Rindu yang Salah

Rindu yang Salah
Bab 75


__ADS_3

Kehamilan Muara yang semakin membesar dan mendekati hari H kelahiran Bayinya, membuat Maura merasa lebih sering kelelahan dan susah untuk tidur nyenyak, seperti saat ini Maura terjaga di jam yang sudah larut. Maura merasakan perutnya keram dan kencang,


Bisma yang tidur di samping nya pun terusik oleh pergerakan Maura yang tidak bisa tidur malam ini. tubuhnya merasa tidak nyaman tidak seperti biasanya. Maura memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri namun sama sekali tidak menemukan kenyamanan.


"Sayang, kamu kenapa. nggak bisa tidur lagi?" Bisma beringsut dengan mata setengah mengantuk.


"Iya Mas. rasanya Nggak nyaman banget. perut ku kadang kenceng dan keras gitu Mas!" jawab Maura.


Bisma mengerutkam Alisnya menatap dalam pada Maura, tangannya terulur mengusap lembut perut besar sang Istri yang sekarang sudah berusia kandungan sembilan bulan.


"Apa kamu akan melahirkan Dek?" Bisma teringat pesan-pesan dokter Nila, ciri-ciri ibu hamil yang akan melahirkan tempo hari saat terakhir pemeriksaan kandungan sang Istri.


Maura hanya bergeming merasakan perutnya semakin lama semakin sakit. Wajah yang sudah berkeringat dan Maura mencengkram kuat perutnya membuat Bisma semakin panik dan khawatir.


Bisma segera keluar memanggil Asisten Rumah tangganya untuk menghubungi orangtua dan mertuanya. Bisma sudah yakin kalau Istrinya akan melahirkan malam ini.


Bisma kembali lagi ke kamar dan mengambil Tas ransel yang sudah di siapkan oleh Maura jauh-jauh hari sebelum hari H persalinan. Bisma langsung menghampiri Istrinya yang kesakitan sambil menggendong tas ransel di punggung nya.


"Sayang. kita ke rumah sakit sekarang ya!" Bisma merangkul bahu Istrinya dan berjalan pelan keluar kamar.


Maura hanya menggangguk saja karena lidah nya sangat kelu untuk mengeluarkan suaranya.


"Masih kuat jalan nggak sayang?" tanya Bisma. Bisma berusaha tetap tenang meski hatinya merasa khawatir dan panik agar Istrinya tidak merasa takut dan cemas.


Bisma sudah menyiapkan supir untuk mengantar ke rumah sakit. Calon Ayah itu membantu Maura untuk masuk ke mobil dengan hati-hati setelah turun dan keluar dari dalam rumah


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah.


"Mas, sakit banget!" Maura merintih kesakitan dengan wajah yang tidak bisa di deskripsikan.


"Sabar ya Sayang. kita akan segera sampai di rumah sakit" Bisma terus memberi perhatian pada Maura, laki-laki itu mengelus-ngelus punggung Maura dengan lembut .


Maura yang merasa tubuhnya semakin lemas menyandarkan kepalanya pada pundak lebar Suaminya dengan nafas yang naik turun menahan sakit. Bisma pun merangkul bahu Maura memberikan kenyamanan sementara untuk Sang Istri.


"Lebih cepat sedikit Pak!" Bisma menginterupsi Supir untuk bisa lebih cepat mengemudi mobilnya agar cepat sampai di rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit. Bisma langsung memanggil perawat dan dengan sigap dua perawat menghampiri Bisma dengan mendorong berangkar untuk Maura.

__ADS_1


Bisma membantu Istrinya untuk merebahkan diri di berangkar, setelah itu mereka semua segera membawa Maura ke ruang bersalin yang buka 24 jam setiap hari.


"Suster apa saya boleh ikut masuk mendampingi Istri saya?" Bisma dengan wajah cemas memohon pada perawat yang akan membantu persalinan Maura.


"Tentu Pak. Silahkan!" Perawat itu mempersilahkan Bisma untuk ikut mendampingi Maura.


Sedangkan orangtua Bisma yang baru saja datang tetap menunggu di luar. karena pintu ruangan sudah tertutup.


dengan cemas dan penuh harap. Mama Tania dan Papa Arga duduk gelisah di kursi tunggu di iringi do'a untuk keselamatan sang menantu dan calon cucu pertamanya.


"Pa. rasanya Mama nggak bisa tenang" ujar Mama Tania menoleh pada Papa Arga dengan wajah cemas.


"Yang tenang Ma, kita berdo'a saja ya!" Papa Arga menasehati sang Istri agar tetap tenang dan tidak panik.


Tidak lama kemudian Orangtua Maura pun datang bersama Asisten Robby yang memang di tugaskan untuk menjemput kedua orangtua Maura oleh Bisma.


"Bu Tania, bagaimana dengan Maura?" Bu Tati langsung menghampiri sang Besan dengan wajah yang sama dengan Mama Tania.


mereka semua sama-sama cemas dan gelisah. menunggu kelahiran cucu pertama mereka.


"Duduk dulu Bu. Bisma di dalam mendampingi Maura kok" ujar Mama Tania mengajak besan nya untuk duduk di samping nya.


Di dalam ruang Bersalin. Bisma terus menggenggam tangan Maura berusaha menguatkan sang Istri yang sedang berjuang melahirkan anaknya. Bisma sesekali menciumi wajah Maura dengan penuh Cinta. mata Pria itu sudah berkaca-kaca dengan hati yang gelisah tidak karuan berusaha tetap tenang mendampingi sang Istri.


Maura menoleh pada Bisma dengan wajah yang menahan sakit


"Mas!" panggil Maura lirih.


"Iya Sayang. Mas di sini. semangat sayang kamu pasti kuat. kamu Bisa sayang. sebentar lagi kita akan bertemu dengannya!" Bisma mengusap lembut kepala Maura sambil berkata lirih tepat di telinga sang Istri. laki-laki itu berharap caranya bisa menguatkan Maura dan mengurangi rasa cemas yang berlebihan.


Dokter spesialis kandungan datang untuk mengecek pembukaan pada Maura.


"Permisi ya Bu. saya cek dulu. tolong buka kakinya" Dokter Nila menginterupsi Maura untuk membuka kedua kakinya agar dokter Nila bisa dengan mudah mengecek pembukaan.


Kebetulan Dokter Nila lah yang bertugas jaga malam ini. jadi Maura bisa merasa lebih tenang. karena dokter yang akan membantunya adalah dokter Nila.


Bisma memperhatikan cara Dokter Nila mengecek pembukaan pada bagian intim sang Istri. Bisma memejamkan matanya meringis merasa tidak tega dengan apa yang di lihatnya. Bisma kembali khawatir jika Maura sudah pembukaan lengkap bagaiman rasa sakit yang akan Maura rasakan. pasti sangat sakit sekali. bahkan Bisma tidak bisa membayangkan perjuangan Istrinya dalam melahirkan sang buah hati.

__ADS_1


Tiba-tiba Bisma meneteskan Air mata dan Air matanya tidak sengaja jatuh ke pipi Maura, Maura reflek mendongak menatap wajah Bisma yang menangis. Maura dengan lembut mengusap air mata Suaminya sambil tersenyum tipis. Bisma menatap dalam pada sang Istri dan langsung memeluk Maura sambil terisak.


"Mas. jangan nangis. aku nggak pa-pa, anak kita sebentar lagi lahir Mas!" Maura mengulurkan tangannya mengusap kepala sang Suami yang bertengger di dadanya.


Bisma mengangguk pelan dan kembali menatap lekat pada Maura.


"Semangat Sayang!" bisik Bisma lirih. dan Maura pun mengangguk.


Dokter Nila dan dua perawat yang menyaksikan momen haru suami istri yang sedang menanti anak pertamanya itu ikut terharu dan tersenyum tipis.


Tiba-tiba Maura merasakan perutnya kencang dan seperti ingin mengejan. rasa kencang itu semakin kuat membuat Maura panik, Bisma yang sejak tadi mendampingi Maura menoleh pada Dokter Nila dengan wajah memohon.


"Dokter!" Bisma menatap Dokter Nila dengan wajah cemas dan takut.


"Tenang ya Pak. Bu Maura sudah pembukaan lengkap. Mari ikuti instruksi dari saya ya Bu"


Dokter Nila membimbing Maura untuk mengikuti instruksi nya.


"Pinter, ayo Bu semangat. adek sudah mau keluar loh" Dokter Nila sambil menyemangati Maura agar tidak patah semangat berjuang untuk sang buah hati.


"Ayo semangat Bu, kepalanya sudah kelihatan, tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan dari mulut dan mulai mengejan ya Bu"


Bisma sekuat hati menahan diri agar tidak menangis saat Istrinya sedang berjuang. Bisma terus menggenggam tangan Maura dengan kuat dan menciumi wajah Maura dengan sayang. sambil sesekali membisikan kata-kata keramat pada telinga Maura untuk menyemangati sang Istri.


Dengan nafas tersengal-sengal Maura mengejan sekali tarikan nafas akhirnya lahirlah bayi Laki-laki dengan tangisan yang menggema seisi ruangan.


"Alhamdulillah" Dokter Nila mengucap syukur dan tersenyum menatap kagum pada Maura.


"Alhamdulillah sayang. Kamu hebat. terimakasih Sayang sudah berjuang untuk anak kita. Aku mencintaimu Maura" Bisma begitu terharu dan pecah lah tangisnya yang sejak tadi di tahannya saat proses persalinan sang Istri.


Di luar ruangan Para orangtua pun merasa lega dan mengucap syukur saat mendengar suara tangisan bayi menggema dari ruang bersalin.


"Alhamdulillah! Secara bersamaan semua orang yang di luar ruangan mengucap syukur sambil tersenyum lega dan haru.


Kini Bisma merasa lebih lega dan bersyukur, Maura tersenyum tipis menatap Bisma kemudian beralih menatap sang buah hati yang sedang di bersihkan oleh Dokter.


Tiba-tiba Maura merasa pusing dan penglihatannya terasa burem. Maura memegangi kepalanya sambil meringis menahan sakit. Bisma menoleh pada Maura dan melihat Istrinya kesakitan, seketika Bisma langsung panik dan khawatir kembali menatap sang Istri dengan perasaan entah.

__ADS_1


Maura tiba-tiba pingsan begitu saja membuat Bisma semakin panik dan menangis sejadi-jadinya. Dokter dan Dua perawat pun menoleh pada Bisma yang histeris menangis. langsung panik dan menghampiri Maura!


__ADS_2