Risa bukan Zeline

Risa bukan Zeline
Bab 11


__ADS_3

Risa langsung membuka matanya, tadi dia bermimpi buruk, Risa menyentuh wajahnya, sisa air mata masih ada disana, mimpi itu begitu nyata. Mencoba untuk bangun, Risa terkejut saat sesuatu yang berat melingkar di pinggangnya.


Matanya melotot, begitu menoleh pandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan Zhen.


'Kenapa bang Zhen ada disini? Tidak, lebih tepatnya sejak kapan? ' Risa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ini jam berapa lagi?" Gumam Risa yang sama sekali tidak bisa bergerak karena Zhen memeluknya erat.


Tanpa sadar, tangannya terulur membelai lembut wajah Zhen, kulitnya yang begitu halus, hidungnya yang mancung dan bibirnya…tangan Risa berhenti, menatap lamat-lamat bibir yang sebelumnya pernah mencuri ciuman pertamanya.


Begitu tersadar, buru-buru Risa menarik tangannya. Tidak, jangan sampai dia terbuai dengan wajah tampan Zhen. Waktu Risa hanya 7 bulan, dan setelah itu, dia akan benar-benar menghilang dari kehidupan pria di depannya ini. Tapi kenapa dengan perasaannya, kenapa jantung selalu berdebar kencang jika berada di dekat Zhen.


"Tidak mungkin," gumam Risa pelan seraya melepaskan tangan Zhen dari pelukannya dengan perlahan.


Saat Risa akan bangun, dirinya tersentak kaget saat ada sebuah tangan yang memeganginya.


"Apa yang tidak mungkin?"


"A...abang," Risa gugup setengah mati. Apalagi kini Zhen ikut duduk, menarik dagu Risa yang langsung membuang muka, agar menatapnya.


"Apa yang tidak mungkin Zeze?" Sepertinya Zhen tidak mau menyerah akan pertanyaan yang belum Risa jawab.


"Ti...tidak bang...bu...bukan a...pa...apa," Risa merutuki dirinya yang tiba-tiba tergagap saat menjawab pertanyaan Zhen.


Zhen memiringkan kepala saat Risa menundukkan wajahnya.


"Zeze mau mandi dulu bang, Zeze harus bersiap ke sekolah."


Risa langsung saja turun dari ranjang, tapi Zhen tiba-tiba kembali menarik tangannya hingga Risa kembali duduk.


"A...ada apa bang?"


Bukannya menjawab Zhen semakin mendekatkan tubuhnya pada Risa. Risa memejamkan mata, tapi tak lama dirinya kembali membuka mata karena tidak merasakan apapun setelah Zhen mendekat.


"Apa yang kamu pikirkan?" Zhen menyentil kening adiknya. Kemudian menunjukkan layar ponsel Risa yang menyala, yang hanya membuat Risa mengernyitkan dahi bingung. Rupanya tadi Zhen mengambil ponsel miliknya di atas nakas yang memang ada di sebelah tempat tidur Risa.


"Lihat sayang, ini masih jam berapa?" Fokus Risa bukan jam di ponselnya, tapi kata sayang yang Zhen ucapkan membuat wajahnya memanas seketika.


"Wajah kamu merah, kamu sakit?" Zhen hendak menyentuh kening Risa, tapi dengan cepat Risa menahannya.

__ADS_1


"Zeze tidak apa-apa bang, Zeze harus mandi nanti kalau tidak Zeze akan terlambat."


"Tunggu, tadi abang minta kamu lihat jam."


"Jam?"


Zhen mengangguk. Risa kemudian mengambil ponselnya yang ada di tangan Zhen, jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Risa kemudian hanya memberi cengirannya pada Zhen.


"Kamu tidak perlu khawatir terlambat, jika pun kamu mandi dengan berendam," Risa mengerucutkan bibir karena mendengar perkataan Zhen yang seperti tengah meledeknya.


Wajah Zhen mendekat, dan cup…


Kini giliran Zhen yang mengerucutkan bibir, karena saat dia akan kembali mencium bibir manyun Risa, gadis itu justru dengan cepat menutup mulut dengan tangannya, berakhir dengan Zhen yang akhirnya mencium punggung tangan Risa.


"Sudah ah bang, Zeze mau tidur lagi," ucap Risa yang kemudian kembali merebahkan diri di atas ranjang membelakangi Zhen.


Risa terkejut, saat tiba-tiba sebuah tangan kembali melingkari tubuhnya.


"Abang!"


"Hmm."


"Zeze mau tidur."


Risa membalik badannya, hingga tatapannya bertemu dengan tatapan teduh Zhen.


"Terus kenapa abang masih disini, abang bisa kembali ke kamar abang."


"Memangnya kenapa? Abang ingin tidur disini, salah?"


'Ya, jelas salah, kita ini laki-laki dan perempuan, terlebih kita tidak punya hubungan apa-apa,' ucap Risa namun hanya dalam hati saja.


"Terserah abang saja," ucap Risa yang memang masih mengantuk, berbalik badan dan kembali tidur memunggungi Zhen. Sedang Zhen kembali melingkarkan tangannya di tubuh Risa, memeluk gadis itu dari belakang.


*


*


Risa mengerjap saat merasakan tetesan-tetesan air membasahi wajahnya. Dan begitu matanya terbuka, bibir Risa mencebik kesal kala melihat pelakunya menunjukkan deretan giginya yang putih.

__ADS_1


"Abang basah tahu," protes Risa yang kini sudah dalam posisi duduk.


"Biar kamu bangun, nanti kalau tidak kamu bisa terlambat ke sekolahnya."


"Iya...iya...ini juga mau bangun," Risa mengambil ponsel untuk melihat pukul berapa sekarang dan matanya membulat sempurna, saat ternyata jam sudah menunjukkan pukul 6, dia akan terlambat jika tidak segera bersiap.


Risa mengambil handuk dan segera berlari ke kamar mandi, sedangkan Zhen, pria itu segera keluar dari kamar adiknya ke kamarnya sendiri untuk bersiap, karena mulai hari ini dia akan kembali bekerja.


Risa sedikit berlari menuruni tangga, Zhen yang memang sedari tadi menunggunya sampai menggelengkan kepala.


"Zeze langsung berangkat  ya bang," pamit Risa pada Zhen.


"Sama abang."


Risa menghentikan langkahnya, lalu menatap Zhen dan mengangguk.


"Ini, kamu bisa sambil makan di mobil," Zhen menyerahkan kotak bekal sebelum akhirnya berjalan mendahului Risa yang kini tersenyum menatap punggung pria itu.


"Ayo Zeze, katanya sudah terlambat!" Zhen menoleh saat tidak mendengar suara langkah kaki mengikutinya.


"Ah iya bang," dengan sedikit berlari, Risa segera menyusul Zhen masuk ke mobilnya.


Zhen fokus mengemudi sementara Risa sibuk memakan bekal yang dibawanya.


"Makasih bang, kalau begitu Risa turun dulu," Risa berpamitan lalu segera turun.


Zhen menggelengkan kepala, lalu segera kembali melajukan mobil begitu melihat Risa sudah memasuki gerbang sekolah.


Risa melihat jam di pergelangan tangannya, merasa lega karena dirinya tidak terlambat bahkan masih sisa 10 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi. Risa yang tadi hanya minum sedikit rasanya kurang, hingga dia pun kini memutuskan untuk ke kantin. Tapi tiba-tiba, Risa menepuk dahinya pelan.


"Aku kan tidak tahu kantinnya dimana," gumamnya pelan.


Dia kemudian mengambil ponselnya, menghubungi Evan dan Rio, tak lama kedua sahabatnya itu membalas pesannya dan mengatakan jika mereka berdua sudah berada di kantin, dan memintanya justru untuk menyusul mereka.


"Kalau gitu sama aja," Risa memberengut kesal menengok kanan dan kiri dimana banyak siswa-siswi yang berlalu lalang. Mau bertanya rasanya tak mungkin, karena pasti akan membuat mereka curiga. 


Risa duduk di teras yang tak jauh dari kelasnya, mengambil ponsel di saku yang bergetar, chat dari Rio yang bertanya kenapa dirinya tak sampai-sampai.


"Bagaimana sampai, aku aja masih diam di tempat," jawab Risa dengan gerutuan.

__ADS_1


Risa kembali memasukkan ponsel tidak berniat membalasnya. Dia bangkit dari duduknya melangkah menuju kelas.


"Daripada ke kantin sendiri, lebih baik aku masuk kelas saja," ucapnya hingga tiba-tiba ada seseorang menggenggam tangannya dan menariknya menjauh dari kelas.


__ADS_2