
Malam harinya Bisma mengajak Istrinya untuk duduk santai di balkon kamar nya setelah selesai makan malam.
Bisma dengan hati-hati menyampaikan keinginan orangtuanya untuk mengajak Istrinya Bulan madu besok sore.
Maura menatap pemandangan indah kelap kelip lampu di malam hari di sekitaran rumah nya.
Bisma mendekati Istrinya dan tersenyum tipis melihat Istrinya tersenyum sangat manis.
"Dek," panggil Bisma lirih.
Maura menoleh pada Suaminya.
"Apa?" Maura merasa aneh dengan panggilan baru dari suaminya itu.
"Sejak kapan kamu panggil aku Dek?" Sambung Maura merasa geli sendiri.
Bisma tersenyum kikuk,
"Ya biar lebih saling menghargai aja kan!" jawab Bisma benar adanya.
"Oke, Tadi mau ngomong apa Mas?" sahut Maura.
"Soal bulan madu kita!" Bisma tercekat menghela nafas berat.
"Kapan kita akan pergi?" Maura menyahut, perempuan itu menyadari gelagat Suaminya yang mungkin takut untuk bicara soal bulan madu, tapi Maura berusaha menetralkan suasana agar tidak terlalu kaku dan juga menghargai keinginan mertuanya.
Walaupun Maura sendiri tidak tahu apa yang akan di lakukan nya bersama Bisma selama mereka pergi bulan madu.
rasanya Aneh bagi Maura untuk melangkah lebih jauh lagi.
tapi perempuan itu tidak bisa memungkiri bahwa saat ini dirinya adalah seorang Istri dari seorang laki-laki yang bukan orang sembarangan.
Bisma mendongak menatap Istrinya tak percaya!
"Mas, kok bengong, jadi kapan kita akan pergi?" Tanya Maura sekali lagi.
Bisma mengedipkan matanya beberapa kali lalu pria itu dengan lantang menjawab "Besok sore"
"Oke, berapa hari Mas?" Maura dengan lembut menatap suaminya.
"Mungkin sekitar tiga atau empat hari" jawab Bisma.
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan packing sekarang, apa aja yang harus di bawa" Maura beranjak melangkah ke ruang ganti perempuan itu mengambil koper miliknya dan juga milik suaminya.
Bisma mengekor mengikuti Istrinya,
"Mana punya kamu Mas, biar aku tata sekalian" Maura melirik suaminya.
"Dek, kamu serius mau pergi besok?" Bisma masih tidak percaya dengan sikap Istrinya.
Maura tersenyum lalu berkata "Iya Mas, tunggu apa lagi, aku pikir memang seharusnya kita pergi untuk bulan madu seperti pasangan pengantin pada umum nya kan?" Ucap Maura masih dengan senyum manis nya .
Bisma menekan bibir nya, pria itu bersorak dalam hati, apa Itu artinya Maura sudah menerima dirinya sebagai suami sungguhan, entah lah yang jelas Bisma sangat bahagia saat ini.
Bisma Tersenyum lalu bangkit dan mengambil beberapa helai pakaian dirinya dan di berikan pada Istrinya untuk di tata ke dalam koper.
Bisma kembali berjongkok di hadapan Istrinya, memperhatikan gerak gerik Istrinya dengan Intens.
Maura sadar sedang di perhatikan oleh Suaminya.
"Mas, kenapa ngelihatin aku terus sih?" Maura menatap Suaminya.
"Makasih Maura, entah itu tulus atau tidak dari hatimu, tapi yang jelas aku sangat bahagia sekarang!" Bisma tersenyum menatap wajah Istrinya intens
Selesai packing baju Maura dan Bisma memutuskan untuk istirahat karna sudah malam, Karna keduanya belum juga menemukan kantuk nya, Mereka memilih untuk mengobrol sebelum tidur.
Bisma menceritakan kejadian tadi siang bersama kedua sahabat nya saat makan siang pada Maura,
Bisma tertawa geli mengingat dirinya di ledek oleh kedua sahabat nya karna membawa bekal .
"Terus kamu malu gitu Mas?" Maura menyorot tajam Suaminya.
"Ya enggak lah, malah Mas seneng udah bikin mereka Iri" Jawab Bisma terkekeh.
Maura tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putih nya.
"Nanti aku buatkan bekal lagi ya kalau ke kantor, atau Mas mau aku bawain bekal makan siang ke kantor?" Ucap Maura.
"Eh enggak ding, bawa bekal dari rumah aja deh!" Ralat Maura, perempuan itu ingat dirinya adalah mantan kariawan Suaminya, apa jadinya jika kariawan yang lain melihat dirinya berkeliaran di kantor .
"Loh kenapa, gak apa-apa sayang, Mas malah seneng kalau kamu ke kantor!" kata Bisma berharap.
"Malu Mas!" sahut Maura
__ADS_1
"Malu kenapa?" tanya Bisma mengerutkan alisnya.
"Kamu lupa kalau kita itu mantan bos dan kariawan?" Jawab Maura.
"Ya terus, apa masalah nya?"
"Ya gak enak lah kalau kariawan kamu pada lihat aku datang ke ruangan kamu bawa bekal, duh gak kebayang deh!" Maura membayangkan dirinya akan di cemooh kariawan kantor kalau mereka tahu dirinya menikah dengan Bos nya sendiri.
"Gak akan ada yang berani gosipin kamu sayang, tenang aja! Bisma merangkup kedua bahu Istrinya dengan gemas.
Maura menatap mata Suaminya, lalu mengangguk.
"Tapi lain kali aja ya kalau aku udah siap menampakan diri" ucap Maura sambil terkekeh.
Bisma tersenyum kecil, "Iya iya senyaman nya kamu aja oke!"
Maura tersenyum dan berhambur ke pelukan suaminya tanpa sadar. Bisma tersenyum dan membalas pelukan Istrinya.
'Semoga kamu bisa menerima pernikahan kita sepenuh nya Maura. Aku mencintaimu!' Batin Bisma , pria itu mengelus rambut indah Istrinya dengan sayang.
Malam semakin larut keduanya merebahkan tubuh nya pada posisi masing-masing, Tertidur di ranjang yang sama dan selimut yang sama, mereka tidur lelap dengan saling memeluk saling memberi kehangatan satu sama lain.
***
Rama yang sekarang sudah berada di jakarta dan tinggal bersama kedua orangtunya,
laki-laki itu duduk di kursi balkon kamar nya, Rama melamun sendirian di temani dengan secangkir kopi dan sebungkus rokok. beberapa batang sudah Rama habis kan.
pikiran nya mencoba tenang namun hati yang masih terpaut pada gadis masa lalu nya sulit untuk Rama berpikir jernih.
bahkan Rama sangat sadar kalau dirinya sudah menyakiti istrinya secara tidak langsung.
"Aaakkhh" Rama mengacak rambut nya frustrasi.
"Kenapa susah banget buat aku lupain kamu Maura, Dimana kamu Ra, aku merindukan mu, aku sadar Rinduku ini salah tapi hatiku gak bisa membohongi kalau aku masih mencintai kamu Maura!" Rama dengan frustrasi mengungkapkan perasaan nya pada foto Maura yang terpampang di layar ponsel nya.
namun kemudian Rama tersadar kalau dia memiliki seorang putra dari perempuan lain, anak yang tidak berdosa yang harus ikut tersakiti oleh keegoisan nya.
Rama kembali mengacak Rambutnya dengan brutal, pria itu benar-benar hampir gila memikirkan jalan kehidupan nya yang seakan sedang di permainkan oleh takdir yang tidak berpihak kepadanya.
sampai akhirnya Rama merasa lelah sendiri, Laki-laki tampan berusia 26 tahun Itu kembali masuk ke kamar dan merebahkan tubuh nya yang lelah, Rama tertidur dengan sendirinya dengan pikiran yang bercabang.
__ADS_1