
Bisma langsung masuk lagi ke ruang meeting sambil menunggu Arfan dan Rama datang. hari ini Mereka ada rapat pembahasan proferti di jogja.
tidak lama kemudian yang di tunggu pun datang. Arfan dan Rama langsung duduk dan membungkuk sopan pada semua orang yang hadir di ruang meeting itu.
Semua orang fokus menatap layar monitor dan mendengarkan penjelasan presentasi yang di bawakan langsung oleh sang Ceo Marga Corp yaitu Bisma sendiri!
Setelah di rasa cukup. dan semua orang mengajukan pendapat nya. Karna sebagian dari perusahaan lain tidak bisa mewakili untuk memantau proferti di luar kota dengan alasan yg hampir sama semua yaitu berat meninggalkan keluarga jika berbulan-bulan di sana.
begitupun juga dengan Bisma dan Rama. mereka tidak mungkin bisa meninggalkan Keluarga nya. apalagi Bisma, mengingat Istrinya yang sedang hamil.
Akhirnya Arfan lah yang mengalah untuk mewakili pergi jogja memantau salah satu perusahaan hasil kerja sama dengan 5 perusahaan besar. karna Arfan lah yang memiliki saham lebih besar di proferti itu.
Meeting selesai. Bisma langsung menutup Meeting dengan salam hormat pada semua Ceo yang hadir di sana.
Semua orang membubarkan diri meninggalkan Ruangan meeting itu. hanya tersisa Bisma, Arfan dan Rama yang masih di sana.
"Ya sudah kita juga pergi ya Bis" Arfan berdiri dan menyalami Bisma. kini mereka sudah tidak seformal tadi saat meeting.
"Oke!" jawab Bisma sambil berdiri
Rama ikut berdiri dan melirik Bisma sekilas.
"Bisma. gue mau bicara berdua sama lo. sebentar saja!" Rama dengan hati-hati meminta waktu pada Bisma.
Bisma dan Arfan menatap Rama bersamaan.
"Fan lo pulang duluan aja Nggak apa-apa kan?" Rama menatap Arfan.
Arfan mengangguk-anggukkan kepalanya. lalu pergi setelah berpamitan pada Bisma.
"Duduk lah!" Bisma masih dengan nada dingin dan wajah datar.
Bisma dan Rama pun duduk kembali. suasana menjadi tegang ketika Bisma tanpa menoleh sedikitpun pada Rama.
"Bisma. gue mau minta ma'af sama lo" cetus Rama menatap dalam pada Bisma.
Bisma menoleh dengan tatapan tajam.
"Bis. gue tahu gue salah. dan tindakan Gue sama Maura memang gak bisa di ma'afkan. Lo pantas marah dan benci sama Gue Bis!" ujar Rama menyesali perbuatannya tempo hari
Bisma menahan diri agar tidak emosi. Bisma ingin mendengarkan dulu apa yang akan di bicarakan oleh sahabatnya itu.
"Bisma. Gue sama Maura memang ada hubungan khusus. tapi itu masa lalu Bis. sebelum lo kenal sama Maura. Gue gak bisa cerita lebih detail tentang ini Bis. karna itu buat Gue selalu merasa sakit dan rasa bersalah sama Istri lo terus menghantui Gue!" mata Rama sudah berkaca-kaca menahan air mata yang hampir jatuh. Rama merasa begitu sakit dalam hatinya. tapi Rama berusaha kuat dan meyakinkan Bisma kalau dirinya akan melepaskan Maura untuk Bisma.
Bisma menatap Rama. Bisma pun berkaca-kaca ketika Rama juga menatap nya.
__ADS_1
Semarah-marah nya Bisma pada sahabatnya namun Hatinya tetap tidak akan bisa membenci sahabatnya sendiri. Bisma hanya merasa kesal dan kecewa.
Bisma mencoba mengerti dengan keadaan yang sudah terjadi.
Bisma pun mengangguk pelan dan tersenyum tipis pada Rama.
"Gue juga minta Ma'af Ram. ma'afin gue . gue terlalu emosi dan cemburu!" Bisma menatap Rama dengan tatapan sendu penuh penyesalan.
"Gue yang salah Bis. wajar saja kalau lo semarah itu sama Gue." ujar Rama
"Iya. Sorry ya Ram. gue Nggak tahu kalau hubungan lo sama Istri gue sedalam itu di masa lalu. tapi sekarang lo tahu kalau Maura itu Istri gue. gue sangat mencintainya Ram!" Bisma terang-terangan mengatakan tentang perasaan nya.
Lagi-lagi Rama merasa tersisihkan. ada rasa tidak terima namun Rama mencoba untuk menepisnya. Rama tidak ingin menjadi benalu dalam rumah tangga Sahabatnya.
"Gue tahu itu Bis. jadi tolong jaga dia. cintai dia dan jangan pernah sakiti dia. jangan sampai lo menyesal nantinya kayak Gue!" Rama menunduk dan menghela nafas berat.
Bisma menepuk punggung Rama dan Rama menoleh pada Bisma.
"Lo tahu Gue orang yang seperti apa kan. Gue gak akan ngebiarin wanita yang Gue cintai terluka. apa lagi Maura Istri Gue dia calon Ibu dari anak Gue. pasti Gue jaga dengan baik Ram!" Bisma menatap dalam pada Rama
Rama tersenyum kecut. kali ini Rama benar-benar harus merelakan wanita yang masih di cintainya hidup bahagia bersama sahabatnya!
"Sekarang kita Baikan kan?" Rama menatap dalam pada Bisma.
Bisma memejamkan matanya sambil menekan bibir nya dan mengangguk pasti.
"Ya udah. Gue balik yah" Rama berdiri dan mengambil ponsel nya yang tergeletak di meja.
"Oke. Gue juga mau pulang kok!" Ujar Bisma.
Mereka keluar bersama dari ruang Meeting dan memisahkan diri setelah sampai di depan ruangan Bisma
Rama langsung turun ke bawah dan Bisma masuk terlebih dulu ke ruangan nya untuk membereskan sisa pekerjaan nya dan mengambil Kunci mobil nya.
Sementara Maura yang sudah meninggalkan kantor Suaminya sejak tadi. Maura tidak langsung pulang ke rumah melainkan Mampir dulu ke Galeri Foto dan lukisan seniman yang terkenal bagus di kota itu.
Maura meminta supir Suaminya untuk menurunkannya di depan Galeri itu dan turun dari mobil setelah menggumamkan kata terimakasih.
Maura Masuk dan langsung di sambut oleh pelayan Galeri dengan Ramah.
'Sudah lama sekali aku nggak kesini' Maura mengamati lukisan-lukisan yang berjejer rapi di dinding.
"Maura" Panggil Gerry yang kebetulan melihat Maura di Galeri nya.
Maura menoleh dan tersenyum. perempuan itu menghampiri Gerry yang berdiri di dekat salah satu lukisan besar bersama seorang perempuan cantik. perempuan itu adalah Irene yang kebetulan sedang berkunjung ke Galeri milik Gerry, karna hari ini memang ada peluncuran lukisan terbarunya.
__ADS_1
"Kak Gerry. di sini juga?" tanya Maura. Maura melirik Irene dan mengangguk sopan sambil tersenyum tipis.
"Iya. kan ini Galeri ku Ra. kamu sendirian?" tanya Gerry celingukan ke belakang Maura.
"Iya kak. tadi habis dari kantor nya Mas Bisma langsung mampir kesini. udah lama aku nggak kesini. banyak yang berubah ya, dan ternyata Galeri ini milik kak Gerry ya!" ujar Maura
Irene kaget saat Maura menyebutkan nama Bisma. Irene melirik Gerry meminta penjelasan. sementara Gerry tersenyum kikuk dan bingung. bagaimana caranya menjelaskan pada dua wanita di depan nya.
"Bisma kamu bilang?" Irene menatap Maura dengan tatapan tajam.
Maura mengerutkan alisnya menatap balik pada Irene.
"Eu-emm. Irene. ini Maura Istrinya Bisma!" tidak ada pilihan lain Gerry pun mengatakan yang sebenernya kalau Maura adalah Istrinya Bisma.
"Apa!" pekik Irene begitu shok menatap Gerry tak percaya.
"Maura. kak!" Maura masih berpikir positif dengan pikirannya. perempuan itu mengulurkan tangan nya pada Irene namun Irene membuang muka sinis.
'Jadi ini wanita beruntung itu yang sudah membuat Bisma sebucin itu. penampilannya biasa aja' Irene mencibir Maura dalam hati.
"Ra. kamu kesini mau lihat-lihat lukisan aku kan?. ayo aku tunjukkan lukisan yang lainnya yang lebih bagus dari ini!" Gerry merasakan aura mencekam di antara Mantan kekasih dan Istri dari sahabat nya itu. Gerry pun segera mengajak Maura untuk menjauh dari Irene.
Maura mengangguk dan mengikuti langkah Gerry dari belakang.
"Jadi kamu sering kesini Ra. kok aku gak pernah tahu ya. hehe!" Gerry menatap kagum pada Maura. Gerry akui kalau Istri sahabatnya ini memang beda dari wanita lain. Maura terlihat cantik natural dan apa adanya.
"Iya kak. dulu waktu kuliah aku sering kesini sama temen-temen. tapi semenjak aku kerja kita jadi jarang kesini. dan hari ini pertama kalinya aku kesini lagi setelah sekian lama!" jawab Maura sambil terkekeh kecil.
Gerry tersenyum simpul menatap Maura.
"Udah lama banget dong ya. dan selama itu aku gak pernah ketemu kamu di sini" Gerry terkekeh merasa lucu.
Maura tersenyum menatap Gerry "Oh iya kak. cewek itu siapa ya. dia kenal sama Mas Bisma?" Maura menatap serius pada Gerry
Gerry terdiam sejenak. pria itu bingung bagaimana menjelaskan nya pada Maura. Gerry pikir setelah dirinya mengajak Maura menjauh dari Irene Maura akan lupa. tapi ternyata Istri dari sahabatnya itu masih penasaran!
Gerry menghela nafas berat. "Dia Irene. mantannya Bisma. Tapi kamu tenang aja Ra. mereka putus udah lama kok dari jaman kuliah. dari sebelum kalian kenal. percayalah Bisma sangat mencintai kamu Ra!" Gerry segera menjelaskan tentang Irene dengan cepat dan hati-hati menatap serius pada Maura.
Maura justru tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Iya kak. aku tahu kok. kalau Mas Bisma mencintaiku. dan Mas Bisma juga sudah cerita tentang kak Irene. aku cuma mau memastikan aja" Maura dengan tenang menanggapi dan tersenyum tipis.
Gerry akhirnya bisa bernafas lega. pria itu menghela nafas panjang
"Syukurlah. aku tahu Bisma tidak akan pernah menyembunyikan apapun dari kamu!" Gerry sangat mengenal karakter Bisma. Bisma seorang sahabat yang selalu terbuka termasuk tentang percintaan nya kala itu. berbanding terbalik dengan Rama. Rama justru lebih tertutup tentang percintaan nya pada semua sahabatnya!
__ADS_1
"Rama. kamu datang juga?" Suara Irene terdengar lantang.
Maura dan Gerry pun menoleh ke arah dimana Irene dan Rama berdiri. Rama yang baru saja datang belum menyadari keberadaan Maura dan Gerry yang memperhatikannya dari jarak sekitar satu meter saja dari tempatnya berdiri bersama Irene!!