
Setelah menunggu satu jam lebih akhirnya Dokter mengumumkan Hasil laboratorium itu sudah keluar. Namun di luar dugaan, seperti yang sudah Dokter jelaskan bahwa setiap anak dan orangtua kandung pun banyak yang tidak memiliki golongan darah yang sama. Ketakutan dan kekhawatiran keluarga terutama Bisma akhirnya terjadi juga.
Bisma begitu lemas mendengar pernyataan dari Dokter bahwa hasil tes darah Bu Tati dan Pak Samsul tidak cocok dengan golongan darah Maura. Bisma semakin frustrasi dan hancur.
"Lalu kami harus bagaimana Dok. Istri saya butuh pertolongan sekarang!" Bisma dengan nafas tersengal memohon pada Dokter.
"Coba Cari orang yang mempunyai golongan darah yang sama dengan Pasien Pak. karena stok darah AB negatif di dini sangat terbatas dan saat ini kami sedang tidak ada stok" Ujar Dokter Rian penuh sesal.
Bisma kembali terduduk lemas, Mama Tania segera membantu tubuh sang Putra membawanya ke kursi.
"Kak Rama!" cletuk Alesha membuat semua orang menatap nya dengan penuh selidik.
Bisma menoleh pada Alesha menatap tajam pada Alesha.
"Bu. inget Gak. waktu Kak Maura kuliah jatuh dari tangga kehilangan banyak darah juga. dan Yang mendonorkan darah y itu Kak Rama. Iya kan Bu. darah Kak Rama cocok dengan darah kak Maura!" Alesha mengingat kembali kejadian 2 tahun yang lalu.
Bu Tati menatap tajam pada Alesha namun Ibu dua anak itu mengangguk membenarkan.
Mama Tania melirik Bisma dengan wajah Khawatir. Bisma bergeming dan berdiri mendekati Alesha dan ibu mertuanya.
"Benarkah itu?" Bisma dengan suara parau bertanya dengan perasaan yang sangat hancur.
"Kak Bisma, setidaknya Ada orang yang darah nya cocok dengan Kak Maura Kak" Alesha mencoba memberi pengertian pada Kakak ipar nya dengan Hati-hati. karena Alesha tahu pasti Bisma keberatan dengan sarannya. mengingat Rama adalah mantan kekasih Maura.
Bisma menghela nafas berat dan mengangguk lemah.
"Biar aku sendiri yang menghubunginya!" Finally Bisma pun harus menurunkan egonya demi keselamatan sang Istri.
Bisma ijin melipir agak menjauh dari semua keluarga untuk menghubungi Rama. dengan berat hati Bisma harus benar-benar rela mengijinkan sahabatnya mendonorkan darah untuk kedua kalinya untuk Maura. Bisma mengatur nafasnya sebelum benar-benar menghubungi Rama.
__ADS_1
Dengan yakin Bisma menelpon Rama dan secara kebetulan Rama langsung menjawab telpon dari Bisma.
"Ram. gue butuh bantuan lo sekarang. lo bisa datang ke rumah sakit sekarang kan?" Bisma langsung pada intinya dan Bisma pun menjelaskan kenapa dirinya menghubungi Rama atas alasan yang mendesak. Setelah menjelaskan panjang lebar pada Rama , Rama pun kaget dan langsung mengiyakan permintaan Bisma.
"Thank Ya Ram. gue tunggu!" ujar Bisma. lalu mematikan telepon dan kembali menghampiri keluarga nya yang menunggu di depan Ruang UGD.
beberapa menit berlalu. Bisma masih menunggu dengan gelisah kedatangan Rama yang tak kunjung datang. Bisma melongok ke arah koridor berharap Rama segera datang. Tidak lama kemudian Rama pun Datang dan langsung menghampiri Bisma dan juga keluarganya.
"Ram!" panggil Bisma sambil berdiri.
"Bisma" Rama menatap bingung pada Bisma.
"Ikutin Gue!" Bisma menginterupsi Rama untuk mengikutinya ke ruang laboratorium untuk segera di cek darah nya.
Semua orang masih menunggu dengan gelisah menanti hasil darah Rama apakah cocok atau tidak dengan darah Maura.
setelah hampir satu jam menunggu akhirnya dokter datang dengan membawa hasil tes laboratorium golongan darah nya Rama. Dokter itu mengatakan Darah Rama dan Maura memang cocok, Dokter langsung menginterupsi Rama untuk masuk ke ruang UGD untuk segera mendonorkan darah nya untuk Maura.
Semua Orang akhirnya bisa bernafas lega, akhirnya Darah Rama cocok dengan Maura. Bisma tersenyum kecut sambil menunduk lemah. Bisma merasa kalah dan sedih karena dirinya bahkan tidak bisa berbuat apa-apa di kala Istrinya sedang membutuhkannya. tapi justru mantan Kekasih Istrinya malah yang mendonorkan darah untuk Istrinya.
Papa Arga melihat raut wajah Bisma yang tidak semangat. Papa Arga seakan tahu perasaan putranya saat ini. Papa Arga menepuk-nepuk bahu Bisma untuk menguatkan.
"Tidak apa-apa Bisma. Darah yang mengalir di tubuh Istrimu memang dari mantan kekasih nya. tapi hati dan raganya adalah milik kamu. jangan khawatir!" Papa Arga meyakinkan Bisma sambil tersenyum tipis menguatkan sang Putra.
Bisma mendongak pada Sang Ayah dan mengangguk pasti.
"Makasih Pa" ucap Bisma lirih, dan Papa Arga hanya mengangguk.
Di Dalam ruangan UGD, Rama yang sudah berbaring di berangkar di samping berangkar Maura, Rama menatap lekat pada Maura yang memejamkan matanya. Rama merasa kasihan dan tidak tega melihat Maura harus kehilangan banyak darah saat melahirkan anak pertamanya.
__ADS_1
Rama merasakan sakit di hatinya melihat Wanita yang masih menempati hatinya itu terbaring lemah di berangkar. Rama menghela nafas panjang menatap sendu pada Maura.
"Cepatlah bangun Ra. Anak kamu butuh kamu, dia butuh belaian kasih sayang kamu Maura!" Rama menatap sendu pada Muara sambil bermonolog. berharap Maura mendengarnya.
"Ra, walau pun aku nggak akan bisa memilikimu lagi. tapi setidaknya ada darahku yang mengalir di tubuh mu, Hidup lah dengan baik dan selalu bahagia bersama orang yang mencintaimu saat ini, Maura perlu kamu tahu bahwa Aku masih Mencintaimu sampai detik ini!" gumam Rama lirih menatap lekat pada Maura.
Tidak lama kemudian dua dokter masuk bersama beberapa perawat yang akan membantu Dokter.
"Pak Rama sudah siap?" tanya Dokter Rian dengan tegas
"Siap Pak. lakukan Yang terbaik untuk Dia!" ujar Bisma menatap Dokter Rian dengan tatapan memohon lalu Rama melirik sekilas pada Maura.
Dokter Rian menangkap lain dari tatapan Rama pada Maura. Dokter Rian hanya tersenyum tipis lalu mengangguk pasti.
Proses transfusi darah pun di lakukan dengan sangat hati-hati tentunya. Para Dokter dan perawat yang bertugas melakukan tindakan dengan sangat teliti dah hati-hati. dua jam berlalu proses transfusi darah pun sudah berhasil di lakukan dengan baik atas kerjasama para medis dan tentunya atas kebaikan Rama yang sudah mau mendonorkan darah nya untuk Maura.
Rama saat ini masih belum sadarkan diri setelah di bius sebelum melakukan tindakan transfusi darah ke Maura. Maura pun masih memejamkan matanya dengan tenang.
Dokter menginterupsi Keduanya untuk di pindahkan ke ruang rawat yang berbeda.
Suster mendorong berangkar Maura dan Rama bersamaan keluar dari ruang UGD
Bisma dan semua orang langsung berdiri dan Bisma langsung menghampiri Istrinya yang akan di pindahkan ke ruang rawat VIP.
"Bagaimana prosesnya suster?" tanya Bisma dengan cemas.
"Alhamdulillah berjalan lancar Pak. kami akan membawa Ibu Maura dan Pak Rama ke ruang rawat dulu. Bapak dan yang lain bisa kesana nanti. kamar nya sebelahan ya Pak!" Ujar Salah satu suster menginterupsi.
Bisma melirik pada Rama yang juga memejamkan matanya. Bisma tersenyum tipis dan berterimakasih dalam hati pada Rama. kemudian Bisma mengangguk pada Suster itu!
__ADS_1