Rindu yang Salah

Rindu yang Salah
Bab 57


__ADS_3

Rama Akhirnya beranjak dari atas Rooftop itu setelah merasa lelah. lelah menangis, lelah menyesali semua yang sudah terjadi dan juga lelah dengan dirinya sendiri yang selalu berpura-pura bahagia ketika bersama Istrinya. Rasanya Rama ingin mengakhiri saja hidup nya, namun pria itu bukan pria bodoh yang akan mengakhiri hidup hanya karna patah hati. Rama selalu teringat dengan Putra nya Leon.


Ada seorang Putra yang Tidak berdosa yang membutuhkan nya.


Rama pun berdiri dan berjalan gontai turun dari Rooftop. dengan pakaian yang basah Rama seperti orang yang tidak tahu tujuan. Pria itu menelusuri deretan Ruko dan juga rumah warga sampai akhirnya Rama menghentikan langkah nya di depan masjid yang sudah sepi jamaah. karna Shalat Dzuhur sudah terlewat sejak tadi.


Dengan perasaan entah Rama memasuki halaman Masjid dan hatinya tergerak begitu saja mengambil air wudhu.


dengan pakaian yang sedikit mengering Rama menjalankan shalat Dzuhur yang sudah terlewat.


Setelah selesai shalat Rama menengadahkan kedua tangan nya dan menatap langit-langit masijd. Rama berdo'a dan meminta pada sang Pencipta sambil menangis kembali.


Rama merasa seperti pecundang yang hanya datang pada Tuhan nya ketika dirinya merasa lelah dan membutuhkan saja. Rama benar-benar menangis sejadi-jadinya mengingat begitu banyak nya dosa yang dia perbuat selama ini, Rama sudah menyakiti seseorang dan melakukan dosa besar sebelum menikah dan kini Dia harus menerima akibat dari perbuatan nya, meski pun Rama hanya di jebak saat melakukan dosa besar itu tapi tetap saja Rama dengan sadar saat melakukan nya.


Seorang Ustadz yang kebetulan masih di sana melihat Rama yang sedang berdo'a sambil menangis pilu. Ustadz itu pun mendekati Rama.


"Asalamualaikum. Wahai Anak muda!" Ustadz itu pun duduk dengan sopan di depan Rama.


Rama mendongak menatap sang Ustadz lalu mengusap air matanya. rasanya malu sekali ketahuan menangis saat berdo'a.


"Ma'af kalau saya Lancang Anak muda. apa ada yang bisa saya Bantu Nak?" ustadz itu memperhatikan penampilan Rama yang sangat berantakan.


Rama menggeleng lemah menatap Ustadz itu.


"Saya seorang pendosa Pak. saya orang jahat. apa masih pantas saya di sini. apa Allah akan menerima tobat saya dengan segudang dosa yang saya perbuat selama ini" Rama menatap sayu pada Ustadz itu dengan Suara parau sehabis menangis


"Tidak ada yang tidak Allah ampuni dosa nya jika Kamu benar-benar ingin bertobat dan meminta ampun padanya. Nak, Allah maha pengampun, maka bertaubat lah InsyaAllah Allah akan mengampuni dosa-dosa mu! ujar Ustadz itu menasehati Rama.


Rama menunduk malu dan mengangguk. Ustadz itu tersenyum tipis menatap Rama.


"Saya akan melakukan shalat taubat pak Ustadz, mohon bimbing saya!" Rama mengangkat wajah nya dan memohon pada ustadz itu.


"Baiklah, mari Nak. lebih baik kamu ganti pakaian mu dulu dengan yang kering" ujar Ustadz itu.


"Tapi saya tidak bawa gantinya Pak Ustadz!" ujar Rama.


"Di belakang ada baju boleh pinjem dulu sama marbot masjid, mari saya Antar" ujar Ustadz itu membawa Rama ke belakang untuk meminjamkan pakaian yang kering pada Marbot.

__ADS_1


Setelah berganti pakaian Rama pun mengikuti kembali Ustadz tadi ke shop jamaah dan mengikuti langkah demi langkah untuk melakukan shalat taubat bersama Ustadz itu.


Setelah selesai shalat Rama segera berpamitan pada ustadz itu. Rama masih memakai pakaian milik Marbot masjid di sana. Rama akan mengembalikan nya nanti jika sudah di cuci dan berkunjung kembali ke masjid itu.


Rama langsung pulang ke rumah tidak mampir-mampir lagi. pria itu benar-benar pulang ke rumah setelah kembali ke mobilnya yang tadi di tinggalkan begitu saja di lobi gedung yang menjadi tempatnya menyendiri.


***


Maura yang sedang mencari pakan untuk Ikan dan kucing nya sekalian belanja bulanan bersama Lana.


Namun pada Saat Maura hendak mengambil sesuatu secara bersamaan pula seseorang mengambil barang yang sama dengan yang Maura pegang. Maura menoleh pada orang itu dan betapa kaget nya Maura setelah melihat siapa orang itu. begitupun dengan seseorang yang mau mengambil barang yang sama dengan Maura.


"Maura!" Dengan Tenang perempuan itu menyapa Maura


Maura tersenyum lalu mengangguk. "Silahkan kak ambil duluan saja!" Maura mengalah pada Irene untuk lebih dulu mengambil barang itu.


Irene pun mengambil barang itu dan menatap Maura dengan tatapan tajam.


"Mama, Mazza mau itu Ma" Seorang anak kecil menarik-narik lengan sang ibu sambil merengek.


Maura melirik pada Mazzaya putri Irene dan Mazzaya menoleh pada Maura dan tersenyum menatap wanita hamil itu.


"Tante Ini siapa. temannya Mama ya?" Mazza mengedip-ngedip kan matanya menatap Maura dengan sangat lucunya.


Maura tersenyum dan menyapa bocah itu!.


"Hallo. Kamu cantik sekali. Namanya siapa?" Maura menjawil pelan dagu Mazzaya sambil tersenyum.


"Mazzaya tante. tante juga Cantik!" cetus Mazzaya dengan kejujurannya.


Irene menatap sinis pada Maura namun Maura tidak perduli dengan tatapan Irene.


Maura tetap bersikap Ramah pada putri Irene


"Di dalam perut tante ada adek nya ya?" Mazzaya dengan cerewet nya menatap perut Maura yang sudah terlihat membesar.


Irene melirik Maura da perut buncit Maura dengan tatapan entah. Irene merasa tidak rela Wanita lain mengandung anak dari Sang mantan kekasih nya. ada rasa cemburu dan tidak rela namun Irene tidak bisa melakukan apa-apa. Irene menghela nafas berat lalu mengajak putrinya untuk segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Tante aku pergi dulu ya. dadah Tante Cantik!" Mazzaya melambaikan tangan nya pada Maura.


Maura membalas lambaian tangan bocah itu sambil tersenyum.


Maura melanjutkan belanja nya, setelah belanjaan memenuhi troli. Maura menghampiri Lana yang masih di tempat perikanan, sayuran dan daging.


"Sudah belum mbak"? tanya Maura pada Lana.


"Sudah kok Nyonya. Nyonya sudah selesai?" jawab Lana dan bertanya balik pada majikan nya. Lana melirik troli yang di dorong oleh majikan nya yang sudah penuh.


"Ayo kita ke kasir. rasanya nya aku udah pegel banget Mbak!" Maura mengeluh capek terlalu lama berdiri.


"Iya Nyonya. Mari!" Lana mengambil alih troli yang di dorong majikannya.


"Nyonya duduk saja dulu, biar Saya yang mengantri!" Lana khawatir dengan majikan nya yang tadi sempat mengeluh pegal.


Maura mengangguk. Perempuan itu menyerahkan kartu Card pada Lana untuk membayar semua belanjaan nya lalu duduk di kursi tunggu di depan kasir.


Maura memijat-mijat kakinya yang terasa pegal. pada saat Maura memijat kakinya tiba-tiba datang seorang nenek yang duduk begitu saja di samping Maura.


Nenek itu tersenyum ramah pada Maura begitupun dengan Maura.


"Sedang Hamil ya" Tanya Nenek itu tiba-tiba.


Maura menoleh dan mengangguk.


"Anak kamu pasti akan menjadi anak yang pintar dan sukses kelak!" cetus nenek itu.


"Amin, terimakasih nek do'a nya" Maura mengaminkan saja. padahal hatinya merasa tidak nyaman dengan nenek itu.


Nenek itu tersenyum. senyum yang sulit di artikan.


"Semoga bahagia ya rumah tangganya" Nenek itu mengusap bahu Maura dengan lembut


Maura melirik tangan nenek itu yang bertengger di bahunya. Maura merasa risih dan takut tapi berusaha tetap ramah dan waspada.


"Hati-hati pulang nya ya!" Nenek itu berdiri dan meninggalkan Maura begitu saja.

__ADS_1


Maura mengangguk sopan. Perempuan itu mengerutkan alisnya setelah nenek itu pergi Maura bisa bernafas lega.


Lana menghampiri Maura dan segera pergi meninggalkan pusat perbelanjaan itu. mereka langsung masuk taxi dan segera pulang ke rumah!


__ADS_2