
Setelah proses yang lumayan menguras waktu dan tenaga Akhirnya Maura di pindahkan ke ruang rawat VIP. Bisma dan keluarga pun bergegas mengikuti Suster yang mendorong berangkar Maura dan Rama yang akan segera menempati kamar rawat masing-masing. Kamar rawat mereka terletak bersebelahan.
Bisma tentu dengan setia menemani Istrinya, Bisma menunggu dengan sabar sampai Maura sadar.
Sementara semua orang menunggu di luar. namun Alesha dan Asisten Robby ijin untuk pulang lebih dulu karena Alesha ada jadwal kuliah pagi ini,
Begitu juga dengan Papa Arga yang harus ke kantor. Sebagai komisaris papa Arga harus menggantikan pekerjaan Bisma untuk beberapa hari ke depan sampai Maura dan bayinya di perbolehkan pulang ke rumah.
"Sayang. Bangun Dek. Mas kangen banget sama senyum kamu. Anak kita sudah lahir dengan sehat, dia sangat tampan Sayang!" gumam Bisma lirih. Bisma menaruh kepalanya di atas berangkar menatap sendu pada sang Istri yang masih memejamkan matanya.
Tanpa Bisma sadari Maura telah menggerakan jari jemarinya dan perlahan membuka matanya sayup-sayup menatap Bisma.
Bisma yang melihat Maura membuka mata langsung beringsut kaget dan menatap tak percaya pada Maura.
"Sayang!" Bisma langsung berdiri dan memanggil dokter dengan panik dan merasa lega secara bersamaan.
"Dokter Istri saya sudah sadar" Ujar Bisma setelah Dokter masuk ke ruangan Maura.
"Tenang ya Pak. kami akan memeriksa pasien" Dokter itu menenangkan Bisma.
Bisma pun menurut dan mempersilahkan Dokter untuk mengecek keadaan Maura. Dokter mengatakan Maura sudah lebih baik dari sebelumnya hanya perlu di rawat untuk beberapa hari sampai pulih. Setelah selesai pemeriksaan, Dokter pun pamit keluar,
"Mas!" panggil Maura lirih
"Iya Sayang. Mas di sini!" Bisma mendekati Maura sambil tersenyum lega.
"Anak kita mana Mas?" Maura meraih tangan Bisma dengan lemah.
"Ada sayang, dia di ruang khusus Bayi. Kamu istirahat saja dulu ya. kalau sudah bisa menyusui nanti anak kita akan di bawa kesini oleh suster!" Ujar Bisma
Maura pun mengangguk pelan menatap Bisma.
"Sayang. cepat sehat ya. ma'afkan Mas yang nggak bisa jadi suami terbaik untuk kamu!" ujar Bisma menatap sendu pada Maura.
Maura mengerutkan alisnya menatap Bisma dengan tatapan bingung.
"Kenapa Mas ngomong gitu?" tanya Maura
__ADS_1
"Karena, di saat kamu butuh donor darah, Mas nggak bisa mendonorkan darah Mas buat kamu, karena darah Mas nggak cocok sama darah kamu Sayang!" Bisma menatap lekat penuh penyesalan pada Maura.
Maura mengusap lembut punggung tangan Bisma dan tersenyum tipis menatap suaminya.
"Lalu siapa yang sudah mendonorkan darahnya untukku Mas?" Maura sudah pasti tidak akan mengira kalau yang sudah mendonorkan darah nya adalah orangtuanya, karena Maura sendiri tahu darah orangtuanya tidak cocok dengan golongan darahnya.
Bisma menghela nafas berat dan menatap Maura dengan tatapan sendu.
"Rama yang sudah mendonorkan darah nya untuk kamu sayang" Jawab Bisma sambil menunduk lesu.
Maura bergeming dan tersenyum kecut. Maura sudah menduga pasti Rama yang akan mendonorkan darah nya lagi. Maura merasa seperti Dejavu, perempuan itu merasa tidak enak hati pada Suaminya. dua kali kehilangan banyak darah dan dua kali juga orang yang sama telah mendonorkan darah nya untuknya.
"Ma'afin Mas Dek!" Bisma mengangkat wajah nya menatap sendu pada Maura.
Maura dengan cepat menggeleng dan tersenyum pada Bisma.
"Nggak pa-pa Mas. bagiku kamu sudah menjadi Suami yang baik dan hebat. terimakasih selalu siaga mendampingiku selama aku berada di masa sulit mengandung dan melahirkan anak kita" Ujar Maura tersenyum sendu sambil mengelus pipi Bisma dengan tatapan penuh arti.
Bisma pun tersenyum dan tanpa terasa laki-laki berusia 27 tahun itu meneteskan Air matanya. Maura merentangkan kedua tangannya menginterupsi Bisma untuk berhambur ke pelukannya, Bisma pun langsung memeluk Maura dengan penuh perasaan yang mengharu biru.
Pagi sudah hampir siang dan matahari sudah meninggi. Bisma pamit untuk pergi sarapan pada Maura. dan bergantian dengan Mama Tania juga Bu Tati yang menjaga Maura.
"Udah enakkan kok Ma, makasih ya" jawab Maura menatap sang Ibu mertua dengan tulus.
"Sama-sama Sayang, sekarang Istirahat ya" ujar Mama Tania.
"Ra, sebentar lagi anak kamu akan di bawa kesini sama suster. jadi Istirahat aja dulu ya Nak, biar tenaga kamu nggak terkuras saat Anak kamu minta mimik" Ujar Bu Tati menasehati putrinya
Mama Tania mengangguk membenarkan, Maura pun mengangguk mengiyakan. perempuan yang baru saja mendapat gelar seorang Ibu muda itu pun beristirahat sejenak sebelum sang Buah hati di antarkan oleh suster untuk dia peluk dan di susui.
Bisma yang habis sarapan dan berganti pakaian kembali lagi ke ruangan sang Istri. Bisma membuka handle pintu dan tersenyum pada Maura yang ternyata sedang beristirahat namun Maura tidak tertidur. Maura membalas tersenyum pada Bisma.
"Bisma kayaknya Mama sama Bu Tati harus pulang dulu deh. kita perlu mandi dan ganti baju, iya kan Bu!" Mama Tania melirik pada Besannya dan Bu Tati mengangguk setuju.
"Ya sudah Mama sama Ibu pulang aja nggak pa-pa kok!" ujar Bisma
"Nanti sore kita kesini lagi kok. jaga Istrimu ya, sebentar lagi suster akan bawa bayi kalian kesini. kalau kamu merasa kerepotan kamu telpon Mama ya" Mama Tania menyodorkan tangannya pada Bisma dan Bisma mencium punggung tangan Mamanya dan Mertuanya.
__ADS_1
Mama Tania dan Bu Tati mendekati Maura dan menginterupsi Maura memberi nasehat dan ultimatun Untuk menyusui sang Buah hati ketika tidak ada para orangtua di samping nya. Dua wanita paruh baya itu pun memberi saran pada pasangan orangtua baru itu cara ampuh untuk memperlancar dan mempercepat keluar nya ASI.
Mama Tania melirik Bisma dengan tatapan menyelidik. Bisma yang di tatap intens oleh sang Ibu, laki-laki itu memalingkan wajahnya. tentu saja Bisma merasa malu.
Setelah berbincang dan memberi nasehat pada Maura dan Bisma. Dua wanita paruh baya itu pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Tidak lama kemudian suster masuk dengan membawa Bayi Maura dan Bisma dalam gendongan nya. Suster Itu menginterupsi Maura untuk segera memberi ASI Exlusif pada Bayinya.
Untuk pertama kalinya Maura menyusui secara langsung Bayi mungil itu, Maura benar-benar merasa sangat bahagia dan bersyukur telah melewati masa sulit selama persalinan. Maura dan Bisma menatap kagum pada Ketampanan sang buah hati. Mereka saling melirik satu sama lain dan saling melempar senyum bahagia.
Suster yang sejak tadi memperhatikan Maura dan Bisma ikut merasakan kebahagiaan mereka dengan hadirnya Buah hati di tengah-tengah rumah tangganya. Suster itu tersenyum simpul kemudian pamit undur diri dan menyerahkan Bayi itu pada orangtuanya.
"Kalau butuh apa-apa bisa langsung pakai micropon nya untuk memanggil dokter atau suster ya Pak" ujar Suster itu
"Baik Suster, terimakasih" jawab Bisma.
"Terimakasih Suster!" ucap Maura sambil tersenyum pada suster itu.
"Sama-sama Pak. Bu. Saya Permisi!" Suster itu mengangguk dan tersenyum tipis lalu beranjak keluar dari ruangan Maura.
"Sayang Dia lucu banget ya" Bisma menoel pipi Bayi mungil yang sedang menyusu itu dengan gemas sambil tersenyum.
"Mas jangan di gituin. pipi nya masih merah!" ujar Maura menatap tajam Bisma.
Bisma terkekeh dan mengusap lembut kepala sang Istri, Laki-laki itu mencium pucuk kepala Maura dengan Sayang.
Bisma memandangi wajah Anaknya dengan penuh haru. Bisma benar-benar merasakan kebahagiaan yang berkali-kali lipat, Bisma melirik sang Istri yang juga sedang memandangi wajah Bayinya dengan gemas. Bisma bertekad dalam hati kalau dirinya akan selalu memberikan kebahagiaan untuk Anak dan Istrinya apapun yang terjadi Bisma akan selalu mengutamakan Maura dan Bayinya. Bisma tersenyum simpul menatap Istri dan Buah hatinya yang memejamkan mata setelah kenyang menyusu pada sang Ibu.
Maura menoleh dan tersenyum pada Bisma.
"Mas Mau kamu kasih nama siapa anak kita?" ujar Maura menatap lekat pada Bisma.
"Mmmm, Gimana kalau Bima. Bisma dan Maura, untuk nama panjang nya nanti kita cari yang lebih bagus lagi kalau sudah pulang ke rumah ya. panggil saja dia Bima untuk sementara!" ujar Bisma
Maura mengangguk setuju dan menyerahkan Baby Bima ke Ayahnya untuk di tidurkan ke keranjang bayi. namun pada saat Bisma akan mengambil alih Baby Bima, Ayah baru itu merasa kebingungan dan takut untuk menggendong sang Buah hati.
"Sayang gimana ini, mas Takut" ujar Bisma dengan hati-hati.
__ADS_1
"Nggak pa-pa Mas pelan-pelan aja. Awas kepalanya!" Maura pun membantu Bisma untuk membenahi bayi itu ke gendongan sang Ayah.
Setelah sedikit drama akhirnya Bisma berhasil menidurkan Baby Bima ke keranjang Bayi. bayi mungil itu pun tertidur dengan tenang dengan wajah yang sangat menggemaskan. Bisma sampai tidak bosan-bosan memandangi wajah mungil hasil kerja kerasnya selama ini berwujud Bayi manusia yang lucu dan nyata lahir ke dunia. Bisma tersenyum bahagia dan melirik pada Maura sambil tersenyum simpul.