan kasar Irene mendorong dada Asisten Jay dan pergi begitu saja tanpa rasa malu dan bersalah sama sekali.
Asisten Jay menatap kepergian Irene dengan dahi berkerut dan tatapan yang tajam menusuk!
Di tempat lain. Bisma masih mengejar taxi yang di tumpangi oleh Istrinya. sampai taxi itu berhenti di sebuah rumah. ya, Ternyata Maura tetap memilih pulang ke rumah Suaminya. Bisma yang melihat Istrinya turun dan masuk ke dalam rumah, laki-laki itupun akhirnya bisa bernafas lega Istrinya tidak pergi jauh seperti yang sudah ada di bayangan nya. tentu saja Bisma takut kalau sampai Maura pergi meninggalkannya.
Bisma kemudian membawa mobilnya masuk ke pekarangan rumah setelah taxi itu pergi. Bisma segera menyusul Istrinya ke dalam rumah. hari ini juga Bisma akan menyelesaikan masalahnya dan membujuk Maura agar percaya dan tidak marah lagi.
"Lana , Nyonya dimana?" Bisma kembali turun dan menanyakan Maura pada Lana Asisten rumah tangganya. Bisma sudah masuk kamar sebelumnya namun tidak menemukan Istrinya di dalam kamarnya membuat Bisma panik dan takut akan kehilangan Istrinya.
"Tadi saya lihat sudah masuk ke kamar kok Tuan" jawab Lana dengan Jujur sesuai dengan apa yang di lihatnya.
Bisma mengerutkan Alisnya "Tapi Nyonya tidak ada di kamar Lana, tolong bantu cari aku khawatir dengannya" Bisma sangat panik dan khawatir mengingat Istrinya sedang hamil besar.
Bisma benar-benar merasa sangat bodoh telah membuat Istrinya benar-benar marah kali ini!
Tidak lama kemudian Maura keluar dan turun dari anak tangga sambil menggeret koper dengan wajah yang sembab sehabis menangis.
Bisma yang baru saja kembali ke ruang tengah setelah mencari Istrinya ke belakang begitu kaget saat melihat Istrinya turun dengan membawa koper. Bisma pun melotot tak Percaya. hanya karena salah paham saja Maura sampai semarah itu. Bisma segera mendekati Istrinya dengan wajah panik dan tegang.
"Sayang, kamu mau kemana?" Bisma menyentuh tangan Maura yang menggeret koper.
Maura hanya menatap tajam pada Bisma.
"Maura, Sayang please jangan kayak gini Dek. jangan pergi. ini cuma salah paham saja Sayang!" Bisma memohon dengan sangat, mencegah Istrinya untuk pergi.
Mata laki-laki itu sudah berkaca-kaca siap menumpahkan air matanya, Bisma menatap sendu memohon pada Maura. Maura menghela nafas menatap dalam pada Bisma.
__ADS_1
***
Mohon dukungannya ya semuanya. terimakasih🙏