Rindu yang Salah

Rindu yang Salah
Bab 45


__ADS_3

Bisma keluar dari kamar mandi dan masuk ke ruang ganti dimana ada Maura yang sedang mencarikan baju ganti untuk dirinya.


"Mas." Maura menoleh pada Bisma dan memberikan satu stel pakaian pada Suaminya.


Bisma hanya diam memperhatikan Istrinya dan menerima baju itu.


Maura beranjak keluar dengan perasaan bingung!


"Makasih Dek" lirih Bisma tanpa menatap Istrinya.


Maura menoleh menatap Bisma lalu mengangguk.


***


Rama pulang dengan wajah memar tak kalah parah dari Bisma. karna Rama lebih banyak menerima serangan dari Bisma di awal.


Sudah dini hari Rama pulang dan berjalan gontai melangkah ke kamar nya. rumah masih tampak sepi karna penghuni rumah masih pada tidur tentunya


Rama membuka handle pintu dan menatap Istri dan anaknya yang tertidur di ranjang.


Rama mendekati ranjang dan duduk dengan lesu di bibir ranjang


Dinar merasa terusik dengan pergerakan Rama. Dinar pun terjaga dan melirik Suaminya. perempuan itu beringsut duduk di samping Suaminya.


"Mas. kamu baru pulang?" Dinar mengamati wajah Rama yang babak belur


Rama hanya melirik sekilas pada Istrinya.


"Ini juga. wajah kamu kenapa Mas?" Dinar menarik dagu Suaminya dan melihat dengan jelas wajah Suaminya yang memar parah.


"Nggak papa. Aku mau mandi dulu" jawab Rama dingin dan datar.


"Bentar Mas. biar aku ambil kompresan ya" ujar Dinar hendak turun dari ranjang.


"Nggak usah. udah nanti aja aku mau mandi dulu!" ujar Rama


"Tapi ini parah loh" ujar Dinar tentu saja khawatir.


"Bisa di obatin nanti kalau habis mandi" ujar Rama


Rama lalu beranjak ke kamar mandi dan Dinar hanya diam menghela nafas. Dinar tersenyum Devil menatap punggung Suaminya.


'Ma'af Mas. aku harus melakukannya, agar kamu bisa lepas dari kenangan-kenangan kamu sama Maura' Dinar bermonolog dalam hati. Dinar tidak pernah rela melihat Suaminya yang selalu memikirkan wanita lain.


Sikap Rama membuat Dinar menjadi perempuan licik untuk mendapatkan apa yang dia mau. termasuk membuat ulah dalam rumah tangga Maura dan Bisma.


FLASHBACK ON


"Pokoknya kamu harus ambil vidio mereka. kamu ambil adegan yang bisa membuat Tuan Bisma marah. paham?" Dinar berbicara pelan pada seseorang bertubuh besar dan memakai masker dan topi.

__ADS_1


Dinar membayar seseorang untuk mengikuti Suaminya yang akan bertemu dengan Maura. Dinar mengambil kesempatan agar Suaminya bisa semakin jauh dari Maura.


Setelah menunggu. Dinar akhirnya mendapatkan vidio yang dia mau dengan baik dari seseorang yang dia bayar tadi.


Dinar tersenyum smirk menatap vidio Rama dan Maura.


'Bagus. lihat aja Maura hidup kamu gak akan bisa tenang setelah ini' Dinar tersenyum miring mengolok Maura.


Dinar pun pergi meninggalkan taman tempat Rama dan Maura bertemu.


Malam harinya. di jam yang sudah larut. Dinar mengirim vidio itu ke nomor Bisma dengan tujuan membuat Bisma marah pada Istrinya.


Dinar mendapatkan nomor handphone Bisma dari ponsel Rama secara diam-diam tanpa di ketahui oleh Rama.


FLASHBACK OF


***


Pagi-pagi sekali Maura sudah berkutat di dapur di temani oleh Lana asisten rumah tangga nya.


Seperti Biasa Maura selalu membuat kan bekal untuk Suaminya.


Bisma turun sudah dengan setelan jaz nya. Bisma menghampiri dapur dan melihat Istrinya yang sibuk riwa-riwi.


Bisma mengambil gelas dan mengambil air putih lalu meminumnya.


"Jangan terlalu banyak gerak. nanti capek, kamu gak lupa kan kalau kamu lagi hamil" sahut Bisma bernada dingin namun perhatian.


Setelah selesai menyiapkan bekal Maura segera menyusul Suaminya ke depan. karna Bisma sudah lebih dulu berjalan ke depan


"Mas!" Panggil Maura. hampir saja Maura telat karna Bisma hampir masuk mobil.


Bisma menoleh dan menutup kembali pintu mobil nya.


"Ini bekal nya. kamu kenapa sih Mas?"


Bisma mengerutkan Alisnya menatap Maura.


"Mas. apa aku ada salah sama kamu?. kenapa sikap kamu jadi dingin gini dari semalam. tolong Mas katakan. jangan bikin aku bingung!" ujar Maura. Perempuan itu tidak tahan dengan sikap dingin Suaminya .


Bisma menatap Istrinya lekat. "Nggak Papa. Mas Berangkat dulu ya" Bisma mengambil bekal dari tangan Istrinya dan membuka pintu mobil.


Maura melirik bekal itu dan menghela nafas.


"Mas!" Maura menahan lengan Bisma dan menatap sayu pada Suaminya.


"Nanti Mas temenin Check up ya" Ujar Bisma dengan lembut. pria itu langsung masuk mobil dan pergi meninggalkan Istrinya yang masih termenung


Maura menatap mobil Suaminya dengan perasaan yang tidak dapat di deskripsikan.

__ADS_1


Maura menghela nafas panjang lalu kembali masuk ke dalam rumah.


Maura menyibukkan diri di belakang memberi makan ikan-ikan di kolam.


Hatinya merasa sakit dengan sikap Suaminya yang berubah menjadi dingin sejak semalam.


Maura tetap mencoba berpikir positif. mungkin saja Suaminya sedang banyak masalah di kantor.


Maura baru teringat kalau dirinya akan pergi check up kandungan hari ini. Maura pun menghubungi dokter kandungan dan menentukan waktu untuk ke rumah sakit.


setelah menghubungi dokter. Maura kembali ke kamar nya.


mengistirahatkan tubuhnya sejenak sambil menunggu waktu untuk pergi ke rumah sakit.


Hari sudah siang. Maura pun bersiap untuk pergi. sebelum pergi Maura mengirimkan pesan pada Suaminya.


Bisma yang masih Sibuk menoleh pada ponsel nya yang berbunyi. notifikasi masuk pada ponsel nya. bisma melirik dan membaca dari layar.


[Mas. aku sudah membuat janji dengan dokter Nila jam 2 nanti] Istriku


Bisma hanya membacanya. lalu Bisma melirik kotak bekal dari istrinya di meja. dan melirik jam di pergelangan tangan nya. Pria itu menghela nafas berat. Bisma menutup laptop nya dan beranjak ke sopa membuka kotak bekal itu.


Terpampang lah Nasi yang sudah di desain epik oleh Maura. bentuk love dengan wajah tersenyum di buat sepenuh hati.


Bisma merasakan sesak di dadanya. pria itu memejamkan mata lalu mulai memakan sedikit demi sedikit makanan itu.


Tanpa terasa air mata jatuh dengan lancang dari ekor matanya.


Bisma mengusap ujung matanya pelan. hatinya begitu sakit namun bisma sekuat tenaga menahan agar tidak sampai pecah.


Bisma mengemasi kotak bekal itu. lalu pria itu segera pergi meninggalkan kantor untuk menjemput Istrinya di rumah.


Meski sedang marah dan kecewa terhadap Istrinya namun Bisma tetap bersikap lembut. Bisma terlalu mencintai Istrinya sampai dia rela tersakiti.


Maura Menunggu dengan gelisah. Suaminya belum juga datang menjemputnya. Maura melirik jam di pergelangan tangan nya sudah hampir setengah dua.


Maura menghela Nafas berat lalu beranjak.


Maura membuka pintu kamar dan turun ke bawah dengan perasaan kecewa.


Namun Maura menepis perasaan nya perempuan itu berusaha mandiri agar tidak manja dan bergantung pada Suaminya.


Maura keluar dan membuka pintu utama rumah dan mendapati Bisma sudah berdiri di ambang pintu. Maura mendongak menatap Suaminya. Bisma tersenyum tipis.


"Sudah siap?" tanya Bisma.


Maura mengangguk pelan. Maura masih speeclles dengan kemunculan Suaminya yang tiba-tiba.


"Kita berangkat sekarang!" ujar Bisma menarik pelan tangan Istrinya

__ADS_1


Maura pasrah saja mengikuti langkah lebar Suaminya ke mobil.


Maura dan Bisma meninggalkan rumah menuju rumah sakit!


__ADS_2