
Setelah menemui Ceo di ruangan nya Maura kembali ke ruangan Divisi, Maura bener-benar di buat spot jantung tak habis pikir kalau Bos nya selama ini adalah suaminya sendiri!
Maura menjatuhkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Ra, kamu beneran Risent?" Maya sahabat Maura mendekati Maura dengan wajah di tekuk.
"Ya mau gimana lagi" jawab Maura lirih
"Bakalan sepi ruangan ini gak ada kamu Ra" Cetus Maya mendramatis.
"Gak usah lebay, aku bukan orang yang rame juga" sahut Maura melirik Maya dengan tajam.
"Iya juga sih, tapi kan tetep aja beda, lagian kenapa harus risent sih, mentang-mentang udah nikah!" cetus Maya
"Itulah Alasan y kenapa aku risent" ucap Maura.
"Semoga bahagia selalu ya Ra, selamat atas pernikahan nya" Maya memeluk Maura
"Iya makasih May, ma'af ya gak ngundang kalian di pernikahan ku!" kata Maura merasa bersalah.
"gak pa-pa Bu Maura, kami mendo'akan ibu kok semoga Bu Maura dan Suami selalu di naungi kebahagiaan" sahut salah satu kariawan yang ada di ruangan yang sama dengan Maura dan Maya.
"Amin, terimakasih Nu Nia"
"Oh iya Ra, aku penasaran suami kamu seperti apa?" cetus Maya sambil melepas pelukan nya dari tubuh Maura.
Maura terdiam sejenak, ia bingung untuk menjelaskan pada rekan-rekan nya tentang siapa suaminya.
"Nanti kalian tahu sendiri kalau udah ketemu, tapi jangan kaget!" jawab Maura kembali duduk di kursinya dan mulai menyalakan komputer.
"Kenapa harus kaget, seganteng apa emang nya?" kata Maya mengerutkan dahi.
"Udah sana kerja, di marahin Bos baru tahu rasa" Maura enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan Sahabat nya lagi.
Maya kembali duduk sambil menghela nafas.
Maura fokus dengan pekerjaan nya hari ini dia harus menyelesaikan semua pekerjaan nya untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar berhenti bekerja dan menjadi Istri sungguhan seorang Bisma.
Jam makan siang pun tiba,
Ting, notifikasi masuk di ponsel Maura menandakan ada pesan masuk.
Maura meraih ponsel nya yang tergeletak di meja kerjanya.
perempuan itu pun membuka kunci ponsel dan membacanya.
[Ke ruangan ku sekarang] Nomor tidak di kenal.
Maura menaruh kembali ponselnya ke tempat semula, perempuan itu tidak tertarik dengan isi pesan itu karna tidak merasa mengenali nomor baru itu.
Ting, notifikasi masuk lagi, Maura ingin mengabaikan namun dia tak sengaja membaca pesan itu dari layar ponsel nya.
__ADS_1
[Kenapa gak di balas, aku tunggu makan siang di ruangan ku,] Nomor tidak di kenal.
"Siapa sih gak jelas banget" Maura menggerutu dalam hati menatap layar ponsel nya yang masih menyala.
sejenak Maura terdiam sampai akhirnya dia menyadari kalau yang mengiriminya pesan itu pasti Suaminya.
"Astaga, pasti dia" Maura segera bangkit dari duduk nya dan beranjak ke ruangan Suaminya.
"Ra mau kemana, gak makan siang bareng" sahut Maya melihat sahabat nya yang terlihat terburu-buru.
"Makan duluan aja , aku ada urusan sebentar!" sahut Maura menoleh lalu menutup pintu keluar dari ruangan Divisi.
Setelah mengetuk pintu, Maura masuk ke ruangan Suaminya.
Maura melihat sudah ada dua porsi makan siang di atas meja, sudah bisa di pastikan kalau suaminya yang menyiapkan itu untuk makan siang bersamanya.
"kenapa lama sekali sih?" Bisma langsung duduk di sopa di ikuti oleh Maura.
"Ma'af aku gak tahu kalau yang chat tadi itu Kamu Mas!" kata Maura jujur
Bisma melirik Istrinya tak percaya.
"Nomor Suamimu sendiri kamu gak tahu, gak di simpen?, sebenci itu kamu sama aku Maura?" Ucap Bisma menatap Maura lekat.
Maura menghela nafas "Bukan begitu Mas, yaudah sih jadi makan gak, kalau gak aku keluar aja deh" Maura sama sekali tidak merasa bersalah dan malah hendak berdiri Namun dengan cepat Bisma menahan pergelangan Maura agar tetap duduk.
"Duduklah, Makan dengan tenang!" Bisma lagi-lagi mengalah
Maura maupun Bisma makan dalam diam tak ada satupun yang bersuara selama makan.
sampai makan siang selesai keduanya masih saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Bisma melirik Maura yang fokus dengan ponselnya.
Pria itu mengambil ponsel di tangan Istrinya pelan alhasil pemiliknya menoleh,
"Ma'afkan Aku Maura, ma'af aku sudah membuat kamu gak nyaman, tapi tolong lihat aku Ra" Bisma mencoba bicara dengan hati-hati.
"Ma'af untuk apa?" kata Maura datar.
Bisma menghela nafas panjang dan memiringkan posisi duduk nya menghadap ke Istrinya.
"Soal yang tadi malam, aku sungguh minta ma'af, aku tahu aku salah sudah memaksa kamu, Ma'afkan Aku Maura" Bisma menunduk tak berani menatap wajah istrinya.
Maura kembali mengingat kejadian semalam yang selalu membuatnya sakit, Buliran bening jatuh dengan lancang dari matanya,
Bisma menyadari kalau istrinya menangis.
pria itu dengan hati-hati mengusap air mata istrinya dengan lembut.
Maura menoleh sampai kedua pasang mata itu bertemu.
__ADS_1
saling Tatap dalam diam.
"Lupakan kejadian itu, tolong jangan memaksakan apapun yang membuat aku takut untuk dekat dengan mu Mas" Ucap Maura lirih, lagi-lagi Buliran bening di matanya jatuh ke pipi mulus nya.
Bisma tak tahan melihat Istrinya menangis karna ulah nya. Pria itu menarik tubuh Istrinya ke dalam dekapan nya, Maura menangis dalam pelukan suaminya begitupun Bisma ikut terisak di balik punggung Istrinya.
keduanya menangis bersama .
"Aku minta ma'af Maura, Aku mencintaimu, tolong beri ruang untukku di hatimu, aku akan bersabar menunggu sampai kamu siap menerima pernikahan ini!" Bisma memohon sambil terisak, hatinya sakit namun Bisma tak bisa memungkiri kalau dirinya sangat menginginkan Istrinya.
Maura melepaskan pelukannya dan mengusap air mata nya.
"Kamu Mau bersabar Mas?, Aku akan mencoba untuk itu, tapi aku gak tahu sampai kapan aku bisa menerima kamu,"
"Aku akan tetap menunggu sampai kapan pun Maura" Bisma menatap sendu pada Istrinya.
"Ma'afkan aku Mas!"
Bisma menggeleng, "Tetaplah di sampingku apapun yang terjadi, tetaplah menjadi Istriku sampai kamu benar-benar menerima aku sebagai suamimu selamanya!" Sakit rasanya tapi Bisma harus meyakinkan Istrinya, kalau dirinya mampu membuatnya mencintai dirinya suatu hari nanti.
Maura kembali ke ruangan Divisi dengan pikiran bercabang.
namun Maura merasa lebih lega dari sebelumnya.
perempuan yang sudah tidak lagi gadis itu pun berpikir, mungkin Dia harus memulai kehidupan barunya dengan suaminya dan melupakan Masa lalu nya.
Maura lagi-lagi merasakan sesak di dadanya setiap kali dia mengingat Cinta masa lalu nya yang terpaksa harus berpisah meskipun perpisahan itu bukan keinginannya.
***
Bandung
Rama sedang melamun di pinggiran kolam di belakang rumah nya.
Laki-laki masa lalu Maura yang ternyata juga masih memikirkan Maura.
Rama sama sekali tidak bisa melupakan gadis yang sangat dia cintai di masa lalu.
namun Pria itu tidak bisa banyak bergerak untuk menemui Maura.
Pria itu sudah memiliki keluarga kecil,
Rama selalu berpura-pura bahagia ketika bersama dengan Istri dan anaknya.
Meskipun Rama sadar yang di jalaninya saat ini sangat menyakiti hatinya.
namun jika Rama kembali bertemu dengan Maura , Istrinya lah yang lebih tersakiti.
laki-laki itu berperang dengan pikiran nya sendiri.
Ingin mencari keberadaan Maura tapi di sisi lain ada hati yang harus dia jaga prasaan nya.
__ADS_1
Sesakit inikah berpura-pura bahagia dengan orang yang tidak di cintai!