
Risa menatap orang yang ada di dalam ruangan satu persatu. Kemudian tersenyum kepada seorang pria yang bukan anggota keluarganya lalu melewati begitu saja pria itu.
"Bagaimana keadaan ibu?" Tanya Risa berdiri di samping wanita yang sudah melahirkannya, menggenggam tangannya yang masih tampak lemah.
Wanita itu tersenyum, mengulurkan tangan dan mengusap rambut Risa penuh kelembutan.
"Ibu baik-baik saja. Kenapa kamu langsung kemari Nak? Tadinya kamu istirahat dulu saja di rumah."
"Risa sudah istirahat bu di kereta, Risa kangen sama ibu, makanya Risa ingin cepat-cepat kemari."
Risa mendongak saat seseorang memberikan kursi.
"Makasih mbak," kata Risa pada kakaknya.
"Mbak sama mas pulang saja, kata Aga kalian sudah jaga ibu dari semalam, biar hari ini Risa saja yang jaga ibu," tambah Risa yang kasihan melihat wajah lelah kakak dan kakak iparnya.
Keduanya saling pandang kemudian mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu kami pulang dulu, kalau ada apa-apa hubungi mbak atau mas ya," ucap Rian kakak ipar Risa.
"Iya mas."
Risa kemudian mengecup punggung tangan Raina dan Rian, begitu pula dengan Aga juga pria yang sedari tadi hanya diam saja.
"Kami pulang dulu ya bu," pamit Raina kepada ibunya yang diangguki wanita paruh baya itu.
Risa kemudian duduk sambil membenarkan selimut yang menutupi tubuh ibunya.
"Mbak belum makan kan? Aga beli makanan dulu ya."
Risa menoleh dan mengangguk.
"Ibu istirahat lagi saja ya."
Ibu Risa tersenyum dan mengangguk, Risa menggenggam tangan ibunya dengan dua tangan sambil mengusapnya lembut hingga tak lama ibu Risa pun kembali tertidur.
"Makasih Ar, sudah mau temani ibu juga."
Pria yang sedari tadi diam menatap Risa yang kini menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu sudah lama disini? Kalau kamu mau pulang, pulang saja, tidak apa-apa kok."
"Tidak, aku disini saja, sekalian menemani ibu kamu."
Risa hanya diam membiarkan pria itu tetap disana.
"Risa…"
Pria itu memanggil Risa memecah keheningan diantara mereka.
__ADS_1
"Iya."
"Kamu yakin tidak mau mempertimbangkan…"
"Kita bahas nanti ya Ar, tapi tidak disini."
"Baiklah."
Keduanya kini sama-sama diam, hingga tak lama pintu terbuka dan Aga, adik Risa membawa kantong plastik berisi makanan.
"Kak Ardan masih disini?"
"Ah iya Ga, ini mau balik."
"Sarapan dulu aja bareng," ucap Risa yang kini bangkit kemudian mengambil kantong plastik di tangan Aga, lalu duduk di karpet yang dibentangkan oleh Aga
"Ah iya," Ardan pun bergabung dengan kedua kakak adik itu.
Mereka pun mulai menyantap makanan yang dibeli Aga, mereka makan sambil mengobrol, walaupun obrolan didominasi oleh Risa dan adiknya, sementara Ardan hanya mendengarkan sesekali menyahut jika memang pertanyaan ditujukan untuk dirinya.
*
*
"Anda tidak pulang Tuan?"
Zhen yang tadi memilih kembali ke kantor dan kini tengah sibuk dengan pekerjaannya, menghentikan sejenak aktivitasnya, menatap Bima yang kini membuka pintu ruangannya.
Bima menatap Zhen ragu, sebenarnya dirinya merasa aneh dengan bos nya itu, tadi sore bos nya tampak semangat ingin cepat-cepat kembali dan menyerahkan sebagian pekerjaan kepadanya, dan tadi Zhen justru balik lagi ke kantor bahkan tampak enggan untuk pulang.
"Pulanglah Bim! Tenang saja saya tidak akan memotong gaji mu."
"Baiklah Tuan, kalau begitu saya permisi dulu."
Zhen hanya mengangguk, dan begitu pintu tertutup. Bayangan-bayangan dimana dia menghabiskan waktu bersama Zeline membuatnya senyum-senyum sendiri, tapi tiba-tiba Zhen menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, saat merasakan seperti ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Apalagi saat dirinya mengingat Zeline yang entah kenapa Zhen rasa jika adiknya itu seperti orang berbeda.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Zhen mengurut keningnya yang mendadak merasa pusing.
Zhen mengambil ponselnya lalu menanyakan kepada sopir yang biasanya mengantar sang adik kemanapun, kemana saja Zeline pergi sore ini.
"Tidak ada yang aneh, apa hanya perasaanku saja, tapi tunggu...terakhir kali Zeze alergi tapi kenapa tadi…"
Ponsel Zhen tiba-tiba berdering, nama Zeze tertulis di layar ponselnya, Zhen lalu menggeser ikon berwarna hijau, menempelkan ponsel di telinganya.
"Halo.."
"Halo abang kemana saja, kenapa Zeze di rumah abang malah pergi? Bukankah abang janji akan selalu menemani Zeze lagi, tapi mana janji abang?"
Belum selesai dengan perkataannya, zeline memotong ucapan Zhen dengan serentetan pertanyaan.
__ADS_1
"Abang! Abang dengar Zeze ngomong kan?" Suara gadis itu sedikit berteriak mungkin merasa kesal karena Zhen hanya diam saja.
"Iya, abang bentar lagi pulang," setelah mengatakan itu, Zhen memutus panggilan begitu saja, membuat orang yang di seberang telepon mendengus kesal.
"Apa abang biasa seperti ini?" Zeline bertanya sambil menatap layar ponselnya yang kini kembali dengan foto dirinya.
Bi Irma menoleh menatap Zeline, saat sepertinya dirinya seperti mendengar Zeline berkata.
"Kenapa Non?"
"Tidak apa-apa," ucapnya lalu beranjak dari ruang makan.
Zeline kemudian berjalan menuju ke sofa ruang tengah, merasa bosan gadis itu meraih ponselnya lalu menghubungi Evan juga Rio, mengajaknya untuk mabar, yang tentunya langsung disetujui keduanya yang saat juga tengah gabut. Bahkan keduanya mengusulkan akan datang ke rumah Zeline, bermain di rumah gadis itu saja, daripada harus di ponsel. Tentunya Zeline senang, dia juga sudah merindukan kedua sahabatnya setelah seminggu ini tidak berjumpa juga tidak berkomunikasi sama sekali.
"Bibi! Bi Irma!" Teriak Zeline sambil memainkan ponsel sambil menunggu kedatangan dua sahabatnya.
Dari arah belakang wanita paruh baya, berlari tergopoh-gopoh, menghampiri Zeline segera.
"Iya Non."
"Siapkan cemilan yang banyak, lalu bawa kemari, hmm jangan lupa sama minumannya juga," perintah Zeline tanpa menatap Bi Irma, justru fokus dengan ponselnya.
"Baik Non. Ada lagi?"
"Itu dulu deh bi, nanti Rio sama Evan mau datang soalnya."
Bi Irma mendadak ragu, terakhir kali Tuan nya tampak kesal saat teman-teman Zeline datang, apalagi ini sudah pukul 9 malam, bisa-bisa, kakak beradik itu akan kembali bertengkar.
"Bibi! Panggilan Zeline membuyarkan lamunan bi Irma.
"Iya Non."
"Bibi bisa siapkan sekarang, nanti keburu Rio dan Evan datang."
"I...iya non," bi Irma akan kembali membuka suara tapi akhirnya mengurungkannya, wanita paruh baya itu, lalu berlalu pergi menuju dapur untuk menyiapkan apa yang tadi Zeline minta.
Sedang Zeline dirinya tersenyum semangat, segera bangun dari duduknya, begitu mendengar bel rumahnya berbunyi. Dia yakin jika saat ini kedua teman lah yang datang. Dan benar tebakannya, begitu membuka pintu, tampak dua orang pria yang kini nyengir lalu saling bersenggolan, saling berebut untuk masuk ke rumah Zeline.
"Tumben banget lo ngajak kita mabar malam-malam gini, setelah seminggu ini gue dan Rio yang selalu ngajak lebih dulu. Jangan-jangan...setan yang merasuki lo, udah pergi lagi," ucap Evan yang seketika merasakan merinding di sekujur tubuhnya.
"Kenapa? Kalian tidak mau? Ya sudah sono balik lagi, hmm padahal bibi akan menyiapkan banyak makanan."
"Kata siapa kami gak mau, jelas mau dong, iya kan Yo," Evan meminta dukungan Rio, jika soal makanan keduanya pasti akan kompak.
"Iya benar."
"Ya udah yuk mulai!" Ajak Zeline karena tak ingin membuang-buang banyak waktu.
Ketiganya kemudian asyik bermain game, hingga tidak menyadari langkah kaki kini tengah berjalan mendekat.
__ADS_1
Bi Irma yang akan mengantarkan cemilan bahkan sampai berhenti saat melihat kedatangan Zhen terutama dengan wajah datar pria itu.