Rindu yang Salah

Rindu yang Salah
Bab 76


__ADS_3

Dokter Nila segera memberikan Bayi Bisma dan Maura ke perawat untuk di bersihkan. Sementara Dokter Nila dan perawat satunya lagi mencoba meneliti keadaan Maura yang tiba-tiba Pingsan.


Dokter Nila segera meminta Perawat untuk memindahkan Maura ke ruang UGD untuk pemeriksaan lebih lanjut pada Maura.


Bisma dengan wajah yang sudah pucat pasi menangis terisak sambil memanggil-manggil nama Maura, Bisma mengikuti dan ikut mendorong berangkar Maura yang akan di pindahkan ke ruang UGD, Unit gawat darurat.


"Sayang, please bangun Dek. jangan buat Mas takut gini dong Sayang!" Bisma memohon sambil terisak pilu keluar dari ruang Bersalin.


Semua orang yang menunggu Maura sejak tadi di luar pun begitu kaget dan kembali panik saat melihat Maura di dorong dengan wajah yang sudah pucat memejamkan mata. Bu Tati dan yang lainnya mendekati berangkar dan melihat kondisi Maura yang sangat lemah saat ini membuat Ibu Maura seketika lemas.


"Dokter, Anak saya kenapa?" Bu Tati menatap sendu pada Dokter Nila.


Sedangkan Mama Tania melirik Bisma dengan tatapan bingung penuh tanda tanya, Mama Tania seakan merasakan betapa terpuruk nya putra semata wayangnya dengan keadaan Istrinya saat ini. Bahkan Bisma terlihat begitu terpukul dengan wajah yang sembab dan penampilan yang berantakan!


"Mohon jangan panik ya Bu. Pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu pasien sadar kembali. Mohon tunggu di sini, atau Ada yang menunggu di ruang tunggu di UGD. karena Bayi ibu Maura masih di bersihkan oleh Suster!" Dokter Nila menginterupsi semua orang agar tetap tenang dan tidak panik.


Akhirnya Bisma tetap mengikuti dan mengantar Maura sampai ke ruang UGD,


"Mohon tunggu di luar ya Pak" Suster menahan Bisma untuk tidak ikut masuk.


Bisma pun dengan lemas menurut dan duduk dengan gelisah di kursi tunggu. Mama Tania yang sejak tadi merasa Khawatir dengan sang Putra pun menyusul Bisma dan mencoba untuk memberi kekuatan pada Bisma. Bisma langsung berhambur ke pelukan sang Ibu menumpahkan semua kesedihannya, Bisma benar-benar menangis tersedu di pelukan sang Ibu, Mama Tania pun mengusap lembut punggung putranya dan meneteskan Air matanya namun langsung Ia usap pelan demi menguatkan sang Putra.


"Ma. harusnya Aku yang ada di dalam Ma. bukan Maura!"ujar Bisma dengan suara parau sambil menangis terisak.

__ADS_1


"Bisma, dengar Mama Nak. kamu yang kuat. jangan gini Bisma Mama mohon. Maura pasti sembuh. dan kalian bisa pulang bersama Bayi kalian. Bisma ingat Nak. Bayi kamu masih membutuhkan semangat kamu Bisma!" Mama Tania tidak tahan untuk tidak menangis. Ibu satu anak itu tetap memberi kekuatan pada Bisma dengan sekuat hati memeluk sang putra dengan pilu.


Bisma pun sedikit lebih tenang ketika Mama Tania menyebutkan Bayinya. Bisma sadar sekarang dirinya sudah menjadi seorang Ayah dan mempunyai tanggung jawab untuk sang putra, Bisma mengusap air matanya menatap lekat pada Mama Tania dengan tatapan sendu. Bahkan Bisma sudah tidak perduli lagi dengan penampilannya saat ini yang begitu berantakan!


"Dimana anakku Ma?" Bisma sampai melupakan bayinya yang baru saja di lahirkan oleh wanita yang di cintainya. saking panik nya Bisma hanya fokus pada Maura karena takut kehilangan Istrinya.


"Mama mohon tenang Bisma" Mama Tania menatap dalam pada Bisma yang masih di landa panik.


Semua keluarga pun menyusul menghampiri Bisma dan Mama Tania di depan Ruang UGD. termasuk Alesha yang baru saja datang karena langsung di kabari oleh Asisten Robby mengabarkan langsung keadaan Maura sekarang. Alesha langsung bergegas naik taxi untuk sampai ke rumah sakit malam itu juga.


"Kak Bisma. Bayinya Sudah di bawa ke ruang khusus Bayi baru lahir kak. Kakak bisa lihat kesana kak" Ujar Alesha menatap kasihan pada kakak ipar nya. Kini Alesha sadar satu hal bahwa Bisma begitu sangat mencintai Kakaknya. Begitu tulus nya seorang Ceo yang terpandang kaya raya dan tampan itu mencintai Sang kakak yang hanya dari kalangan biasa


Alesha tersenyum dalam hati merasa bersyukur karena sang Kakak berada dalam pelukan orang yang tepat.


Bisma langsung berdiri dan hendak menemui Bayinya.


"Iya Nak. Ayo Mama Temenin!" Mama tania langsung berdiri menggandeng lengan Bisma untuk melihat Bayinya. Mama Tania selalu memahami apapun keadaan Sang putra dengan begitu peka nya.


"Tolong jaga Istriku sebentar" Bisma menatap satu persatu orang yang berada di sana dengan tatapan sendu.


Semua orang pun mengangguk pasti pada Bisma.


Bisma dan Mama Tania berjalan menelusuri koridor rumah sakit untuk sampai ke ruangan khusus bayi. Kini Bisma dan Mama Tania sudah berada di depan ruangan Bayi. namun Bisma tidak bisa langsung masuk begitu saja tanpa seijin dokter atas suster yang bertugas.

__ADS_1


Bisma dan Mama Tania hanya bisa melihat dari kaca jendela yang besar dari luar menatap Bayi mungil yang baru saja di lahirkan oleh sang Ibu. Bisma menaruh telapak tangannya pada kaca jendela seakan dia ingin menyentuh sang buah hati dari kejauhan dengan wajah yang sembab dan bibir bergetar. Bisma kembali meneteskan air matanya menatap dalam pada Sang putra.


"Sayang. ma'afkan Daddy yang tidak bisa menjaga Mommy dengan baik, jadilah anak yang sehat dan kuat Nak" Bisma terisak menatap sendu pada Bayi yang bergerak-gerak kecil dari kejauhan.


Mama Tania mengusap punggung Bisma dengan lembut, Mama Tania terus memberi kekuatan untuk Putranya. dengan perasaan yang sakit melihat Bisma yang terpuruk seperti ini. Mama Tania bahkan hampir tidak pernah melihat Bisma menangis selama dia tumbuh menjadi pria dewasa. namun malam ini Mama Tania menyaksikan sendiri dengan kepala matanya melihat Bisma menangis pilu begitu hancur takut kehilangan Istrinya. Mama Tania melihat betapa tulusnya Bisma mencintai Maura.


Mama Tania menghela nafas berat dan mengajak Bisma untuk kembali ke ruang UGD. Bisma pun menoleh pada Mama Tania dan mengusap air matanya pelan lalu mengangguk.


Dokter Keluar dari ruang UGD bersamaan pada saat Bisma melangkah semakin dekat.


"Keluarga Ibu Maura!" Dokter itu memanggil keluarga inti dari Maura, menatap semua orang yang berada di sana.


"Iya Dok. Saya Suaminya!" Bisma langsung berjalan cepat menghampiri Dokter itu dengan wajah cemas.


"Begini Pak. Ibu Maura kehilangan banyak darah saat melahirkan. dan juga kurang cairan. jadi kami akan melakukan transfusi darah untuk pasien. di sini siapa yang mempunyai golongan darah yang sama dengan Pasien?" jelaskan dokter menatap satu persatu semua orang yang berada di sana.


"Kami orangtuanya Dok. pasti salah satu dari kami ada yang cocok dengan putri kami" ujar Bu Tati dengan yakin mengatakan darah nya akan cocok untuk Maura. karena dia adalah ibu kandung nya.


"Baik Bu. pak, silahkan ikuti suster untuk di cek apakah darah Ibu dan Bapak cocok atau tidak dengan pasien. karena setiap anak dan orangtua kandung pun tidak mesti bergolongan darah yang sama. tapi coba kita cek dulu ya Bu" jelaskan Dokter Rian yang menangani Maura.


Semua orang mengangguk membenarkan penjelasan Dokter. Bu Tati dan Pak Samsul pun mengikuti suster untuk di cek laboratorium terlebih dulu.


Semua orang kembali duduk gelisah menunggu hasil laboratorium Orangtua Maura. mereka tentu berharap salah satu dari orangtua Maura ada yang cocok darah nya dengan darah Maura.

__ADS_1


Terutama Bisma. Bisma benar-benar merasa hancur saat ini. kenapa Momen bahagia dan sedih datang secara bersamaan sekaligus. hatinya merasa benar-benar sakit dan hancur. Bisma mengusap kasar Wajahnya dan mengacak rambutnya menyandarkan punggung nya pada Tembok.


Mama Tania tetap mendampingi sang putra dan memberi kekuatan agar Bisma bisa tenang. Semua orang menatap kasihan pada Bisma namun mereka memilih untuk Diam saja!


__ADS_2