Rindu yang Salah

Rindu yang Salah
Bab 58


__ADS_3

Maura dan Lana Asisten rumah tangga nya langsung membereskan semua belanjaan nya sesampai nya mereka di rumah.


"Nyonya. biar saya saja yang melanjutkan semua ini. Nyonya Istirahat saja" ujar Lana demi melihat majikan nya yang terlihat lelah tapi masih sibuk membantunya.


"Ya sudah kamu lanjutkan ya mbak. aku mau rebahan dulu. pegel banget kaki rasanya!" Maura mengeluh pegal di kakinya. hamil membuat perempuan itu mudah lelah.


"Iya Nyonya. Nyonya jangan capek-capek nanti Tuan marah nya sama saya loh!" ujar Lana.


Maura tersenyum melirik Lana."Ya sudah. aku tinggal ya" Maura menyentuh pundak Lana dan tersenyum tipis.


Maura pun meninggalkan Lana sendiri di dapur untuk melanjutkan pekerjaan nya. Maura mengistirahatkan tubuh nya untuk rebahan sejenak di ranjang.


***


Rama yang pulang dengan baju yang tidak sama dengan yang di pakai nya saat pergi pagi tadi. membuat Dinar sang Istri bertanya-tanya. Dinar menatap Rama dengan tatapan dalam.


"Mas. kamu habis darimana. ini kenapa pake baju begini. baju siapa sih?" Dinar mengerutkan dahinya melihat pakaian Rama yang memang sedikit agak kusut dan kusam.


"Baju dapet pinjem dari marbot Masjid" jawab Rama datar dan berjalan ke arah sopa.


Rama menyandarkan kepalanya pada sandaran sopa.


"Kok Bisa. memang nya kenapa?" tanya Dinar.


"Tadi kehujanan jadi Aku ke masjid dulu terus di pinjemin baju ganti" jawab Rama masih dengan wajah datar.


"Kamu kan bawa mobil Mas. kok bisa kehujanan!" Dinar merasa Suaminya menyembunyikan sesuatu.


"Tadi pas lagi kerja di luar tiba-tiba Hujan. Udah lah kenapa di permasalahin sih perkara baju aja!" Rama menjadi sedikit kesal menanggapi Istrinya.

__ADS_1


"Aku kan cuma tanya Mas, kok jawaban nya sewot gitu. sebenernya kamu kenapa sih?" Dinar jadi ikut terpancing.


"Kenapa apanya?" Rama menatap intens pada Istrinya.


"Akhir-akhir ini aku ngerasa sikap kamu tuh Berubah jadi Dingin Mas, semenjak kamu balik lagi ke jakarta!" Dinar menatap tajam pada Rama.


"Perasaan kamu aja!" Rama tidak ingin berdebat namun Dinar terus memancing emosinya.


"Tapi aku ngerasa kamu itu Berubah Mas. bahkan dari semenjak kamu ketemu Maura di pernikahan nya Tuan Jimmy waktu itu!" Dinar kesal menatap Suaminya.


Rama menoleh pada Dinar dan menatap tajam. "Jangan bawa-bawa Maura Dinar, Maura tidak tahu apa-apa!" Rama menjadi semakin kesal Istrinya sudah membawa-bawa nama Maura dalam masalah rumah tangganya.


"Memang itu kenyataan nya kan. selama ini kamu masih memikirkan wanita itu di belakang aku. bahkan Kamu diam-diam bertemu dengan Maura. sampai kamu di pukuli oleh Tuan Bisma, itu juga karna Maura kan!" Dinar benar-benar jengkel. perempuan itu meninggikan Suaranya membuat Rama semakin terpancing emosi.


Rama mendekati Istrinya dengan tatapan tajam.


"Darimana kamu tahu semua itu? Kamu menguntit aku Dinar!" Rama pun ikut meninggikan suaranya menatap tajam pada Istrinya


"Itu gak penting Mas. yang jelas aku tahu semuanya. Bahkan aku gak bisa masuk ke satu ruang hati kamu yang masih tertutup rapat. aku gak bisa membuka ruangan itu di hati kamu Mas. Kamu selalu memikirkan Maura. Maura dan Maura terus. Aku Istri kamu Mas. dimana hati kamu buat aku?" Dinar akhirnya pecah menangis menatap sang Suami.


Rama memalingkan wajahnya. Rama benar-benar tidak berempati sama sekali pada Istrinya. Rama lalu kembali menatap tajam pada Dinar.


"Dinar. kamu lupa siapa yang membawa aku dalam pernikahan Semu ini?" Ujar Rama.


Dinar mendongak menatap serius pada Rama. jantung nya berdetak lebih kencang saat Suaminya mengingat kembali kenangan kelam saat dirinya menjebak Rama dalam pernikahan tanpa cinta dari Rama.


"Mas, Kenapa jadi nyalahin aku. Bahkan kita sama-sama sadar melakukan nya!" Dinar mengusap air matanya dengan kasar menatap tajam pada Rama


"Aku memang sadar, tapi orang-orang di belakang kamu mengancam ku dengan berbagai ancaman. dan kamu mengancam Maura untuk menjauhi ku kan!. kamu tahu Dinar. Aku terlalu bodoh. aku sangat bodoh telah terpedaya oleh rayuan kamu. aku menyesal telah mengenal wanita sepertimu!" dengan hati yang sudah begitu kesal Rama beranjak hendak ke kamar mandi. Rama benar-benar lelah pulang kerja harus berhadapan dengan Istrinya yang tidak mau mengerti keadaan nya.

__ADS_1


"Mas. Segitunya kamu tidak menginginkan aku. sampai kapan kamu kayak gini Mas. sampai kapan kamu mampu melupakan Maura. Aku Istri kamu Mas" Dinar meninggikan Suaranya dengan lantang dan mengejar Rama yang belum masuk ke kamar mandi. Hatinya merasa sakit dan hancur ketika dirinya tahu Kalau Suaminya masih mencintai Wanita lain dari masa lalu nya. Dinar begitu membenci Maura karna yang dia pikir, karna Maura lah rumah tangganya jauh dari keharmonisan.


"Ada apa sih ribut-ribut. Bisa Nggak kalau ada masalah itu di hadapi dengan kepala dingin. kalian ini sudah dewasa. malu di dengar orang. Mama pusing lihat nya, hampir setiap hari kalian berdebat. Rama tolong deh kasih tahu Istri kamu. bersikap dewasa lah" Mama Dena tiba-tiba membuka pintu kamar Rama dan menasehati sepasang suami istri yang sedang bersitegang itu.


Mama Dena yang kebetulan sedang melewati kamar putranya sehabis menidurkan Cucunya di kamar nya. tidak sengaja mendengar keributan dari dalam kamar putra sulung nya


Awalnya Mama Dena memilih diam dan tidak ingin ikut campur. namum semakin lama semakin terdengar menegangkan. suara lantang Dinar dan Rama sampai terdengar sampai ke bawah.


Akhirnya Mama Dena tidak tahan lagi dengan keributan Putra dan menantunya. Mama Dena pun kembali ke atas dan menegur Rama dan Dinar. karna takut semua orang di rumah itu akan mendengar pertengkaran mereka.


Rama dan Dinar menoleh pada Mama Dena yang berdiri di ambang pintu menatap tajam pada pasangan Suami Istri itu.


Rama menundukkan kepalanya begitu juga dengan Dinar. Dinar tidak berani menatap wajah sang ibu mertua.


"Selesaikan dengan kepala dingin dan bicara dari hati ke hati. tolong kalian bersikap dewasa dalam menghadapai setiap masalah. Ada Leon yang membutuhkan kalian terus bersama. Rama, Mama mohon Nak!" Mama Dena dengan wajah Sendu memohon pada Rama dan Dinar agar memikirkan Leon putra mereka.


Rama menghela nafas lalu mengangguk, Dinar hanya menunduk tak bersuara. nafas nya naik turun menahan kesal dan sesak di dadanya.


"Jangan ribut-ribut lagi ya. Malu kedengeran sampai ke bawah" ujar Mama Dena.


Mama Dena pun kembali menutup pintu kamar Rama dan meninggalkan pasangan Halal yang masing perang dingin itu.


Seorang Ibu tidak akan membiarkan putra putrinya hancur dalam sebuah pernikahan. meski awalnya Mama Dena tidak merestui pernikahan Rama dan Dinar. Namun Mama Dena mengalah demi sang Cucu.


Kini wanita paruh baya itu lebih bisa menerima sang menantu lepas bagaimana pun sipat Dinar dan sikap Dinar nantinya.


Rama dan dan Dinar saling Diam mencerna nasehat Mama Dena. Dinar yang masih kesal memalingkan wajah nya dan beranjak menjauh dari Rama.


Rama pun acuh tak acuh mengabaikan Istrinya begitu saja. Rama memilih segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu. baru pria itu akan memikirkan cara untuk membujuk kembali Istrinya dan berbaikan demi Leon Putranya. seperti yang di minta oleh Mama Dena.

__ADS_1


***


Hallo semuanya. Baca juga yuk Kisah nya Arfan dan Kiana di Cinta Setelah Menikah. gak kalah seru dari Bisma dan Maura loh🥰


__ADS_2